Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
199. Siapa Namanya?


__ADS_3

Tak terasa waktu pun berlalu, pagi sudah menyapa kembali. Menandakan kegiatan anak manusia sudah akan dimulai lagi. Disebuah kamar terlihat pakaian pria dan wanita yang berceceran di lantai. Disha menggeliat dalam dekapan hangat suaminya yang beberapa waktu lalu tidak dirasakannya. Perlahan membuka matanya dan yang terlihat di depan matanya adalah dada bidang suaminya.


Disha tersenyum mengingat kata-kata manis suaminya, dan percintaan panas mereka semalam. Disha mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya. Rambut tebal Alva nampak acak-acakan karena ulahnya semalam.


"Sayang, bangun yuk! Udah siang,"ucap Disha kemudian mencium dagu Alva beberapa kali, namun tanpa di duga, Alva menundukkan kepalanya hingga Disha bukan lagi mencium dagu Alva, tapi bibir Alva dan Alva langsung melum matt bibir Disha. Pelukan Alva semakin erat, dan ciumannya semakin agresif menggoda Disha dengan tautan, lilitan dan gigitan- gigitan kecil. Dengan cepat membalik tubuh Disha dan mengungkungnya. Tubuh mereka yang masih polos pun menempel tanpa penghalang.


"Al, sudah siang. Kita harus kekantor," ucap Disha dengan napas tersengal setelah Alva melepaskan tautan bibir mereka. Merasakan sesuatu yang berdenyut dan mengeras menyentuh pahanya.


"Sayang, tidurkan dia sebentar, aku akan tersiksa jika dia tidak tidur,"ucap Alva dengan wajah memelas dan dengan sengaja menusuk-nusuk paha Disha dengan sesuatu yang semakin mengeras, membuat Disha bergidik.


"Sayang, semalam kan sudah. Lagian aku tidak mau jika sampai kesiangan pergi ke kan....empp..."Disha tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya saat Alva kembali menyerang bibirnya. Akhirnya Disha pun pasrah mengikuti keinginan Alva. Percuma saja Disha menolak, Alva selalu saja bisa membuatnya takluk di atas ranjang.


***


Disha membantu Alva memakai kemeja Alva dan mengancingkan kemeja itu dengan bibir yang mengerucut. Pasalnya mereka jadi terlambat ke kantor karena ulah Alva tadi.


"Sayang, jangan ngambek dong! Itu bibir pengen dicium lagi apa?"ujar Alva dan tanpa aba-aba langsung meraih pinggang Disha dan benar-benar mencium bibir Disha walaupun cuma sekilas.


"Al.!!"pekik Disha dengan wajah kesal sambil memukul dada Alva, namun Alva malah terkekeh.


Setelah Disha selesai mengancingkan kemeja Alva, Disha pun memakaikan dasi Alva. Tapi lagi-lagi Alva menjahili Disha.


"Alien!!"pekik Disha saat Alva tiba-tiba mengangkat tubuhnya dengan tangan kanan menyangga bokong Disha, sedangkan tangan kirinya memegang pinggang Disha, hingga Disha langsung memeluk leher Alva dan kakinya langsung melingkar di pinggang Alva seperti koala.


"Pakaikan dasinya, sayang!"bisik Alva di telinga Disha membuat Disha menghela napas kasar karena ulah suaminya itu.


Akhirnya Disha memakaikan dasi di leher Alva dengan kaki yang masih melingkar di pinggang suaminya. Alva menahan bokong dan pinggang Disha agar istrinya itu tidak jatuh.


Setelah selesai, Alva pun menurunkan Disha dan Disha segera memakaikan jas di tubuh suaminya itu. Selesai sarapan, mereka pun segera berangkat ke kantor.


***


Siang hari di perusahaan Bramantyo Group. Disha nampak sedang menikmati makan siang bersama kedua sahabatnya. Sesekali matanya melirik Icha yang nampak tidak bersemangat dan terlihat suntuk.


"Cha, kamu kenapa, sich? Kok, kamu kayak penuh masalah gitu?"tanya Disha yang benar-benar penasaran dengan sahabatnya yang tiba-tiba jadi pendiam.


"Kalau hidupku dipenuhi masalah berarti aku masih manusia, Dis. Kalau dipenuhi cucian berarti aku laundry-an, dan kalau dipenuhi wijen berarti aku bukan manusia, tapi onde-onde,"sahut Icha kemudian membuang napas kasar.


"Lah..malah bercanda,"sahut Disha.

__ADS_1


"Ini anak gadis kenapa, ya? Kayaknya galau pakek banget,"sahut Yessie.


"Iya, nich! Ada apa sich, Cha? Kalau ada masalah cerita, dong! Siapa tahu kami bisa bantu ngasih solusi,"ujar Disha.


"Aku akan dijodohkan oleh orang tuaku dengan pria pilihan mereka,"ucap Icha dengan wajah tak bersemangat.


"What? Serius?"tanya Disha dan Yessie bersamaan, dan Icha hanya mengangguk.


"Kok bisa sich, kamu dijodohkan!"ucap Disha tidak percaya.


"Ini semua gara-gara aku patah hati,"sahut Icha.


"Patah hati?"tanya Disha seraya mengernyitkan keningnya.


"Bukannya kamu belum punya gebetan baru, ya? Kok bisa patah hati?"tanya Yessie.


"Perasaan pas putus kemarin kamu baik- baik saja, dech!"sahut Disha.


"Aku naksir sama cowok. Aku jatuh cinta pada nya pada pandangan pertama. Aku merasa dia cowok yang paling sempurna yang pernah aku temui. Gagah, tampan, tubuh proporsional, dada bidang, bisa beladiri, tajir pula. Tapi ternyata dia udah punya orang yang disayangi,"ujar Icha lesu.


"Wow perfek banget tuch cowok,"sahut Yessie.


"Kenal di mana?"tanya Disha penasaran.


"Maksud kamu?"tanya Disha penasaran, begitu pula dengan Yessie.


"Aku ketemu dia saat aku melarikan diri dari mantan pacar ku yang ingin melecehkan aku dengan kedua temannya. Aku diculik mantan pacar ku malam-malam saat aku pergi ke warung yang tidak jauh dari rumah. Mereka membawaku ke sebuah gudang tua, aku memukul dan menendang mereka dan berlari tak tentu arah hingga hampir ditabrak tuch cowok, lalu aku ditolong sama tuch cowok,"


"Aku dianter ke kantor polisi buat bikin laporan dan dianterin pulang ke rumah. Bahkan dua malam yang lalu dia juga menolong ku saat aku akan diganggu dua orang preman karena ban motor ku bocor di jalan yang sepi. Saat dia ngatar aku pulang, dia ditelpon oleh seseorang dan dia memanggil orang yang menelponnya itu dengan panggilan 'sayang'. Kemudian dia bergegas pulang dan nampak sangat khawatir dengan tuch cewek,"


"Hati ku langsung patah saat mendengar dia memanggil seseorang dengan panggilan sayang dengan wajah yang nampak bahagia. Aku nangis di kamar sehingga orang tua ku menghampiri ku. Setelah mereka tahu kalau aku patah hati, mereka malah bilang ingin menjodohkan aku dengan pria pilihan mereka. Aku belum bisa move on dari tuch cowok,"ujar Icha panjang lebar.


"Kasihan sekali kamu, Cha,"ucap Yessie.


"Tapi kok kamu nggak pernah cerita soal penculikan itu sama kami, sich?"tanya Disha.


"Gimana aku mau cerita? Aku lihat waktu itu kamu galau gara-gara suami kamu ke luar negeri,"ujar Icha.


"Iya juga, sich!"ucap Disha sambil nyengir.

__ADS_1


"Tapi Cha, kan belum terbukti kalau dia udah punya cewek. Bisa saja kan, yang dia panggil sayang itu adalah adiknya," ujar Disha.


"Mana ada manggil adik sendiri dengan panggilan 'sayang'? Terkecuali adik ketemu gede, alias pacar,"kilah Icha.


"Ada,"sahut Disha.


"Nggak ada,"sahut Icha.


"Iya, Dis. Nggak mungkin manggil adik kandung pakai panggilan 'sayang',"timpal Yessie.


"Ishh..ada! Kalian ini nggak percaya banget, sich!"tukas Disha.


"Siapa?"tanya Icha dan Yessie bersamaan.


"Kakakku,"sahut Disha.


"Serius?"tanya Icha dan Yessie bersamaan karena melihat Disha nampak serius.


"Serius, kakakku emang manggil aku dengan panggilan 'sayang',"sahut Disha dengan wajah serius.


"Btw, udah punya pasangan belum, kakak kamu itu?"tanya Icha antusias, seolah sudah lupa dengan kesedihannya. Sedangkan Yessie memutar bola matanya malas saat melihat Icha sangat antusias.


"Belum, lagi nyari,"sahut Disha.


"Kenalin sama aku, dong! Siapa tahu kami cocok, kan nanti kita bisa jadi keluarga. Tepatnya aku jadi kakak ipar mu,"ucap Icha sambil nyengir.


"Tenang saja, entar saat mereka pindah ke rumah baru, kalian bakal aku undang. Orang tuaku akan mengadakan pesta untuk memperkenalkan aku sebagai putri mereka pada rekan-rekan bisnis mereka,"sahut Disha.


"Pasti kakak kamu ganteng ya, Dis? Orang kamu aja cantik,"sahut Yessie.


"Iya, dong! Sebelas dua belas lah sama PakSu. Walaupun bagi ku masih ganteng PakSu," ucap Disha sambil nyengir.


"Siapa nama kakak kamu, Dis?"tanya Icha penasaran.


"Iya, siapa namanya?"timpal Yessie.


...🌟"Perhatian perhatian kecil pada pasangan terkadang dianggap remeh....


...Tapi nyatanya perhatian perhatian kecil itulah yang semakin memupuk rasa cinta."🌟...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober"...


To be continued


__ADS_2