
Di dalam kamar Icha, setelah pintu di tutup dari luar, dengan sekuat tenaga Icha langsung mendorong tubuh Radeva, hingga pelukan Radeva di tubuhnya terlepas. Dengan wajah ditekuk, Icha bangkit dari tempatnya berbaring dan bermaksud turun dari tempat pembaringannya itu.
"Sayang!"panggil Radeva tiba-tiba langsung menarik tangan Icha hingga Icha kembali terjatuh dalam pelukannya.
"Lepaskan!"bentak Icha sambil memukuli dada bidang Radeva.
"Pukul saja aku, dan lakukan apapun yang kamu mau! Tapi aku tidak akan melepaskan pelukan ku jika kamu tidak mau memaafkan aku,"ucap Radeva mendekap erat tubuh Icha yang terus memukuli dadanya.
'Dasar brengseek! Untuk apa kamu datang ke sini? Kenapa tidak bersenang-senang dengan perempuan kemarin itu saja?"bentak Icha sambil terus memukuli Radeva.
"Sayang, mana mungkin aku bersenang- senang dengan perempuan lain? Kamu salah paham, sayang! Dia hanya temanku, dan aku hanya mencintai kamu,"ucap Radeva lembut, agar istrinya tenang.
"Bohong! Bohong!"pekik Icha semakin keras memukul dada Radeva.
"Aku tidak bohong, sayang. Aku hanya mencintai kamu. Aku seperti orang gila mencari mu kemana-mana selama hampir tiga Minggu ini. Hatiku merasa tidak tenang tanpa ada kamu disisi ku. Bahkan sejak kamu pergi, aku susah tidur karena memikirkan dan merindukan kamu, sayang,"ujar Radeva masih dengan nada lembut.
"Aku tidak percaya!"sergah Icha.
Merasa lelah memukuli Radeva, tapi nampak tidak berpengaruh apapun pada Radeva, Icha pun memutar otak untuk melepaskan diri dari dekapan Radeva. Sesaat kemudian, Icha nampak menyeringai, mendekatkan wajahnya ke dada bidang Radeva, kemudian dengan sekuat tenaga menggigit dada Radeva.
"Akkh!'pekik Radeva yang terkejut sekaligus merasa sakit saat tiba-tiba Icha menggigit dadanya. Namun detik berikutnya Radeva diam dan memilih menahan rasa sakit itu walaupun Icha masih terus menggigit nya. Radeva tidak mau menyerah dan tetap memeluk tubuh istrinya.Wajahnya yang tampan memerah, meringis menahan rasa sakit.
Merasa lelah menggigit suaminya tapi suaminya tetap tidak mau melepaskan nya juga, akhirnya Icha berhenti menggigit Radeva. Namun Icha sangat terkejut saat melihat dada Radeva yang dia gigit tadi nampak mengeluarkan darah. Icha tertunduk merasa menyesal karena telah menggigit suaminya.
Radeva memegang pipi Icha dan mengangkat wajah wanitanya itu agar menatapnya, Radeva menatap wajah istrinya dengan penuh cinta,"Maafkan aku! Dengan setulus hati, aku mohon maafkan aku! Aku bodoh dan tidak peka, hingga tanpa sengaja telah menyakiti hatimu. Maafkan aku! Kamu boleh menghukum aku, tapi tolong maafkan aku, dan jangan pernah meninggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku sangat mencintai mu. Tak ada nama wanita manapun di hati ku selain namamu. Hanya dengan kamu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku. Aku ingin memiliki anak dari rahim mu, dan menua bersamamu,"ucap Radeva dengan nada lembut dan tulus menatap lekat manik mata istrinya.
Icha sempat tertegun mendapat tatapan penuh cinta dari suaminya. Namun Icha menepis tangan Radeva dari pipinya,"Aku ingin ke kamar mandi. Lepaskan aku!"ketus Icha tanpa mau menatap wajah suaminya, walaupun kemarahan nya agak memudar karena kata-kata manis suaminya itu, tapi Icha tidak akan semudah itu memaafkan Radeva.
Dengan perasaan tidak rela, Radeva melepaskan pelukannya. Icha pun segera beranjak dari tempat tidurnya, meraih pakaiannya dan dengan cepat makainya. Radeva menatap istrinya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar mandi dengan tatapan sendu. Radeva menghubungi anak buah Alva dan menyuruhnya membeli pakaian untuk nya.
Radeva kemudian bangkit dari tempatnya berbaring kemudian meraih celana panjang nya dan memakainya. Namun baru saja Radeva selesai memakai celananya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Non Icha, lihat apa yang saya bawa! Non Icha!"ucap seorang lelaki, membuat Radeva memicingkan matanya.
Dengan wajah yang nampak kesal, Radev melangkah ke arah pintu, kemudian membuka pintu itu
"Non..."kata-kata orang yang berada di depan pintu itu terhenti dengan wajah yang menampilkan ekspresi terkejut. Pemuda yang cukup tampan dengan kulit sawo matang, berusia sekitar dua puluh lima tahun, membawa keranjang yang berisi buah-buahan,"Kamu? Kamu siapa? Kenapa kamu ada di kamar Non Icha?"tanya pemuda itu dengan tatapan tajam menelisik tubuh Radeva dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pria yang menurutnya sangat tampan, berdiri gagah dengan bertelanjang dada.
"Aku suaminya,"jawab Radeva datar,"Ada apa kamu mencari istri ku?"tanya Radeva nampak tidak suka dengan kehadiran pria di depannya ini.
"Su... suami Non Icha?"tanya pemuda itu nampak kembali terkejut.
Radeva memutar bola matanya malas,"Jika kamu tidak ada keperluan, cepatlah pergi!"ucap Radeva langsung menutup pintunya,"Menganggu saja!"gerutu Radeva kemudian memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan merapikan ranjang yang kacau balau karena ulahnya dini hari sampai pagi tadi.
__ADS_1
Pria yang tak lain adalah putra sepasang suami-isteri yang menjaga rumah itu pun nampak lesu, karena tidak bisa bertemu Icha. Padahal dia sengaja membelikan buah-buahan segar agar Icha merasa senang. Dengan langkah gontai pemuda itu berjalan ke arah dapur.
Sedangkan di dalam kamar, bibir Radeva melengkung ke atas saat mengingat percintaan panas nya dengan istrinya semalam. Walaupun Icha tidak membalas ciuman atau pun sentuhan nya, namun suara-suara racauan dari bibir wanitanya itu membuatnya menggila, dan tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Namun seketika senyumnya menghilang saat merasakan ada yang terasa berdenyut di bawah sana. Radeva pun menundukkan kepalanya menatap celananya yang nampak bergerak karena ada sesuatu yang terbangun di dalam sana.
"Shitt! Kenapa dengan hanya mengingat nya saja, dia sudah bangun?"umpat Radeva membuang napas kasar.
Sedangkan Icha yang sedang berada di dalam kamar mandi nampak memperhatikan seluruh tubuhnya yang penuh dengan bercak-bercak kemerahan dan keunguan. Icha menghela napas kasar,"Dia benar-benar ganas seperti macan yang kelaparan,"gumam Icha kemudian langsung memakai bathrobe dan keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kita pulang, ya?"pinta Radeva dengan wajah sendu.
"Kalau kakak ingin pulang, pulang saja sendiri,"ketus Icha dengan wajah cemberut, mengambil pakaian di lemari.
Radeva menghela napas panjang mencoba bersabar,"Sayang, kalau ada yang mengantar pakaian ku, tolong ambilkan, ya!"ucap Radeva kemudian masuk kekamar mandi tanpa menunggu jawaban dari istrinya.
Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi, wanita paruh baya yang menjaga rumah itu pun bergegas membukakan pintu,'Cari siapa, ya?"tanya wanita itu menatap pria muda bertubuh kekar di depannya.
"Saya ingin mengantarkan pakaian Tuan Dev,"jawab pria itu seraya menunjukkan sebuah paper bag.
"Tuan Dev?"tanya wanita itu tampak bingung, karena tidak ada orang yang bernama itu di rumah yang dia tinggali.
"Tuan Radeva, suami Nyonya Icha,"sahut pria muda itu saat melihat ekspresi kebingungan di wajah wanita paruh baya di depannya itu.
"Bisa minta tolong untuk memberikannya?"tanya pria muda itu lagi.
"Oh, iya,"sahut wanita paruh baya itu menerima paper bag yang diberikan oleh pria muda itu. Setelah mengucapkan terima kasih, pemuda itupun kembali ke dalam mobil.
Melihat Icha, wanita paruh baya itu pun langsung menghampirinya,"Non, ini ada pakaian, katanya untuk.."wanita paruh baya itu menjeda kalimatnya karena lupa dengan nama yang diberitahukan pemuda tadi.
"Oh, untuk suami saya. Terimakasih, Bik,"ucap Icha tersenyum tipis dan perempuan paruh baya itu pun mengangguk.
Icha bergegas menuju kamarnya, namun urung masuk saat mendengar Radeva berbicara melalui sambungan telepon.
"Kamu batalkan semua jadwal hari ini. Aku belum tahu kapan aku akan kembali,"ucap Radeva yang hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
"Tapi, Tuan. Kita akan rugi banyak jika sampai besok anda tidak kembali,"ucap seseorang dari ujung telepon.
"Aku tidak perduli berapa banyak aku akan rugi, bagiku itu tidak ada artinya dibandingkan dengan istriku. Aku akan kembali jika istriku sudah mau pulang,"ucap Radeva membuang napas kasar.
"Tapi, Tuan..."
"Tidak ada tapi-tapian. Kerjakan saja apa yang aku suruh!"ucap Radeva memotong kata-kata orang di ujung telepon, kemudian langsung menjauhkan handphonenya dari telinganya dan mematikan sambungan telepon. Dengan kesal Radeva melempar handphonenya ke atas ranjang.
__ADS_1
"Menyebalkan sekali! Sebenarnya bosnya aku apa dia?"gerutu Radeva.
Icha mendengar Radeva menunda semua pekerjaannya dan terancam rugi jika tidak segera kembali kekantor. Dan semua itu hanya karena dirinya yang tidak mau ikut pulang. Icha jadi merasa bersalah. Memang tidak seharusnya dia pergi tanpa pamit pada suaminya dan menghindari masalah seperti saat ini.
Icha masuk kedalam kamar dengan wajah sendu,"Sayang, pakaian ku sudah di antar?"tanya Radeva saat melihat Icha masuk membawa paper bag dan langsung menghampiri Icha.
"Hum,"sahut Icha dan tidak sengaja melihat luka di dada Radeva karena gigitannya tadi. Icha menyerahkan paper bag itu pada Radeva dan mengambil kotak obat kemudian mengambil salep untuk luka. Icha kembali menghampiri Radeva yang sudah mengenakan celana panjangnya.
"Biar aku obati,"ucap Icha kemudian mengoleskan salep ke luka Radeva. Radeva pun tersenyum tipis karena Icha masih mau perduli padanya.
"Aku tunggu di ruang makan,"ucap Icha kemudian melangkah keluar dari kamar itu.
Setelah selesai makan, tanpa bicara Icha membereskan barang-barang nya. Membuat Radeva mengernyitkan keningnya,"Sayang, kamu mau kemana?"tanya Radeva hati-hati.
"Pulang,"sahut Icha singkat.
"Kamu akan pulang bersamaku, kan?"tanya Radeva karena takut jika istrinya tidak mau pulang bersamanya.
"Hum,"sahut Icha singkat.
Radeva langsung mengembangkan senyumnya,"Terimakasih, sayang!"ucap Radeva hendak memeluk Icha, namun Icha langsung menjauh membuat senyum Radeva memudar.
"Jangan peluk-peluk! Aku masih marah sama kakak!"ketus Icha dengan mata melotot.
"Iya, maaf!"ucap Radeva dengan wajah sendu.
Akhirnya siang itu, Radeva dan Icha pun pulang. Walaupun istrinya masih marah padanya, tapi Radeva merasa senang istrinya mau pulang bersamanya.
...π"Mungkin bibir bisa memaafkan, tapi sejatinya, hati sulit untuk melupakan, karena bekas luka di hati tak bisa dihilangkan."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Kumenangiiiissssss.....aq udah update tiga bab hari ini, tapi malah ini yang aq dapat β¬οΈ
Sungguh teganya...teganya...teganya....πππ. Membuat cerita itu g mudah. Merangkai kata agar ceritax mudah dipahami oleh pembaca juga g gampang. Tapi malah ulasan itu yg aq dpt.ππππ€§π€§π€§π€§π€§
Pepatah mengatakan "Silent is gold" diam itu emas. Jadi lebih baik diam dr pd berbicara tapi membuat sakit hati dan telinga. Aq lebih baik tidak diberikan ulasan, dr pd diberikan ulasan tp dijatuhkan.ππππ€§π€§π€§π€§π€§
To be continued
__ADS_1