Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
89. Menggantikan Kaivan


__ADS_3

Pagi mulai menyapa, disebuah kamar hotel nampak pakaian yang berceceran dilantai. Sepasang suami istri nampak masih terlelap di bawah selimut tebal saling berpelukan dengan tubuh polos tanpa sehelai benang.


Perlahan Disha menggeliat dalam dekapan hangat suaminya. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan diri dengan sinar mentari pagi yang terasa hangat namun menyilaukan. Menerobos masuk kedalam kamar melalui celah-celah gorden berwarna putih yang dikibarkan angin.


Matanya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7.30 menit. Disha kemudian mendongakkan kepalanya menatap wajah Alva yang masih terlelap dengan rambut yang acak-acakan namun malah membuatnya terlihat tampan.


"Sayang.!"panggil Disha dengan suara serak khas suara orang yang baru bangun dari tidur, mengelus wajah tampan suaminya.


"Emm,"sahut Alva tanpa mau membuka matanya dan malah semakin mengeratkan pelukannya pada tabuh Disha.


"Sudah siang, kita pulang yuk!"ajak Disha.


"Lima menit lagi, sayang!"ucap Alva yang belum juga mau membuka matanya.


"Tapi ASI ku sudah terasa penuh, Al,"ucap Disha membuat Alva perlahan membuka matanya, kemudian mengerjap -ngerjapkan matanya beberapa kali lalu menatap wajah istrinya.


"Apa sakit?"tanya Alva khawatir.


"Hemm," sahut Disha mengangguk pelan.


"Coba aku lihat,"ucap Alva seraya merenggangkan pelukannya kemudian menurunkan selimut yang menutupi bagian dada istrinya.


"Auwh, sakit Al!"pekik Disha saat Alva memegang salah satu bukit kembarnya yang terasa keras karena ASI -nya penuh.


"Maaf, sakit sekali ya?"tanya Alva khawatir.


"Hemm,"sahut Disha.


Alva kemudian mendekatkan wajahnya pada kedua bukit kembar milik Disha berniat menghisapnya.


"Al, apa yang akan kamu lakukan?"tanya Disha sambil memegang kepala Alva saat bibir Alva baru menempel di dadanya.


"Aku akan menghisapnya menggantikan Kaivan agar kamu tidak kesakitan lagi, sayang,"jelas Alva.


"Tapi, Al..."kata-kata Disha langsung dipotong oleh Alva.


"Sayang, jika menunggu sampai pulang kamu akan bertambah kesakitan. Perjalanan dari hotel ke rumah lumayan jauh. Kamu juga masih harus membersihkan diri dan juga sarapan. Apa kamu mau menahannya selama itu? Aku tidak mau kamu menahan sakit. Biarkan aku yang menghisapnya,ya?"tanya Alva.

__ADS_1


Akhirnya Disha pun setuju dan Alva segera menghisap ASI Disha secara bergantian antara kiri dan kanan, sampai- sampai Alva tersedak karena derasnya ASI yang keluar.


"Apa sudah mendingan?"tanya Alva beberapa menit kemudian, mengelap sudut bibirnya yang terasa basah karena ASI yang dihisapnya dari Disha.


"Hem, sudah,"sahut Disha.


"Tapi aku jadi pengen lagi, sayang,"ucap Alva yang tangannya sudah mulai nakal.


Tanpa menunggu jawaban dari Disha, Alva langsung menyerang Disha hingga pagi itu sepasang suami-isteri itu kembali melakukan olahraga panas di atas ranjang.


Di kamar sebelah, Anjani nampak menggeliat di atas ranjangnya. Anjani begitu lelah hingga sampai hampir siang baru bangun dari tidurnya.Saat matanya terbuka, yang terlihat olehnya adalah wajah tampan suaminya yang baru dinikahinya kemarin.


"𝐒𝐞𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐧, 𝐰𝐚𝐥𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐯𝐚. 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐚 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐧𝐜𝐢 𝐤𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐀𝐥𝐯𝐚. 𝐃𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐛𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐀𝐥𝐯𝐚. 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐩𝐚𝐤𝐬𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐧𝐲𝐚, 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐰𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐲𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐣𝐚𝐧𝐢𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠. 𝐀𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐤𝐚𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐒𝐚𝐧𝐝𝐲 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐚 𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐤𝐮,"batin Anjani.


Perlahan Anjani turun dari ranjang dan mengambil baju ganti kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Anjani merendam tubuhnya di dalam bathtub dengan aroma terapi untuk menenangkan hatinya.


"Apa dia juga tidak akan mau tidur sekamar dan seranjang dengan ku sama seperti Alva dulu? Semalam dia lebih memilih keluar untuk bermabuk mabukan dari pada menghabiskan malam pengantin kami bersama ku,"gumam Anjani.


Setelah lama dan puas berendam akhirnya Anjani membilas tubuhnya kemudian segera memakai baju yang sudah dibawanya tadi. Setelah keluar dari kamar mandi Anjani melihat Hery yang sudah bangun sedang duduk bersandar di headboard ranjang sambil memijit kepalanya yang terasa pusing karena efek dari mabuk semalam.


"Lapar tinggal makan, tidak perlu menunggu ku, siapa juga yang ingin makan bersama mu?!"ucap Hery ketus.


Mendengar kata-kata Hery itu, mata Anjani pun berkaca-kaca dan akhirnya bulir air mata itu pun jatuh. Sifatnya yang dari dulu memang manja di tambah dengan hormon kehamilan yang membuat mood nya cepat berubah semakin memperburuk keadaan.


"Dasar kekanak-kanakan, begitu saja menangis,"imbuh Hery yang melihat Anjani mengusap air matanya kemudian Hery berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Anjani merias wajahnya kemudian membereskan semua barang-barangnya dan setelah Hery selesai mandi Anjani pun sudah selesai membereskan barang-barangnya dan siap untuk pulang.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Anjani pun keluar dari kamar membawa barang-barangnya tanpa bantuan Hery. Hatinya terasa sakit saat mengingat kata-kata Hery tadi. Hery pun ikut keluar dari kamar hotel itu.


Saat baru saja keluar dari kamar hotel itu, Anjani dan Hery reflek berhenti saat melihat Alva dan Disha yang keluar dari kamar yang ada di sebelah kamar mereka.


Anjani yang tidak tahu jika Alva dan Disha menginap di kamar hotel yang bersebelahan dengan mereka pun terkejut Sedangkan Hery, hatinya kembali panas saat melihat leher Alva dan Disha di penuhi tanda merah keunguan.Hery mengepalkan tangannya menahan cemburu di dalam hati nya.


"𝐌𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢𝐧 𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐚𝐧𝐚𝐤, 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐚𝐩 𝐝𝐢 𝐡𝐨𝐭𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐥𝐚𝐲𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢𝐧 𝐛𝐚𝐫𝐮. 𝐒𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐨𝐭𝐚𝐛𝐞𝐧𝐞 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢𝐧 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐭𝐢𝐝𝐮𝐫 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐛𝐮𝐤,"batin Anjani merasa miris.


"Kalian juga mau pulang?"tanya Disha basa-basi saat melihat Hery dan Anjani yang menatap dirinya dan Alva.

__ADS_1


"Iya,"sahut Hery berusaha memberikan senyuman manis kepada Disha walaupun hatinya terasa panas.


"𝐃𝐢𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦 𝐦𝐚𝐧𝐢𝐬 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐤𝐚𝐩 𝐣𝐮𝐭𝐞𝐤 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐤𝐮,"batin Anjani.


"Ayo sayang, kita makan di lantai bawah dan segera pulang! Aku sudah sangat merindukan Kaivan, aku ingin mencium Kaivan dan bermain dengannya,"ujar Alva kemudian memeluk pinggang Disha dan membawanya berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar.


Alva benar-benar tidak suka jika Disha berinteraksi dengan Hery. Anjani dan Hery pun mengikuti sepasang suami-isteri itu masuk ke dalam lift. Alfa tetap memeluk pinggang Disha posesif dan menjauhkan Disha dari Hery.


Selama berada di dalam lift itu kedua pasangan suami-istri itu hanya diam hingga sampai di lantai dasar mereka berjalan ke arah yang berbeda.


Alva dan Disha berjalan menuju restoran yang ada di hotel itu. Hery berjalan menuju parkiran sedangkan Anjani berdiri di pintu utama hotel sambil menunggu taksi yang sudah dipesannya ketika dia berada di dalam lift tadi.


Anjani memilih untuk pulang kerumahnya sendiri yaitu rumah Adiguna. Sedangkan Hery juga memilih pulang ke rumahnya.


***


Di rumah Darmawan.


Setelah turun dari mobilnya, Hery berjalan menuju pintu utama rumahnya hingga suara itu terdengar.


"Mana Anjani? Kenapa kamu pulang sendirian?"tanya Darmawan.


"Aku tidak tahu, pa,"sahut Hery enteng.


"Tidak tahu bagaimana maksud kamu? Anjani itu istrimu, kalian baru saja menikah kemarin, dan dia sekarang sedang mengandung anakmu, kenapa kamu tidak tahu dimana istri mu?"cecar Darmawan.


"Pa, tolong lah jangan bahas masalah itu, aku ingin istirahat,"sahut Hery kesal.


"Jangan pernah melangkahkan kakimu untuk masuki rumah papa dan jangan harap kamu bisa menikmati apa yang papa miliki jika kamu tidak pulang bersama Anjani,"ancam Darmawan.


"Pa?!"


...🌟"Terimalah kenyataan walaupun itu menyakitkan, karena walaupun kamu tidak mau menerimanya, kenyataan tidak akan pernah berubah."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2