
Ratih membuka pintu ruangan Alva dengan perlahan kemudian masuk diikuti oleh gadis yang sedang bersamanya. Ratih mendengar Alva menggunakan bahasa asing dalam meeting itu.
Ratih dan gadis itu duduk di sofa ruangan itu dan tidak bicara sepatah kata pun agar Alva tidak terganggu. Alva hanya melihat sekilas ke arah mamanya kemudian kembali fokus pada laptopnya.
Sedangkan gadis yang bersama Ratih, sejak masuk ke dalam ruangan itu matanya tak lepas dari Alva. Dia nampak mengulum senyum dan mengagumi Alva.
"𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐢𝐭𝐮? 𝐓𝐚𝐦𝐩𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢!"batin gadis itu.
Lima belas menit setelah dua wanita beda usia itu duduk di ruangan Alva, akhirnya Alva pun selesai meeting via online. Alva menghampiri Ratih yang duduk di sofa ruangan itu.
"Ma, apa ada hal penting hingga mama datang ke kantor ku?"tanya Alva pada Ratih, pasalnya semenjak Kaivan lahir, baru kali ini Ratih ke kantor Alva. Ratih lebih suka berada di apartemen Disha dan Alva bermain bersama Kaivan.
"Mama tadi sedang mengajak Trisha jalan-jalan dan sekalian mampir kesini untuk menunjukkan perusahaan kita. Ini...kenalkan ini adalah Trisha.Dia ini putri dari Tante Fira, sahabat mama yang sudah lama tinggal di luar negeri. Trisha, ini Alva, putra Tante,"jelas Ratih memperkenalkan gadis yang bersama nya sejak tadi.
"Halo! Aku Trisha,"ucap gadis itu seraya mengulurkan tangannya pada Alva.
Alva sedikit mengangguk menerima uluran tangan gadis yang bernama Trisha itu dan langsung menarik tangannya dan kembali menatap Ratih.
"Mama ingin minum apa? Kenapa tadi tidak minta dibuatkan minuman sama office girl?"tanya Alva kemudian mengambil handphone nya dari saku jasnya dan jemarinya mulai bermain diatas layar handphone itu untuk membalas email yang masuk.
"Tidak perlu dibuatkan minuman. Mama hanya sebentar, hanya mengenalkan Trisha padamu. Kami akan segera pergi,"ucap Ratih.
"𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤, 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐭𝐚𝐩 𝐰𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐧 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐢𝐧𝐢,"batin Trisha.
"Tapi aku haus, Tante,"ucap Trisha memelas ingin lebih lama lagi bersama dan melihat Alva.
"Ya Tuhan...kenapa kamu tidak bilang dari tadi, sayang,"ucap Ratih.
"Biar aku suruh office girl untuk membuat minuman. Mama ingin minum apa?" tanya Alva.
"Jus jeruk saja. Dan kamu ingin minum apa, sayang?"tanya Ratih pada Trisha.
"Aku juga mau jus jeruk, Tante,"sahut Trisha.
Untuk beberapa menit, Ratih dan Trisha berada di ruangan itu. Ratih sibuk chatting dengan teman sosialitanya, Trisha tak lepas memandang Alva. Sedangkan Alva yang merasa diperhatikan oleh Trisha memilih kembali ke kursi kebesarannya menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
"𝐈𝐬𝐡..𝐚𝐤𝐮 𝐣𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐭𝐚𝐩 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮. 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐦𝐚𝐦𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐠𝐞𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐬𝐢𝐜𝐡? 𝐃𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐚𝐩𝐚 𝐦𝐚𝐦𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐤𝐮,"batin Alva yang tidak suka dengan kehadiran Trisha.
"Sha, ayo habiskan minuman kamu! Kita akan pergi ke butik,"ucap Ratih melirik gelas Trisha yang isinya masih setengah kemudian kembali menatap layar handphonenya tanpa menyadari dari tadi Trisha tak lepas menatap Alva.
__ADS_1
"Iya, Tante. Tapi sebelum kita pergi, aku ingin ke toilet, Tan,"sahut Trisha kemudian dengan terpaksa menghabiskan minuman nya.
"Ya sudah, Tante tunggu di sini, ya?! Kamu bisa bertanya letak toilet pada karyawan yang bekerja di sini,"sahut Ratih.
"Iya, Tante,"sahut Trisha kemudian keluar dari ruangan itu.
Alva nampak membuang nafas kasar setelah Trisha keluar dari ruangannya,"Ma, kenapa mama membawa gadis itu ke mari?"tanya Alva.
"Kan tadi mama sudah bilang, mama hanya mampir dan ingin menunjukkan perusahaan kita. Memangnya kenapa?"tanya Ratih yang merasa heran dengan pertanyaan Alva.
"Aku tidak suka saja, dari tadi gadis itu terus menatap ku,"sahut Alva dengan wajah masam.
"Masa sich?"tanya Ratih tidak percaya.
"Iya, dan sebaiknya mama jangan pernah lagi membawa gadis itu ke sini,"ucap Alva.
"Oke,.oke..mama tidak akan mengajaknya ke sini lagi,"ucap Ratih yang melihat wajah masam putranya saat membicarakan soal Trisha.
"Al, kapan kalian pindah ke rumah? Papa kamu bilang tidak apa-apa jika kalian ingin pulang ke rumah,"ucap Ratih.
"Kami akan pulang jika kami sudah menemukan orang tua kandung Disha,"ucap Alva.
"Jika papa meminta maaf kepada Disha, dan mengajak kami pulang ke rumah, aku akan mempertimbangkan untuk pulang ke rumah,"sahut Alva.
"Huff... kalian ini sama-sama keras kepala dan sama-sama gengsinya,"keluh Ratih.
"Papa harus berhenti menilai orang dari status sosial dan hartanya, ma. Karena orang yang berstatus tinggi dan punya banyak harta belum tentu berakhlak mulia. Bahkan banyak orang kaya yang sombong dan suka merendahkan orang lain,"ujar Alva yang membuat Ratih tidak bisa lagi berkata-kata.
Sedangkan di toilet, Trisha baru saja keluar dari kamar kecil dan melihat seorang wanita cantik yang juga baru keluar dari kamar kecil yang lain.
"𝐂𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮,"batin Trisha.
"Eh Nona ini siapa?"tanya Icha yang juga berada di toilet itu karena merasa baru melihat Trisha.
"Aku tamunya CEO perusahaan ini,"ucap Trisha dengan senyum manis.
"Apa benar, Dis?"tanya Icha sambil menyenggol lengan Disha yang berada disampingnya.
"Aku nggak tahu, kan kita tadi ada di ruangan rapat dan baru selesai,"sahut Disha santai sambil merapikan penampilannya, melirik sekilas pada gadis yang mengaku sebagai tamu suaminya. Icha pun hanya mengangguk angguk kecil. Sedangkan Trisha sesekali nampak mencuri pandang pada Disha.
__ADS_1
"Kamu bekerja di bagian apa?"tanya Trisha menatap Disha.
Disha dan Icha pun menoleh ke arah Trisha. Saat merasa dirinya yang ditanya, Disha pun menjawab,"Saya sekretaris CEO,"jawab Disha seraya tersenyum tipis.
"Ohh.."sahut Trisha.
"𝐂𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐬𝐞𝐤𝐫𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚. 𝐀𝐩𝐚 𝐤𝐢𝐫𝐚-𝐤𝐢𝐫𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐯𝐚, 𝐲𝐚?!"batin Trisha.
"Dis, besok jalan yuk! Sama Kaivan, ya?! Aku sudah rindu dengan ponakan ku yang gembil itu,"ucap Icha antusias.
"Iya ya, udah lama kita nggak shoping, ntar aku ijin dulu sama suamiku,"sahut Disha.
"𝐎𝐡 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐩𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢. 𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐮 𝐤𝐢𝐫𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐚𝐤𝐚𝐥 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐢𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐮, 𝐬𝐞𝐤𝐫𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐝𝐞𝐤𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐨𝐬-𝐧𝐲𝐚. 𝐁𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢? 𝐏𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤,"batin Trisha kemudian keluar dari ruangan itu.
"Dis, kok cewek tadi nanya kamu bekerja di bagian apa, ya?"tanya Icha yang merasa aneh dengan pertanyaan Trisha tadi.
"Pengen tau aja kali,"sahut Disha santai sambil merapikan rambutnya.
Di ruangan Alva.
"Sudah selesai, Sha?"tanya Ratih saat Trisha masuk keruangan itu.
"Iya, Tante,"sahut Trisha.
"Al, mama pergi, ya?!"pamit Ratih.
'Iya, ma,"sahut Alva.
"Kak, aku pamit, ya?"ucap Trisha tersenyum manis pada Alva.
"Iya,"sahut Alva datar.
"𝐈𝐡.. 𝐜𝐨𝐨𝐥 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐞𝐭 𝐬𝐢𝐜𝐡! 𝐁𝐢𝐤𝐢𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡 𝐬𝐮𝐤𝐚,"batin Trisha.
...🌟"Jangan menilai orang lain dari hartanya, karena harta hanyalah titipan-Nya yang bisa Dia ambil dalam sekejap mata."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued
__ADS_1