Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
272. Kamelia


__ADS_3

Di jalan raya, sebuah truk nampak oleng hingga membuat beberapa pengguna jalan membanting stir menghindari truk. Ada beberapa pengguna jalan yang mengendarai sepeda motor terjatuh, menabrak trotoar, dan ada pula yang menabrak atau pun ditabrak pengendara lain. Namun beruntung tidak ada yang mengalami luka parah, apalagi sampai meninggal. Para pengguna jalan pun banyak yang mengumpat supir truk itu. Sedangkan truk yang oleng tadi, akhirnya terguling di tengah jalan.


Seorang gadis nampak meringis, setelah jatuh terduduk setelah motor yang dikendarainya menabrak pohon di pinggir jalan. Namun tidak ada seorang pun yang membantunya. Gadis itu pun nampak tidak bisa berdiri.


"Bagaimana keadaan mu?"tanya seorang pria yang tiba-tiba berjongkok di depan gadis itu. Pria itu menghampiri gadis itu karena orang-orang yang ada di tempat itu berbondong-bondong menghampiri truk yang terguling dan supirnya malah berusaha untuk melarikan diri. Tak ayal, para pengguna jalan pun mengejar supir truk itu.


"Sa..."ucapan gadis itu terhenti dan nampak terkejut saat mendongakkan kepalanya menatap pria yang bertanya padanya.


"Kenapa?"tanya pria itu seraya mengernyitkan keningnya melihat ekspresi terkejut gadis di depannya itu.


"Sa..saya rasa, kaki saya terkilir, Pak,"ucap gadis itu menundukkan kepalanya tak berani menatap pria di depannya.


"𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙥𝙚𝙧𝙙𝙖𝙮𝙖 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙩𝙖𝙝,"gumam gadis itu di dalam hati.


"Kalau begitu, biar saya antar pulang. Katakan dimana rumah mu?"pinta pria itu menatap gadis cantik di depannya itu.


"Tidak usah, Pak, terimakasih. Saya tidak mau merepotkan, Bapak,"sahut gadis itu nampak sungkan dengan pria yang ada di depannya.


"Apa saya terlihat sangat tua?"tanya pria itu tertawa hambar, karena dari tadi di panggil Pak, oleh gadis di depannya itu.


"Ti.. tidak, Pak,"sahut gadis itu jadi gelagapan.


"Pak lagi,"dengus pria itu,"Kalau saya tidak terlihat tua, kenapa kamu senang sekali memanggil saya bapak? Saya kan bukan Bapak kamu,"ucap pria itu dengan wajah masam.


"Karena anda adalah dosen saya,"jawab gadis itu pelan.


"Hah? Kamu mahasiswi saya?"tanya pria yang tak lain adalah Niko itu. Karena baru mengajar dan siswanya juga banyak, tentu saja Niko belum terlalu hafal dengan para mahasiswanya.Sekarang, Niko baru mengerti, kenapa gadis itu terlihat sungkan padanya dan selalu memanggilnya dengan panggilan Pak. Ternyata gadis di depannya ini adalah mahasiswinya.


"Iya, Pak,"sahut gadis itu masih menunduk.


"Kalau begitu, biarkan saya mengantarkan kamu pulang,"ucap Niko berharap tidak ditolak lagi.


"Saya naik taksi saja, Pak ,"ucap gadis itu keukeh tidak mau diantar.

__ADS_1


Niko menghela napas, nampak kesal. Kenapa gadis di depannya ini begitu keukeh tidak mau diantar pulang olehnya. Padahal, biasanya para gadis malah mencari alasan untuk mendekati dirinya. Tapi, gadis yang satu ini malah menolak dengan berbagai macam alasan. Meskipun gadis ini tidak mampu berdiri apalagi berjalan, dia tetap tidak mau diantar pulang.


"Ya sudah jika kamu tidak mau saya antar pulang. Tapi bagaimana kamu akan naik ke taksi, jika berdiri saja kamu tidak bisa? Kamu mau minta gendong pada supir taksi? Lalu, bagaimana jika supir taksi itu membawamu ke tempat yang sepi dan melecehkan kamu? Toh, kamu juga tidak akan bisa kabur kan, dengan keadaan kamu yang seperti itu. Ah, maaf! Saya tidak bermaksud menakut-nakuti kamu. Semoga saja supir taksinya tidak begitu. Lagian, saya baru ingat kalau saya masih ada sesuatu yang harus saya urus, saya pergi dulu,"ujar Niko melirik arloji di pergelangan tangannya kemudian bangkit dan bermaksud meninggalkan gadis itu.


Gadis itu terdiam. Bagaimana jika benar, supir taksinya nanti bermaksud buruk padanya? Mengingat dirinya yang memang tidak bisa berdiri apalagi lari jika terjadi sesuatu. Sementara pria di depannya itu adalah dosennya, jadi tidak mungkin kan, pria itu akan berbuat macam-macam padanya. Itulah yang ada dalam pikiran gadis itu. Hingga akhirnya memberanikan diri membuka suara.


"Tunggu, Pak! Tolong antar saya pulang!"pinta gadis itu memelas.


Niko menghentikan langkahnya dengan bibir yang melengkung ke atas,"Oke, saya akan mencari taksi untuk kamu. Soalnya saya harus segera menyelesaikan urusan saya,"ucap Niko tanpa berbalik, merogoh handphonenya di saku celananya panjangnya.


"Jangan, Pak! Saya tidak ingin naik taksi. Tolong antarkan saya pulang!," pinta gadis itu lagi.


Niko membalikkan tubuhnya menatap gadis itu,"Katanya tadi tidak mau saya antar pulang,"ujar Niko.


"Saya berubah pikiran. Tolong antar saya pulang!"ucap gadis itu kembali memohon pada Niko. Menelpon keluarganya? Akan lama mereka tiba di tempat itu. Dan selama menunggu keluarganya datang, dia tidak menjamin apa yang akan terjadi di tempat yang sekarang sudah sepi itu. Jadi pilihan terakhir adalah bersedia di antar pulang oleh dosennya itu.


Niko mendekati gadis itu lagi, namun gadis itu nampak melirik ke arah motornya. Niko pun mengerti apa yang ada di pikiran gadis itu.


"Kamelia, Pak,"sahut gadis itu.


"Nama yang cantik, secantik orangnya,"ucap Niko tersenyum tipis.


"𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙪𝙟𝙞. 𝙇𝙖𝙠𝙞-𝙡𝙖𝙠𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙗𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙚𝙧𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙚𝙜𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙪𝙟𝙞𝙖𝙣,"gumam Kamelia kembali memperingati dirinya sendiri.


Setelah itu, Niko langsung mengangkat tubuh gadis itu menuju motornya. Gadis itu nampak kikuk ketika Niko menggendongnya. Aroma parfum maskulin yang berasal dari tubuh dosennya itu pun menyapa indera penciumannya, terasa begitu menyegarkan. Jantung Kamelia berdegup kencang berada dalam gendongan seorang pria tampan yang notabene adalah dosennya yang sangat dikagumi dan ditaksir para mahasiswi dan para dosen wanita di kampusnya.


Niko mendudukkan gadis itu di boncengan motornya. Setelah itu, Niko pun duduk di depan sang gadis, dan mengenakan helm nya. Sedangkan Kamelia sendiri, dari tadi memang masih mengenakan helm nya.


"Pegangan yang kuat, jangan sampai kamu terjatuh,"ucap Niko setelah selesai memakai helm nya.


"Iya, Pak,"sahut Kamelia langsung memegang jaket kulit yang dikenakan oleh Niko, dan Niko pun langsung melajukan motor sportnya. Posisi jok belakang yang lebih tinggi seolah mengharuskan orang yang dibonceng memeluk sang pengemudi. Namun Kamelia malah memilih melepaskan pegangan tangan kanannya di jaket Niko dan meletakkan lengannya dengan posisi miring di punggung Niko. Bermaksud untuk memberi jarak antara tubuhnya dengan tubuh Niko, agar tubuh bagian depannya tidak menempel di punggung Niko.


Niko tersenyum tipis seraya menggeleng pelan. Gadis di belakangnya ini nampak benar-benar menjaga jarak darinya, bahkan menggunakan lengannya sebagai pembatas tubuh mereka. Jika gadis lain yang ada di posisi Kamelia saat ini, pasti akan dengan senang hati melingkarkan tangan mereka di perut ratanya seraya menempelkan bagian depan tubuh mereka di punggung Niko, bahkan mereka akan menggoda Niko dengan sengaja menggesekkan dua gundukan kenyal milik mereka di punggung Niko.Tapi gadis ini malah nampak sangat menjaga jarak dengannya.

__ADS_1


"Dimana rumahmu?"tanya Niko menoleh ke arah Kamelia.


"Di daerah xx, Pak. Gang rambutan, jalan anggrek,"ucap gadis itu sedikit mengeraskan suaranya.


Niko melakukan motor sportnya dengan kecepatan rata-rata. Setengah jam kemudian, mereka pun tiba di rumah Kamelia. Rumah yang tidak mewah, tapi termasuk bagus, terlihat asri dengan berbagai macam jenis bunga yang menghiasi pagar dan teras rumah itu. Udaranya pun terasa sejuk dan nyaman, dengan pemandangan bunga yang mekar dengan bermacam macam warna , memanjakan mata.


Setelah melepaskan helm nya, Niko kembali menggendong Kamelia menuju pintu utama, bertepatan dengan pintu yang terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu Kamelia.


"Lia? Kamu kenapa?"tanya wanita itu tampak khawatir saat melihat Kamelia pulang digendong pria asing.


"Aku jatuh dari motor Bu, dan kakiku terkilir,"sahut Kamelia.


"Mari silahkan masuk!"ucap ibu Kamelia pada Niko ramah.


"Terimakasih,"ucap Niko tersenyum tipis, kemudian melangkah masuk mengikuti ibu Kamelia. Niko pun mendudukkan Kamelia di sofa ruang tamu.


Kamelia memperkenalkan Niko kepada ibunya sebagai dosen di universitas tempatnya menuntut ilmu. Niko pun langsung menjelaskan apa yang terjadi pada ibu Kamelia di jalan tadi.


"Terimakasih, Pak dosen. Sudah repot-repot mengantarkan Lia pulang,"ucap ibu Kamelia sopan.


"Tidak masalah, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu, sudah sore,"ujar Niko seraya melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Terimakasih banyak, Pak,"ucap Kamelia. Dan Niko menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis, tapi terlihat sangat menawan di wajahnya yang tampan. Akhirnya Niko pun meninggalkan rumah Kamelia dan kembali ke apartemen nya.


"Kamelia, gadis yang cantik dan menarik,"gumam Niko tersenyum di balik helm full face yang dikenakannya.


...🌟"Sering kali, cinta datang dari pandangan mata, maka jagalah mata, agar tidak mencintai karena fisik semata."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


... 🌸❤️🌸...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2