Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
249. Tidak Tahu Malu!


__ADS_3

Icha menyusul Radeva yang sudah masuk ke dalam kamar. Perlahan membuka pintu, masuk dan menatap sekilas kearah Radeva yang sudah berbaring di atas ranjang, kemudian menutup kembali pintu itu.


"Kunci pintunya!"titah Radeva dan Icha pun langsung mengunci pintu kamar itu.


Perlahan Icha berjalan menuju tempat peraduan mereka, naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sebelah Radeva, tanpa berani mengatakan apapun. Mereka sama-sama tidur terlentang di bawah selimut tebal dan menutup mata mereka.


"𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪? 𝙃𝙖𝙞𝙨𝙨..𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙧𝙖-𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙨𝙞 𝙏𝙧𝙞𝙨𝙝𝙖 𝙞𝙩𝙪. 𝙎𝙚𝙣𝙚𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙚𝙧 𝙠𝙪𝙣𝙩𝙞𝙡𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙮𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝. 𝙎𝙤𝙖𝙡 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙟𝙖, 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙠𝙚𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙞𝙙𝙚 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙪𝙡𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙆𝙖𝙠 𝘿𝙚𝙫, 𝙚𝙝, 𝙙𝙞𝙩𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙨𝙞 𝙏𝙧𝙞𝙨𝙝𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙜𝙖𝙧𝙖-𝙜𝙖𝙧𝙖," gerutu Icha dalam hati.


Sudah hampir setengah jam, Icha berusaha untuk tidur, tapi entah mengapa malam ini menjadi susah tidur. Beberapa kali Icha melirik Radeva yang sudah memejamkan mata, lalu membuang napas kasar. Icha benar - benar tidak bisa tidur. Ingin rasanya Icha tidur dalam dekapan suaminya yang sudah beberapa hari pergi ke luar negeri. Rasanya saat ini, rindunya masih belum terobati. Namun Icha terlalu takut untuk memeluk suaminya lebih dulu, apalagi meminta suaminya untuk mendekapnya.


"Kemari lah!"titah Radeva yang tiba-tiba membuka matanya.


Icha sempat terhenyak mendengar suara Radeva, kemudian menoleh ke arah Radeva yang memberi isyarat agar Icha menjadikan lengan Radeva untuk bantal Icha. Tanpa sadar, Icha nampak tersenyum cerah dan langsung masuk ke dalam dekapan suaminya.


"Apa kamu merindukan aku?"tanya Radeva seraya mendekap tubuh Icha dengan hangat.


"Hum,"sahut Icha memeluk erat tubuh suaminya.


"Kenapa belum tidur?"tanya Radeva seraya mengelus pelan punggung Icha.


"Belum bisa tidur,"sahut Icha yang menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Apa karena ingin dipeluk?"tanya Radeva tersenyum tipis. Icha tidak menjawab, tapi semakin mengeratkan pelukannya. Wajahnya memerah menahan malu karena Radeva tahu jika dirinya ingin dipeluk Radeva,"Tidurlah!"ucap Radeva seraya menundukkan kepalanya mengecup kening Icha.


Setengah jam kemudian, Icha nampak sudah terlelap dengan pulas dalam dekapan Radeva. Sedangkan Radeva nampak belum bisa terlelap. Karena merasa haus, akhirnya dengan sangat hati-hati Radeva melepaskan pelukannya dari tubuh Icha dan juga melepaskan pelukan Icha di tubuhnya, tidak ingin Icha terbangun karena pergerakan nya. Menyelimuti tubuh Icha, kemudian dengan perlahan beranjak turun dari ranjang.


Radeva keluar dari kamarnya, bertepatan dengan Alva yang juga baru saja keluar dari kamar nya.

__ADS_1


"Kamu? Kalian menginap di sini?"tanya Radeva pada Alva.


"Bukannya kakak menginap di rumah mertua kakak?"tanya Alva tanpa menjawab pertanyaan dari Radeva.


"Tidak jadi,"sahut Radeva datar sambil berjalan menuruni anak tangga kemudian menuju dapur diikuti oleh Alva yang juga ingin ke dapur.


"Tak"Radeva menyalakan lampu utama yang ada di dapur itu, lalu berjalan menuju lemari es. Sedangkan Alva masih mengekor di belakang Radeva dan ikut mengambil sebotol air mineral saat Radeva membuka lemari es.


"Kenapa wajah kakak seperti benang kusut begitu?"tanya Alva seraya memperhatikan kakak ipar nya sedang minum itu lekat,"Haiss.. kasihan sekali, sudah semingguan menahan rindu, tapi malah tidak dapat jatah.Ck..ck..ck..apes sekali!"ucap Alva kemudian langsung meminum air mineral yang ada di ditangannya, langsung dari botol nya.


Radeva sempat terkejut saat mendengar kata-kata Alva. Namun Radeva langsung berusaha menyembunyikan keterkejutannya.Kenapa Alva bisa tahu jika dirinya tidak mendapat jatah? Apa terlihat jelas di wajahnya bahwa dia memang sedang kusut karena tidak mendapat jatah? Itulah yang ada di pikiran Radeva.


"Sok, tahu!"ucap Radeva menutupi keterkejutannya, kemudian kembali meneguk air mineral kemasan botol di tangannya.


"Nggak usah bohong! Aku memang adik ipar mu, dan usiaku juga lebih muda dari kakak, tapi, urusan ranjang, aku sudah suhu. Sedangkan kakak baru mengenal urusan ranjang beberapa hari yang lalu,"ucap Alva pongah.


"Hais.. sombong! Terlalu percaya diri!"cibir Radeva.


Seketika mata Radeva membulat sempurna saat melihat tubuh adik iparnya itu. Bagaimana tidak terkejut, Radeva melihat tanda bekas percintaan yang sebagian besar berwarna keunguan menghiasi tubuh Alva dari perut hingga leher. Dan dapat dipastikan siapa yang melakukan nya, siapa lagi kalau bukan adik kesayangannya.


"Apa kamu tidak punya rasa malu menunjukkan semua itu pada kakak ipar mu? Dasar adik ipar nggak punya akhlak! Tidak tahu malu!"umpat Radeva yang menjadi malu sendiri melihat bukti keganasan adik kandungnya.


"Kenapa harus malu? Ini adalah lukisan paling indah yang diberikan adikmu untuk ku, bukti tanda cinta nya padaku,"ucap Alva dengan bangga seraya membusungkan dada nya.


"Benar-benar adik ipar tak punya akhlak!"umpat Radeva lagi seraya membuang napas kasar.


"Kakak tahu bagaimana rasanya saat tubuh kakak dilukis seperti ini? Ughh.... aku tidak dapat membayangkan bagaimana rasa nikmatnya, ahhh... benar-benar sangat nikmat. Saat bibirnya mencum mbu kulit ku, ssstt.. seluruh tubuh ku meremang, setiap sentuhan bibir nya terasa nikmat sekaligus membuat ku gelisah, tapi juga membuat ku menjadi selalu ketagihan,"ucap Alva dengan suara dan ekspresi yang seolah sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa.

__ADS_1


"Dasar tidak tahu malu!"geram Radeva dengan wajah memerah karena terpancing dengan kata-kata serta ekspresi Alva. Radeva jadi ingin tahu bagaimana rasanya saat tubuhnya dilukis oleh istrinya.Bahkan Radeva menggelengkan kepalanya pelan untuk menghilangkan pikiran mesum nya yang tiba-tiba muncul gara-gara adik ipar nya itu.


"Hey, ini memang terdengar memalukan, tapi saat kakak sudah merasakan bagaimana di cum mbu wanita yang kakak cintai, kakak akan ketagihan,"ucap Alva yang malah membuat Radeva geleng-geleng kepala kemudian membuang napas kasar.


"Dasar mesum!"umpat Radeva.


"Kalau aku tidak mesum, kakak tidak akan mendapatkan keponakan yang tampan dan menggemaskan seperti Kaivan,"ucap Alva pongah.


"Kemana sikap dingin dan acuh mu itu? Kenapa setiap berbicara dengan ku kamu itu berbeda sekali? Sama sekali tidak ada kharisma dan wibawanya. Apa kamu itu punya kepribadian ganda?"tanya Radeva yang memang merasa Alva berbeda saat berbicara dengan nya dan dengan orang lain. Walaupun mereka sering adu mulut atau saling menyindir bahkan saling mengumpat saat bertemu, tapi hal itu malah membuatnya merasa nyaman saat bersama Alva, begitu pula Alva yang merasa nyaman saat bersama Radeva.


"Haruskah aku bersikap formal padamu, seperti aku bersikap formal pada rekan bisnis ku?"tanya Alva memicingkan matanya.


"Haiss..kau ini?"tukas Radeva seraya duduk di salah satu kursi.


"Kakak nggak bisa tidur, ya, karena nggak dapat jatah?"ledek Alva lagi, kemudian terkekeh.


"Sudah tahu masih nanya,"ketus Radeva yang membuat Alva semakin merasa geli.


Alva kemudian duduk di dekat Radeva, lalu berkata,"Kakak tahu, aku pernah nggak dapat jatah dari adikmu itu, lalu aku menghubungi Ferdi untuk bertemu di tempat para anak buah kami sering berlatih dan mengasah ilmu beladiri mereka. Aku menjadikan Ferdi sebagai lawan latihan beladiri ku, sekaligus sebagai samsak tinju ku untuk melampiaskan emosiku,"ujar Alva terkekeh geli sendiri saat mengingat telah menjadikan Ferdi sebagai tempat pelampiasan emosinya.


"Saat kita berolahraga kita akan lupa dengan urusan apapun, termasuk urusan ranjang. Bahkan dengan berolahraga, kita bisa melampiaskan emosi kita dengan cara yang positif. Setelah itu, kita akan merasa lelah dan bisa tidur dengan nyenyak,"ucap Alva nampak santai. Namun sesaat kemudian wajahnya menjadi serius, lalu menatap Radeva,"Ngomong -ngomong, kakak benar-benar tidak ingin melaporkan Niko atas perbuatannya kemarin?"


"Tidak. Jika aku melaporkan Niko atas kasus kemarin, otomatis nama kakak ipar mu akan terseret juga, karena kakak ipar mu adalah korbannya. Dan Niko juga tidak akan lama mendekam di penjara karena kasus itu. Tapi jika dia berani macam-macam lagi pada istriku, aku tidak akan mengampuni nya lagi,"ucap Radeva dengan wajah serius.


...🌟"Dengan berolahraga, kita bisa menghilangkan stres, dan membuat tubuh menjadi sehat,"🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


...🌸❤️🌸...


To be continued


__ADS_2