
Yessie terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa lelah dan pegal karena perbuatan Riky semalam yang membuat nya tidak bisa tidur. Perlahan Yessie melepaskan pelukan tangan Riky yang melingkar di perut nya, kemudian turun dari ranjang dan beranjak membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, Yessie memakai pakaian yang ternyata sudah disiapkan Riky untuk nya dalam sebuah paper bag, kemudian sedikit memoles wajahnya..
Yessie mendekat ke arah ranjang kemudian duduk di tepi ranjang,"Kak, bangun! Sudah siang, ayo kita pulang!"ajak Yessie seraya menepuk pipi Riky pelan.
Riky memegang tangan Yessie yang berada di pipinya dan perlahan membuka matanya, menatap Yessie yang sudah terlihat cantik dengan make-up yang tipis tapi terlihat elegan dan segar.
"Kamu sudah mandi?"tanya Riky kemudian mengecup lembut telapak tangan Yessie.
"Sudah. Kakak mandi gih!"ucap Yessie seraya menarik tangan Riky agar Riky bangun.
"Kamu curang sekali. Kenapa tidak membangunkan aku? Kita kan, bisa mandi bersama,"ucap Riky membuang napas kasar.
"Udah...Kakak mandi sana!"ucap Yessie kembali menarik tangan Riky yang belum juga mau beranjak dari tempatnya berbaring.
"Oke, oke. Kamu pesan makanan untuk sarapan kita, ya?!. Aku akan mandi,"ucap Riky seraya bangun dari tempatnya berbaring.
"Kita makan di dalam kamar, kak?"tanya Yessie memastikan.
"Hum. Pesan apa saja yang kamu suka,"ucap Riky kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Yessie pun segera memesan makanan sesuai dengan keinginannya.
Sementara itu di kamar Alva dan Disha, keduanya nampak sedang mandi bersama. Mereka menyelesaikan ritual mandi mereka bertepatan dengan seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka yang teryata adalah orang yang mengantarkan sarapan mereka.
"Ayo kita sarapan dulu! Setelah itu kita akan menjenguk Ferdi dan memberi keterangan soal kejadian semalam di kantor polisi,"ucap Alva seraya merangkul Disha dan membawanya duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu untuk menikmati sarapan pagi mereka.
"Sayang, apa Trisha meninggal?"tanya Disha seraya menatap Alva.
"Iya, Trisha meninggal. Aku rasa itu pantas untuk nya yang hampir saja membunuh mu dan juga Ferdi. Bahkan aku rasa kematiannya itu terlalu mudah. Seharusnya dia disiksa dulu atas semua kejahatan nya,"ucap Alva yang mengingat kejadian semalam saat Trisha menghujam punggung Ferdi dengan pisau namun terpelanting dari roof top karena gerakan refleks dari Ferdi yang dilukainya.
"Aku tidak menyangka jika dia akan nekat seperti itu. Dia merasa aku sudah merebut segala yang dia miliki. Padahal aku tidak pernah merebut apapun darinya,"ujar Disha yang pagi ini sudah merasa tenang, tidak seperti semalam yang nampak shock dan ketakutan.
"Kamu tidak perlu memikirkan kata-kata Trisha, apa yang kamu miliki sekarang memang milikmu, dan bukan miliknya. Dia terlalu serakah menginginkan sesuatu yang bukan miliknya,"ucap Alva menenangkan Disha.
"Dia semalam mengancam aku dengan menodongkan pisau ke perutku dan mendorong aku dari roof top hotel. Tapi dia malah menggunakan pisau itu untuk melukai Ferdi,"ucap Disha nampak sedih.
"Sudahlah, jangan di bahas lagi! Sebaiknya kita sarapan bersama, setelah itu kita akan menjenguk Ferdi di rumah sakit,"ucap Alva.
"Iya,"sahut Disha dan mereka pun mulai menyantap sarapan mereka.
__ADS_1
Selesai sarapan, keduanya pun keluar dari kamar hotel itu bersamaan dengan Riky dan Yessie yang juga keluar dari kamar hotel mereka.
"Tuan!"sapa Riky yang melihat Alva lebih dulu, seraya menghampiri Alva bersama Yessie di sebelahnya.
"Kalian juga baru akan check out?"tanya Alva menatap Riky dan Yessie bergantian.
"Iya, Tuan,"sahut Riky, sedangkan Yessie hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil kemudian menghampiri Disha.
"Dis, bagaimana keadaan mu?"tanya Yessie seraya memegang tangan Disha.
"Aku baik-baik saja. Semalam aku cuma shock aja,"sahut Disha tersenyum tipis.
"Ya sudah, ayo kita pergi!"ajak Alva seraya merangkul pinggang Disha hingga Yessie terpaksa melepaskan pegangan tangan nya pada tangan Disha.
"Ngomong -ngomong, pengantin baru belum keluar dari kamar, ya?"celetuk Riky sambil menoleh ke pintu kamar yang ditempati oleh Radeva dan Icha. Dan Alva pun ikut menoleh ke arah yang sama dengan Riky.
"Sepertinya mereka belum check out,"ucap Alva kemudian melangkah meninggalkan tempat itu bersama Disha diikuti oleh Riky yang merangkul Yessie.
Sesampainya di lobi hotel Disha nampak mengingat sesuatu,"Tunggu, sayang! Sepertinya handphone ku tertinggal di kamar,"ucap Disha seraya mengecek isi Sling bag nya.
"Iya, sayang. Sepertinya di sofa,"ucap Disha membuang napas kasar.
"Kalau begitu, kamu tunggu saja di sini! Biar aku yang mengambilnya. Rik, biarkan Yessie menerima Disha dulu, ya?"tanya Alva pada Riky.
"Baik, Tuan. Biar kami yang menemani Nyonya,"ucap Riky tegas.
"Ya sudah! Kalian tunggu dulu di sini, ya!"titah Alva.
"Baik, Tuan,"sahut Riky dan Alva pun bergegas kembali ke kamar yang tadi ditempatinya untuk mengambil handphone istrinya.
Sementara itu, Radeva dan Icha menikmati sarapan pagi yang sudah kesiangan di dalam kamar hotel tempat mereka menginap. Waktu mereka tidak banyak lagi untuk pergi ke bandara, karena itu mereka harus segera bergegas check out dari hotel itu, atau mereka akan ketinggalan pesawat.
"Sayang, apa kamu sudah memeriksa seluruh ruangan ini? Jangan sampai ada barang mu yang tertinggal,"ucap Radeva seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, meneliti jangan sampai ada barang mereka yang tertinggal.
"Nggak ada, kak.Tapi aku ingin ke kamar mandi dulu sebentar,"ucap Icha setelah selesai mengemasi semua barang-barang nya.
"Oke , aku tunggu,"ucap Radeva dan Icha pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian,"Auwh!"pekik Icha dari dalam kamar mandi.
Radeva pun terperanjat mendengar pekikan Icha dari dalam kamar mandi dan bergegas menuju kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?"tanya Radeva dari depan pintu kamar mandi.
"Kak, tolong aku! Aku terpeleset,"ucap Icha dari dalam kamar mandi.
"Apa?"ucap Radeva nampak terkejut, Radeva pun mencoba membuka pintu kamar mandi dan beruntung Icha tidak menguncinya, jadi Radeva bisa langsung membuka pintu itu. Radeva melihat Icha yang terduduk di lantai dengan wajah yang meringis menahan sakit.
"Apa yang terluka?"tanya Radeva nampak panik.
"Aku tidak bisa berdiri, Kak. Sepertinya kakiku terkilir,"ucap Icha memegangi kakinya yang sebelah kanan.
Tanpa banyak bicara, Radeva pun segera menggendong Icha keluar dari kamar mandi dan mendudukkan Icha di atas ranjang. Radeva menatap baju Icha yang basah kemudian melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku tidak bisa mengurut kaki mu sekarang. Kalau aku mengurut kakimu sekarang, kemungkinan kita akan tertinggal pesawat. Kita ganti pakaian kamu yang basah, aku akan mengurut kakimu di dalam mobil saja, dan dari kamar ini, aku akan menggendong mu sampai ke mobil,"ucap Radeva seraya menggambil pakaian ganti untuk Icha dan membantu Icha mengganti pakaiannya.
"Maaf! Aku ceroboh,"ucap Icha menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Tapi jika kamu memang ingin aku gendong, seharusnya kamu katakan saja padaku, aku dengan senang hati akan menggendong mu. Kamu tidak perlu membuat kakimu terkilir seperti ini,"ucap Radeva seraya menipiskan bibirnya menahan tawanya.
"Kakak pikir aku sengaja membuat kakiku terkilir?"sambar Icha dengan bibir yang mengerucut.
"Kalau sengaja pun tidak apa-apa,"Radeva langsung mengecup bibir Icha yang mengerucut.
"Kakak!"ucap Icha kesal tapi terdengar menggemaskan di telinga Radeva dan Radeva pun terkekeh membuat Icha semakin kesal karena ditertawakan dan di goda oleh Radeva.
Radeva menggendong ransel yang berisi barang-barangnya dan Icha di punggung nya, kemudian menggendong Icha ala bridal style, keluar dari kamar itu.
"Eh, ternyata pengantin baru keluar juga. Kok pakai acara gendong-gendongan? Jangan-jangan...."
Kata-kata seseorang itu membuat Radeva dan Icha yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut menatap sesosok pria yang menyapa mereka itu.
...🌸❤️🌸...
To be continued
__ADS_1