Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
75. Istri Simpanan


__ADS_3

"Disha?!"ucap Ratih yang datang bersama Bramantyo, langsung memeluk menantunya itu,"Kamu tambah cantik aja sayang,"lanjut Ratih setelah mengurai pelukannya kemudian menyibakkan rambut Disha yang menjuntai ke depan kearah belakang.


"𝐀𝐬𝐭𝐚𝐠𝐚.!! 𝐀𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢,"batin Ratih dengan mata melotot lalu cepat-cepat merapikan rambut Disha kearah depan untuk menutupi lukisan yang dibuat putranya. Ratih kemudian mengalihkan pandangannya pada putranya sang tersangka yang telah melukis di leher menantunya.


"𝐀𝐬𝐭𝐚𝐠𝐚.!! 𝐀𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐝𝐮𝐚,"batin Ratih lagi, matanya kembali melotot saat melihat lukisan yang sama dileher putranya.


"Mama kenapa?"tanya Bramantyo, Alva dan Disha bersamaan saat tubuh Ratih terhuyung ke belakang namun langsung ditangkap Bramantyo agar tidak terjatuh.


"Tidak apa-apa. Mama cuma kaget saja," ucap Ratih.


"Kaget kenapa, ma?"tanya Bramantyo.


"Aku terkejut dengan apa yang dilakukan putra dan menantu kita, pa,"ucap Ratih sambil memijit batang hidungnya sedangkan Alva dan Disha nampak bingung.


"Memangnya apa yang mereka lakukan?"tanya Bramantyo tidak mengerti begitu pula dengan Alva dan Disha sebagai tersangka utamanya.


"Lihatlah, mereka melukis di leher pasangannya masing-masing sebelum datang kesini! Entah di mana mereka melakukannya,"ujar Ratih melirik leher menantu dan putranya.


Bramantyo pun spontan melihat kearah leher Disha dan Alva kemudian menghela nafas panjang.


"Kalian berdua ini benar-benar tidak tahu malu,"ucap Bramantyo kepada Alva dan Disha yang menjadi salah tingkah. Bramantyo kemudian membawa Ratih menjauh dari Alva dan Disha.


"Tuan Muda, Nyonya,"tegur Riky setelah Bramantyo dan Ratih pergi.


"Kamu sudah sampai?"tanya Alva.


"Iya Tuan. Ngomong-ngomong Tuan dan Nyonya tadi melukis dimana?"tanya Riky nampak menahan tawanya melirik leher kedua majikannya.


"Kenapa? Kamu iri karena tidak bisa melukis seperti kami?! Dasar jomblo akut, nggak laku-laku!"cibir Alva.


"Kalau kamu mau, nanti aku jodohkan dengan temanku yang sama jomblonya kayak kamu, dari pada ntar kamu nggak laku-laku terus jadi bujang lapuk. Kan berabe jika mati gentayangan gara-gara masih perjaka,"imbuh Disha.


"Issh.. Tuan dan Nyonya kompak sekali menghinaku,"ujar Riky kemudian berlalu meninggalkan pasangan suami-istri itu.


Apa begitu banyak kamu melukis di leher ku?"tanya Alva sambil berbisik di telinga Disha.


"Kenapa? Apa kamu malu?"sahut Disha berbisik pada Alva.


"Tidak, tapi aku nanti akan menghukum mu karena berani menggoda aku disaat aku masih harus puasa,"sahut Alva tersenyum smirk sambil menaik turunkan alisnya.


"Kita lihat saja nanti, saa..yangg.!"ucap Disha tersenyum menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Tumben sekali Tuan muda tidak marah saat diledek. Kan jadi nggak seru meledeknya,"gerutu Riky,"Haiss.. pebinor itu ada disini juga rupanya. Apa kali ini dia akan membuat ulah lagi jika melihat Tuan Muda dan istrinya? Aku akan mengawasinya,"gumam Riky saat melihat Hery kemudian mulai mengawasi pergerakan Hery.


Sementara itu tak jauh dari Alva dan Disha nampak Anjani yang baru datang dengan Adiguna. Anjani refleks berhenti saat melihat Alva yang memeluk pinggang Disha dengan mesra serta tampak berbisik dan tersenyum pada Disha. Senyum yang tidak pernah Anjani lihat selama Anjani mengenal Alva.


"𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐢𝐭𝐮? 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐧𝐚𝐦𝐩𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐭𝐮,"batin Anjani mengepalkan tangannya.


Adiguna yang menggandeng Anjani pun ikut berhenti dan melihat ke arah dimana mata putrinya tertuju.


"𝐀𝐩𝐚 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐀𝐲𝐮𝐝𝐢𝐬𝐡𝐚? 𝐃𝐢𝐚 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐩𝐮𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮,"batin Adiguna.


"Sayang ayo kita ke sana, ada rekan bisnis papa di sana,"ajak Adiguna saat melihat putrinya nampak sedih bercampur marah saat menatap ke arah Alva.


"Tuan Darmawan, apa kabar?"sapa Adiguna kepada Darmawan.


"Oh.. Tuan Adiguna. Saya baik. Apa kabar anda?"tanya Darmawan berbasa-basi.


"Seperti yang anda lihat, saya sehat,"jawab Adiguna seraya tersenyum.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu,"ucap Darmawan.


"Iya itu benar,"sahut Adiguna.


"Baik, Tuan,"sahut Anjani sambil memberikan senyuman kecil.


"Jadi benar anda sudah bercerai dari Tuan Rendra?"tanya Darmawan.


"Iya, itu karena tidak ada kecocokan diantara kami. Maklum kami menikah karena perjodohan,"ucap Anjani mencoba tetap tenang.


"Oh begitu ya?!"sahut Darmawan.


"Hey, lihat lah di sana! Bukannya itu Tuan Rendra Bramantyo?!" ucap seorang pria tambun didekat Darmawan, Adiguna dan Anjani.


"Wah..dia memeluk pinggang seorang wanita yang sangat cantik dan Tuan Rendra terlihat begitu posesif,"sahut seorang pria jangkung.


"Saya mendengar rumor kalau mereka sudah menikah sebelum Tuan Rendra menikahi Nona Anjani, bahkan sekarang sudah memiliki seorang putra,"ucap pria tambun.


Itu bukan rumor, tapi fakta,"ucap si pria jangkung, sedangkan Darmawan, Adiguna dan Anjani diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua pria itu.


"Benarkah? Dari mana kamu tahu?"tanya si pria tambun.


"Pacar saya adalah staf keuangan di perusahaan Bramantyo Group. Kata pacar saya, Tuan Rendra mengumumkan hubungannya dengan perempuan itu pada seluruh karyawan Bramantyo Group,"ujar si pria jangkung.

__ADS_1


'Terus bagaimana kamu tahu kalau wanita itu memang benar istri Tuan Rendra?"tanya pria tambun.


'Pacar saya memotret mereka saat mereka ada di atas podium,"sahut si pria jangkung kemudian menunjukkan handphone nya kepada si pria tambun.


"Wahh..beneran, perempuan ini adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang sekarang sedang bersama Tuan Rendra,"ucap pria bertubuh tambun.


Tidak jauh dari tempat kedua pria itu berbincang, ternyata ada Hery yang juga mendengarkan pembicaraan kedua pria itu. Diam-diam Hery mendekat kearah Alva dan Disha dengan handphone di tangannya.


"𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐀𝐲𝐮?! 𝐏𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝐰𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐁𝐫𝐚𝐦𝐚𝐧𝐭𝐲𝐨 𝐆𝐫𝐨𝐮𝐩 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐟𝐨𝐫𝐦𝐚𝐬𝐢 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐬𝐨𝐚𝐥 𝐀𝐲𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐲𝐮. 𝐓𝐞𝐫𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚 𝐚𝐲𝐮 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚. 𝐀𝐲𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐌𝐏 𝐝𝐮𝐥𝐮. 𝐒𝐞𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐀𝐲𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮, 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐁𝐫𝐚𝐦𝐚𝐧𝐭𝐲𝐨,"batin Hery kemudian berjalan mendekati Disha.


"𝐀𝐜𝐡..𝐬𝐢𝐚𝐥!! 𝐏𝐞𝐛𝐢𝐧𝐨𝐫 𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐤𝐚𝐭𝐢 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐍𝐲𝐨𝐧𝐲𝐚,"umpat Riky dalam hati segera mendekat ke arah Tuannya.


"Hey Ayu, apa kabar?"tanya Hery kepada Disha dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Disha dan Alva yang sedang berbicara dengan beberapa pengusaha pun langsung menoleh ke arah suara yang sangat mereka kenali.


"𝐇𝐚𝐢𝐬𝐡..𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐢𝐚 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐬𝐢𝐜𝐡?! 𝐁𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐛𝐞 𝐧𝐢𝐜𝐡 𝐮𝐫𝐮𝐬𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚,"batin Disha sambil melirik suaminya.


"𝐏𝐫𝐢𝐚 𝐛𝐫𝐞𝐧𝐠𝐬𝐞𝐞𝐤 𝐢𝐧𝐢! 𝐀𝐰𝐚𝐬 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐮𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢!"batin Alva.


"Ayudisha Putri, apa kabar?"ucap Hery mengulangi pertanyaannya.


"Ayudisha Alvarendra, itu nama istri saya,"sahut Alva dengan wajah datar.


"Bagi saya dia tetap Ayudisha Putri dan maaf, saya tidak bicara dengan anda,"ucap Hery menatap Alva dengan tatapan tidak suka dan nada bicara yang terdengar ketus.


"Sebaiknya Nyonya ajak Tuan pergi dari sini sebelum emosi Tuan Muda semakin naik,"bisik Riky yang sekarang berada di sebelah Disha.


"Nama itu adalah nama sebelum Disha menikah dengan saya. Dan sayangnya yang anda ajak bicara adalah istri saya,"ucap Alva dengan tatapan tajam.


"𝐀𝐝𝐮𝐡, 𝐚𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐚𝐥𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐦𝐚𝐮 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐣𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢? 𝐌𝐢𝐤𝐢𝐫 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚..𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫..!!"batin Disha berpikir keras setelah mendengar bisikan dari Riky.


"Istri yang selama ini anda perlakukan seperti istri simpanan?"cibir Hery.


"Cukup.!!"


...🌟"Kejarlah cinta mu sebelum janur kuning melengkung, dan berhentilah berjuang jika dia sudah halal bagi orang lain." 🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2