
"Sebenarnya..."ucap Anjani menatap sekilas kearah Hery dengan wajah takut.
"𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐣𝐮𝐣𝐮𝐫, 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐇𝐞𝐫𝐲 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐤𝐮. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐣𝐚𝐧𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐮. 𝐏𝐚𝐩𝐚 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐤𝐮. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐩𝐚𝐩𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐧𝐢𝐧𝐤𝐮. 𝐁𝐚𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐩𝐚𝐩𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐩𝐚,"batin Anjani.
"Jangan takut sayang, katakan yang sejujurnya, papa ada di pihak mu,"ucap Darmawan meyakinkan.
"Sebenarnya aku tadi terpeleset, pa. Maaf telah membuat kalian khawatir,"ucap Anjani tidak berani menatap ketiga pria yang mengelilinginya.
"Benarkah? Kamu tidak berbohong?"tanya Adiguna karena merasa belum yakin.
"Iya,"sahut Anjani singkat.
"Jika Hery menyakiti mu, katakan saja pada papa, kamu tidak perlu takut,"ucap Darmawan.
"Iya, pa,"sahut Anjani lagi.
"𝐒𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐤𝐮, 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐚,"batin Hery merasa senang.
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Papa akan menjagamu,"ucap Adiguna mengelus kepala Anjani dengan penuh kasih sayang.
Darmawan dan Adiguna pun memilih duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu. Sedangkan Hery berjalan mendekati Anjani yang nampak ketakutan sambil memeluk perutnya.
"Bagus, jangan sampai kamu bicara yang sejujurnya pada orang tua kita, jika kamu tidak ingin aku menyakiti bayi dalam kandungan mu itu,"ucap Hery pura-pura mengelus kepala Anjani dan melirik perut Anjani dengan senyuman miring.
"𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐲𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐤𝐮? 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐭𝐚𝐡𝐮 𝐤𝐞𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚,"batin Hery.
Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Anjani pun diijinkan untuk pulang. Hery pun membereskan barang-barang Anjani dibantu Adiguna dan Darmawan.
"Kalian akan pulang kemana?"tanya Adiguna menatap Hery dan Anjani bergantian.
"Aku ingin tinggal bersama papa,"sahut Anjani cepat.
__ADS_1
"Tapi sayang, aku ingin kita hidup mandiri,"protes Hery.
"Aku ingin tinggal dirumah papa. Boleh ya, pa?"tanya Anjani menatap Adiguna dengan tatapan mata memohon.
"Turuti saja apa yang diinginkan Anjani, Di. Kita lakukan apapun yang membuatnya merasa nyaman dan bahagia agar cucu kita sehat,"ucap Darmawan.
"𝐈𝐬𝐡𝐡...𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐩𝐚𝐩𝐚 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐭𝐮𝐣𝐮𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐦𝐢𝐧𝐭𝐚𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐣𝐚𝐧𝐢 𝐬𝐢𝐜𝐡? 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐞𝐛𝐚𝐬 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚 𝐝𝐢 𝐫𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚,"batin Hery.
"Iya, aku juga senang jika mereka tinggal bersamaku,"ucap Adiguna.
"Tapi kalian juga harus sering-sering menginap di rumah papa, ya?!"pinta Darmawan.
"Iya, pa,"sahut Anjani.
"𝐒𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐥𝐚𝐡, 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐩𝐚𝐩𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐚𝐤𝐢𝐭𝐢 𝐛𝐚𝐲𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐮,"batin Anjani seraya mengelus perutnya.
Akhirnya Anjani pulang ke rumah Adiguna dan Hery terpaksa juga ikut tinggal di rumah Adiguna. Hery tidak mau peristiwa masa lalu terulang kembali. Waktu itu Darmawan menyuruh Hery untuk kuliah di luar negeri tapi Hery tidak mau.
Hery ingin selalu dekat dengan Disha, jadi Hery memutuskan untuk kuliahan di dalam negeri. Hery ingin kuliah di kampus yang sama dan jurusan yang sama dengan Disha.
Hery meninggalkan Disha sang pujaan hati dan terkontaminasi oleh pergaulan bebas ala barat. Selama di luar negeri Hery berpacaran dengan beberapa perempuan di sana. Berpacaran dengan gaya bebas, tinggal satu atap dengan pacarnya dan melakukan hubungan layaknya suami-istri.
***
Adiguna, Hery dan Anjani sampai di rumah sore hari. Anjani pun masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan diri. Hery pun menyuruh orang untuk membawakan semua keperluan pribadinya selama dia tinggal di rumah Adiguna.
Hery merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sambil memainkan handphonenya untuk menghilangkan rasa bosan menunggu Anjani menyelesaikan ritual mandinya.
"Ceklek,"pintu kamar mandi terbuka dan Anjani pun muncul dari balik pintu dengan hanya menggunakan bathrobe. Hery mendongakkan kepalanya menatap ke arah Anjani.
"Kamu sengaja menggoda ku, ya?"tanya Hery meletakkan handphone nya di atas nakas kemudian berjalan mendekati Anjani.
__ADS_1
"Aku lupa membawa baju ganti ke kamar mandi,"ucap Anjani cepat-cepat mengambil pakaian dari dalam lemari sambil sesekali melirik Hery yang berjalan semakin dekat ke arahnya.
"Aku ingin melihat tubuh seksi mu lagi,"bisik Hery yang tiba-tiba sudah memeluk Anjani dari belakang dan mencium leher jenjang Anjani.
"Ja..Jagan macam-macam! Aku tidak mau masuk rumah sakit lagi gara-gara kamu seperti kemarin,"ucap Anjani berusaha melepaskan pelukan Hery.
"Menurut lah padaku atau aku akan berbuat kasar padamu seperti kemarin dan membuat bayi dalam kandungan mu ini lenyap,"ancam Hery seraya mengusap perut Anjani yang masih rata.
"Jangan! Jangan lakukan itu! Aku belum siap melayani mu, tolong lepaskan aku!"pinta Anjani memelas.
"Aku sudah konsultasi dengan dokter yang merawat mu. Tidak jadi masalah jika kita melakukan hubungan suami-isteri,"ucap Hery yang sebenarnya sungguh tergoda untuk berhubungan intim dengan Anjani saat dia melihat tubuh Anjani kemarin.
"Tap...tapi jangan sekarang, a..aku belum siap,"ucap Anjani takut.
"Jika kamu tidak mau melayani aku, maka aku akan membawa kamu ke hotel. Di sana aku akan mengikatmu dan memaksa mu untuk melihat aku bercinta dengan perempuan lain. Apa kamu mau aku melakukan itu?"tanya Hery yang tangannya sudah mulai bergerilya di tubuh Anjani.
Anjani yang tidak bisa membayangkan Hery bercinta di depan matanya dan harus mendengarkan suara-suara laknat yang akan keluar dari mulut Hery dan pasangannya nanti pun terpaksa menuruti keinginan Hery.
Perlahan Hery menarik tali bathrobe yang dikenakan oleh Anjani hingga tubuh Anjani polos tanpa sehelai benang. Kemudian Hery mengangkat tubuh Anjani ke atas ranjang dan melepaskan seluruh pakaiannya. Hery perlahan naik ke atas ranjang dan mulai menjamah tubuh Anjani kemudian melakukan hubungan suami-istri dengan Anjani.
Setelah menuntaskan hasratnya, Hery pun turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa menutupi tubuh polos Anjani.
"𝐀𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐣𝐚𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐦𝐩𝐢𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐞𝐧𝐮𝐡𝐢 𝐤𝐞𝐛𝐮𝐭𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚? 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐦𝐚𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚, 𝐚𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐧𝐚𝐟𝐬𝐮. 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐤𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐢𝐧𝐢?"batin Anjani tanpa sadar telah menitikkan air mata, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Tak lama kemudian Hery keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Tidak dapat dipungkiri Anjani, bahwa tubuh Hery juga proposional. Nampak seksi jika dilihat dari kacamata wanita.
"Kenapa? Kamu terpesona melihat tubuh ku? Apakah tubuhku lebih sempurna dari tubuh Rendra?"tanya Hery seraya duduk di samping Anjani berbaring.
"Tubuh Alva?"
...🌟"Hubungan yang dijalin tanpa rasa cinta, apalagi karena terpaksa dan tidak mau menerima, akan membuat hati tersiksa bahkan terluka."🌟...
__ADS_1
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued