
Di ruangan kerja Alva.
"Tuan,"sapa Ferdi saat menemui Alva di kediaman Mahendra.
"Ah, soal Niko, ya?"tanya Alva.
"Iya, Tuan,"sahut Ferdi.
"Duduklah!"titah Alva seraya mengisyaratkan agar Ferdi duduk di kursi yang ada di depannya,"Kemarin kita terlalu sibuk mengurus pernikahan Kakak, jadi aku lupa dengan Niko. Aku belum sempat menanyakan tentang hal itu pada kakakku, Fer,"ujar Alva.
"Saya sudah melepaskan Niko semalam, Tuan. Kalau tidak saya lepaskan, saya takut orang tuanya akan melapor ke polisi karena sudah 24 jam Niko tidak pulang,"lapor Ferdi.
"Iya, kamu benar,"sahut Alva yang benar-benar melupakan masalah Niko karena acara pernikahan Radeva yang dadakan kemarin. Untung saja Ferdi dan Riky cekatan, jadi semua bisa diurus oleh mereka berdua walaupun kemarin itu adalah hari Minggu.
"Tapi Tuan jangan khawatir, walaupun saya melepaskan Niko, saya punya bukti untuk menyeret dia ke dalam jeruji besi,"ucap Ferdi yakin dan tegas seperti biasanya.
"Kamu memang selalu bisa diandalkan. Bulan ini, aku akan memberikan bonus padamu,"ucap Alva karena puas dengan hasil kerja Ferdi.
"Terimakasih, Tuan,"ucap Ferdi dengan senyuman lebar.
Walaupun Ferdi suka melakukan tindakan atas inisiatifnya sendiri tanpa bertanya pada Alva, namun semua tindakan Ferdi tidak ada yang membuat Alva ataupun orang lain rugi karena Ferdi hanya akan menindak orang yang salah saja.
"Fer, kamu sudah bertahun-tahun ikut dengan ku, tapi aku tidak pernah tahu yang mana istri mu. Seingat ku, kamu sudah menikah, kan?"tanya Alva menyelidik. Selama ini Alva selalu penasaran, kenapa Ferdi suka sekali membuat video panas.
"Sudah, Tuan. Istri saya ada empat,"ucap Ferdi sambil nyengir.
"What? Yang benar?"tanya Alva tidak percaya.
"Iya, Tuan. Benar. Yang pertama sudah meninggal karena melahirkan. Yang kedua meninggalkan karena kena kangker, jadi sekarang tinggal istri ketiga dan keempat,"jelas Ferdi.
"Gila, banyak banget istri kamu, Fer. Enak ya, kalau yang satu sedang libur bisa minta jatah sama yang satunya,"sahut Alva kemudian terkekeh.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Tapi kadang mereka liburnya barengan,"sahut Ferdi nyengir.
"Ngomong-ngomong, kamu suka nonton video panas, ya? Karena itu, kamu suka bikin video panas,"tuduh Alva.
"Biasa aja Tuan, cuma buat referensi doang. Soalnya istri saya, satunya masih muda,"jawab Ferdi kembali menyengir.
"Masih muda? Memangnya berapa usia istri kamu?"tanya Alva penasaran.
"Istri ke tiga umurnya 27 tahun dan yang ke empat baru 17 tahun Tuan,"jawab Ferdi jujur.
"What? 17 tahun? Kamu pedofil?"tuduh Alva.
"Tentu saja bukan, Tuan,"kilah Ferdi membela diri.
"Lalu kenapa kamu menikahi gadis berusia 17 tahun? Dia pasti masih sekolah, kan?"tanya Alva pada pria yang seumuran dengannya itu.
"Iya, Tuan. Dia masih sekolah. Kami baru menikah empat bulan yang lalu. Saya menikahi dia karena dia hampir saja menjual diri untuk biaya hidup, biaya sekolah dan biaya ibunya yang masuk rumah sakit karena penyakit batu ginjal. Saya membiayai pengobatan ibunya, biaya sekolahnya dan membawa mereka tinggal di rumah saya. Sebagai gantinya, saya minta dia untuk menikah dengan saya,"ujar Ferdi.
"Dia ikhlas, Tuan. Dia juga tidak cemburu, karena saya berlaku adil pada mereka. Istri ketiga saya malah senang saya menikah lagi,"sahut Ferdi nampak percaya diri.
"Kok bisa? Kamu pasti bohong, mana ada istri yang rela di madu?"tanya Alva nampak tidak percaya.
"Sebenarnya...saya punya kelainan Tuan,"sahut Ferdi menghela napas kasar.
"Kamu punya kelainan? Kelainan apa?"tanya Alva mencondongkan tubuhnya ke arah Ferdi, semakin penasaran dengan Ferdi.
"Saya kalau lagi pengen nggak bisa sebentar, jadi istri saya suka kelelahan. Semua istri saya suka mengeluhkan hal itu. Karena itulah saya tidak bisa jika cuma punya satu istri saja. Tidak setiap malam saya pengen, tapi begitu pengen saya bisa meniduri kedua istri saya secara bergantian dalam satu malam,"jawab Ferdi sambil nyengir.
"What?"pekik Alva yang terkejut dengan pengakuan Ferdi,"Kamu benar-benar mengidap hiper sekss,"ucap Alva seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan..
"Itu bukan kemauan saya, Tuan,"sahut Ferdi kembali menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Jadi istri mu masih lanjut sekolah apa tidak?"tanya Alva yang masih penasaran.
"Masih, Tuan. Saya tidak akan menghalangi dia untuk menuntut ilmu dan mengejar cita-cita nya, walaupun sudah menikah dengan saya. Saya akan mendukung dia untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi,"sahut Ferdi penuh keyakinan.
"Ngomong -ngomong gimana rasanya punya istri yang masih bocah?"tanya Alva masih penasaran.
"Rasanya kembali muda Tuan, lebih bersemangat. Dia suka bermanja-manja dan juga menggemaskan. Lebih mudah di rayu untuk menghangatkan ranjang. Baru merasakan bagaimana nikmatnya surga dunia, jadi masih suka penasaran dan kadang malah minta duluan,"ucap Ferdi kemudian terkekeh saat mengingat istri mudanya yang suka mepet-mepet pengen minta jatah.
"Nggak enaknya apa?"tanya Alva masih penasaran dengan istri muda Ferdi.
"Nggak enaknya, ya, masih labil, Tuan. Jadi harus sabar menghadapinya. Masih harus banyak di ajari banyak hal, apalagi urusan ranjang,"jawab Ferdi kemudian tertawa begitu pula Alva yang ikut tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Ferdi,"Eh, kenapa Tuan bertanya-tanya soal istri muda? Jangan bilang kalau Tuan ingin menikah lagi dan mencari yang masih muda,"tuduh Ferdi memicingkan matanya menatap Alva.
"Sembarangan! Aku tidak punya niat untuk menduakan istri ku seperti apa yang kamu lakukan. Aku ingin menua bersamanya dan berada di sisinya hingga napas terakhir ku. Aku tidak bisa mencintai wanita lain, selain dia,"sambar Alva kemudian menghela napas panjang "Aku hanya penasaran dengan kehidupan pribadi kamu,"sambungnya.
"Oh, saya sangka, Tuan ingin menikah lagi,"celetuk Ferdi.
"Mana ada yang seperti itu!"sewot Alva dan Ferdi hanya bisa menyengir bodoh.
Setelah berbincang lumayan lama, akhirnya Ferdi pun pamit. Alva hanya bisa menghela napas menatap Ferdi yang sudah menjauh.
Ferdi dulunya adalah seorang atlet beladiri, namun karena ada temannya yang tidak menyukai Ferdi, temannya itu memberi Ferdi minuman yang dicampur dengan narkoba hingga Ferdi dikeluarkan dari kejuaraan yang akan diikuti nya dan tidak bisa lagi meniti karir sebagai seorang atlet bela diri, karena namanya menjadi rusak karena masalah narkoba itu.
Ferdi sudah berusaha mencari pekerjaan kesana-kemari untuk memenuhi kebutuhannya dan juga ibunya, tapi tidak ada yang mau menerima lamaran kerjanya hingga saat ibunya meninggal karena sakit, Ferdi tidak mempunyai uang untuk memakamkan ibunya.
Alva bertemu dengan Ferdi saat Ferdi ingin merampok dirinya . Saat itu Alva bertanya pada Ferdi, untuk apa Ferdi merampok. Teryata Ferdi merampok karena tidak punya biaya untuk pemakaman ibunya. Tanpa berpikir panjang Alva malah memberikan sejumlah uang yang lumayan banyak pada Ferdi dan mengatakan jika Ferdi membutuhkan pekerjaan, dia bisa datang pada Alva. Akhirnya Ferdi memutuskan untuk menemui Alva dan tanpa diduganya Alva benar-benar menerimanya bekerja.
Karena selain bela diri ternyata Ferdi juga lumayan ahli dalam komputer, akhirnya Alva membiayai Ferdi untuk kuliah dengan jurusan IT dan merekrut Ferdi sebagai bodyguardnya namun kadang juga membantu pekerjaan Alva soal perusahaan yang berkaitan dengan IT. Ferdi tidak menyangka Alva akan melakukan semua itu untuk nya. Menguliahkan nya, memberikan pekerjaan dan bahkan tempat tinggal yang layak untuknya. Karena mengingat semua kebaikan Alva itulah, Ferdi sangat menghormati Alva dan sangat setia pada Alva. Bagi Ferdi Alva adalah dewa penolongnya.
...🌟"Tidak selamanya kita bisa menilai orang dari apa yang kita lihat dan kita dengar. Karena apa yang dilihat mata dan didengar telinga belum tentu benar."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
To be continued