
"Baiklah, sekarang jelaskan apa yang terjadi kemarin!"pinta Bramantyo mencoba kembali pada inti masalah.
Alva pun mulai bercerita,"Setelah kami mendapatkan informasi bahwa mereka akan menculik Disha, aku dan Ferdi segera menyusun rencana. Ferdi dan salah seorang anak buahnya menawarkan diri untuk bekerja pada Dita. Mereka menyamar dengan mengaku mengalami luka bakar di wajah mereka,"
"Dengan menggunakan riasan, mereka membuat wajah mereka seperti mengalami luka bakar yang parah, dan menunjukkannya pada Dita, sehingga Dita mengijinkan mereka menggunakan masker untuk menutupi wajah mereka dan tidak mencurigai mereka. Dengan menunjukkan kemampuan ilmu beladiri mereka, Dita menerima mereka sebagai anak buah Dita. Jadi saat Disha diculik, Ferdi tetap berada di samping Disha untuk menjaga Disha,"
"Kenapa Ferdi harus menyamar?"tanya Mahendra.
"Karena Dita sudah menyelidiki siapa saja yang selalu melindungi Disha. Dita tahu jika Ferdi aku tugaskan untuk menjaga Disha,"sahut Alva.
"Lalu?"tanya Ghina yang tidak sabar mendengar cerita Alva.
"Ternyata Dita menculik Disha untuk melecehkan Disha. Dita menyuruh anak buahnya untuk memberikan obat perang sang kepada Disha dan menyuruh sepuluh orang anak buahnya untuk melecehkan Disha secara bergantian,"
"Brakk!"Mahendra menggebrak meja.
"Kurang ajar sekali perempuan itu! Berani sekali dia merencanakan hal itu kepada putriku!"geram Mahendra penuh amarah.
"Lanjutkan ceritanya, Al?"titah Radeva yang juga merasa geram.
"Kami langsung beraksi menyelamatkan Disha tanpa perkelahian dengan cara menodongkan pistol kepada mereka. Jadi dengan mudah aku membawa Disha pergi dari tempat itu,"
"Aku menugaskan Ferdi untuk membereskan mereka dan meninggalkan tempat itu bersama Disha. Aku kira Ferdi akan menghajar mereka lalu membawa mereka ke kantor polisi. Namun nyatanya..."Alva menjeda kata-katanya dan membuang napas kasar.
"Nyatanya apa?"tanya Radeva yang nampak tidak sabar.
"Itu... Ferdi bertindak di luar perkiraan ku. Dia membalikkan rencana Dita. Ferdi memberikan obat perang sang kepada Dita dan sekretarisnya.Ferdi memaksa semua anak buah Dita untuk menikmati tubuh Dita dan sekretaris Dita secara bergiliran sampai pagi, hingga mereka puas. Setelah itu Ferdi menghajar anak buah Dita dan menyerahkan mereka semua ke kantor polisi,"ujar Alva.
"Anak buahmu yang bernama Ferdi itu sepertinya kecanduan nonton video 21+.Dulu dia juga menjebak Hery dan Trisha kemudian membuat video panas Hery dan Trisha kan?"celetuk Radeva .
"Ya, Ferdi memang suka bertindak sendiri. Tapi kakak harus berterimakasih kepada Ferdi, karena Ferdi berhasil menggagalkan rencana busuk Trisha. Jika Ferdi tidak mengetahui rencana Trisha, sudah bisa dipastikan kakak akan meniduri Disha. Apa kakak bisa menerima jika kakak meniduri adik kandung kakak sendiri?"tanya Alva menatap tajam pada Radeva.
"Jika ada yang menjebak ku, hingga aku meniduri adik kandung ku sendiri, aku pastikan, tidak akan mengampuni orang itu,"ucap Radeva dengan mata penuh amarah.
__ADS_1
"Walaupun terdengar tidak manusiawi, tapi jujur aku setuju dengan tindakan Ferdi. Dita sudah sangat keterlaluan, dia pantas digilir para laki-laki brengseek itu,"ucap Alva dengan senyum yang begitu dingin.
"Iya, mereka memang pantas mendapatkan itu,"timpal Radeva yang juga tersenyum dingin.
"Ya sudah, sekarang kalian urus saja si Dita itu. Buat dia mendekam di balik jeruji besi seumur hidupnya,"sahut Mahendra dengan wajah dingin.
"Karena aku sudah mengetahui semuanya baik-baik saja, aku merasa lega. Jika kalian memerlukan bantuan ku, jangan sungkan untuk mengatakannya. Aku pamit!Terimakasih atas sarapannya," ucap Bramantyo seraya menepuk pundak Mahendra.
"Kamu akan langsung ke hotel mu?" tanya Mahendra.
"Iya!"sahut Bramantyo kemudian meninggalkan kediaman Mahendra menuju hotel yang dikelolanya.
***
Di kamar Nalendra dan Neda.
Neda mendekati Nalendra dengan menampilkan senyuman manis diwajahnya. Berusaha membuat suasana hati Nalendra senang.
Sejak bertemu dengan Neda, Nalendra langsung menyukainya Neda dan begitu posesif terhadap Neda. Pernah beberapa kali Neda mencoba melarikan diri karena tidak tahan dengan perilaku dan sifat posesif yang dimiliki oleh Nalendra. Namun Nalendra selalu berhasil menangkap Neda dan menyiksa Neda dengan memukul dan mencambuk Neda bahkan terakhir kali Nalendra mengurung Neda selama tiga hari di dalam kamar tanpa diberi makan. Sejak saat itu, Neda tidak berani kabur lagi dari Nalendra. Namun setelah melihat Bramantyo, Neda mempunyai harapan untuk terlepas dari Nalendra. Jadi, Neda ingin menemui Bramantyo dan meminta Bramantyo untuk melepaskan dirinya dari Nalendra.
"Pa, aku ingin pergi berbelanja, boleh, ya?"tanya Neda hati-hati.
"Jangan menghambur-hamburkan uang! Kamu lihat kan keadaan kita? Kita harus bisa mengatur keuangan kita,"ucap Nalendra menatap Neda tajam.
"Aku tidak akan belanja yang berlebihan, pa. Aku janji! Jika aku ingkar janji, papa boleh menghukum ku. Aku hanya sedikit belanja dan ingin jalan-jalan saja,"ucap Neda berusaha meyakinkan.
"Oke. Ingat! Jangan coba-coba untuk melarikan diri, atau kali ini aku akan mencincang tubuhmu!"ucap Nalendra seraya mencengkram pipi Neda dengan jari telunjuk dan jempolnya.
"Aku tidak akan pernah melakukannya lagi, pa,"ucap Neda dan Nalendra pun melepaskan cengkraman tangannya.
Setelah Nalendra mengijinkan nya pergi, Neda pun segera bergegas menuju hotel milik Bramantyo dengan mengendari taksi,"𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙨𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣, 𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙠𝙠𝙪 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣. 𝘿𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙥𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙉𝙖𝙡𝙚𝙣𝙙𝙧𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙖𝙪 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙞𝙡𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙞𝙨𝙠𝙞𝙣 𝙞𝙩𝙪,"gumam Neda dalam hati.
Setelah sampai di hotel milik Bramantyo, Neda pun langsung menghampiri resepsionis,"Permisi, saya ingin bertemu dengan Bramantyo,"ucap Neda dengan gaya yang anggun.
__ADS_1
"Apa anda sudah membuat janji?"tanya sang resepsionis.
"Katakan saja Nety ingin bertemu,"ucap Neda yang memilih mengatakan namanya saat menikah dengan Bramantyo dulu.
"Baik, mohon tunggu sebentar!"ucap resepsionis tersebut kemudian mulai menghubungi seseorang, tak lama kemudian resepsionis itupun menutup sambungan telepon nya,"Maaf, Bapak Bramantyo tidak ingin bertemu dengan anda,"ucap resepsionis itu.
"Apa? Itu tidak mungkin,"ucap Neda tidak percaya.
"Maaf, tapi itulah yang dikonfirmasikan kepada saya,"ucap resepsionis itu.
Neda nampak terdiam sesaat kemudian kembali menatap resepsionis itu,"Maaf, bolehkah saya menumpang ke toilet?" tanya Neda berusaha mencari celah untuk bertemu Bramantyo. Neda tidak ingin pergi dengan tangan kosong.
"Silahkan, kearah sana!"ucap resepsionis itu sambil menunjukkan ke sebuah arah dengan telapak tangan.nya. Anda bisa bertanya pada salah seorang cleaning servis nanti,"sambung resepsionis itu lagi.
"Terimakasih!"ucap Neda segera menuju arah yang ditunjukkan oleh resepsionis tadi.
"Kenapa dia tidak ingin bertemu dengan ku? Aku tidak percaya dia tidak ingin menemui ku. Sudah sampai di sini, aku tidak mau kembali dengan tangan kosong. Aku harus bertemu dengan Bramantyo untuk memastikan anak siapa Alva itu. Dan apa benar dia tidak ingin menemui ku atau cuma sekedar sok jual mahal, atau takut jatuh cinta padaku lagi,"gumam Nety.
Sedangkan di ruangannya, Bramantyo nampak tertegun untuk sesaat setelah mendengar Nety ingin menemuinya. "Untuk apa, dia ingin menemui ku? Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan Nety,"gumam Bramantyo.
Beberapa menit kemudian Ratih menghubungi Bramantyo melalui sambungan video. Bramantyo pun meletakkan handphone nya diatas meja.
"Ada apa, ma?"tanya Bramantyo.
"Papa sudah ke rumah Ghina?"tanya Ratih.
"Sudah. Dita ingin menculik Disha, tapi berhasil dijebak Alva hingga Alva bisa menyeret Dita ke penjara,"ujar Bramantyo.
"Brakk" tiba-tiba pintu ruangan Bramantyo terbuka.
...🌸❤️🌸...
To be continued
__ADS_1