
Di sebuah ruangan, nampak seorang perempuan yang sedang berdiri di depan jendela kaca ruangan itu. Matanya menatap ke luar jendela dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tok! Tok! Tok!"
"Masuk!"serunya saat mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar, tanpa merubah posisinya yang membelakangi pintu ruangannya itu.
"Nyonya, mereka terus menyelidiki kasus kecelakaan yang kita buat untuk melenyapkan Tuan Alva di negara xx kemarin,"ucap seorang perempuan yang baru saja masuk.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus membereskan semuanya. Jangan sampai kita ditangkap polisi karena kejadian itu,"ucap perempuan yang tidak lain adalah Dita, membalikkan tubuhnya menatap perempuan yang baru saja masuk ke ruangan nya itu.
"Baik, Nyonya,"sahut perempuan yang tidak lain adalah sekretaris Dita.
"Bagaimana, apa kamu sudah menyelidiki istri Alva itu?"tanya Dita seraya berjalan menuju kursi kebesarannya.
"Perempuan itu selalu bersama dengan Tuan Alva, Nyonya. Baru sekali kami melihat nya pergi tanpa Tuan Alva. Dia pergi ke spa dan salon, tapi dia selalu di ikuti seorang pria. Kami menduga, pria itu adalah orang yang ditugaskan Tuan Alva untuk menjaganya,"ujar sekretaris Dita itu.
"Dia begitu mencintai perempuan itu, hingga mempekerjakan bodyguard untuk mengawal nya. Cuma satu orang saja, kan, yang menjaganya? Kalian cari kesempatan saat perempuan itu pergi sendiri. Aku ingin kalian menculik perempuan itu. Jika Alva sangat mencintai nya, maka aku akan merusak perempuan itu. Kita lihat, apa Alva akan masih tetap mencintai perempuan itu jika aku sudah merusaknya nanti,"ucap Dita yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya dengan menaikkan paha kirinya ke atas paha kanannya. Kedua tangannya meremas pegangan kursi yang didudukinya dan nampak senyuman jahat yang menghiasi wajah cantiknya.
"Baik, Nyonya. Kami akan mencari kesempatan saat perempuan itu sendirian,"sahut sekretaris itu ikut tersenyum jahat.
***
Di Bramantyo Group, di ruang kerja Alva. "Sayang, kamu nanti akan pergi menemui klien setelah pulang kerja kan?"tanya Disha seraya duduk di meja kerja Alva, menghadap kearah pria itu.
"Iya,"sahut Alva tanpa menoleh kepada Disha, matanya fokus pada layar laptop di depannya.
"Sepulang kerja nanti, aku mau ke supermarket dulu, ya?"ucap Disha meminta izin dari Alva.
Alva yang jari jemarinya sibuk menari- nari di atas keyboard laptopnya pun menghentikan aktivitas jemarinya kemudian mendongakkan kepalanya menatap Disha,"Memangnya mau beli apa?"tanya Alva.
__ADS_1
"Aku ingin membeli buah-buahan,"sahut Disha.
Alva mengernyitkan keningnya, nampak berpikir sejenak,"Oke, tapi setelah itu langsung pulang, ya!"ujar Alva, menatap lekat manik mata Disha.
"Oke,"sahut Disha kemudian turun dari meja yang didudukinya, membungkuk dan mencium bibir Alva sekilas kemudian langsung berlari kecil meninggalkan ruangan Alva.
"Eh.. setelah mencium ku langsung kabur? Dasar!"gumam Alva seraya tersenyum, menyentuh bibirnya yang baru dicium oleh Disha dengan ibu jarinya. Sesaat kemudian senyuman itu menghilang, Alva meraih handphonenya dan berbicara dengan seseorang. melalui panggilan suara.
"Sepertinya, sore ini kita akan memulai permainan nya. Apa semua sudah siap?"tanya Alva dengan seringai di wajahnya.
"Sudah, Tuan,"ucap seseorang dalam sambungan telepon.
"Lakukan yang terbaik! Aku ingin hasil yang memuaskan,"ucap Alva dengan menarik sebelah sudut bibirnya.
"Baik, Tuan,"sahut seseorang dalam sambungan telepon itu.
"Kamu akan tahu akibatnya jika berani bermain-main dengan ku. Kamu pikir kamu siapa, berani-beraninya mengusik ketenangan ku,"gumam Alva dengan seringai licik, menggenggam erat handphone yang berada di tangannya seolah-olah ingin menghancurkan benda pipih itu.
***
"Ya sudah, kamu pulang saja! Saya akan pergi dengan supir saja,"ucap Disha mengizinkan Ferdi pergi.
"Terimakasih, Nyonya!"ucap Ferdi mengangguk sedikit, dan dibalas Disha dengan anggukan pula. Setelah berpamitan pada Disha, Ferdi pun bergegas pergi meninggalkan Bramantyo Group.
Seorang cleaning servis yang mengepel lantai di dekat Disha langsung pergi ke tempat yang sepi sambil mengawasi mobil yang sudah dimasuki Disha dari jauh, kemudian menelpon seseorang. "Target akan pergi ke supermarket, hanya bersama supir saja. Pengawalnya baru saja minta izin untuk pulang,"ucap cleaning servis itu kemudian langsung memutuskan sambungan telepon.
Mobil yang di tumpangi Disha melaju dengan kecepatan sedang, namun saat berada di jalan yang sepi tiba-tiba mobil yang ditumpangi oleh Disha disalip oleh sebuah mobil dan tiba-tiba mobil itu menghadang mobil yang ditumpangi oleh Disha dengan memotong jalan di depan mobil Disha.
Ada enam orang bertubuh kekar yang nampak turun dari mobil itu. Dua diantara mereka memakai topi di kepala mereka dan masker yang menutupi wajah mereka, sehingga hanya terlihat mata mereka saja.Mereka berjalan menuju mobil Disha.
__ADS_1
Disha nampak terkejut melihat hal itu, jika ada Ferdi, Disha tidak akan panik seperti ini. Kali ini, hanya ada seorang supir yang bersama Disha.
"Tok! Tok! Tok!"salah seorang pria mengetuk kaca mobil bagian kemudi dan supir itupun membuka kaca mobil itu.
"Kerja yang bagus!"ucap pria yang tadi mengetuk jendela mobil seraya melakukan tos kepalan tangan dengan supir mobil Disha.
"Pak, siapa mereka?"tanya Disha agak ketakutan.
Supir itu menoleh menatap Disha dengan seringai di wajahnya,"Mereka dan aku yang akan menemanimu bersenang-senang nona cantik!"ucap supir itu membuat mata Disha membulat.
"Ka..kamu bukan supir yang biasanya mengantarkan aku,"ucap Disha tergagap. Ada rasa takut yang semakin mendera di hatinya.
"Ceklek"tiba-tiba dua pria yang memakai masker membuka pintu mobil di samping kanan dan kiri Disha lalu masuk dan duduk di kanan dan kiri Disha.
"Ka..kalian mau apa?"pekik Disha ketakutan.
"Jika tidak ingin terluka sebaiknya diam!"seru seorang pria yang ada di sebelah kiri Disha, sedangkan pria yang ada di sebelah kanan Disha langsung merampas tas Disha.
"Kembalikan!"bentak Disha ingin meraih tasnya kembali.
"Diam! Jika kamu tidak mau diam, aku akan melecehkan mu di dalam mobil ini bersama temanku ini!"bentak pria yang mengambil tas Disha, seraya menjauhkan tas itu dari Disha.
Mendengar ancaman itu, Disha pun memilih untuk diam, agar dirinya aman untuk sementara waktu sambil memikirkan cara untuk kabur. Mobil yang membawa Disha kini melaju menuju sebuah gudang tua yang terlihat sunyi dan menyeramkan. Kedua pria memakai masker tadi mengikat tangan Disha dan membawa Disha ke dalam gudang tua itu.
Hari beranjak petang dan cahaya lampu di gudang itu pun tidak ada. Hanya cahaya dari luar dan sebuah perapian di tengah-tengah gudang itu. Kini ada sepuluh orang pria di gudang itu. Disha di ikat di sebuah kursi kayu dengan mulut yang ditutup dengan lakban. Tak lama kemudian pintu gudang yang tertutup itu pun terbuka, nampak dua orang perempuan menggunakan high heels berjalan mendekati Disha .
"Buka lakban di mulutnya!"perintah salah satu perempuan itu dan salah seorang pria pun langsung menarik lakban yang menutupi mulut Disha.
"Kamu! Berani sekali kamu menculik ku! Apa kamu sudah bosan hidup, hah?!"
__ADS_1
...🌸❤️🌸...
To be continued