Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
107. Menyalahkan


__ADS_3

Di ruang kerja Adiguna.


Adiguna menyodorkan sebuah map kepada Hery, membuat Hery mengernyitkan keningnya.


"Apa ini, pa?"tanya Hery menatap pada ayah mertuanya.


"Kamu bisa membacanya sendiri,"ucap Adiguna.


Dengan jantung yang berdetak kencang, Hery meraih map yang berwarna coklat itu kemudian membuka dan membaca isinya. Seketika Hery merasa panik.


"Pa, aku tidak ingin menandatangani ini, aku tidak ingin bercerai dari Anjani,"


"Kenapa? Kamu ingin memanfaatkan putri saya? Kamu ingin menjadikan putri saya sebagai pemuas kebutuhan biologis kamu? Atau menjadikan putri saya sebagai alat untuk mendapatkan warisan dari papa kamu?"cecar Adiguna yang sekarang menyebut dirinya dengan kata saya, tidak lagi papa. Seolah menganggap Hery sebagai orang asing.


"Itu tidak benar, pa. Kami telah menikah, wajar jika kami melakukan hubungan suami-istri. Dan ada anak kami didalam kandungan Anjani, apa papa tega cucu papa lahir dan besar tanpa seorang ayah?"ucap Hery mencoba membujuk Adiguna agar dirinya dan Anjani tidak bercerai.


"Saya akan mencarikan cucu saya seorang ayah yang dapat mencintai dan dan menyayangi putri dan cucu saya setulus hati. Kalau tidak ada, saya juga mampu menjaga, merawat sekaligus membesarkan cucu saya,"ucap Adiguna menatap tajam pada Hery.


"Tapi saya tidak mau bercerai dengan Anjani, pa,"kekeuh Hery.


"Tapi saya dan Anjani menginginkan perceraian ini. Selama Anjani mengandung, Anjani harus berusaha sendiri untuk mendapatkan makanan yang di idamkan nya karena kamu tidak mau mencarikan nya,"


"Kamu bahkan menurunkan Anjani di jalan saat Anjani memintamu menemaninya untuk periksa ke dokter. Suami macam apa kamu yang tega menurunkan istri yang sedang mengandung anakmu di jalan?!"ucap Adiguna dengan nada tinggi dan penuh emosi.


"Pa, tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya berjanji, mulai sekarang akan memperlakukan Anjani dengan baik. Saya akan belajar untuk mencintai Anjani,"pinta Hery.


"Sudah terlambat! Saya sudah tidak percaya lagi pada mu. Saya tidak ingin putri saya kamu jadikan untuk bahan pembelajaran. Bagaimana jika kamu masih tidak bisa mencintai putri saya? Putri saya akan semakin terluka dan saya tidak mau itu terjadi,"

__ADS_1


"Sebaiknya sekarang kamu tandatangani surat cerai ini. Setelah itu, pergilah dari rumah ini. Saya sudah tidak mau melihat muka kamu lagi!"ucap Adiguna tegas.


"Tidak, saya tidak akan pernah menandatangani surat cerai ini,"ucap Hery keukeh.


"Kalau begitu, saya akan menuntut kamu di pengadilan. Saya pastikan kamu akan bercerai dari putri saya. Dan sekarang sebaiknya kamu angkat kaki dari rumah saya sebelum security menyeret kamu keluar dari rumah saya!"usir Adiguna.


Dengan terpaksa Hery melangkah keluar dari rumah itu, bahkan Adiguna sudah meletakkan koper Hery didepan pintu utama. Adiguna benar-benar merasa geram saat Anjani pulang dari mall.


Anjani membuka tentang semua yang terjadi padanya selama ini pada Adiguna. Karena sebelumnya, Anjani tidak pernah bercerita apapun tentang apa yang dilakukan oleh Hery padanya. Terus terang Anjani memang takut Hery menyakiti janin yang sedang dikandungnya. Tapi alasan utama nya adalah karena Anjani ingin berusaha membina rumah tangga yang harmonis dengan Hery.


Anjani ingin mereka berdua belajar untuk saling mencintai. Ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anaknya nanti. Namun ternyata Hery tidak mau sama sekali melakukan hal yang sama dengan Anjani dan semakin menindas Anjani.


Apalagi saat Hery memperlakukan dirinya yang sedang hamil besar dengan kasar di depan umum. Anjani benar-benar sudah tidak ingin lagi melanjutkan pernikahan mereka itu. Adiguna yang mendengar pengakuan Anjani tadi benar-benar geram kepada Hery, Ingin rasanya Adiguna menghajar Hery.


Sedangkan Hery yang diusir oleh Adiguna, terpaksa pulang kerumahnya. Sesampainya di rumah, Hery langsung turun dari mobilnya, dengan wajah tertunduk berjalan menuju pintu. Namun baru saja selangkah kakinya memasuki pintu utama, terlihat sepasang kaki di depannya, hingga membuat Hery mendongakkan kepalanya.


"Plak...Plak... Plak...."tiba-tiba Darmawan menampar Hery.


"Pa.?! Kenapa papa menamparku?"protes Hery.


"Kenapa kamu bilang? Suami macam apa kamu yang menganiaya istri mu sendiri yang sedang mengandung anakmu, bahkan kamu menganiaya istri mu didepan umum! Kamu tahu?! Sikapmu itu sama sekali bukan sikap laki-laki sejati, tapi sikap seorang pecundang!"


"Kamu menganiaya seorang perempuan yang tidak berdaya. Sungguh, papa sangat malu mempunyai anak seperti kamu! Kamu itu suami yang tidak bertanggung jawab!"


"Kapan kamu bisa membuat hidup papa tenang dan bahagia? Kapan kamu bisa menjadi anak yang bisa papa banggakan? Kamu terus saja membuat ulah! Sudah punya istri tapi masih saja tidak berubah!" ujar Darmawan yang merasa geram dengan putra semata wayangnya itu.


Hari itu, Adiguna menceritakan semua yang terjadi dalam rumah tangga anak mereka hingga membuat Darmawan tidak habis pikir dengan tingkah dan kelakuan Hery.

__ADS_1


"Kalau waktu itu papa tidak memaksaku kuliah di luar negeri, aku pasti tidak terpengaruh pergaulan bebas. Jika papa tidak memaksaku kuliah di luar negeri, pasti sekarang Ayu sudah menjadi istri ku, bukan istri si Rendra itu!"


"Jika Ayu yang menjadi istri ku, aku pasti akan menjadi laki-laki yang setia, aku tidak akan menjadi pemain wanita. Aku seperti ini karena papa! Papa yang membuat aku menjadi seperti sekarang, kehilangan orang yang aku cintai!"tuduh Hery menyalahkan Darmawan.


"Kamu tahu? Jodoh, rejeki, dan. mati itu sudah diatur Tuhan. Jika memang dia jodoh mu, maka bagaimana pun kalian dipisahkan kalian akan bertemu lagi dan bersama-sama, karena tulang rusuk tidak akan pernah tertukar!"


"Dan kamu dengan Ayu memang tidak berjodoh. Bagaimana pun kamu ingin mendapatkan dia, sampai sekarang kamu tidak pernah bisa mendapatkannya. Sebaliknya, begitu banyak halangan yang memisahkan Ayu dan Rendra, tapi sampai sekarang mereka masih tetap bersama,"


"Itu tandanya kamu bukan jodoh Ayu, jadi jangan menyalahkan orang lain atas takdir yang tidak berpihak padamu! Mulai sekarang kamu hanya akan mendapatkan uang dari gaji sebagai seorang CEO. Semua fasilitas mu papa ambil kecuali satu buah mobil. Berikan semua kartumu pada papa!"perintah Darmawan.


"Pa, yang benar saja?! Masa aku hanya mendapatkan uang dari gaji menjadi CEO dan hanya boleh memakai satu mobil?!" protes Hery.


" Jika kamu tidak mau, kamu boleh angkat kaki dari rumah papa tanpa apapun. Papa sudah punya penerus untuk perusahaan papa. Jadi papa tidak akan bergantung pada mu lagi,"ucap Darmawan tegas.


"Adiguna tidak akan membiarkan papa mengambil cucunya,"ucap Hery.


"Kami sudah tanda tangan hitam di atas putih bahwa kami akan membesarkan cucu kami bersama-sama dan menjadikan cucu kami sebagai pewaris perusahaan kami,"ucap Darmawan yang membuat Hery tidak percaya.


"Bagaimana kalau anak itu meninggal?"tanya Hery yang membuat mata Darmawan melotot.


"Jika kamu berani menyakiti cucu papa, kamu akan menjadi gelandangan di luar sana. Karena jika anak itu meninggal, maka papa akan menyumbangkan seluruh harta papa ke panti asuhan," ucap Darmawan dengan penuh amarah.


...🌟"Sekuat apapun kamu mengejar, jika dia bukan jodoh mu, maka dia tidak akan pernah bisa kamu dapatkan....


...Bagaimana pun kamu menghindar, jika dia jodoh mu, maka kamu pasti akan bertemu di pelaminan,"🌟...


..."Nana 17 Oktober "...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2