Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
197. Canggung


__ADS_3

Disha menggeliat merasakan tubuhnya terasa begitu lelah, masih enggan untuk membuka matanya. Bibirnya melengkung keatas saat mengingat kejadian semalam yang pikirnya adalah mimpi.


"Aku merindukan mu,"gumam Disha dengan mata terpejam namun sesaat kemudian senyum di bibirnya menghilang saat mengingat kabar tentang kecelakaan pesawat udara yang ditumpangi Alva.


Disha perlahan membuka matanya, menatap sendu sisi ranjang tempat Alva biasa berbaring. Disha rindu suasana saat dirinya menggeliat dan terbangun dalam dekapan suaminya, menatap wajah tampan dengan rambut yang acak-acakan. Dada bidang tempatnya biasa bermanja-manja dengan otot-otot yang membuatnya ingin selalu menyentuhnya.


Disha menghela dan membuang napas kasar dan tanpa sengaja, matanya membulat saat menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.


"Astaga.!!! Sudah siang banget !!"pekik nya langsung bangkit dari pembaringan nya, namun matanya kembali membulat saat selimut yang dikenakan nya melorot dan melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang.


"Astaga.!!"pekik nya lagi langsung kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.


"A..aku.. polos? A.. apakah yang semalam bukan mimpi? Apa...apa benar Alva sudah pulang?"gumaman bingung sendiri, menatap seluruh ruangan tapi tidak mendapati Alva ada di ruangan itu.


Disha buru-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu Disha ingin memastikan apa Alva benar-benar sudah kembali.


"Ceklek"Alva masuk ke dalam kamarnya dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk Disha. Alva menatap ranjang yang kosong dan mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi yang menandakan istrinya sedang mandi. Sudut bibirnya terangkat ke atas saat mengingat percintaan mereka semalam, namun tiba-tiba senyum nya pudar saat mengingat masa hukuman nya yang belum selesai.


"Shitt.!! Bagaimana jika dia bertambah marah karena aku telah melanggar ketentuan hukuman darinya? Dammed.!! Semalam aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku sendiri,"umpat Alva merutuki dirinya sendiri.


"Ceklek"pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Disha yang hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya dari dada hingga setengah pahanya serta handuk kecil yang membungkus rambutnya.


"Degh" Disha melihat Alva yang juga sedang melihatnya. Disha ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya ini bukanlah ilusi. Dengan susah payah Alva menelan salivanya saat melihat tubuh istrinya yang nampak menggoda di matanya.


"Sayang, aku bawakan makan siang untuk mu. Habiskan, ya?! Aku ada perlu di luar, aku pergi dulu,"ucap Alva kemudian segera berlalu dari kamar itu karena takut lepas kontrol dan kembali menerkam istrinya jika terus berada dalam kamar itu, tanpa menunggu jawaban dari Disha, Alva langsung pergi.


"Jadi dia benar-benar sudah pulang? Dia baik-baik saja. Terimakasih Tuhan!!" gumam Disha dengan senyum yang mengembang sempurna di bibirnya menatap Alva yang sudah menghilang di balik pintu, kemudian menatap nampan yang berisi makanan.


Disha segera mengenakan pakaian, dan memoles wajah nya agar terlihat cantik di mata suaminya. Setelah itu Disha memakan makanan yang sudah dibawakan Alva dengan hati yang bahagia.


Alva pergi membeli handphone baru kemudian menemui Ferdi. Alva meminta Ferdi menyelidiki Dita untuk mengetahui motif apa yang membuat Dita ingin melenyapkan dirinya. Saat matahari sudah tergelincir, Alva baru pulang dan disambut oleh Kaivan yang nampak sangat senang melihat wajah papanya.

__ADS_1


"Papa...!!"pekik Kaivan saat melihat Alva, langsung berlari menghampirinya Alva.


"Jagoan papa!"seru Alva langsung menangkap tubuh putranya itu dan menggendongnya.


"Papa, papa.. Kai mau lenang cama papa," celoteh balita itu bergelayut di leher papanya.


"Oke, kita renang sekarang,"sahut Alva dengan tersenyum manis seraya mengelus kepala putranya itu.


Tak lama kemudian anak dan ayah itupun sudah bersenda gurau di dalam kolam renang. Radeva yang baru bangun pun langsung bergabung dengan keduanya saat melihat keseruan ke duanya di kolam renang. Ketiganya nampak bahagia berenang bersama sambil bersenda gurau. Disha yang melihat itu pun merasa senang.


Setelah puas berenang dan bermain, akhirnya ketiganya pun menyudahi kegiatan mereka itu. Radeva langsung kembali ke kamar untuk membersikan diri. Sedangkan Alva membawa Kaivan untuk mandi bersamanya seperti yang sering mereka lakukan.


"Sini, jagoan mama! Pakai baju dulu,"ucap Disha saat Alva keluar dari kamar mandi dengan Kaivan dalam gendongannya. Disha langsung memakaikan Kaivan baju. Nampak ada kecanggungan diantara Disha dan Alva.


***


Keluarga Bramantyo nampak berkumpul di ruang keluarga, namun tiba-tiba Ghina dan Mahendra datang menghampiri mereka.


"Iya, kamu nggak pulang-pulang dari kemarin, jadi kami susul,"sahut Ghina yang sebenarnya sudah rindu dengan cucunya.


"Ini semua karena menantu mama itu," sahut Radeva sambil melirik Alva sinis.


"Memang kenapa dengan Alva?"tanya Mahendra, sedangkan Ghina sudah menggendong Kaivan.


"Dia membuat aku dan Om Bramantyo tidak tidur semalaman karena mencari dia di lokasi jatuhnya pesawat,"jawab Radeva yang masih saja merasa kesal jika mengingat dia panik, khawatir dan tidak tidur semalaman karena mengira Alva menjadi korban kecelakaan pesawat, tapi yang dikhawatirkan dan di cari semalaman malah asyik bercinta dengan adiknya.


"Ck. Aku kan tidak tahu akan ada kejadian seperti itu. Lagian aku juga kehilangan handphone ku, hingga aku tidak bisa menghubungi siapapun,"sahut Alva membela diri.


"Tapi kamu kan bisa beli yang baru,"ketus Radeva.


"Aku hanya berpikir untuk cepat -cepat pulang dan tidak memikirkan yang lainnya,"balas Alva.

__ADS_1


"Sudah! Sudah! Kalian ini kalau ketemu berantem mu,"sahut Ratih menengahi.


"Ada apa sebenarnya?"tanya Mahendra yang nampak bingung, begitu pula dengan Ghina.


Akhirnya Bramantyo, Radeva dan Alva pun menceritakan apa yang terjadi secara bergantian. Disha yang juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pun, akhirnya tahu apa yang telah dialami suami, kakak dan juga mertuanya semalam.


"Sebaiknya kita segera mengusut tuntas masalah ini. Papa akan minta kenalan papa yang ada di negara itu untuk membantu menyelidiki kasus kecelakaan yang terjadi padamu itu, Al,"ujar Mahendra setelah mendengar cerita Alva.


"Terimakasih, pa,"sahut Alva.


"Oh ya Dev, bagaimana dengan rumah untuk tempat tinggal baru kita?"tanya Mahendra.


"Tinggal merenovasi beberapa bagian saja, pa. Sebentar lagi akan selesai dan bisa kita tempati, pa. Mungkin seminggu lagi kita sudah pindah ke rumah itu,"jawab Radeva.


"Mama sudah tidak sabar untuk pindah ke rumah itu dan mengumumkan bahwa Disha adalah putri kita,"sahut Ghina antusias.


"Apa Trisha sudah tahu jika Disha adalah putri kandung kalian, Gin?"tanya Ratih.


"Belum, Rat. Kami belum memberi tahu siapapun tentang hal ini. Hanya kita yang tahu soal ini, aku ingin membuat kejutan untuk semua orang. Aku ingin tahu bagaimana reaksi semua orang saat mengetahui bahwa istri dari Alvarendra Bramantyo adalah putri dari keluarga Mahendra,"sahut Ghina nampak sangat bahagia.


"Tapi jujur, sebenarnya aku agak mengkhawatirkan soal Trisha, ma,"sahut Radeva.


"Apa yang kamu khawatirkan dari Trisha?" tanya Ghina tak mengerti.


"Trisha tidak terima saat mengetahui bahwa dia tidak mendapatkan warisan dari papa, walaupun dia tahu bahwa dia bukan putri kandung papa dan mama. Ditambah lagi dia waktu itu sangat terobsesi dengan Alva. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat tahu Disha adalah adik kandungku. Aku takut dia melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan,"jelas Radeva.


"Jika seperti itu, kita harus mengawasi Trisha dan menjaga Disha dengan baik," sahut Mahendra.


"Apa papa juga akan mengundang paman Nalendra untuk hadir di pesta itu nanti?"tanya Radeva pada Mahendra.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2