Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
96. Paman Disha


__ADS_3

Di apartemen Alva dan Disha.


"Pa..pa..pa...Akhh...Akhh..."celoteh Kaivan yang berdiri di pinggir box bayinya nampak gelisah.


"Jagoan papa kenapa?"tanya Alva menghampiri Kaivan kemudian menggendongnya.


"Ceklek,"terlihat Disha keluar dari dalam kamar mandi.


"Sayang, sepertinya Kaivan sudah mengantuk,"ucap Alva menghampiri Disha.


"Iya, sayang. Jam segini memang jadwal boboknya Kaivan,"sahut Disha kemudian meraih Kaivan dari gendongan Alva.


"Tidurkan lah dulu! Akan aku buatkan susu untuk kamu,"ucap Alva kemudian mencium pipi Disha sekilas dan bergegas ke dapur untuk membuatkan Disha susu.


Tak lama kemudian Alva sudah kembali dengan segelas susu di tangannya dan menghampiri Disha yang duduk di pinggir ranjang sambil menyusui Kaivan.


"Minumlah dulu, sayang!"ucap Alva seraya menyodorkan segelas susu yang dipegangnya kepada Disha.


"Terimakasih, sayang,"ucap Disha tersenyum kemudian mengambil segelas susu itu dari tangan Alva dan dibalas senyuman manis oleh Alva. Disha pun segera meminum susu itu, tapi Kaivan nampak ingin meraih gelas itu.


"Eh, jagoan papa nggak boleh nakal, biarkan mama minum susu, supaya ASI untuk kita lancar,"ucap Alva seraya memegang tangan mungil Kaivan yang ingin meraih gelas susu yang dipegang Disha.


"Alien!! Jangan mengajari Kaivan yang tidak benar?"sergah Disha.


"Sayang jangan memanggilku dengan sebutan itu jika tidak ingin nanti Kaivan memanggil ku seperti itu,"kata Alva mengingatkan.


"Sudah, sana!! Kerjakan pekerjaan kantor mu sana!"usir Disha.


"Oke sayang,"ucap Alva sambil tersenyum genit mengedipkan sebelah matanya membuat Disha geleng-geleng kepala. Alva kemudian mencium pipi Kaivan yang sedang menyusu lalu mencium bukit kembar Disha yang sedang dihisap oleh Kaivan.


"Al"pekik Disha namun malah membuat Alva tertawa dan Kaivan yang sedang menyusu pun sampai menghentikan aktivitasnya dan ikut tertawa dan Disha hanya bisa menghela nafas kasar dengan kelakuan suaminya itu.


Kaivan sudah kenyang setelah menyusu dan sudah terlelap. Disha pun segera membaringkan Kaivan di dalam box bayinya.


"Kaivan sudah tidur sayang?"tanya Alva seraya berjalan menghampiri Disha.


"Sudah,"sahut Disha.

__ADS_1


"Sayang, ada lagi yang pengen di tidurkan," bisik Alva ditelinga Disha sambil memeluk Disha dari belakang kemudian menciumi leher Disha.


Disha menghela nafas panjang,"Apa kamu tidak bosan dan lelah memintanya setiap hari?"tanya Disha seraya membalikkan badan menghadap Alva.


"Sayang, handphone saja setiap hari baterainya harus di charger, begitu pula aku sayang. Baterai dalam tubuh ku habis jika tidak di charger dan kamu adalah listriknya,"ujar Alva tersenyum penuh arti sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


Akhirnya Disha pun menuruti apa yang diinginkan oleh Alva. Melakukan aktivitas di atas ranjang sebagai pasangan suami-istri hingga mereka mencapai puncak kenikmatan yang mereka inginkan.


Alva menatap wajah Disha yang masih berada dalam kungkungan nya, menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya yang menempel karena keringat yang membasahi wajah Disha setelah pergulatan panas yang baru saja selesai.


"Terimakasih, sayang,"ucap Alva mengelap keringat di wajah Disha, mengecup kening Disha kemudian kedua pipi dan terakhir di bibir Disha.


Alva kemudian melepaskan penyatuan mereka dan berbaring disebelah Disha, memeluk wanita yang dicintainya itu di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.


Beberapa menit kemudian mereka berdua membersihkan diri bersama-sama. Tidak ingin menyentuh Kaivan dengan tubuh yang lengket oleh keringat akibat aktivitas panas mereka di atas ranjang.


Mereka berdua mandi di dalam bathtub kemudian membilas tubuh mereka dibawah kucuran air shower. Setelah selesai mandi, mereka berdua pun segera memakai pakaian mereka.


"Sini, aku keringkan rambut mu, sayang,"ucap Alva kemudian membantu Disha untuk mengeringkannya rambutnya dengan menggunakan hairdryer. Setelah itu mereka kembali membaringkan tubuh mereka di atas ranjang.


Disha pun menurut dan segera menjadikan lengan Alva sebagai bantalnya kemudian memeluk dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, tempat ternyaman baginya.


Alva mengecup puncak kepala Disha kemudian mengelus rambut Disha dengan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian sepasang suami-isteri itupun terlelap karena rasa lelah yang mendera tubuh mereka setelah aktivitas panas yang mereka lakukan tadi.


Satu jam kemudian, bel apartemen Disha dan Alva terus berbunyi. Disha dan Alva yang baru saja tidur karena kelelahan setelah aktivitas panas mereka pun tidak mendengar suara bel tersebut.


Sedangkan Bik Inah yang merasa terganggu dengan suara bel itu pun akhirnya bangun dan bergegas membuka pintu apartemen itu.


"Tuan Ferdi?!"ucap Bik Inah setelah membuka pintu dan melihat siapa yang datang.


"Bik, apa Tuan sudah tidur?"tanya Ferdi dengan wajah serius.


"Sepertinya sudah, Tuan,"sahut Bik Inah.


"Tolong bangunkan, Bik! "pinta Ferdi.


"Tapi Tuan, saya tidak berani, ini sudah malam,"sahut Bik Inah setelah menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.

__ADS_1


"Ini penting sekali, Bik. Saya tidak bisa menundanya lebih lama lagi. Ini menyangkut keselamatan seseorang,"ucap Ferdi serius.


Karena melihat wajah Ferdi yang serius dan menyangkut nyawa seseorang, akhirnya Bik Inah pun melangkah kakinya menuju kamar Alva dan Disha.


"Tok..tok...tok..."beberapa kali Bik Inah mengetuk pintu itu.


Alva pun terbangun kemudian dengan perlahan melepaskan pelukannya pada Disha dan menggantikan lengannya yang dijadikan bantal oleh Disha dengan bantal kemudian menyelimuti tubuh Disha.


Perlahan Alva turun dari ranjang itu dan segera memakai kaos oblong dan celana pendeknya karena Alva terbiasa tidur hanya dengan menggunakan boxer saja.


Alva membuka pintu dan melihat Bik Inah yang sudah berada di depan pintu.


"Ada apa, Bik?"tanya Alva dengan rambut yang acak-acakan.


"Itu Tuan, ada Tuan Ferdi yang ingin bertemu dengan anda, katanya ada hal yang penting,"jawab Bik Inah.


"Ferdi?"tanya Alva sambil menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Iya, Tuan,"sahut Bik Inah.


"Baiklah, saya akan menemuinya. Bibi kembali ke kamar bibi saja,"ucap Alva.


"Baik Tuan. Saya permisi,"sahut Bik Inah.


"Hemm,"sahut Alva kemudian Bik Inah pun langsung beranjak menuju kamarnya sedangkan Alva langsung bergegas menuju ke ruang tamu.


"Fer, ada apa? Kenapa malam-malam begini kamu kesini?"tanya Alva yang melihat wajah Ferdi yang serius dan cenderung tegang.


"Tuan, maafkan kami Tuan, kami kecolongan,"ucap Ferdi menjawab pertanyaan Alva dengan wajah yang nampak tegang.


"Kecolongan apa maksud kamu?"tanya Alva tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Ferdi.


"Anak buah Tuan Bramantyo telah berhasil mendapatkan semua informasi tentang Nyonya Disha. Dan yang lebih parahnya, anak buah Tuan Bramantyo telah berhasil membawa paman Nyonya Disha ke kota ini, Tuan,"jelas Ferdi.


"Apa? Pamannya Disha tertangkap oleh papa?!"tanya Alva merasa kaget.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2