Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
184. Hukuman


__ADS_3

Disha berdiri di balkon kamarnya, dengan tangan yang memegang pagar balkon, matanya menatap langit yang terlihat tertutup awan, mungkin sebentar lagi hujan akan turun membasahi bumi.


"Sayang, aku minta maaf atas kejadian tadi siang,"ucap Alva yang tiba-tiba memeluk perut Disha dari belakang.


Disha menghela nafas panjang, sejenak memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya agar tidak mengucapkan kata-kata yang akan membuat masalah diantara mereka menjadi besar.


"Aku tahu, tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini, tidak ada yang selalu benar dalam segala tindak dan perbuatan, termasuk aku dan kamu. Tadi setidaknya jagalah perasaan ku. Kamu marah saat aku dipeluk pria lain, walaupun itu kakak kandung ku sendiri. Tapi kamu membiarkan dirimu dipeluk wanita lain," ucap Disha tenang tapi terasa menohok di hati Alva.


"Maafkan aku, sayang! Kamu boleh menghukum ku, tapi tolong jangan marah padaku! Aku memang salah, maafkan aku! Aku janji, untuk kedepannya hal seperti tadi tidak akan terulang lagi.Tapi tolong, jangan marah padaku!" mohon Alva memeluk erat tubuh Disha kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


Disha membalikkan tubuhnya menghadap Alva membuat Alva melepaskan pelukannya. Disha menghela nafas panjang kemudian mendongak menatap suaminya yang lebih tinggi darinya.


"Oke, kali ini aku akan memaafkan kamu. Tapi kamu harus aku beri hukuman, agar kamu mengingat kesalahan mu dan tidak mengulanginya lagi,"ucap Disha menatap wajah Alva yang menunduk menatapnya.


"Katakanlah! Aku akan menerima apapun hukuman dari mu,"ucap Alva pasrah.


"Selama satu bulan, kamu tidak aku ijinkan menyentuh tubuhku,"ucap Disha membuat Alva membulatkan matanya. "Kenapa? Kamu keberatan dengan hukuman itu?"tanya Disha dengan nada yang berubah menjadi ketus.


"Ti..tidak, sayang. Tapi, apa tidak boleh dikurangi? Jangan selama itu, sayang!" mohon Alva dengan wajah yang memelas.


"Kalau kamu tidak mau menerima hukuman mu itu, kamu punya pilihan lain," ucap Disha kembali menghela nafas.


"Apa itu?"tanya Alva penasaran, berharap hukuman lain tidak seberat tadi.


"Aku dan Kaivan akan pulang ke apartemen Kak Radeva dan kamu tetap tinggal di sini,"sahut Disha dengan suara tegas.


"Tidak! Mana boleh seperti itu?!"protes Alva.


"Terserah! Hanya itu pilihan kamu,"ucap Disha enteng.


"Baiklah, aku akan menerima hukuman yang pertama,"ucap Alva pasrah.


Alva tidak akan rela jika anak dan istrinya tinggal bersama Radeva selama satu bulan tanpa ada dirinya ada di sana. Entah mengapa Alva tetap saja merasa cemburu pada kakak iparnya itu.


"Yakin kamu memilih hukuman yang pertama?"tanya Disha membuat Alva menganggukkan kepalanya sebagai jawaban,"Oke, hukuman itu di mulai dari sekarang,"ucap Disha lalu berjalan ke arah ranjang dan segera membaringkan tubuhnya dengan guling yang ada di tengah-tengah ranjang.


Alva menghela nafas panjang, dengan langkah gontai menyusul Disha dan melepaskan kaos oblong yang dikenakannya, kemudian naik ke atas ranjang dan berniat mengambil guling yang ada di tengah ranjang itu.


"Eh..mau dikemanakan guling itu?"tanya Disha membuat Alva yang baru mau mengangkat guling itu menghentikan gerakannya.

__ADS_1


"Guling ini menghalangi kita, sayang. Aku tidak bisa memelukmu jika ada guling ini," ucap Alva.


"Itulah tujuannya guling itu ada di sini. Karena kamu tidak boleh menyentuh ku,"


'What? Sayang, masa cuma peluk aja g boleh,"protes Alva dengan wajah memelas.


"Pokoknya kamu tidak boleh menyentuh ku, no kontak fisik atau aku akan pulang ke apartemen Kak Radeva,"ancam Disha yang tahu jika Alva sangat tidak suka bila dirinya dekat dengan Radeva. Apalagi jika tinggal satu atap dengan Radeva dan tanpa Alva.


"Oke, oke, aku tidak akan menyentuh mu. No kontak fisik,"sahut Alva pasrah menghela nafas panjang kemudian kembali meletakkan guling yang dipegangnya ke tengah ranjang lalu merebahkan dirinya menatap langit-langit kamarnya dengan kedua tangannya sebagai bantal. Sedangkan Disha memilih tidur membelakangi Alva.


Malam semakin larut, namun karena Alva tidak boleh memeluk Disha, akhirnya Alva pun susah untuk memejamkan matanya. Tidak berani menyentuh istinya, takut jika Disha tahu, Disha akan marah dan pulang ke apartemen Radeva.


Akhirnya Alva kembali memakai bajunya dan pergi ke ruang kerjanya. Memilih mengerjakan semua pekerjaan yang harusnya dikerjakannya di kantor malam itu juga.


***


"Kak, temani aku belanja ke mall yuk!" pinta Disha pada Radeva yang sedang bermain dengan Kaivan.


Radeva mengernyitkan keningnya menatap adiknya,"Memang boleh sama suami kamu yang posesif itu?"tanya Radeva.


"Boleh, dong!"ucap Disha dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Iya,..iya,..aku pamit dulu sama dia!"sahut Disha kemudian pergi ke ruang kerja Alva yang sudah tiga hari ini menjadi tempat favorit Alva untuk menghindari Disha, karena takut tidak bisa mengontrol diri untuk tidak menyentuh Disha jika mereka berdekatan..


"Sayang, aku ingin pergi dengan kakak ke mall," ucap Disha membuat jari Alva yang sedang menari-nari di keyboard laptopnya itu langsung berhenti.


"Iya, kamu boleh pergi,"sahut Alva nampak lesu. Tidak rela rasanya jika Disha pergi bersama Radeva.


"Terimakasih, sayang,"ucap Disha tersenyum tipis, hendak keluar dari ruangan kerja Alva.


"Sayang.!"panggil Alva membuat Disha menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap Alva.


"Nanti malam aku akan berangkat ke luar negeri. Aku akan memeriksa perusahaan kita yang ada di sana,"ucap Alva dengan wajah yang nampak tidak bersemangat.


"Iya,"sahut Disha singkat, kemudian keluar meninggalkan ruangan itu. Ada rasa tidak nyaman sejak dirinya memberi hukuman pada Alva.


Selama tiga hari ini Disha tahu jika Alva tidak tidur di kamar mereka. Sejak dirinya menghukum Alva, Alva memilih tidur di sofa ruang kerja dari pada tidur seranjang dengan dirinya. Bahkan sejak kejadian itu Alva lebih banyak menghindari darinya dan tidak banyak bicara seperti biasanya.


Dan sekarang saat mendengar suaminya akan pergi ke luar negeri, entah mengapa Disha merasa itu juga merupakan cara Alva untuk menghindari Disha. Dia yang menghukum Alva, tapi malah merasa dirinya yang tersiksa. Sudah tiga hari ini Disha tidur tanpa di dekap Alva. Disha sering terbangun ditengah malam dan tidak menemukan Alva di sampingnya. Dan saat di cari, Alva malah tidur di sofa ruang kerjanya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa Alva tidak mengijinkan mu pergi dengan kakak?"tanya Radeva setelah Disha keluar dari ruangan kerja Alva.


"Di ijinkan kok, kak,"sahut Disha tersenyum yang nampak di paksakan.


"Kalian ada masalah?"tanya Radeva saat melihat wajah adiknya yang tidak secerah biasanya.


"Ah, tidak kak. Cuma, Alva tadi bilang, malam ini akan berangkat ke luar negeri untuk memeriksa perusahaan yang ada di sana,"ucap Disha menghela nafas pelan.


"Oh..jadi ceritanya sedih karena mau di tinggal pergi?"ledek Radeva.


"Ish, kakak malah meledek,"sahut Disha dengan bibir yang mengerucut.


"Ya udah, ayo ke mall! Katanya mau belanja?!"ucap Radeva mengalihkan pembicaraan.


"Iya,"sahut Disha tersenyum tipis membuat Radeva menghela nafas panjang. Menyadari betapa besarnya adiknya ini mencintai Alva. Hanya karena mendengar Alva akan pergi saja sudah mempengaruhi mood adiknya itu.


Akhirnya Disha dan Radeva pun pergi ke mall. Mereka langsung membeli kebutuhan sehari-hari yang stoknya sudah menipis.


"Sayang, kakak mau ke toilet dulu nggak apa-apa, kan?'tanya Radeva saat mereka akan mengantri di kasir.


'Iya,"sahut Disha dan Radeva pun segera pergi ke toilet.


"Brugh"


"Eh..maaf"ucap seorang perempuan yang tidak sengaja menabrak Radeva.


"Tidak apa, Lain kali kalau berjalan jangan sambil lihat handphone. Berbahaya!"ucap Radeva menelisik wajah perempuan yang ada di depannya itu.


"Ah iya, sekali lagi saya minta maaf,"ucap perempuan itu sambil menundukkan kepalanya sedikit.


"Iya," sahut Radeva kemudian berlalu pergi.


"Ganteng banget sich, itu cowok,"gumam perempuan itu setelah Radeva pergi.


...🌟"Terkadang kita harus diam dan menyendiri agar bisa mengintropeksi diri."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2