
"Apa maksud mama?!"tanya Alva yang tiba-tiba membuka pintu kamar itu.
"Alva?!"ucap Ratih.
"Kamu sudah datang? Ayo kita ke ruang kerja,"ajak Bramantyo yang sebenarnya juga terkejut dengan kehadiran Alva, namun mencoba mengalihkan perhatian Alva.
"Tidak! Jelaskan dulu apa maksud mama mengatakan bahwa aku bukan anak kandung mama!?"ucap Alva menatap Ratih dan Bramantyo bergantian.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kamu hanya salah dengar,"kilah Bramantyo.
"Aku tidak salah dengar, pa. Pendengaran ku masih baik. Jelaskan padaku apa maksud kata-kata mama!?"tuntut Alva.
"Sepertinya kita memang harus menjelaskan pada Alva, pa,"ucap Ratih.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, ma. Alva adalah putra kita,"keukeh Bramantyo.
"Alva berhak mengetahuinya, pa! Mama tidak mau membawa rahasia ini sampai mati,"ucap Ratih.
"Tolong jelaskan padaku, ma!"pinta Alva sedangkan Bramantyo hanya membuang nafas kasar.
"Kemari lah, nak!"ucap Ratih menarik tangan Alva untuk duduk di sofa yang ada di kamar itu. Akhirnya mereka bertiga pun duduk di sofa itu.
***
Flash back 29 tahun yang lalu.
"Brakk..brakk... brakk..."
'Mobil pribadi yang berisi tiga penumpang bertabrakan dengan sebuah mobil pick up yang mengangkut galon air mineral.
Supir mobil pick up meninggal ditempat sedangkan mobil pribadi yang ditabraknya terdapat seorang perempuan hamil yang masih sadar, sedangkan pria yang berada di belakang kemudi dan seorang anak berusia lima tahun di kursi penumpang nampak tidak sadarkan diri.
"Tolong anak dan suami saya!"ucap seorang perempuan yang sedang hamil besar.
Dalam perjalanan ke rumah sakit perempuan yang sedang mengandung itu mengalami kontraksi sehingga saat tiba di rumah sakit langsung dibawa ke ruang bersalin.
"Ayo bu, dorong lagi, kepalanya sudah hampir keluar,"ucap seorang dokter memberikan semangat.
"Akhh..!!"pekik perempuan hamil itu.
"Ayo bu, sedikit lagi,"ucap sang dokter memberi semangat.
__ADS_1
"Akkkhhh..."pekik perempuan itu hingga bayinya berhasil keluar.
"Dokter, kenapa anak saya tidak menangis?!"tanya perempuan yang tidak lain adalah Ratih.
"Maaf Bu, putra anda tidak selamat,"ucap dokter dengan wajah sedih.
"Tidak.!! Itu tidak mungkin, dok!!"pekik Ratih menangis pilu hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
Setelah beberapa jam akhirnya Ratih sadar. Seorang dokter kembali mendatangi Ratih dengan wajah sedih.
"Maaf, anda yang bernama Nyonya Ratih?''tanya Dokter tersebut.
"Iya, dok,"sahut Ratih.
"Suami anda bernama Hendri berusia 30 tahun dan putra anda bernama Indra berusia lima tahun, benar?"tanya dokter itu lagi.
"Iya, dok. Bagaimana keadaan anak dan suami saya?"tanya Ratih dengan jantung yang berdetak kencang.
"Tambahkan hati Nyonya, anak dan suami anda telah meninggal dunia. Saya turut berdukacita,"ucap dokter itu lagi.
"Tidak.. tidak mungkin.!! Dokter pasti berbohong kan? Anak dan suami saya tidak mungkin meninggal!! Dokter bohong.!! Bohong.!!"pekik Ratih menangis histeris.
Dokter pun akhirnya menyuntikkan obat penenang agar Ratih tidak lagi histeris. Setelah sadar akhirnya Ratih bisa lebih tenang dan memakamkan suami dan kedua anaknya.
Ratih kembali sadar dan mendapati dirinya kembali berada di rumah sakit. Ratih kemudian turun dari brankar dan berjalan tanpa arah dan tujuan hingga Ratih berhenti di depan ruangan khusus bayi. Ratih melihat seorang bayi mungil yang sedang menangis dan dipasang infus di kakinya.
"Nyonya, kenapa Nyonya di sini?"tanya seorang perawat yang mengenali Ratih.
"Sakit apa bayi itu? Kenapa dia terus menangis dan kakinya di pasang infus?"tanya Ratih tanpa menjawab pertanyaan perawat itu.
"Bayi itu lahir di malam yang sama saat Nyonya melahirkan. Tapi ibunya tiba-tiba menghilang entah kemana. Bahkan suaminya pun tidak tahu kemana istrinya pergi,"
"Kami sudah memberi bayi itu susu formula, tapi bayi itu selalu memuntahkan nya. Karena itu kami terpaksa memberikan infus. Entah sampai kapan bayi itu bisa bertahan jika terus seperti itu,"jelas perawat itu nampak sedih.
"Kasihan sekali bayi itu.Bolehkah saya melihatnya?"tanya Ratih.
"Boleh,"ucap perawat itu kemudian mengajak Ratih ke tempat bayi yang masih terus menangis itu.
"Dia tampan sekali.Bolehkah saya menyusuinya?"tanya Ratih lagi karena merasa sangat kasihan dengan bayi itu.
"Silahkan,"ucap perawat itu.
__ADS_1
Perawat itu nampak senang saat bayi mungil itu mau meminum ASI dari Ratih. Sedangkan Ratih menitikkan air mata saat melihat bayi mungil yang disusuinya itu. Ratih teringat dengan bayinya yang sudah meninggal.
"Sus, saya ingin melihat putra saya,"tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakang tubuh Ratih.
"Nyonya itu memberikan ASI-nya pada putra anda,"ucap perawat itu.
"Siapa kamu?" tanya Bramantyo dari belakang Ratih.
Ratih yang telah selesai menyusui bayi dalam pangkuannya itu pun membalikkan tubuhnya.
"Kamu? Kamu istri Tuan Hendri kan?'tanya Bramantyo yang terkejut melihat istri dari pebisnis yang dia ketahui tinggal di luar negeri.
"Maaf, saya telah lancang memberi putra anda ASI saya. Kata perawat ini, putra anda tidak mau minum susu formula. Saya tidak tega melihatnya menangis dan harus di infus. Karena itu saya memberikan ASI saya,"jelas Ratih.
"Terimakasih,"ucap Bramantyo yang melihat putranya nampak tidur dengan lelap.
"Saya bersedia memberikan ASI saya jika anda mengizinkan. Saya tidak tega melihatnya seperti tadi,"ucap Ratih.
"Lalu bagaimana dengan bayi anda?"tanya Bramantyo.
"Bayi saya meninggal setelah lahir ke dunia, bahkan suami dan putra sulung saya juga telah meninggal dunia akibat kecelakaan yang kami alami," ucap Ratih dengan wajah sedih.
"Maaf, saya tidak bermaksud membuat anda bersedih,"ucap Bramantyo tidak enak hati.
Sejak saat itu Ratih memberikan ASI-nya pada putra Bramantyo yaitu Alvarendra. Dan akhirnya Bramantyo dan Ratih sepakat untuk menikah dan membesarkan Alva bersama-sama.
***
Dengan ingatan yang terasa masih jelas terekam dalam otak nya, akhirnya Ratih menceritakan kejadian 29 tahun yang lalu itu pada Alva.
"Begitulah ceritanya Al. Mama memang bukan ibu kandungmu tapi ada darah mama yang mengalir di tubuhmu. Mama mencintai dan menyayangi kamu seperti putra mama sendiri,"ucap Ratih sambil menangis memeluk Alva.
"Walaupun mama bukan ibu kandung ku, tapi mama memberikan ASI Mama untuk ku bahkan telah merawat dan membesarkan aku sampai seperti sekarang. Terimakasih, ma. Selamanya mama akan tetap menjadi mama ku,"ucap Alva membalas pelukan Ratih kemudian merenggangkan pelukannya dan menghapus air mata Ratih.
"Terimakasih Al, terimakasih tetap mau menjadi putra mama,"ucap Ratih.
"Jadi siapa ibu kandung ku, ma, pa?"tanya Alva memandang wajah Bramantyo dan Ratih bergantian.
...🌟"Ada yang namanya bekas pacar, bekas suami atau bekas istri, tetapi tidak ada yang namanya bekas anak apalagi bekas ibu."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued