Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
145. Bimbang


__ADS_3

"Maksud nya, seperti aku yang mengetahui bahwa kamu menyukai istriku, Trisha sepertinya juga tahu jika Anda juga menyukai istriku. Apa yang aku katakan itu benar kan?!"tanya Alva tersenyum sinis.


Bramantyo dan Ratih nampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Alva. Disha hanya berekspresi datar, sedangkan Mahendra dan Ghina yang sudah tahu bahwa Radeva menyukai Disha pun hanya diam.


"Aku memang menyukai Disha sejak pertama kali bertemu, dan aku akui jika aku juga berusaha mendekati nya. Namun setelah aku tahu Disha sudah menikah dengan mu dan kalian terlihat saling mencintai, aku mengubur semua perasaan ku itu. Aku juga tidak tahu jika Trisha sampai membuat rencana seperti itu,"


"Aku tidak mau merendahkan diri ku dengan mengharapkan, dan mendekati istri orang. Apalagi merebut istri orang, itu sama sekali tidak ada dalam kamus ku," ucap Radeva tegas.


Bramantyo dan Ratih semakin terkejut mendengar pengakuan Radeva itu, sekaligus salut akan sikap Radeva yang tegas dan mau jujur.


"Bagus, aku harap aku bisa memegang kata-kata mu itu, bahwa kamu tidak akan merendahkan diri mu untuk merebut istri orang,"sahut Alva.


"Tentu saja kamu bisa memegang kata-kata ku, karena aku adalah pria sejati,"ucap Radeva penuh dengan percaya diri.


"Sudah, kenapa jadi tegang begini? Dev, kita kesini untuk bersilahturahmi, bukan untuk berdebat. Apapun yang terjadi sekarang kita tidak bisa menyalahkan Alva. Karena memang Trisha yang lebih dulu membuat masalah dan menganggu keluarga Alva,"tukas Mahendra melerai dua pria yang nampak bersitegang itu.


"Sayang, sepertinya Kaivan haus," ucap Alva yang melihat Kaivan nampak gelisah.


"Biar aku susui dulu,"ucap Disha kemudian mengambil alih Kaivan dari pangkuan Bramantyo kemudian membawanya ke kamar.


"Jadi, sebenarnya apa maksud kedatangan kalian ke sini?"tanya Bramantyo.


"Kami kesini murni untuk bersilahturahmi, tidak ada maksud lain, Tyo,"sahut Mahendra.


"Maafkan aku Om, aku hanya mengeluarkan apa yang mengganjal di dalam hati ku,"ucap Radeva.


"Tidak apa. Aku suka dengan kejujuran mu. Memang lebih baik di utarakan dari pada dipendam,"tukas Bramantyo.


"Terimakasih Om, atas pengertiannya," sahut Radeva dan di balas senyuman oleh Bramantyo.


"Mengenai apa yang terjadi pada Trisha aku minta maaf pada Om sekeluarga. Sungguh aku tidak memerintahkan anak buah ku untuk menjebak Trisha,"ucap Alva.


"Tidak apa-apa. Mungkin ini memang sudah takdirnya. Tapi apa benar laki-laki yang bernama Hery itu adalah mantan pacar istri mu, Al?"tanya Mahendra.


"Iya, Om. Dia sangat gigih menjadi seorang pebinor. Dia tidak terima Disha menikah dengan ku. Dia itu laki-laki paking brengseek yang pernah aku kenal,"jawab Alva.


"Sekarang Om bertambah bingung untuk mengambil keputusan tentang masalah yang kami hadapi ini,"ujar Mahendra menghela nafas berat,"Bagaimana menurutmu, Tyo? Jika kamu ada di posisi ku sekarang?"tanya Mahendra pada Bramantyo.

__ADS_1


"Kamu tinggal memilih. Mau minta pertanggung jawaban pada Hery atau tidak,"jawab Bramantyo.


"Radeva bilang, Trisha tidak mau menikah dengan pria itu,"ucap Mahendra membuang nafas kasar.


"Bagaimana dengan Hery? Apa dia juga tidak mau bertanggung jawab?"tanya Bramantyo lagi.


"Katanya dia tidak masalah jika harus bertanggung jawab pada Trisha,"sahut Mahendra


"Jadi masalah nya hanya pada putri mu, Hen. Dan dalam kasus seperti ini pihak perempuan lah yang rugi. Maaf, apalagi kalau Trisha sampai mengandung karena kejadian itu,"ucap Bramantyo hati-hati.


"Itulah yang membuat aku bimbang, Tyo," sahut Mahendra.


"Menurut ku, sebaiknya Om memuai Tuan Darmawan untuk mencari solusi atas masalah ini. Tuan Darmawan itu orang yang baik dan juga bijak, aku yakin dia mau diajak bicara baik-baik tentang apa yang telah terjadi pada Trisha dan juga keponakannya itu,"ujar Alva.


"Keponakan? Bukanya Hery itu putra Tuan Darmawan, Al?"tanya Radeva yang seolah tidak pernah terjadi perdebatan apapun sebelumnya dengan Alva.


"Bukan. Hery ternyata adalah keponakan Tuan Darmawan yang ditukar adik Tuan Darmawan dengan anak mereka. Kami juga baru tahu soal itu, karena Tuan Darmawan sendiri juga baru tahu tentang kebenaran itu,"sahut Alva.


"Baiklah, Om pikir saran kamu itu bagus. Nanti malam kami akan ke rumah paman pria itu untuk mencari solusi dari masalah ini,"ucap Mahendra.


"Oh ya, kalian akan menginap di mana?" tanya Ratih mencairkan suasana.


"Tentu saja kami tidak keberatan. Aku juga senang jika kalian menginap disini, Iya kan, pa?"tanya Ratih seraya menatap Bramantyo.


"Tentu saja. Aku juga sudah lama tidak mengobrol dengan Mahendra,"sahut Bramantyo.


"Sebaiknya kalian ke rumah Darmawan setelah kalian makan malam. Aku ingin menjamu kalian dengan makan malam yang istimewa,"ucap Ratih.


"Dengan senang hati,"sahut Ghina,"iya kan pa?"tanya Ghina seraya menatap ke arah suaminya.


"Tentu saja, sudah lama kita tidak bertemu,"sahut Mahendra.


Sore hari pun tiba, para pria masih terlihat mengobrol santai dan kadang juga membahas tentang bisnis. Disha nampak berada di dapur untuk menyiapkan makan malam saat Ratih dan Ghina ke dapur.


"Kamu selain cantik ternyata juga pintar memasak, ya?!"puji Ghina pada Disha yang nampak lihai dan cekatan dalam memasak.


"Tante terlalu memuji, Aku cuma bisa sedikit-sedikit kok, Tante,"sahut Disha.

__ADS_1


"Kamu benar Ghin, menantuku ini memang jago sekali memasak dan pintar dalam urusan bisnis,"tukas Ratih sambil membantu pekerjaan Disha. Ratih tau apa yang harus dikerjakan nya untuk membantu menantu nya itu karena memang sudah beberapa kali mereka memasak bersama.


"Wah.. beruntung sekali kamu, Rat! Memangnya Disha punya bisnis apa?"tanya Ghina yang seolah tidak mau memalingkan tatapannya pada Disha.


"Aku punya beberapa saham yang diberikan suamiku padaku, Tante,"sahut Disha sambil terus memasak.


"Oh begitu. Apa setiap hari kamu memasak, Dis,"tanya Ghina yang duduk dan menjadi penonton saat menantu dan mertua itu memasak karena Ratih tidak mengijinkan Ghina membantu nya.


"Tidak Tante. Aku jarang memasak,"jawab Disha.


"Putraku itu sangat posesif. Dia tidak mengijinkan Disha jauh darinya walaupun sebentar saja. Walaupun masakan Disha enak, dia lebih suka memakan masakan Art atau memesan makanan secara online," sahut Ratih.


"Kenapa?"tanya Ghina.


"Dia beralasan tidak mau istrinya kecapekan karena memasak. Dan itu hanya alasannya saja agar bisa terus berduaan dengan Disha.Padahal selama 24 jam, mereka selalu bersama-sama" ujar Ratih.


"Disha ikut ke kantor juga?"tanya Ghina.


"Disha bekerja sebagai sekretaris Alva di kantor,"sahut Ratih.


Akhirnya malam itu dua keluarga itu pun makan malam bersama. Mereka memuji masakan Disha yang terasa enak. Radeva berusaha bersikap biasa dan menghindari menatap Disha agar tidak mengundang kecemburuan dari Alva.


Sebenarnya Radeva sangat suka memandang wajah Disha, apalagi saat menatap mata Disha. Radeva memang membunuh rasa sukanya pada Disha karena menyadari tidak mungkin memiliki Disha. Namun entah mengapa Radeva merasa sangat bahagia jika menatap wajah Disha.


Begitu pula dengan Mahendra dan Ghina yang juga merasakan ada sesuatu yang tidak dapat mereka jelaskan saat melihat Disha. Mereka merasa seperti sangat dekat dengan Disha. Terlebih Kaivan yang sebelumnya tidak mengenal mereka, tapi malah cepat sekali dekat dengan Mahendra, Ghina dan Radeva.


"Kalian jadi kan menginap di sini?"tanya Ratih setelah mereka selesai makan malam.


"Iya. Kami akan ke rumah tuan Darmawan dulu, dan nanti kami akan menginap di rumah ini,"sahut Ghina.


Akhirnya malam itu pun Mahendra, Ghina dan Radeva pergi ke rumah Darmawan.


...๐ŸŒŸKita bisa berbohong pada orang lain tentang perasaan kita....


...Tapi nyatanya kita tidak bisa berbohong pada hati kita sendiri."๐ŸŒŸ...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2