Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
99. Kalung Disha


__ADS_3

Disha POV


Usai melakukan ritual suami-istri, aku dan Alva kemudian mandi bersama. Selesai mandi Alva bahkan membantu ku untuk mengeringkan rambut ku. Oh..so sweet banget memang suami ku ini.


"Kemari lah, sayang!"perintah Alva memberi isyarat kepada ku agar menjadikan lengannya sebagai bantal ku.


Aku pun menurut dan segera menjadikan lengan Alva sebagai bantal ku kemudian memeluk dan menenggelamkan wajahku di dada bidangnya, tempat ternyaman bagiku.


Alva mengecup puncak kepala ku kemudian mengelus rambut ku dengan penuh kasih sayang. Sungguh aku bahagia bisa memiliki Alva dan hidup bersama dengan Alva. Apalagi sekarang ada Kaivan diantara kami, rasanya kebahagiaan ku semakin sempurna.


Aku dulu tidak berani bermimpi apalagi berharap mempunyai suami yang setampan dan sesempurna dirinya. Walaupun ada yang minus dari Alva, yaitu cemburuan akut tingkat dewa yang bikin aku pusing kepala. Tapi tidak apa, itu tandanya dia sangat mencintai aku. Lagi pula tidak ada manusia yang sempurna, begitu pun aku. Aku juga memiliki banyak kekurangan.


Tapi jujur, aku tidak menyangka dia akan memberikan aku begitu banyak aset yang membuat aku menjadi kaya mendadak. Sungguh aku tidak punya celah untuk meragukan cintanya. Dan jujur, aku juga sangat mencintai Alva.


Tak lama setelah berbaring, kami pun terlelap karena rasa lelah yang mendera tubuh kami setelah aktivitas panas yang kami lakukan tadi.Namun baru sekitar satu jam kami terlelap, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar kami.


Alva pun terbangun, sedangkan aku masih malas membuka mataku. Alfa kemudian dengan perlahan melepaskan pelukannya pada ku dan menggantikan lengannya yang ku jadikan bantal dengan bantal yang ada di ranjang kami kemudian menyelimuti tubuh ku.


Aku mendengar Bik Inah mengatakan ada Ferdi yang ingin bertemu, padahal hari sudah malam. Karena penasaran, aku pun keluar dari kamar dan diam-diam menguping pembicaraan mereka dan aku sangat terkejut saat Ferdi mengatakan bahwa pamanku ditangkap oleh papanya Alva.


Aku segera kembali ke kamar dan pura-pura tidur saat Alva akan kembali kedalam kamar. Alva bersiap-siap untuk pergi lalu mencium kening ku dan kening Kaivan bergantian kemudian bergegas keluar dari kamar.


Setelah Alva pergi, aku langsung membawa Kaivan ke kamarnya sendiri dan membangunkan Bik Inah agar menjaga Kaivan kemudian tanpa mengganti piyama ku yang celana dan lengannya panjang, aku langsung memakai jaket, mengambil handphone dan kunci mobil dan langsung menyusul Alva melalui GPS dari handphone Alva.


Saat aku tiba disebuah rumah sederhana di pinggir hutan aku sempat dihadang beberapa anak buah Alva, tapi setelah aku bujuk mereka mengizinkan aku masuk dan mendengar perdebatan papa Alva dengan pamanku.

__ADS_1


Sekarang aku tahu semua permasalahan antara pamanku dan papa Alva serta alasan papa Alva sampai saat ini tidak menerimaku sebagai menantunya.


Tapi yang membuat aku terkejut adalah saat pamanku mengatakan bahwa aku bukan bagian dari keluarga mereka dan bukan anak kandung dari orang tua yang selama puluhan tahun telah merawat dan membesarkan aku. Karena penasaran dengan apa yang dikatakan oleh pamanku akhirnya aku pun menerobos masuk.


"Apa maksud paman?"tanya ku dengan jantung yang berdetak kencang.


"Disha??!"ucap pamanku terkejut.


"Sayang??!"ucap Alva tak kalah terkejutnya saat melihat ku.


"Apa maksud paman? Apa benar aku bukan bagian dari keluarga kalian? Apa benar aku bukan anak ayah dan ibuku? Lalu siapa orang tua ku? Aku mohon, katakan yang sebenarnya paman!!"ucap ku dengan perasaan yang sudah tidak karuan lagi.


"Sebenarnya, kakak ipar ku dulu susah mendapatkan keturunan. Setelah berobat ke sana sini, akhirnya kakak ipar mengandung. Namun kandungannya lemah dan sering bermasalah. Hingga malam itu, kakak ipar ku melahirkan dengan operasi Caesar,"


"Namun nahas, bayi yang dilahirkan kakak ipar ku meninggal. Kakak ipar laki-laki ku bingung harus berbuat apa. Karena jika berkata jujur bahwa anak mereka sudah meninggal, Kakak ipar takut jika istrinya akan shock dan berakibat tidak baik bagi kesehatan kakak ipar perempuan ku,"


"Namun saat kami sedang menenangkan diri tak jauh dari rumah sakit, tiba-tiba kami dihampiri seorang wanita muda yang berurai air mata sedang membawa seorang bayi dalam dekapannya. Dia menyerahkan bayi itu pada kami dan memohon-mohon pada kami untuk membawa bayi itu pergi, agar bayi itu bisa selamat,"


"Dia tidak menjelaskan apapun pada kami. Dia mengambil batu didekat kami lalu menggendongnya dan berlari meninggalkan kami yang masih shock begitu saja. Akhirnya kami membawa bayi itu kembali ke rumah sakit,"


"Setelah kembali ke rumah sakit, kami mendapati kakak ipar perempuan ku histeris mencari anaknya. Akhirnya kakak ipar lelakiku mengutarakan idenya padaku. Kakak ipar ingin menjadikan bayi itu sebagai anaknya untuk menggantikan bayinya yang sudah meninggal,"


"Akhirnya kakak ipar ku menguburkan jenazah anaknya yang sudah meninggal dan merahasiakan tentang anak yang ditukar nya itu. Hanya kakak ipar laki-laki ku, aku dan bibi mu yang tahu soal itu,"


"Walaupun sebenarnya kami was-was jika wanita muda itu mencari bayinya. Namun sampai kedua kakak ipar ku meninggal, tidak ada yang mencari bayi itu, dan bayi itu adalah kamu,"jelas paman ku panjang lebar.

__ADS_1


"Lalu siapa orang tuaku paman?"tanyaku walaupun aku yakin pamanku pasti tidak tahu. Dan benar saja, pamanku menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda dia tidak tahu.


"Sebelum meninggal, apakah kakak ipar ku memberikan sebuah kalung berliontin bunga teratai yang berwarna merah muda kepadamu?"tanya paman ku.


"Iya, ayah memberikan kalung berliontin bunga teratai berwarna merah muda padaku dan melarang ku memberi tahu pada ibu soal kalung itu,"jawab ku.


"Paman dulu pernah punya teman yang mengerti tentang batu mulia. Kakak ipar dan paman menunjukkan liontin itu padanya dan menurut dia, liontin kalung mu itu adalah batu mulia yang langka. Karena itu, paman yakin jika kamu bukan dari kalangan menengah ke bawah,"jelas paman ku.


"Kita akan mencari tahu tentang siapa orang tuamu dengan kalung yang kamu miliki, sayang,"ucap Alva seraya memeluk dan mengelus pipiku.


"Bagaimana caranya?"tanyaku yang masih belum bisa berpikir karena masih shock dengan kenyataan yang aku ketahui malam ini.


"Mulai sekarang kamu harus selalu memakai kalung itu, dan kita akan sering menghadiri pesta-pesta yang diadakan orang-orang dari kalangan menengah ke atas. Siapa tahu dari mereka ada yang mengenali kalung mu itu, dan bisa jadi juga orang tua kandung mu akan melihatnya,"ucap Alva yang menurut ku masuk akal.


"Sekarang sebaiknya paman ikut kami pulang. Dan papa, aku harap masalah dengan paman Disha selesai sampai di sini karena papa tidak punya bukti yang kuat untuk menjebloskan paman Disha ke penjara,"


"Kenyataannya adalah papa yang telah membakar hidup-hidup orang yang bernama Beni itu dan aku telah melihat dengan mata dan kepalaku sendiri,"ucap Alva seketika membuat paman ku, dan papanya Alva terkejut


"Kamu salah sangka, papa tidak pernah membunuh siapapun termasuk Beni. Waktu itu papa hanya menakut-nakutinya saja. Papa sudah menyerahkan dia kekantor polisi, namun satu jam setelah dia papa serahkan ke kantor polisi, dia bunuh diri. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan hal itu ke kantor polisi,"jelas papa Alva nampak yakin.


"Oke, aku akan memeriksanya nanti, dan aku juga berharap papa bisa menerima Disha sebagai istri ku. Karena walaupun papa tidak setuju, aku akan tetap bersama Disha,"ucap Alva tanpa menunggu jawaban dari papanya kemudian membawaku dan pamanku pergi dari tempat itu.


...🌟"Pepatah mengatakan semakin tinggi sebatang pohon, maka akan semakin kencang pula angin bertiup....


...Semakin tinggi apa yang kita capai maka akan semakin tinggi pula resiko yang harus kita hadapi."🌟...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2