
Setelah Hery keluar dari kamar itu, Anjani terduduk di tepi ranjang dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Maafkan mama, Nak! Mama tidak bisa memberikan keluarga yang utuh padamu. Mama tidak bisa terus hidup dengan papa mu yang tidak pernah mau belajar mencintai mama. Mama janji akan memberikan kasih sayang yang mama punya hanya untuk mu,"ucap Anjani seraya mengelus perutnya.
Sebenarnya Anjani tadi merasa sangat takut jika sampai Hery menyakiti dirinya dan juga bayi yang ada di dalam kandungan nya. Namun Anjani benar-benar merasa tidak tahan lagi dengan sikap dan tingkah laku Hery pada dirinya selama ini.
Maka dari itu, Anjani memutuskan untuk menceraikan Hery setelah anak mereka lahir dan memutuskan untuk membesarkan putranya sendirian.
Sedangkan ditempat lain, Hery berhenti disebuah jembatan. Hery turun dari mobilnya dan berdiri di pagar jembatan itu dengan hati yang kesal.
"Sekarang dia berani melawan ku, bagaimana ini? Dia sudah tidak mempan lagi aku ancam. Arghh...!!!"pekik Hery nampak frustasi.
"Jika dia sampai menggugat cerai padaku, papa tidak akan memberikan hartanya sepeserpun padaku. Siall..?? Sial..!! Siall...!!" umpat Hery melampiaskan kekesalannya sambil menendang-nendang pagar jembatan.
***
Di apartemen Alva dan Disha.
"Sayang, minum susunya dulu!"ucap Alva seraya menyodorkan segelas susu pada Disha yang sedang memainkan handphonenya namun diabaikan oleh Disha.
Semenjak pulang dari kantor Disha sama sekali tidak mau berbicara dengan Alva membuat Alva kelimpungan.
"Sayang, minumlah dulu susunya!"ucap Alva lembut seraya menghela nafas berat.
Disha meraih gelas yang berisi susu itu kemudian meminum susu itu sampai habis dan meletakkan gelas itu di nakas dan kembali sibuk dengan handphonenya.
"Sayang, aku minta maaf atas ucapan ku tadi siang. Aku hanya bercanda,"ucap Alva beringsut mendekati Disha namun Disha beringsut menjauh.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?"tanya Alva memelas.
"Keluar dari sini!"ucap Disha dengan nada ketus, melirik sekilas pada Alva.
"Sayang, kamu boleh meminta apapun padaku, tapi jangan suruh aku tidur di luar,"pinta Alva.
"Apapun?"tanya Disha seraya memicingkan matanya dalam hati tertawa bahagia.
"Iya, apapun,"ucap Alva setuju.
"Aku besok mau shopping sama teman-teman ku. Dan aku ingin membawa Kaivan,"ucap Disha.
"Sayang, kalau kamu ingin shopping aku nggak keberatan, tapi kalau harus membawa Kaivan aku tidak setuju,"ucap Alva.
__ADS_1
"Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak dan tidak butuh jawaban yang lain,"ketus Disha.
"Iya jika kamu mau shopping, dan tidak jika harus membawa Kaivan,"ucap Alva.
Disha bangkit dari duduknya kemudian menarik tangan Alva yang membuat Alva bingung.
"Keluar!"ucap Disha sambil menunjuk ke arah pintu.
"Sayang...."ucapan Alva langsung dipotong oleh Disha.
"Mau kamu yang keluar dari kamar ini atau aku yang akan keluar dari kamar ini?" ucap Disha tegas.
"Sayang, jangan seperti ini..."
"Ke..lu...ar!!"ucap Disha penuh penekanan.
"Oke.. Oke... kamu boleh pergi dengan Kaivan,"ucap Alva mengalah kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Disha tersenyum penuh kemenangan.
"Yes.!! Yes..!! Yess..!! Akhirnya aku dapat ijin dengan pura-pura ngambek,"gumam Disha kemudian segera menghubungi teman-temannya bahwa mereka besok jadi shopping.
Sebenarnya tadi siang Disha tidak marah pada Alva, karena Alva telah memuji wanita lain cantik. Disha percaya kalau Alva tidak akan tertarik pada wanita lain, apalagi sampai mengkhianatinya.
Disha sengaja pura-pura marah agar Alva membujuknya dan Disha bisa mendapatkan izin untuk pergi bersama Kaivan dan teman-temannya.
"Sayang, ayo tidur, sudah malam,"ucap Alva seraya mengelus paha Disha yang masih bersandar di headboard ranjang. Disha meletakkan handphonenya di nakas kemudian membaringkan tubuhnya membelakangi Alva.
"Sayang, menghadap ke sini dong tidurnya! Masa suamimu yang tampan ini kamu punggungngi?!"ucap Alva seraya menarik pelan tubuh Disha kemudian mendekapnya dalam pelukannya.
"Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Kamu tahu kan kalau aku hanya mencintai mu. Butuh perjuangan untuk mendapatkan mu, mama mungkin aku melepaskan mu dan mencari wanita lain?!"ucap Alva kemudian mengecup puncak kepala Disha dan seperti biasanya, Alva akan mengelus rambut Disha sampai mereka terlelap.
***
Keesokan harinya.
Seperti biasa, Disha bepergian dengan dikawal oleh Ferdi dan beberapa orang bodyguard. Disha membawa Bik Inah untuk menjaga Kaivan, selain itu juga agar wanita paruh baya itu tidak merasa bosan terus menerus berada di dalam apartemennya.Yessie dan Icha sudah tiba lebih dulu dan menunggu Disha di depan mall.
"Cha, haus banget nich! Kamu tunggu dulu di sini, ya? Aku beli es dulu sebentar,"ucap Yessie langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Icha.
Tak lama kemudian Yessie datang dan berniat menghampiri Icha hingga...
"Brugh!" Yessie bertabrakan dengan seorang wanita.
__ADS_1
"Oh ya ampun..apa yang kamu lakukan?! Kamu taruh dimana mata kamu itu?! Lihat, baju saya jadi kotor karena minuman murahan mu itu!"maki seorang wanita paruh baya.
"Maaf Nyonya, saya tidak sengaja,"ucap Yessie sopan sedangkan Icha langsung menghampiri Yessie.
"Enak saja cuma minta maaf! Baju saya jadi kotor karena kamu!"ucap wanita itu dengan suara yang keras hingga banyak pengunjung mall yang memperhatikan mereka.
"Nyonya juga salah, nyonya berjalan sambil memainkan handphone anda tanpa melihat ke depan,"ucap suara bariton seorang pria yang membuat semua orang mengalihkan perhatian mereka ke arah pria itu.
"Pak Riky!?"ucap Yessie dan Icha bersamaan.
"Ohh..jadi dia ini pembantu Anda?!"tanya wanita paruh baya itu setelah mengamati penampilan Riky yang menggunakan pakaian branded.
"Mereka bawahan saya di kantor, bukan pembantu saya,"ucap Riky yang merasa tidak senang dengan wanita paruh baya itu. Karena dia yang sudah menabrak Yessie tapi malah menyalahkan Yessie
"Sama saja , intinya dia orang rendahan,"cibir wanita paruh baya itu menatap remeh pada Yessie.
"Heh, nyonya! Jangan sembarangan kalau ngomong! Situ yang salah kok malah situ yang nyolot!"sergah Icha yang merasa tidak suka sahabatnya di rendahkan.
"Eh kamu.!! Tidak sopan sekali cara bicaramu pada orang yang lebih tua! Dan tidak usah ikut campur urusan orang lain!"balas perempuan paruh baya itu.
"Situ saja tidak menghormati orang lain, kenapa aku harus menghormati situ?"ucap Icha ketus.
"Dasar perempuan tidak punya sopan santun, orang rendahan!!"maki perempuan paruh baya itu.
"Ma, ada apa ini?"tanya seorang pria paruh baya menghampiri wanita paruh baya itu.
"Perempuan itu mengotori baju mama, yang limited edition ini dengan es murahan nya itu , pa!"adu perempuan paruh baya itu pada sang suami.
"Istri anda yang salah, Tuan. Istri anda berjalan sambil memainkan handphonenya dan menabrak teman sekantor saya ini, tapi malah menyalahkan teman saya," bela Riky.
"Begini saja, suruh teman kamu itu untuk mengganti baju istri saya yang kotor ini," ucap pria paruh baya itu.
"Apa?! Mengganti??! Itu dicuci juga bisa ngapain teman saya harus menggantinya? Lagian istri anda yang salah, kok malah minta ganti!"ucap Icha yang semakin kesal dengan pasangan suami-istri paruh baya itu.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya teman kamu itu harus mengganti baju saya yang limited edition ini!"sergah wanita paruh baya itu.
"Baju limited edition dari mananya?!"
...🌟"Jangan menilai orang dari pakaiannya, tapi nilai lah dari hatinya."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued