Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
91. Malam Pengantin?


__ADS_3

"Siapa yang datang, Bik?"tanya Adiguna dengan suara baritonnya.


"Ini Tuan, yang datang Tuan Muda,"sahut Art itu dan tidak lama kemudian Adiguna pun muncul.


"Masuk! Saya ingin bicara dengan kamu,"ucap Adiguna datar.


Adiguna melangkah ke arah ruang kerjanya diikuti oleh Hery.


"𝐒𝐞𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐩𝐚𝐩𝐚 𝐀𝐧𝐣𝐚𝐧𝐢 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐬𝐢𝐫𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐩𝐚𝐩𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐣𝐮𝐤 𝐀𝐧𝐣𝐚𝐧𝐢 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐦𝐚𝐮 𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐮. 𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐚𝐮 𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐮, 𝐩𝐚𝐩𝐚 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐟𝐚𝐬𝐢𝐥𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐤𝐮,"


"Apa yang kamu lakukan pada putriku hingga dia pulang-pulang menangis? "tanya Adiguna tidak bersahabat.


"Hanya terjadi sedikit salah paham, pa,"sahut Hery membuat alibi.


"Lalu kenapa kamu biarkan dia pulang sendiri? Apa kamu tidak ingat jika putri saya sedang mengandung anak kamu?"sergah Adiguna.


"Maaf, pa. Tadi sewaktu saya mengambil mobil di parkiran, ternyata Anjani sudah pulang duluan,"ucap Hery berbohong, karena sesungguhnya Hery memang tidak berniat pulang bersama Anjani.


"Kamu tahu tidak, kalau mood ibu hamil itu cepat berubah dan mereka juga menjadi sangat sensitif. Jadi kamu sebagai seorang suami harus berusaha mengerti Anjani dan jangan membuat Anjani kesal! Jika kamu tidak bisa menjaganya, biarkan saya sendiri yang menjaga. Kamu boleh pergi!"usir Adiguna secara halus yang terlihat kekecewaan di wajahnya.


"Maafkan saya, pa! Saya sungguh-sungguh tidak sengaja. Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi,"ucap Hery.


"Saya pegang janjimu, kamu ingat kan laki-laki itu yang dipegang adalah ucapan nya!"ucap Adiguna tegas.


"Iya, pa. Bolehkah saya menemui Anjani?"tanya Hery penuh harap agar Adiguna mengizinkan.


"Dia ada di kamarnya,"ucap Adiguna datar karena masih merasa kesal dengan Hery.


"Kalau begitu, saya pamit dulu ke kamar Anjani, pa,"ucap Hery meminta izin.


Hemm,"sahut Adiguna yang masih merasa kesal.


Hery pun segera keluar dari ruangan kerja Adiguna kemudian bergegas pergi ke kamar Anjani.


"𝐇𝐮𝐟𝐟.. 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐩𝐨𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢! 𝐆𝐚𝐫𝐚-𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐚𝐤𝐮 𝐝𝐢𝐦𝐚𝐫𝐚𝐡𝐢 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐤𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐧𝐲𝐚,"gerutu Hery sambil menaiki anak tangga yang menuju lantai dua tempat kamar Anjani berada.


Tanpa mengetuk pintu Hery masuk ke dalam kamar Anjani. Hery tertegun saat melihat Anjani yang sedang duduk di tepi ranjang sambil bersandar di headboard ranjang seraya memejamkan mata dengan earphone yang menempel di telinganya.


Anjani menggunakan tank top bertali kecil dan celana pendek yang hanya menutupi sebagian pahanya.Tubuh putih mulus dengan leher jenjang pun terpampang di depan mata Hery.

__ADS_1


Hery menutup pintu kamar kemudian berjalan mendekati Anjani yang nampaknya tidak menyadari kehadiran Hery. Susah payah Hery menelan salivanya melihat tubuh Anjani yang begitu mulus.


Hery menatap bibir Anjani dan perlahan membungkuk dan mencium bibir Anjani.


"Akkhh..!!"pekik Anjani dan Hery pun langsung membekap mulut Anjani agar Anjani tidak berteriak lagi.Anjani memukuli Hery hingga akhirnya Hery melepaskan bekapannya.


"Kenapa kamu ada di sini? Untuk apa kamu datang kemari?"tanya Anjani seraya melepaskan earphone dari telinganya.


"Memangnya kenapa jika aku kesini?"tanya Hery balik.


"Pergi sana! Aku tidak ingin melihat mu!"ucap Anjani mengusir Hery.


"Apa seperti itu cara mu memperlakukan suami mu? Kamu harus belajar menghormati suamimu!"sergah Hery.


"Jangan tanyakan padaku bagaimana caraku memperlakukan kamu! Apa kamu sadar bagaimana buruknya kamu memperlakukan aku?! Kamu selalu jutek dan berbicara ketus padaku, bahkan kamu memilih mabuk mabukan dari pada tinggal bersama ku di malam pergantian kita,"balas Anjani.


"Oh, jadi kamu menginginkan malam pengantin dari ku?"tanya Hery tersenyum smirk.


"Mau apa kamu?"tanya Anjani yang melihat Hery membuka kancing kemejanya satu persatu kemudian menanggalkannya.


"Bukankah kamu menginginkan malam pengantin dari ku?"tanya Hery sambil berjalan mendekati Anjani.


Anjani turun dari ranjang untuk menghindari Hery, namun Hery dengan cepat menangkap tubuh Anjani.


"Lepaskan aku!!"teriak Anjani meronta- romta dalam gendongan Hery.


Hery tidak perduli dengan teriakkan Anjani kemudian membaringkan tubuh Anjani diatas ranjang dan segera menindihnya.


"Apa yang mau kamu lakukan?"bentak Anjani.


"Jangan pura-pura bodoh! Aku yakin kamu sudah tidur dengan banyak pria dan aku hanya mendapatkan bekasnya,"ucap Hery mencibir.


Mendengar kata-kata Hery , hati Anjani begitu sakit, air matanya pun mulai menetes.


"Aku bukan wanita murahan! Aku tidak menjual tubuhku, aku hanya melakukannya dengan orang yang aku cintai. Lepaskan aku! Jika kamu memang tidak bisa menerima ku, ceraikan aku! Aku tidak mau hidup dengan pria yang tidak bisa menghargai aku!"pekik Anjani dengan berurai air mata terus meronta dalam kungkungan Hery.


"Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, akan ku siksa kamu. Kamu telah membuat aku di usir oleh papaku,"geram Hery.


"Auwh.!! Perutku..!!" keluh Anjani tiba-tiba dengan wajah yang nampak menahan sakit.

__ADS_1


"Kamu jangan berakting! Aku tidak akan tertipu oleh mu?"ucap Hery tidak percaya.


Tangan Anjani mencengkram lengan Hery yang sedang mengungkungnya, merasakan sakit di bagian perutnya.Wajahnya menjadi pucat dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


"Ka..kamu kenapa?"tanya Hery khawatir, langsung bangkit dari tubuh Anjani


"Perutku sakit sekali,"ucap Anjani seraya memegang perutnya.


Hery bergegas memakai kemejanya kembali, kemudian membuka lemari Anjani dan mengambil dress milik Anjani.


Dengan cepat Hery memakaikan dress itu pada Anjani.


"Kita ke rumah sakit,"ucap Hery langsung menggendong Anjani keluar dari kamar itu.


"Apa yang terjadi?"tanya Adiguna yang melihat Hery menuruni tangga dengan menggendong Anjani yang meringis menahan sakit.


"Perut Anjani sakit, pa,"sahut Hery tanpa menghentikan langkahnya menuruni tangga dan berjalan semakin cepat saat sudah berada di lantai satu. Adiguna pun segera mengikutinya.


***


Di apartemen Alva dan Disha.


"Sebenarnya mama ingin kalian tinggal bersama mama dan papa, agar mama bisa puas bermain dengan cucu mama,"ucap Ratih seraya mengusap pipi Kaivan yang gembil.


"Mama bisa datang dan menginap kapanpun mama mau,"ucap Disha seraya mengelus lengan Ratih.


"Sulit sekali untuk membujuk papa agar kalian bisa tinggal bersama kami,"keluh Ratih.


"Sudahlah ma, tidak usah dipikirkan! Mama kan tahu kalau papa itu orang yang keras kepala,"sahut Alva.


"Apa ada yang kalian sembunyikan dari mama?"tanya Ratih tiba-tiba, menatap Alva dan Disha bergantian.


"Kenapa mama bertanya seperti itu?"tanya Alva mencoba bersikap biasa saja.


"Feeling mama mengatakan bahwa ada yang kamu sembunyikan, Al. Dan mama rasa papa mu juga merasa seperti itu. Mungkin itu alasannya hingga sampai saat ini papamu belum juga mengizinkan kalian tinggal bersama kami.Katakan pada mama , apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari papa dan mama?"tanya Ratih menatap intens pada Alva.


...🌟"Perlu keikhlasan untuk menerima kenyataan, walaupun realitanya sulit untuk dijalankan."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2