Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
68. Saingan?


__ADS_3

"Ya ampunn...so sweet banget sich, Dis?"ucap Yessie setelah Alva dan Riky keluar dari ruangan itu.


"Ye ile.. kalian membuat jiwa jomblo Yessie meronta,"ucap Icha.


"Yee.. bilang aja kamu juga pengen dapat cowok yang bisa bersikap romantis seperti itu. Cowok kamu itu kan nggak romantis?!"cibir Yessie.


"Susah nyari yang romantis, Yes! Ketemu yang romantis taunya malah buaya darat,"keluh Icha yang malah membuat Yessie dan Disha tertawa.


"Tapi memang PakSu kamu itu setiap hari seperti itu, Dis?"tanya Icha penasaran.


"Ya.. begitu lah!"ucap Disha santai.


"Btw sebenarnya kami kecewa, karena kamu nggak jujur sama kami jika suami kamu adalah Pak Rendra,"ucap Icha dengan wajah sedih.


"Iya Dis, apa kamu tidak percaya pada kami?!"timpal Yessie.


"Apa kamu tidak menganggap kami sahabat?"imbuh Icha.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku takut hubungan ku dengan Alva tidak akan bertahan lama. Apalagi kami menikah karena terpaksa dan tidak diketahui oleh orang tua Alva. Ditambah lagi Alva yang menikah dengan Anjani tanpa sepengetahuan ku,"


"Apa kalian pikir orang-orang akan percaya, jika aku mengaku telah menikah dengan Alva sebelum Alva menikah dengan Anjani? Apalagi Alva yang tidak pernah mengakui aku sebagai istrinya di depan umum. Apa tidak memalukan jika aku mengumumkan pada dunia jika aku adalah istri Alva tapi Alva tidak mengakui aku sebagai istrinya?"tanya Disha pada kedua sahabatnya.


"Maafkan kami Dis, kami tidak tahu jika kamu mengalami semua itu,"ucap Yessie kemudian memeluk Disha.


"Iya Dis, maafkan kami karena telah salah paham kepada mu,"timpal Icha kemudian ikut memeluk Disha.


"Tapi Pak Rendra telah menceraikan Anjani saat kamu kembali hidup, Dis,"ucap Icha melepaskan pelukannya.


"Iya Dis, Pak Rendra sudah menceraikan Anjani,"imbuh Yessie.


"Aku sudah tahu, Alva sudah menceritakan semuanya padaku. Rencananya hari itu Alva memang ingin menceraikan Anjani. Bahkan Alva sudah mengajukan gugatan cerai kepada Anjani,"ujar Disha.


"Serius?!"tanya Icha.


"Iya,"sahut Disha.


"Lalu apa mulai sekarang Pak Rendra akan mengakui mu sebagai istrinya di depan umum?"tanya Yessie antusias.


"Rencananya seperti itu,"ucap Disha.


"Tapi apa benar dia tidak akan membohongi kamu, Dis? Kamu yakin dia akan mengakui kamu sebagai istrinya?"tanya Icha ragu.


"Aku tidak berani meragukannya lagi,"jawab Disha.


"Kenapa kamu begitu yakin jika dia akan mengakui mu sebagai istrinya di depan umum ?"tanya Icha lagi.


"Dia bahkan tanpa ragu memindahkan begitu banyak aset yang dimilikinya atas namaku. Walaupun aku bekerja seumur hidup pun aku tidak akan bisa mengumpulkan uang sebanyak itu,"


"Bahkan jika aku tidak bekerja seumur hidup pun aku tidak akan jatuh miskin karena banyaknya harta yang diberikan Alva padaku. Lalu apakah pantas jika aku masih meragukannya?"jelas Disha.


"Iya Cha, kamu jangan selalu meragukan ketulusan orang lain,"sahut Yessie.


"Aku hanya khawatir dengan Disha,"ucap Icha tulus.

__ADS_1


"Terimakasih, Cha, Yes, karena kalian begitu perduli padaku,"ucap Disha.


"Santai aja, kita kan sahabat,"ucap Icha.


"Iya Dis, benar kata Icha, kita kan sahabat. Btw kamu sangat cantik jika tanpa kacamata dan kawat gigi, Dis,"puji Yessie.


"Iya Dis, kamu cantik sekali. Aku sampai tidak percaya jika kamu adalah Disha sahabat kami,"timpal Icha.


"Kalian bisa saja, kalian juga cantik kok! Lagian banyak diluar sana perempuan yang lebih cantik dari ku,"sahut Disha.


"Kamu terlalu merendah, Dis,"ujar Yessie.


"Tapi apa kamu akan terus berpenampilan seperti ini, Dis? Maksud ku tidak lagi menggunakan kacamata dan kawat gigi lagi,"ujar Icha.


"Alva meminta aku agar tidak memakai kacamata dan kawat gigi lagi. Tapi aku akan tetap memakainya jika aku sedang tidak bersama dengan Alva,"jelas Disha.


"Kenapa, Dis?"tanya Yessie.


"Aku malas digodain para buaya darat,"sahut Disha sambil terkekeh.


"Iya, sich. Jika kamu berpenampilan seperti sebelumnya nggak ada cowok yang bakal deketin kamu,"ucap Yessie.


"Apalagi dengan bodyguard yang mengawal kamu kemana-mana itu,"timpal Icha.


"Iya kamu benar,"ucap Disha.


Obrolan tiga perempuan itu pun terhenti saat pintu diketuk kemudian seorang perawat membawa bayi Disha yang sedang menangis dengan kencang.


"Anak mama lapar, ya?"ucap Disha saat perawat itu sudah memberikan bayinya. Disha pun segera menyusui bayi mungil itu agar tidak menangis lagi.


"Wajar lah, Yes. Ibunya aja cantik, bapaknya juga tampan, masa iya anaknya jelek!"ujar Icha.


"Iya, ya Cha?!"sahut Yessie sambil nyengir.


"Btw namanya siapa, Dis?"tanya Icha.


"Kaivan Alvarendra,"jawab Disha.


"Wahh.. namanya sesuai sama orangnya, tampan. Boleh aku nanti menggendong nya, Dis?"tanya Yessie.


"Memang kamu bisa?" tanya Icha.


"Bisa dong, aku sering merawat keponakan aku yang masih bayi,"sahut Yessie.


***


Di roof top rumah sakit.


"Apa ada hal yang penting, Rik?"tanya Alva pada Riky.


"Ini tentang Nyonya, Tuan,"ucap Riky.


"Ada apa dengan Disha?"tanya Alva.

__ADS_1


"Menurut Ferdi, Tuan besar terus menggali informasi tentang Nyonya, Tuan,"jelas Riky.


"Tutup serapat-rapatnya informasi tentang keluarga Disha.Terutama tentang pamannya, aku tidak mau ada celah yang bisa memisahkan aku dan Disha,"ucap Alva dengan wajah yang serius.


"Kami mengerti, Tuan. Tapi sekarang Adiguna juga sedang menggali informasi tentang Nyonya, Tuan,"ucap Riky.


"Apa dia berniat untuk menghancurkan Disha, untuk membalas sakit hati putrinya yang manja itu?"tanya Alva.


"Sepertinya begitu, Tuan,"sahut Riky.


"Sudah berapa banyak saham Disha di perusahaan Adiguna?"tanya Alva.


"Tiga puluh lima persen Tuan,"sahut Riky.


"Bujuk para pemegang saham yang lain agar menjual sahamnya kepada Disha,"perintah Alva.


"Baik Tuan,"sahut Riky.


"Aku tadi siang ingin menjenguk Ferdi, tapi kata perawat yang ada di ruangan itu, Ferdi sudah pulang. Bukannya Ferdi belum sembuh benar, ya? Kenapa dia memaksa untuk keluar dari rumah sakit dan beristirahat di rumah?"tanya Alva.


"Ferdi bilang tidak suka berada di rumah sakit, Tuan,"sahut Riky.


"Kalau begitu suruh dokter untuk memantau kesehatannya dan pastikan dia cepat pulih,"ucap Alva.


"Baik Tuan," ucap Riky.


"Ya sudah, aku akan mencari makanan yang diinginkan oleh Disha, apa kamu mau ikut?"tanya Alva.


"Boleh Tuan, kebetulan saya juga sudah lapar,"sahut Riky sambil nyengir.


"Ya sudah, kita pergi sekarang. Aku tidak ingin anak dan istriku kelaparan,"ucap Alva sambil berjalan meninggalkan roof top.


"Memangnya Tuan akan membelikan makanan untuk anak Tuan?"tanya Riky mengikuti Alva dari belakang.


"Tentu saja tidak, putraku belum bisa makan,"jawab Alva.


"Tadi kan Tuan bilang tidak ingin anak dan istri Tuan kelaparan,"sahut Riky.


"Putraku kan minum ASI, Rik. Jadi jika Disha kelaparan maka putraku pasti juga akan kelaparan,"jelas Alva.


"Ah iya, saya lupa. Sekarang Tuan punya saingan,"ucap Riky.


"Saingan? Saingan apa?"tanya Alva tidak mengerti.


"Saingan menyusu! Putra anda akan menguasainya hingga Tuan akan sulit mendapatkan kesempatan untuk menyusu, belum lagi Tuan harus berpuasa. CK.ck.ck..kasihan sekali nasib, Tuan,"ucap Riky tertawa geli dengan ucapannya sendiri.


"Riky..!!!"geram Alva yang emosinya menjadi naik gara-gara mendengar kata-kata Riky.


"Ampun Tuan, saya tidak jadi mencari makan bersama Tuan, saya makan dirumah saja,"teriak Riky sambil berlari mendahului Alva.


"Dasar asisten sialan!! Berani sekali dia meledekku!!"umpat Alva.


...🌟"Ungkapan lewat kata itu adalah teori, sedangkan tindakan nyata adalah bukti."🌟...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued


__ADS_2