
Disha langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa berani berbicara apapun pada Alva. Bahkan saat makan malam pun Alva hanya diam membisu, tidak sepatah katapun keluar dari bibir Alva.
Sampai malam saat mereka tidur pun Alva bahkan tidur memunggungi Disha. Membuat Disha bingung harus berbuat apa.
"ððĒð ððð§ððŦ-ððð§ððŦ ðĶððŦððĄ ðĐððð ðĪðŪ. ððĒððŽðð§ðēð ððĒð ðŽððĨððĨðŪ ððĒððŪðŦ ððð§ð ðð§ ðĶððĶððĨðŪk ðĪðŪ, ðððĐðĒ ðŽððĪððŦðð§ð ððĒð ðððĄðĪðð§ ððĒððŪðŦ ðĶððĶðŪð§ð ð ðŪð§ð ðĒ ððĪðŪ. ðððĪððŦðð§ð ððĪðŪ ðĄððŦðŪðŽ ððð ððĒðĶðð§ð?"
ððĄ, ðĪðð§ððĐð ððĪðŪ ðĄððŦðŪðŽ ðĐðŪðŽðĒð§ð ðĶððĶðĒðĪðĒðŦðĪðð§ð§ðēð? ððĪðŪ ðĪðð§ ððĒðððĪ ðŽððĨððĄ, ðĪðð§ððĐð ððĪðŪ ðĄððŦðŪðŽ ðĐðŪðŽðĒð§ð ððð§ð ðð§ ððĒð§ð ðĪððĄð§ðēð ðēðð§ð ð§ð ð ððĪ ðĢððĨððŽ ðĒððŪ. ððĪðŪ ðĪðð§ ððĒðððĪ ðŽðð§ð ððĢð ðððŦðððĶðŪ ððð§ð ðð§ ðððŦðē. ððð ðĒðð§ ððĪðŪ ðððŦðŪð§ððŪð§ð ðĢðŪð ð ðĪððĨððŪ ððĒð ð§ð ððĶðððĪ, ðĢðððĒð§ðēð ððĒð ðĪðð§ ð§ð ð ððĪ ðððĪððĨðð§ ðĶðĒð§ðð ðĢððððĄ ðŽððĶð ððĪðŪ,"batin Disha kemudian ikut memunggungi Alva lalu segera tidur.
Sedangkan Alva yang lagi ngambek sama Disha pun tidak bisa tidur. Perasaan cemburu dalam hatinya benar-benar membuatnya ngambek tidak jelas.
"ððĒð ðððĄðĪðð§ ððĒðððĪ ððð ð§ðĒðð ðŪð§ððŪðĪ ðððŦððĒðððŦð ððð§ð ðð§ ðĪðŪ. ðððĄððŦðŪðŽð§ðēð ððĒð ðĶððĶðððŦðĒðĪðð§ ðĐðð§ðĢððĨððŽðð§ ðĐððððĪðŪ ððð§ððð§ð ðĪððĢðððĒðð§ ððððĒ ðŽðĒðð§ð . ðððĐðĒ ððĐð ðĒð§ðĒ? ððĒð ðŽððĻðĨððĄ ððĒðððĪ ðĐððŦððŪðĨðĒ ðĐððððĪðŪ, ðððĄðĪðð§ ððĒð ððĒððŪðŦ ðĶððĶðððĨððĪðð§ð ðĒ ðĪðŪ,"batin Alva merasa dongkol saat melihat istrinya malah tidur memunggungi dirinya.
Keesokan paginya, sepasang suami-isteri itu pun masih dengan pendirian mereka masing-masing dan tidak mau berbicara sama sekali. Di kantor saat mereka bekerja pun mereka tetap tidak mau saling bicara.Sampai saat makan siang pun, Disha dan Alva belum saling menegur.
Disha berjalan ke kantin dan tiba-tiba Icha menarik tangan Disha ke sebuah meja yang sudah ada Yessie di sana yang baru saja meletakkan makanan.
"Duduk di sini.!"ucap Icha mendudukkan Disha di sebuah kursi dengan semangkuk bakso pedas yang sudah ada di atas meja di hadapannya.
"Apalagi yang tidak kami ketahui tentang kamu yang akan membuat kami akan terkejut lagi?"tanya Icha lagi.
"Masih banyak dan tidak dapat aku katakan sekarang,"ucap Disha santai sambil memulai memakan bakso dihadapannya membuat Icha dan Yessie menghela nafas panjang.
"Sebenarnya siapa pria yang ingin mentraktir kita di butik kemarin?"tanya Icha mulai mengintrogasi Disha.
"Teman sekaligus pacarku waktu SMP dulu,"sahut Disha santai sambil menikmati baksonya.
"What?! Jadi dia mantan pacarmu?!"tanya Yessie dan Icha bersamaan.
"Aku tidak tahu,"jawab Disha ambigu.
"Tidak tahu bagaimana? Apa sebenarnya hubungan kamu dengan pria kemarin?"tanya Icha tambah penasaran.
"Kami pacaran sejak SMP tapi berpisah saat dia memutuskan kuliah di luar negeri dan aku kuliah di dalam negeri. Sejak saat itu kami lost contact. Dan kami bertemu lagi saat aku sudah menikah,"jelas Disha, sambil menghela nafas panjang kemudian melanjutkan menyantap baksonya.
"Jadi kalian belum ada kata putus?!"tanya Yessie.
"Belum,"jawab Disha sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Terus kenapa kamu terlihat ketakutan saat kamu bertemu dengan dia kemarin?"tanya Icha yang benar-benar penasaran dengan temannya itu.
"Karena suamiku pasti tahu jika aku bertemu dengan Hery. Kalian lihat kan bodyguard yang mengawal kita kemarin? Biasanya mereka hanya menjagaku dari jauh, tapi kemarin mereka terang-terangan mengawal ku,"jelas Disha.
"Ohh jadi nama pria kemarin Hery,"gumam Yessie tapi masih terdengar oleh Disha dan Icha.
"Memangnya kenapa kalau kamu bertemu dengan pria yang bernama Hery itu?"tanya Icha.
"Dia cemburu kalau aku bertemu dengan Hery, walaupun bertemu dengan tidak sengaja sekalipun. Suamiku pernah menghajar Hery hingga babak belur dan harus dirawat di rumah sakit gara-gara cemburu pada Hery,"jelas Disha.
"Yang benar Dis?!"tanya Yessie bergidik ngeri.
"Iya, karena itu aku mencoba menghindari Hery, tapi malah selalu bertemu tanpa sengaja,"ucap Disha menghela nafas panjang.
"Terus apa pekerjaan suami kamu sampai-sampai dia bisa memberi kamu black card dan harus dijaga oleh bodyguard?"tanya Icha.
"Suami kamu bukan mafia kan?!"timpal Yessie ragu.
"Aku belum bisa mengatakannya pada kalian bukan karena aku tidak percaya pada kalian, tapi suamiku melarang ku untuk memberitahu pada orang lain. Yang pastinya pekerjaan suamiku halal kok,"jelas Disha.
"Oke kami tidak akan menanyakan itu lagi. Tapi apa suamimu beneran marah gara-gara kejadian kemarin?"tanya Yessie penasaran.
"Sabar ya Dis,"ucap Yessie sambil mengelus lengan Disha yang ditanggapi senyuman tipis oleh Disha.
Setelah makan siang mereka bertiga pun kembali ke ruangan mereka masing-masing. Sedangkan Alva yang dari kemarin ngambek pun mulai gelisah karena setengah hari ini Disha tidak masuk keruangan nya sama sekali.
Dengan ragu-ragu Alva meraih interkom kemudian menghubungi Riky.
"Rik, suruh sekretaris itu menyerahkan dokumen pembangunan hotel xx padaku sekarang juga,"ucap Alva dalam panggilan interkom di meja Riky, dan langsung ditutup sebelum Riky menjawab.
ðð§ðððŦðĪðĻðĶ ð§ðĒðŦðĪððððĨ ððððĨððĄ ððĨðð ðĪðĻðĶðŪð§ðĒðĪððŽðĒ ððð§ðĐð ðĪððððĨ ðēðð§ð ððĒðððĪ ðĶðð§ð ð ðŪð§ððĪðð§ ðĐðŪðĨðŽð. ðð§ðððŦðĪðĻðĶ ðĒð§ðĒ ððĒððŽðð§ðēð ððĒð ðŪð§ððĪðð§ ðŽðððð ððĒ ððĨðð ðĪðĻðĶðŪð§ðĒðĪððŽðĒ ðð§ðððŦ ðŦðŪðð§ð ðð§/ððð ðĒðð§ ððĒ ðĨðĒð§ð ðĪðŪð§ð ðð§ ðĪðð§ððĻðŦ, ðŦðŪðĶððĄ ððððŪ ððĻðĪðĻ. ðð§ðððŦðĪðĻðĶ ð§ðĒðŦðĪððððĨ ðĶððĶðĐððŦð ðŪð§ððĪðð§ ðĢððŦðĒð§ð ðð§ ðĨðĒðŽððŦðĒðĪ ðŽðððð ððĒ ðĪðĻð§ððĪððĻðŦ ððððŪ ðĐðð§ð ðĄðŪððŪð§ð ð§ðēð.
Riky segera keluar dari ruangan nya dan menghampiri Disha di meja kerjanya.
"Dis, apa interkom di meja kamu rusak?"tanya Riky.
"Tidak Pak,"sahut Disha.
__ADS_1
"Lalu kenapa Tuan menyuruh ku untuk mengatakan padamu agar kamu menyerahkan dokumen pembangunan hotel xx kepadanya?"tanya Riky tidak mengerti.
"Saya akan menyerahkannya sekarang,"ucap Disha lalu beranjak dari tempat duduknya membawa dokumen.
Beberapa menit kemudian...
"Rik, suruh sekretaris itu membuatkan aku kopi,"
"Rik, suruh sekretaris itu mengambil dokumen yang sudah aku tandatangani,"
"Rik, suruh sekretaris itu untuk mengatakan pada manager keuangan untuk menghadap aku,"
"Rik, suruh sekretaris itu mengirimkan file-file yang sudah diperiksa nya,"
Karena Alva terus menghubunginya lewat interkom untuk menyuruh Disha, akhirnya dengan wajah kesal Riky berjalan menuju ruangan Presdir dan langsung menghampiri Tuan nya.
"Tuan, interkom di meja Disha itu tidak rusak, kenapa Tuan terus saja menghubungi saya untuk menyuruh Disha,"protes Riky dengan wajah kesal.
"Kenapa?"tanya Alva sambil bangkit dari duduknya.Alva kemudian memutari meja dan berjalan mendekati Riky membuat Riky membalikkan badannya memunggungi meja dan menghadap kearah Alva yang semakin mendekati nya.
"Tuan, kelakuan Tuan pada Disha hari ini sudah seperti seorang suami yang lagi berantem sama istrinya,"jawab Riky jujur.
Alva sempat terkejut mendengar kata-kata Riky itu, tapi langsung menutupinya dengan memasang wajah mengintimidasinya lagi.
"Kamu tidak mau aku suruh? "tanya Alva terus mendesak Riky hingga Riky menyondongkan tubuh kebelakang sampai tubuh Riky terjengkang di atas meja dengan kaki yang masih berada di lantai.
"Kamu sudah bosan bekerja padaku? "tanya Alva lagi dengan tangan yang sudah bertumpu pada meja di kanan dan kiri tubuh Riky yang sudah setengah terbaring di meja, membuat Riky bergidik dengan tatapan tajam Alva.
Wajah Alva sangat dekat dengan Riky karena Alva membungkukkan tubuhnya di atas tubuh Riky.
"Tu...Tuan, saya belum bosan bekerja kepada Tuan,"ucap Riky ketakutan karena ditatap begitu tajam dan dekat oleh Alva sampai hembusan nafas Alva pun terasa di wajah Riky.
"Apa yang kalian lakukan.?!!"
...ð"Sebuah hubungan itu perlu komunikasi, karena tanpa komunikasi tidak akan dapat saling mengerti dan memahami."ð...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
To be continued