Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
82. Pura-pura Ngambek


__ADS_3

"Halo Di! Dis kamu sudah melihat postingan mantan kamu sore tadi belum?"tanya Yessie.


Disha menghela nafas panjang, menatap Kaivan yang sedang asyik menyusu dengan tangan mungilnya yang tidak bisa diam, kemudian bertanya kepada Yessie,"Postingan apalagi Yes? Kali ini apalagi ulahnya?"


"Kali ini mantan kamu nggak bikin ulah, Dis.Tadi sore dia memposting klarifikasi tentang foto kamu yang dia edit dan meminta maaf kepada kamu dan PakSu kamu serta kepada netizen. Terus dia juga menghapus semua foto kamu yang dia unggah di media sosialnya,"jelas Yessie.


"Syukurlah. Tapi kenapa tiba-tiba dia melakukan itu, ya?"tanya Disha.


"Itu juga yang ingin aku tanyakan pada mu. Apa PakSu kamu melakukan sesuatu pada mantan kamu itu sehingga mantan kamu itu tiba-tiba mengklarifikasi tentang foto editan nya itu, menghapus semua foto kamu bahkan meminta maaf kepada netizen dan kalian berdua. Menurut ku itu aneh sekali,"ujar Yessie.


"Kamu benar, Yes. Aku juga berpikiran sama dengan kamu. Rasanya aneh jika tiba-tiba Hery melakukan ini semua. Pasti ada sesuatu yang membuat nya melakukan hal itu. Aku nanti akan coba menanyakannya pada suamiku,"ucap Disha.


"Ya sudah, kamu coba saja menanyakan itu sama suami kamu. Aku tutup dulu ya teleponnya, biar kamu bisa lihat postingan mantan kamu itu,"ucap Yessie.


"Iya, terimakasih Yes, atas infonya,"ucap Disha.


"Sama-sama Dis, kita kan sahabat bagai kepompong,"sahut Yessie yang membuat keduanya tergeletak kemudian mengakhiri sambungan telepon mereka.


Setelah sambungan telepon diakhiri, Disha pun langsung membuka akun media sosialnya dan melihat postingan Hery. Disha tidak habis pikir dengan kelakuan Hery.


"Aku tidak menyangka Hery yang aku kenal ramah dan menyenangkan dulu bisa berubah seperti sekarang yang membuat aku menjadi ilfil sama dia. Jika dari dulu sikapnya seperti ini, pasti aku tidak akan pernah menerimanya sebagai pacarku,"gumam Disha kemudian meletakkan handphonenya di atas nakas.


Namun baru saja Disha meletakkan handphonenya, handphone itu kembali berbunyi dan ternyata kali ini Icha yang tengah menghubunginya. Disha pun segera menerima panggilan dari Icha.


"Halo, Cha!"sahut Disha.


"Halo Dis, apa kamu sudah melihat postingan Hery sore tadi?"tanya Icha to the point.


"Sudah,"sahut Disha.


'Apa itu, ada hubungannya dengan suami kamu?"tanya Icha lagi.


"Aku belum sempat menanyakan nya, Cha. Suamiku masih di ruangan kerjanya dan aku juga sedang menyusui Kaivan,"jawab Disha sambil menatap Kaivan.


"Oh, gitu ya?! Tapi aku senang sich, akhirnya pria brengseek itu mau mengakui kesalahannya dan juga meminta maaf,"ujar Icha.


"Aku juga Cha. Sebenarnya aku merasa tidak mengenali Hery lagi. Setelah kami berpisah karena kuliah di negara yang berbeda, dan kami bertemu lagi saat aku sudah menikah dengan Alva, Hery jauh berubah. Dia tidak seperti orang yang aku kenal dulu,"keluh Disha.


"Ya mau gimana lagi, Dis? Mungkin lingkungan yang telah merubah dia,"sahut Icha.


"Iya, mungkin lingkungan yang telah merubah Hery,"sahut Disha.

__ADS_1


"Ya sudah, aku tutup dulu ya teleponnya?!"ucap Icha.


"Iya Cha,"sahut Disha kemudian panggilan pun diakhiri dan Disha kembali meletakkan handphone nya di atas nakas.


"Kamu sudah tidur, sayang?"ucap Disha sambil mengelus pipi Kaivan yang gembil. Bayi yang badannya sudah mulai berisi itu tampak sudah terlelap.Disha kemudian membaringkan tubuh Kaivan di box bayinya bersamaan dengan Alva yang masuk ke dalam kamar.


"Kaivan sudah tidur, sayang?"tanya Alva kemudian mencium pipi Kaivan.


"Iya,"sahut Disha tersenyum manis pada Alva.


Alva menghampiri Disha yang ada di seberang box bayi Kaivan kemudian memeluk Disha dan menatap wajah Disha dalam-dalam.


"Kamu semakin cantik dan seksi sayang,"ucap Alva kemudian menggosok-gosokkan hidungnya di hidung Disha.


"Apa kamu sedang meledekku karena berat badan ku naik?"tanya Disha memicingkan matanya.


"Mau kamu gendut atau kurus, aku tetap mencintaimu. Tapi aku lebih suka jika tubuh mu berisi seperti sekarang,"ucap Alva yang tangannya sudah nakal meremas dua benda kenyal di bagian belakang tubuh Disha.


"Jangan nakal!"ucap Disha sambil memukul lengan kekar Alva.


"Habisnya kamu bikin aku gemes sich!"sahut Alva.


'Nanya apa? Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan. Jika aku bisa aku akan menjawabnya,"ucap Alva.


"Tapi janji kamu tidak boleh marah apalagi cemburu,"ucap Disha.


"Lihat dulu apa pertanyaan nya,"sahut Alva masih memeluk tubuh Disha.


"Ya sudah lah, kalau begitu aku nggak jadi bertanya,"ucap Disha kemudian melepaskan tangannya yang melingkar di leher Alva.


"Oke..oke.. aku janji nggak bakalan marah dan cemburu. Sekarang tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan,"ucap Alva.


"Ini soal Hery,"ucap Disha hati-hati.


"Tanyakan lah!"perintah Alva.


"Apa postingan Hery tadi sore ada hubungannya dengan kamu?"tanya Disha hati-hati.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"tanya Alva masih memeluk tubuh Disha sedangkan kedua tangan Disha ada di dada Alva.


"Karena aku merasa aneh dia berbuat seperti itu. Dia rela mempermalukan dirinya untuk meminta maaf kepada semua orang,"ucap Disha

__ADS_1


Alva menghela nafas panjang kemudian menatap Disha dalam-dalam kemudian menjawab pertanyaan Disha,"Iya, Hery melakukan semua itu karena aku mengancamnya,"


"What ?! Kamu mengancamnya?"tanya Disha agak terkejut.


"Kenapa? Kamu tidak suka aku mengancamnya?"tanya Alva dengan wajah kecewa kemudian melepaskan pelukannya pada Disha dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"𝐇𝐚𝐢𝐬𝐬.. 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐞𝐤 𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐧𝐢𝐜𝐡. 𝐓𝐨𝐛𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐡, 𝐩𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢 𝐜𝐞𝐦𝐛𝐮𝐫𝐮𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐩𝐥𝐮𝐬 𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐞𝐤𝐚𝐧,"batin Disha menghela nafas panjang.


Tak lama kemudian Alva keluar dari kamar mandi dengan wajah datar, melepaskan kaos oblong yang dikenakan nya hingga hanya menyisakan boxer yang melekat ditubuhnya, kemudian naik ke atas ranjang dan memejamkan matanya dengan sebelah lengannya ia letakkan atas dahinya. Disha menghela nafas panjang kemudian menyusul suaminya naik ke atas ranjang.


"Sayang, jangan marah! Aku hanya tidak ingin kamu terkena masalah karena mengancam orang,"ucap Disha kemudian membaringkan tubuhnya disamping Alva dengan menjadikan dada Alva yang bidang sebagai bantalnya.Alva hanya diam sama sekali tidak memberikan respon pada Disha.


""𝐇𝐮𝐟𝐟..𝐚𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐲𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐥𝐚𝐠𝐢,"batin Disha.


"Sayang, jangan marah! Bukankah kamu tadi berjanji tidak akan marah,"ucap Disha sambil mengelus dada dan perut Alva yang sedang bertelanjang dada itu dengan lembut.


Disha bahkan sengaja menaikkan sebelah kakinya diatas tubuh Alva tepatnya di atas bagian inti tubuh Alva. Alva menggigit bibir bawahnya menahan gelanyar yang mendera tubuhnya karena tangan dan kaki nakal Disha.


"Berhenti, Dis!"ucap Alva dengan suara berat memegang tangan Disha yang nakal meraba-raba tubuhnya.


"Kamu tidak suka aku sentuh?!"tanya Disha mendongakkan kepalanya menatap Alva, pura-pura marah kemudian menarik tangannya dari genggaman Alva. Disha kemudian menjauh kan dirinya dari Alva dan berbaring membelakangi Alva.


"Sayang, bukan begitu maksutku,"sahut Alva kemudian memeluk Disha dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Disha.


"Lalu?"tanya Disha tetap berbaring membelakangi Alva.


"Aku hanya tidak ingin kamu perhatikan kepada orang lain selain aku,"sahut Alva.


Disha membalikkan tubuhnya kemudian menatap wajah Alva lekat-lekat. Perlahan Disha mencium bibir Alva dengan lembut dan langsung dibalas oleh Alva. Saling menautkan lidah mereka, saling membelit dan bertukar saleva kemudian melepaskan panggutan mereka saat Disha sudah mulai kesulitan untuk bernafas.


"Jangan suka cemburu dan ngambek lagi, percayalah, aku hanya mencintai mu!"ucap Disha seraya membingkai wajah suaminya.


"Aku hanya pura-pura ngambek agar kamu merayuku,"ucap Alva mengulum senyum.


"Apa?!"


...🌟"Terkadang ngambek itu bukan karena marah, tapi karena ingin mendapatkan perhatian dari orang yang dicinta."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2