Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
157. Keputusan Keluarga Mahendra


__ADS_3

"Jika dia berbuat ulah untuk menganggu keluarga ku lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan adikmu itu,"ucap Disha dengan tatapan mata tajam dan mengintimidasi.


Namun hal itu tidak membuat Radeva merasa takut, tapi malah semakin kagum dengan wanita yang duduk di depannya itu. Wanita cantik, tegas, penuh percaya diri dan berkarisma, yang semakin membuat Radeva kagum pada Disha.


"Iya, aku janji dia tidak akan menganggu keluarga kamu lagi,"sahut Radeva tersenyum tipis.


"Aku pegang janjimu sebagai seorang pria sejati. Karena jika kamu tidak bisa membuat Trisha berhenti menganggu keluarga ku dan menjauhkan dia dari keluarga ku, maka aku akan menyebarkan video yang akan menghancurkan adik mu itu,"ucap Disha seraya mengirimkan dua buah video ke nomor handphone Radeva.


"Video apa maksud kamu?"tanya Radeva bersamaan dengan suara notifikasi di handphonenya.


"Aku sudah mengirimnya ke nomor kamu. Aku pergi, terimakasih atas waktunya dan ingat janji mu!"ucap Disha tanpa menjawab pertanyaan Radeva dan langsung beranjak dari duduknya meninggalkan Radeva.


Radeva segera mengambil handphone nya dari saku celananya kemudian dia melihat ada pesan video dari Disha. Radeva beranjak dari duduknya dan membayar pesanan mereka tadi. Radeva keluar dari kafe itu dan segera masuk kedalam mobilnya.


Mata Radeva terbelalak saat menonton video percintaan panas antara Trisha dan Hery. Kemudian Radeva membuka satu video lagi dimana Trisha berusaha mencium bibir Alva bahkan melepaskan hampir seluruh pakaiannya di depan Alva.


Radeva meraup wajahnya kasar. Sungguh dia merasa sangat malu menonton dua Vidio yang dikirim Disha padanya.


"Apa vidio ini yang dimaksud Alva kartu As-nya? Akh...Sial..!! Sial..!!"umpat Radeva kemudian memukul kemudi mobil meluapkan kekesalannya.


"Aku harus memberitahu mama dan papa soal ini. Aku benar-benar sudah muak dengan tingkah laku Trisha. Jika terus dibiarkan, aku takut Trisha akan membuat reputasi keluargaku hancur,"gerutu Radeva kemudian melajukan mobilnya kembali ke apartemen nya.


Setelah beberapa lama beranda di jalan dan berjibaku dengan kemacetan, akhirnya Radeva pun tiba di apartemen yang disewanya. Apartemen mewah tempat tinggal keluarganya untuk sementara selama mereka tinggal di negara itu.


Radeva memarkirkan mobilnya di basemen apartemen mewah itu, kemudian keluar dari dalam mobilnya dan langsung menuju unit apartemen nya dengan menaiki lift.


Sesampainya di depan unit apartemen nya, dengan tidak sabar Radeva menekan tombol angka dengan memasukkan nomor sandi unit apartemen nya. Setelah pintu terbuka Radeva langsung mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan, namun tidak menemukan siapapun.


Radeva kemudian berjalan ke arah kamar kedua orang tuanya dan mengetuk pintu kamar itu.


"Tok.!! Tok.!! Tok.!!"


"Ma, pa! Apa kalian ada di dalam?"seru Radeva setelah mengetuk pintu kamar itu.


"Ceklek"tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka dan Mahendra pun muncul dari balik pintu itu.


"Ada apa, Dev?"tanya Mahendra.

__ADS_1


Apa Trisha ada?"tanya Radeva tanpa menjawab pertanyaan dari Mahendra.


"Dia sedang keluar. Katanya tadi mau ke mall,"sahut Ghina yang muncul dari belakang Mahendra.


"Boleh aku bicara dengan papa dan mama?"tanya Radeva nampak serius.


"Iya,"sahut Mahendra yang melihat keseriusan di wajah Radeva.


"Kita bicara di ruangan kerja ku saja ya, ma, pa,"ajak Radeva.


"Oke,"sahut Mahendra sedangkan Ghina hanya mengangguk.


Radeva berjalan menuju ruang kerjanya diikuti oleh Mahendra dan Ghina. Setelah mereka semua masuk, Radeva pun segera menutup pintu kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Mahendra dan Ghina.


"Ada apa Dev? Kelihatannya serius sekali?"tanya Mahendra.


"Pa, ma, ini soal Trisha,"ucap Radeva menghela nafas yang terasa sesak.


"Apalagi yang dia perbuat Trisha, sayang?"tanya Ghina.


"Apa yang dia lakukan di kantor Alva?" tanya Mahendra yang juga mulai terlihat kesal mendengar Trisha kembali berbuat ulah.


"Trisha mendatangi Alva dan meminta Alva bertanggung jawab atas hilangnya kesuciannya,"ucap Radeva.


"Apa?!"pekik Mahendra dan Ghina bersamaan.


"Di taruh dimana otak anak itu? Apa dia tidak tahu malu? Itu semua terjadi kan karena dia yang memulainya. Dia yang mencari gara-gara dan berniat merusak hubungan orang lain,"gerutu Mahendra.


"Tidak cuma itu, pa. Saat Alva menolaknya, Trisha nekat ingin mencium bibir Alva dan yang lebih parahnya lagi adalah, Trisha hampir membuka seluruh pakaiannya untuk menggoda Alva,"jelas Radeva membuang nafas kasar.


"Apa?!"pekik Mahendra dan Ghina bersamaan, bersamaan pula mereka memijit kepala mereka yang tiba-tiba terasa pusing.


"Kamu tahu dari mana tentang kabar ini?"tanya Mahendra.


"Tadi Disha mengajak aku ketemuan. Disha menceritakan semuanya bahkan juga memberikan bukti nya pada ku,"ucap Radeva kemudian menunjukkan dua buah video pada kedua orang tuanya.


Mahendra dan Ghina sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat kedua Vidio itu. Mereka tidak menyangka bahwa putri yang mereka rawat dan besarkan bisa berbuat serendah itu.

__ADS_1


Mereka menyayangi Trisha sepenuh hati dan mendidik Trisha dengan baik, namun nyatanya semua hal baik yang mereka tanamkan pada diri Trisha tidak ada artinya bagi Trisha. Dan yang lebih parahnya Trisha malah bertingkah laku sebaliknya.


"Disha mengancam ku akan menyebarkan kedua vidio itu jika sampai Trisha masih terus menganggu keluarga mereka, dan aku tidak bisa menjamin jika Trisha tidak akan lagi menganggu keluarga Disha, pa." ucap Radeva memecah keheningan di ruangan itu.


"Anak itu benar-benar akan membuat kita semua malu,"celetuk Mahendra.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"tanya Ghina.


"Dari vidio itu dan juga dari cara Trisha berinteraksi dengan orang lain selama ini, aku menyimpulkan bahwa Trisha menjadi sombong karena merasa mempunyai kekayaan, pa, ma,"ujar Radeva.


"Iya, kamu benar, dia sombong karena merasa kaya,"sahut Mahendra.


"Apa tidak sebaiknya kita katakan pada Trisha jika sesungguhnya dia hanyalah anak pungut, pa, ma?"cetus Radeva.


"Tapi Dev, mama takut, kenyataan itu akan menyakiti hati nya, sayang,"sahut Ghina.


"Tapi dia semakin sombong karena merasa orang tuanya kaya, ma. Dia menyombongkan harta yang papa dan mama punya untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan bahkan untuk menghina orang lain, ma,"


"Papa setuju. Kenapa kita harus menjaga hati dan perasaannya jika dia saja tidak mau menjaga hati dan perasaan orang lain?"timpal Mahendra.


"Cepat atau lambat dia juga harus tahu siapa dia yang sesungguhnya. Dan aku rasa, saat inilah saat yang tepat untuk memberitahu nya agar seluruh kesombongan nya itu runtuh,"ujar Radeva tidak setuju dengan pendapat mamanya


"Radeva benar, ma. Mungkin dengan cara ini dia tidak berbuat ulah lagi"timpal Mahendra.


"Dia harus tahu jika dia juga bukan siapa- siapa jika tanpa kita,. Aku sudah muak membereskan semua kekacauan yang selalu dia buat, ma. Dan kali ini aku sudah tidak bisa menolerir nya lagi,"imbuh Radeva.


"Baiklah, jika itu yang terbaik menurut kalian, mama setuju,"sahut Ghina menghela nafas panjang.


"Oke, berarti keputusan kita sudah bulat. Jadi kita akan memberitahu Trisha jika dia bukan anak kandung papa dan mama, melainkan anak angkat,"tukas Radeva.


"Iya,"sahut Mahendra.


...🌟"Suatu hari, kesombongan, keangkuhan dan keserakahan akan membuat hati orang yang memiliknya berdarah."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2