Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
202. Tolong Rahasiakan!


__ADS_3

Di rumah Icha, kedua orang tua Icha nampak baru saja pulang. Setelah masuk kedalam rumah, mereka nampak duduk di ruang tamu untuk melepaskan lelah seraya melihat kendaraan yang lalu lalang di depan rumah mereka melalui jendela kaca reflektif yang lumayan lebar yang dipasang di ruangan tamu itu.


𝙆𝙖𝙘𝙖 𝙧𝙚𝙛𝙡𝙚𝙠𝙩𝙞𝙛 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙤𝙣𝙚 𝙬𝙖𝙮 𝙜𝙡𝙖𝙨𝙨 (𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙥𝙧𝙤𝙙𝙪𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙝𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙠𝙖𝙘𝙖 𝙨𝙩𝙤𝙥𝙨𝙤𝙡) 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙩𝙧𝙖𝙣𝙨𝙥𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙞𝙨𝙞 𝙨𝙖𝙟𝙖. 𝙎𝙞𝙨𝙞 𝙡𝙖𝙞𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙘𝙚𝙧𝙢𝙞𝙣 𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖. 𝘿𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙞𝙨𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢. 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙞 𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙡𝙪𝙖𝙧, 𝙠𝙖𝙘𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙘𝙖 𝙘𝙚𝙧𝙢𝙞𝙣.


"Papa senang karena sudah sehat kembali. Kata dokter tadi, jahitan bekas operasi papa juga udah kering,"ucap papa Icha yang ternyata dari check up ke dokter.


"Iya, tapi papa harus menjalani pola hidup sehat, biar nggak sakit lagi,"ucap mama Icha memperingati suaminya.


"Iya, ma. Papa akan menjalani pola hidup sehat. Papa juga takut kalau kebanyakan cuti, bisa-bisa papa dirumahkan,"ujar papa Icha.


"Mangkanya papa harus sehat, biar nggak kebanyakan cuti,"


"Iya, ma. Cuma hari ini kok, cuti. Besok papa sudah masuk kantor lagi,"sahut papa Icha.


"Ngomong -ngomong, papa beneran mau menjodohkan Icha?"


"Rencananya sich, begitu, ma. Icha itu sudah dewasa, sudah 26 tahun. Dari dulu pacaran terus tapi nggak nikah nikah. Untung kita tinggal di lingkungan yang penghuninya sibuk dengan kegiatan masing-masing, kalau enggak, sudah jadi buah bibir anak kita itu. Gonta-ganti pacar tapi tidak kunjung menikah. Kalau tetangga pada reseh, pasti dibilang perempuan nggak bener anak kita itu,"ujar papa Icha.


"Papa benar. Tapi kira-kira, siapa yang akan papa jodohkan dengan Icha?"


"Papa juga belum tahu. Sebenarnya sich, waktu itu papa berharap pada Nak Radeva. Papa merasa cocok dengan anak itu. Orangnya tampan, gentleman, perhatian, dewasa, dan kelihatannya juga penyayang, sopan lagi,"ujar papa Icha mengingat sosok Radeva.


"Papa benar, dia itu menantu idaman banget deh! Tapi sayang, kata Icha, dia sudah punya pasangan ya, pa?"


"Ya orang sekeren itu masa nggak punya pasangan sich, ma. Perempuan mana coba yang nggak suka sama pria seperti Nak Radeva itu,"sahut papa Icha.


"Iya, pa. Mobilnya aja mewah, pakaiannya mama lihat juga branded semua, pa. Kalau mama masih muda seperti Icha, mama pasti juga bakalan klepek-klepek sama Nak Radeva itu. Jadi wajar saja kalau Icha patah hati setelah tahu kalau Nak Radeva itu sudah punya pasangan,"ujar mama Icha panjang lebar.


"Papa dulu waktu masih mudah juga ganteng, ma. Mangkanya mama klepek-klepek sama papa,"ujar papa Icha narsis.


"Iya, iya.. papa memang ganteng waktu masih muda dulu. Kayak Ari Wibowo," sahut mama Icha tidak mau memperpanjang pembicaraan yang membuat suaminya menjadi narsis.

__ADS_1


"Ya iya dong, papa gitu loh!"celetuk papa Icha dengan senyum lebar.


Seketika perbincangan suami-istri itu terhenti saat melihat sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah mereka yang pagarnya tadi memang belum sempat ditutup. Mereka nampak terkejut saat melihat mobil yang mereka kenali masuk ke pekarangan rumah mereka.


"Pa, bukankah itu mobilnya Nak Radeva," ucap mama Icha tanpa mengalihkan pandangannya pada mobil yang baru saja masuk ke pekarangan rumah mereka.


"Iya, ma. Sepertinya itu memang mobil Nak Radeva,"sahut papa Icha juga masih terus menatap mobil yang baru saja berhenti itu.


"Eh, nak Radeva sama siapa itu? Kok seperti sama kedua orang tuanya? Dan itu, apa yang mereka turunkan dari mobil? Kok kayak mau melamar anak gadis orang gitu?"cerocos mama Icha melihat Radeva turun bersama dua perempuan paruh baya dan seorang pria paruh baya yang terlihat masih tampan dan gagah. Mereka juga menurunkan beberapa barang yang mirip dengan bingkisan untuk lamaran.


Saat keempat orang itu mendekati pintu utama, orang tua Icha pun segera menyambut mereka di pintu masuk karena pintu rumah itu juga belum ditutup.


"Eh, Nak Radeva, mari silahkan masuk! Bu, Pak, mari masuk!"dengan ramah papa Icha mempersilahkan para tamunya masuk. Sedangkan mama Icha hanya tersenyum seraya mempersilahkan mereka masuk dengan isyarat tangan.


"Terimakasih!"ucap keempat nya bersamaan seraya tersenyum.


Setelah meletakkan semua barang bawaan mereka yang lumayan banyak, akhirnya keluarga Mahendra pun duduk di ruang tamu itu.


"Maaf sebelumnya jika kedatangan kami ini tiba-tiba, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Langsung saja, maksud kedatangan kami ke rumah bapak dan ibu ini adalah untuk melamar putri bapak dan ibu yang bernama Icha, untuk putra kami Radeva ini,"ucap Mahendra lalu menepuk pundak Radeva.


"Terus terang kami memang terkejut dengan kedatangan bapak dan ibu sekalian, apalagi saat mendengar kalian akan melamar putri kami satu-satunya. Sejujurnya kami juga menyukai Nak Radeva, tapi masalahnya sekarang putri kami belum pulang dari bekerja. Saya harus menanyakan dulu tentang hal ini kepada putri kami,"sahut papa Icha.


"Begini, Pak. Walaupun yang akan menjalani rumah tangga ini nanti adalah anak-anak kita, tapi semua kan atas restu dari kita sebagai orang tuanya. Jika bapak dan ibu setuju menerima lamaran kami ini, saya yakin putri bapak dan ibu juga akan menerimanya.Usia putra kami ini sudah dewasa, jadi kami tidak ingin putra kami menjalani hubungan pacaran. Jika bapak dan ibu bersedia menerima lamaran kami sekarang, malam Minggu nanti kita akan langsung menggelar acara pertunangan putra-putri kita, dan secepatnya menggelar acara pernikahan mereka. Bagaimana?"tanya Mahendra setelah berbicara panjang lebar.


Kedua orang tua Icha pun saling tatap seolah saling bertanya dalam bahasa isyarat.Papa Icha nampak terdiam beberapa saat.


Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, Mahendra pun mulai berbicara lagi,"Begini, jika bapak dan ibu merasa putra kami tidak cocok untuk dijadikan menantu, katakan saja, jangan sungkan. Jika kalian menolak putra kami, kami akan melamar gadis yang lain untuk kami jadikan menantu,"ucap Mahendra sedikit menggertak kedua orang tua Icha.


"Pa, terima saja. Icha kan juga suka sama Nak Radeva. Ini kesempatan emas, loh! Susah cari menantu yang model begini,"bisik mama Icha pada papa Icha, namun papa Icha nampak sedang berpikir.


"Sebelum menjawab lamaran ini, kami ingin bertanya lebih dulu dengan Nak Radeva,"ucap papa Icha terlihat ragu.

__ADS_1


"Silahkan saja, Pak, tidak usah sungkan. Saya pasti akan menjawab pertanyaan bapak,"sahut Radeva meyakinkan.


"Begini, Nak. Apa ..apa Nak Radeva, sebelumnya sudah mempunyai kekasih?" tanya papa Icha ragu-ragu tapi juga penasaran saat mengingat cerita putrinya tentang penyebab patah hatinya putrinya itu.


"Saya belum pernah memiliki kekasih, Pak,"jawab Radeva tegas tapi tenang.


"Tapi..em putri kami pernah mendengar Nak Radeva menerima telepon dan memanggil seseorang dalam telepon itu dengan panggilan 'sayang' ,"ucap papa Icha hati-hati.


"Oh.. yang biasa di panggil 'sayang' oleh putra saya itu adalah putri kami, yaitu adik kandung Radeva, Pak,"sahut Ghina yang dari tadi hanya diam.


"Benarkah?"tanya papa Icha nampak ragu.


'Itu benar, Pak. Saya memang memanggil adik saya dengan sebutan 'sayang', dan saya benar-benar tidak mempunyai kekasih hingga saat ini. "sahut Radeva meyakinkan.


Karena papa Icha nampak masih ragu, akhirnya Radeva menghubungi Disha lewat panggilan video. Orang tua Icha sangat terkejut saat Radeva memperlihatkan siapa yang dihubungi Radeva lewat panggilan video. Akhirnya keluarga Radeva pun memberi tahu pada orang tua Icha, bahwa Disha adalah putri mereka yang hilang 26 tahun yang lalu dan pesta yang akan digelar malam Minggu nanti adalah untuk memperkenalkan Disha sebagai putri Mahendra pada rekan bisnis mereka, sekaligus pertunangan Radeva dan Icha jika orang tua Icha menerima lamaran Radeva.


"Jadi bagaimana, Pak? Apa bapak dan ibu bersedia menerima lamaran kami?"tanya Mahendra,"Jika tidak, kami ingin melamar gadis yang lain untuk menjadi menantu kami,"ujar Mahendra tidak sabar.


"Baiklah Pak, Bu, karena Nak Radeva memang tidak mempunyai kekasih, dengan senang hati kami menerima lamaran bapak dan ibu untuk menjadikan putri kami menantu bapak dan ibu,"ucap papa Icha tegas. Serentak mereka semua dalam ruangan itu pun langsung mengucap syukur.


"Kalau begitu bisa kita bicarakan tentang rencana pertunangan dan pernikahan nya?"tanya Mahendra antusias.


"Tentu saja,"sahut papa Icha.


"Tapi bisakah kami meminta satu hal pada bapak dan ibu?"tanya Radeva.


"Apa itu, Nak?"tanya papa Icha.


"Tolong rahasiakan tentang semua rencana pertunangan ini nanti dari Icha!"pinta Radeva.


"Maksud Nak Radeva?"tanya papa Icha nampak bingung.

__ADS_1


Akhirnya Radeva pun mengatakan semua rencananya pada kedua orang tua Icha. Setelah mendengar apa yang direncanakan oleh Radeva, kedua orang tua Icha pun setuju.


To be continued


__ADS_2