
"Terus kamu kasih??"tanya Disha dan Icha bersamaan.
"Iya,"sahut Yessie tampak santai.
"What?! Kamu tidak bercanda kan?!"tanya Disha.
"Yessie, kamu ini sahabat Disha apa bukan sich!"sergah Icha nampak kesal sedangkan Disha nampak memijit batang hidungnya yang mancung.
"Yessie, kamu tahu kan ? PakSu itu cemburuan akut tingkat dewa, apalagi kalau sama di Hery,"ucap Disha nampak frustasi.
Disha benar-benar tidak mau melakukan sesuatu yang nantinya akan membuat Alva cemburu. Karena jika sudah cemburu, Alva sangat menakutkan.
"Memangnya kenapa? Orang aku nggak ngasih nomor telepon Disha kok!"sahut Yessie masih terlihat santai.
"Lalu nomor siapa yang kamu berikan pada Hery?"tanya Icha penasaran begitu pula dengan Disha.
"Seorang wanita cantik pemilik toko roti langganan aku yang sedang nyari jodoh,"sahut Yessie.
"Kenapa kamu merekomendasikan wanita baik-baik kepada pebinor brengseek tidak tahu malu itu?!"tanya Icha yang nampak keberatan.
"Iya, Yes. Kan kasian tuch perempuan,"timpal Disha.
"Aku kasih nomor wanita itu karena wanita itu adalah transgender,"ucap Yessie menatap kedua sahabatnya.
"What?"pekik Disha dan Icha kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak sehingga menjadi perhatian karyawan lain yang sedang menikmati makan siang mereka.
𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐠𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐣𝐞𝐧𝐢𝐬 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐦𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐥𝐚𝐡𝐢𝐫. 𝐌𝐢𝐬𝐚𝐥𝐧𝐲𝐚, 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐭𝐫𝐚𝐧𝐬𝐠𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐡𝐢𝐫 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐞𝐧𝐢𝐬 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐦𝐢𝐧 𝐥𝐚𝐤𝐢-𝐥𝐚𝐤𝐢, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚.
"Kamu ternyata jahil juga, Yes!"ucap Disha setelah tawanya reda.
"Kali ini aku benar-benar suka dengan tindakan kamu, Yes! Biar tahu rasa tuch si pebinor!"imbuh Icha.
"Habisnya aku sebel sama si mantan Disha itu. Udah tahu Disha udah nikah, tapi masih saja ngejer-ngejer Disha,"sahut Yessie nampak kesal.
"Iya Yes, aku juga sebel sama si Hery itu,"timpal Icha.
"Apalagi aku. Aku males banget sama si Hery. PakSu sensi banget kalau sama Hery. Susah membujuk dan merayunya kalau lagi jealous,"jelas Disha.
"Wajar lah Dis, suami mana yang nggak bakalan sensi kalau menghadapi pebinor macam si Hery?! Apalagi istrinya cantik seperti kamu,"ucap Yessie.
__ADS_1
"Iya Dis, benar kata Yessie,"imbuh Icha.
"Karena itu aku berusaha untuk tidak dekat dengan pria manapun. Aku ingin menjaga perasaan suamiku. Dan aku juga nggak tahan kalau dia lagi jealous. Dia jadi suka uring-uringan nggak jelas kalau sudah jealous,"jelas Disha.
***
Setelah selesai makan siang, mereka pun segera kembali ke meja kerja mereka masing-masing.Sedangkan Disha segera masuk ke dalam ruangan Alva karena saat akan kembali ke meja kerjanya, Alva mengirimkan pesan pada Disha agar setelah makan siang Disha langsung ke ruangannya.
"Tok..tok..tok.."
"Masuk!"sahut Alva dari dalam ruangannya.
"Ada apa, Al? Kenapa kamu menyuruh aku kesini?"tanya Disha.
"Kemari lah!"perintah Alva seraya merentangkan kedua tangannya.
Disha pun mendekat dan Alva langsung merengkuh tubuh Disha dan mendudukkan Disha di atas pangkuannya.
"Ada apa, Al?"tanya Disha.
"Nanti malam aku ingin mengajak kamu ke pesta pernikahan anak gubernur di kota ini,"ucap Alva kemudian mencium pipi Disha beberapa kali.
"Aku sudah menyiapkan gaun pesta yang indah untuk kamu,"ucap Alva sambil mengelus pipi Disha.
"Jam berapa kita berangkat?"tanya Disha.
"Jam tujuh malam. Aku tidak ingin terlalu lama di sana. Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu dan Kaivan,"sahut Alva.
"Oke, kalau begitu aku nanti akan bersiap-siap. Sekarang aku akan kembali ke meja kerjaku,"sahut Disha.
"Kiss dulu, sayang!"pinta Alva sambil menunjuk bibirnya sendiri.
Disha pun menuruti keinginan suaminya. Alva langsung membalas ciuman dari Disha. Mengeratkan pelukannya di pinggang Disha dan menekan tengkuk Disha untuk memperdalam ciumannya.
Ciuman panas yang membuat jantung mereka berdetak lebih kencang. Tubuh mereka pun memanas hingga akhirnya Alva melepaskan ciumannya saat Disha memukul-mukul dadanya.
"Sayang, sampai kapan aku harus puasa? Ini sungguh sungguh menyiksa, sayang,"keluh Alva.
"Sabar sayang, tidak akan lama lagi!"ucap Disha seraya mengelus pipi Alva dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
__ADS_1
Alva menghela nafas panjang kemudian matanya tanpa sengaja melihat dua buah bukit kembar milik Disha yang semakin montok dan membuat Alva menelan salivanya dengan susah payah.
"Al, aku harus kembali ke meja kerjaku,"ucap Disha saat menyadari kemana arah tatapan mata Alva.
"Sayang, ini sungguh menyiksa,"ucap Alva sambil menenggelamkan wajahnya di dada Disha.
"Dulu tiga bulan kamu meninggalkan aku juga nggak apa-apa,"ucap Disha.
"Ish.. jangan mengungkitnya lagi, sayang. Itu karena aku tertangkap oleh anak buah papa,"ucap Alva mengerucutkan bibirnya.
"Sudah, jangan merajuk seperti anak kecil! Apa kamu lupa kalau kamu sudah punya anak?! Aku akan kembali ke meja kerjaku,"ucap Disha kemudian mengecup bibir Alva sekilas dan turun dari pangkuan Alva.
Malam harinya.
Disha terlihat sangat cantik dengan gaun, sepatu dan juga satu set perhiasan pilihan Alva. Gaun yang tertutup tapi cantik dan elegan saat dikenakan oleh Disha. Berwarna senada dengan pakaian yang dikenakan oleh Alva.
"Kamu semakin cantik, sayang. Seandainya saja kamu sudah bisa aku sentuh, aku akan menerkam mu saat ini juga,"ucap Alva sambil memeluk Disha yang berdiri didepan cermin dari belakang.
"Kita jadi berangkat atau tidak, Al?"tanya Disha saat Alva malah menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya.
"Kita akan berangkat setelah aku menandai mu sebagai milikku,"ucap Alva kemudian mulai melukis di leher Disha yang jenjang dan putih mulus itu.
"Hentikan Al, kamu akan membuat aku malu dengan kiss mark ini!"ucap Disha mencoba melepaskan diri dari Alva tapi tidak bisa hingga Disha pasrah saat Alva membuat tanda merah di lehernya.
"𝐓𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐬𝐚𝐣𝐚, 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐚𝐬 𝐦𝐮 𝐧𝐚𝐧𝐭𝐢!"batin Disha tersenyum smirk.
Akhirnya Disha dan Alva berangkat ke tempat acara resepsi pernikahan. Alva mengemudikan mobilnya sendiri dengan Disha duduk di kursi penumpang di sebelah Alva. Sesampainya di parkiran gedung tepat di adakan pesta, Disha langsung melepaskan sabuk pengaman dan dengan cepat memeluk tubuh Alva yang belum sempat melepaskan sabuk pengaman.
"Esst.. sayang!!"desis Alva saat Disha tiba-tiba menyesap lehernya dan meninggalkan beberapa tanda merah di sana membuat Alva memejamkan mata mendekap erat tubuh Disha.
"Ini balasan atas perbuatan kamu tadi. Kita impas," bisik Disha di telinga Alva kemudian mengecup leher Alva sekilas, melepaskan pelukannya dan segera menjauh dari Alva.
"Sayang, kamu benar-benar menyiksaku,"ucap Alva sambil menunduk menatap sesuatu di bawah sana yang terasa berdenyut namu Disha malah tertawa melihat suaminya seperti itu.
Akhirnya Alva masuk ke ruangan tempat diadakannya pesta, merangkul pinggang istrinya dengan posesif.
Semua orang yang hadir dalam pesta itu pun nampak kagum dengan pasangan suami-istri yang nampak mesra itu.
"Disha?!"
__ADS_1
To be continued