Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
136. Kekhawatiran Radeva


__ADS_3

Trisha segera turun dari ranjang dan berlari kearah pintu, namun dengan cepat Hery mengejarnya dan langsung menangkap Trisha. Hery kemudian langsung menggendong tubuh Trish ke arah ranjang.


"Lepaskan aku!"pekik Trisha berusaha melepaskan diri dari Hery, meronta-ronta dalam gendongan Hery seraya memukuli tubuh Hery.


"Aku sudah tidak tahan lagi, kamu harus menghilangkan pengaruh obat ini. Aku butuh pelepasan dan kau harus memuaskan aku,"ucap Hery dengan kasar melempar tubuh Trisha ke atas ranjang lalu menindih nya.


Dengan brutal Hery menyerang tubuh Trisha, merobek pakaian Trisha dan melemparnya ke sembarang arah. Trisha yang awalnya berontak, namun akhirnya malah membalas ciuman Hery karena pengaruh obat yang sudah diminumnya.


Mereka nampak begitu brutal seolah ingin saling menerkam.Ciuman panas dan gerak tubuh yang seolah haus akan sentuhan bahkan saling menindih secara bergantian. Kadang Trisha di atas namun detik kemudian Hery yang diatas tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Di kamar Ferdi.


"Aku nggak sanggup lagi nonton nya. Takut si Otong bangun, berabe buat menidurkan nya,"ucap Riky bangkit dari duduknya kemudian berbaring di ranjang.


"Aku juga stop dech! Belum apa-apa udah panas. Bikin aku meriang. Mana goa ku lagi banjir lagi! Berabe nich kalau si kobra jadi pengen masuk goa,"ucap Ferdi seraya menutup laptopnya dan detik berikutnya Ferdi dan Riky pun tergelak.


"Gila..hot banget! Ini lebih hot dari pada Vidio Hery dan Anjani,"ucap Riky sambil menggeleng-ngelengkan kepalanya.


"Iya, kamu benar. Sudah, kita tidur aja. Biar anak buah ku yang mengurus mereka,"ucap Ferdi.


Di kamar Trisha.


Sentuhan Hery ditubuh Trisha malah membuat hasraat Trisha semakin naik. Mereka nampak sama-sama mencari kepuasan. Hingga akhirnya Hery sudah tidak dapat menahan diri lagi.


Hery pun langsung menyerang bagian inti dari tubuh Trisha. Hery sempat terkejut saat menyadari bahwa ternyata bagian inti Trisha masih terasa sangat sempit yang berarti diri nya lah yang pertama kali menyentuh Trisha.


Trisha yang tadinya mencengkram lengan Hery karena menahan sakit di bagian intinya, akhirnya berteriak, menitikkan air mata dan mencakar punggung Hery saat milik Hery berhasil masuk sepenuhnya ke dalam inti tubuhnya. Namun Hery yang terpengaruh obat perang sang tidak menghiraukan teriakan dan cakaran Trisha di punggungnya.


Hery terus bergerak mencari kenikmatan untuk mendapatkan pelepasan. Akhirnya setelah beberapa kali mendapatkan pelepasan, Hery dan Trisha pun terkulai lemah di atas ranjang.


Keesokan harinya.


Nampak sepasang anak manusia yang sedang berpelukan dibawah selimut tebal dengan tubuh polos saling menempel tanpa sehelai benang. Perlahan Disha menggeliat dalam dekapan Alva, namun Alva malah mengeratkan pelukannya.


"Sayang..!"panggil Disha dengan suara serak khas suara orang yang baru bangun tidur.


"Emm.."sahut Alva tanpa mau membuka matanya.


"Ini sudah siang,"ucap Disha.


"Sebentar lagi sayang, aku masih mengantuk,"sahut Alva.

__ADS_1


"Sayang..!"


"Emm.."


"Semalam, aku melihat Trisha diam-diam bertemu dengan Hery, di tempat yang sep,i"ucap Disha membuat Alva mengerjap-ngerjabkan matanya, merenggangkan pelukannya kemudian menatap Disha.


"Trisha bertemu Hery? Apa yang mereka rencanakan?"tanya Alva dengan wajah bantalnya dan rambut yang acak-acakan, namun tidak mengurangi ketampanan wajah nya.


"Aku tidak tahu, tapi kata Riky, semalam mereka berniat menjebak kita,"jelas Disha.


"Belum kapok juga pria brengseek itu,"gumam Alva kemudian meraih handphonenya yang ada di atas nakas kemudian menghubungi seseorang.


"Halo, Tuan,"sahut suara orang di ujung telepon setelah panggilan tersambung.


"Semalam, apa yang direncanakan oleh Hery dan Trisha?"tanya Alva.


"Semalam mereka ingin menjebak anda dan Nyonya dengan memberikan obat perang sang, Tuan,"sahut orang diujung telepon yang tidak lain adalah Ferdi.


"Lalu?"tanya Alva ingin tahu apa yang dilakukan oleh Ferdi pada Trisha dan Trisha. Sedangkan Disha yang masih berada dalam dekapan Alva, ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Walaupun Alva tidak mengaktifkan loud speaker, tapi Disha masih bisa mendengar suara Ferdi.


"Sepertinya mereka ingin Tuan bersama dengan Trisha dan Nyonya..."kata-kata Ferdi menggantung.


"Saya tidak yakin, tapi sepertinya Trisha ingin tidur dengan Anda dan Hery ingin tidur bersama Nyonya. Tapi Trisha sepertinya mengkhianati Hery, karena Trisha menyuruh orang kita untuk memberikan obat perang sang itu pada anda, Nyonya, dan Tuan Radeva,"jelas Ferdi.


"Maksud mu, Trisha ingin menjebak istri ku dengan kakaknya?"tanya Alva yang membuat Disha terkejut.


"Iya, Tuan. Menurut saya begitu,"jawab Ferdi.


"Lalu apa yang kamu lakukan pada mereka?"tanya Alva melirik Disha yang sedang menatap nya.


"Saya memberikan obat yang ingin mereka berikan pada anda dan Nyonya kepada mereka sendiri, Tuan,"sahut Ferdi.


"Whatt? Lalu apa yang terjadi pada mereka?"tanya Alva yang masih kaget mendengar jawaban Ferdi, begitu pun dengan Disha.


"Saya akan mengirimkan Vidio nya,"ucap Ferdi.


"Oke,"ucap Alva kemudian mengakhiri panggilan telepon itu.


Tak lama kemudian Ferdi pun sudah mengirimkan sebuah video, dan Alva pun langsung membukanya. Disha yang juga penasaran pun akhirnya ikut menonton video itu.


"Oh ya Tuhanku..!! Pria itu masih saja brengseek,"gumam Alva yang baru sebentar melihat video itu tapi langsung menjeda video itu.

__ADS_1


"Sayang, apa Ferdi tidak keterlaluan melakukan semua itu pada Trisha?"tanya Disha.


"Kenapa?"tanya Alva.


"Bagaimana jika si Trisha masih pera wan,"tanya Disha tanpa menjawab pertanyaan dari Alva.


"Kita coba lihat Vidio nya. Apa benar Tisha masih pera wan,"ucap Alva dan akhirnya mereka melanjutkan menonton Vidio yang sempat mereka jeda.


"Sayang, seperti Trisha memang masih pera wan,"ucap Disha saat menonton video itu di mana Trisha nampak kesakitan saat Hery berusaha melakukan penyatuan, bahkan menitikkan air mata, berteriak dan mencakar punggung Hery.


"Sudah terlambat, mau gimana lagi? Sekarang kamu harus menidurkan sesuatu di bawah sana. Video tadi membuat nya terbangun. Keris ku harus masuk ke dalam sarungnya sekarang juga,"ucap Alva meletakkan kembali handphone nya ke atas nakas dan menekan paha Disha dengan sesuatu di bawah sana yang ternyata sudah mengeras.


"Sayang, semalam kan sudah? Lagi pula ini sudah siang,"ucap Disha yang merasa tubuhnya sakit semua karena di gempur oleh Alva semalam.


"Sayang, apa kamu tega padaku? Aku akan tersiksa jika kamu tidak mau menidurkannya,"rengek Alva.


"Oke...oke...tapi hanya sekali ya? Tubuhku terasa remuk gara-gara kamu semalam, sayang,"ucap Disha.


"Iya, yang penting kamu tidurkan dia,"ucap Alva kemudian langsung menyerang Disha.


Di depan kamar Trisha.


"Tok..tok..tok..."Radeva nampak berdiri di depan pintu kamar Trisha dan mengetuk pintu itu beberapa kali namun tidak ada jawaban apapun dari dalam. Padahal hari sudah beranjak siang, namun adiknya itu belum bangun juga.


"𝐈𝐧𝐢 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐬𝐢𝐚𝐧𝐠. 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐓𝐫𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐮𝐧 𝐣𝐮𝐠𝐚? 𝐀𝐩𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐥𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐭?" batin Radeva kembali mengetuk pintu dengan perasaan khawatir.


"Tok..tok .tok...."


"Trisha, bangun Sha! Trisha! Apa kamu baik-baik saja?"tanya Radeva terus mengetuk pintu dan memanggil Trisha, khawatir dengan keadaan adiknya itu. Karena takut mengganggu kenyamanan orang lain, maka Radeva pun turun ke lantai satu dan berjalan ke meja resepsionis.


Radeva meminta kunci cadangan kamar Trisha.Pihak hotel sempat tidak mau memberikan kunci cadangan kamar Trisha. Namun setelah Radeva membujuk dan mengatakan bahwa semalam adiknya sakit dan takut terjadi apa-apa pada adiknya, akhirnya pihak hotel memberikan kunci cadangan itu.


Radeva bergegas kembali ke kamar Trisha dan segera membuka pintu kamar Trisha. Setelah pintu kamar itu terbuka...


"Trisha..!!!"


...🌟"Berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu. Jangan sampai apa yang kamu lakukan menjadi bumerang yang bisa merugikan diri mu sendiri "🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2