
"Dan kenyataan Disha adalah Shahira yang selama ini kita cari, putri mama dan papa yang hilang 26 tahun yang lalu"jelas Radeva menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Apa?"ucap Mahendra dengan raut wajah bercampur aduk antara kaget, terharu dan juga senang.
"Be .benarkah itu?"tanya Ghina yang mulai menitikkan air mata, Ghina juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Mahendra.
Alva memegang kedua bahu Disha dari samping kemudian mendorong tubuh Disha pelan agar mendekat pada Ghina. Ghina pun langsung memeluk Disha dengan pipi yang sudah basah oleh air mata.
Begitu pula dengan Disha yang menangis karena terharu, membalas pelukan Ghina. Mahendra pun mendekat memeluk Ghina dan Disha bersamaan dan mencium puncak kepala Disha dan Ghina bergantian kemudian mengurai pelukannya.
"Mama tidak menyangka akan menemukanmu kembali. Mama sudah hampir putus asa mencari mu,"ucap Ghina sambil terisak kemudian mengurai pelukan dan menatap wajah Disha, memegang kedua pipi Disha.
"Maaf kan mama karena meninggalkan mu malam itu, hingga membuat mu berada dalam villa tanpa mama. Mama bukan ibu yang baik, maafkan mama, sayang! Maafkan mama!"ucap Ghina penuh penyesalan.
"Mama jangan menyalahkan diri mama sendiri, itu bukan salah mama,"sahut Disha dengan terisak..
"Katakan pada mama, apa yang harus mama lakukan untuk mu, agar mama bisa menebus kesalahan mama padamu,. Mama tidak bisa menggantikan 26 tahun yang sudah terlewati, tapi mama akan berusaha memberikan apapun yang mama mampu untuk mu,"ucap Ghina dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya.
"Mama tidak salah, ma. Mama tidak perlu melakukan apapun untuk ku. Semua ini adalah takdir yang telah dituliskan oleh -Nya," sahut Disha seraya menghapus air mata yang menetes di pipi mamanya kemudian memeluk wanita itu erat.
"Terimakasih karena kamu mau memaafkan mama. Terimakasih, Nak!" ucap Ghina kembali memeluk Disha.
"Jadi, sebelum kamu menikah dengan Alva kamu tinggal dimana, sayang?"tanya Mahendra setelah Ghina dan Disha agak tenang.
"Aku tinggal di daerah xx,"jawab Disha.
"Yang dekat dengan rumah sakit xx yang tidak jauh dari sungai?"tanya Mahendra.
"Iya,"sahut Disha.
"Itu adalah rumah sakit tempat Bik Anah menyerahkan kamu kepada dua orang pria,"sahut Radeva yang memang sudah mencari informasi dimana Bik Anah menyerahkan adiknya kepada dua orang pria yang tidak dikenal.
"Iya, kata pamanku seorang wanita memberikan aku pada paman dan ayah angkat ku. Wanita itu memohon pada paman dan ayah angkat ku agar menyelamatkan aku,"sahut Disha.
"Kamu benar-benar putri kami,"tukas Mahendra.
"Mama ingin kembali pindah ke negara ini, pa. Mama ingin dekat dengan cucu kita," ucap Ghina dengan tatapan memohon pada Mahendra.
"Tentu saja, kita akan kembali tinggal di negara ini. Karena putri kita sudah memiliki keluarga di sini. Kamu bisa mengurus semuanya kan, Dev?"tanya Mahendra pada Radeva.
"Tentu saja ,pa. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan keluarga kita," sahut Radeva dengan senyum yang terkembang.
"Mama ingin bertemu dengan cucu kita, pa. Boleh kan, sayang?"tanya Ghina ke pada Disha nampak antusias.
"Tentu saja, Tante,"sahut Disha seraya tersenyum.
__ADS_1
"Lhoh? Kok manggilnya Tante sich , sayang?! Panggil mama, dong!"protes Ghina.
"Ah iya, ma,"ucap Disha merasa masih canggung.
"Ya sudah, sekarang juga kita ke rumah Alva. Boleh kan Al?"tanya Ghina penuh harap.
"Tentu saja boleh," sahut Alva tersenyum tipis.
"Tapi mama masih lemas, ma! Besok saja kita ke rumah Alva, ini sudah malam. Putri kita tinggal di rumah mertua nya, tidak enak bertamu larut malam begini,"ujar Mahendra.
"Papa benar ma, sebaiknya mama istirahat dulu biar mama cepat pulih. Jika besok mama sudah sehat, kita akan pergi ke rumah Alva,"imbuh Radeva yang tidak ingin kesehatan mamanya memburuk.
"Em ..papa dan kakak benar, ma. Sebaiknya besok saja ke rumah kami. Mama disini saja dulu sampai mama benar-benar sehat agar besok bisa bermain dengan Kaivan,"timpal Disha yang kelihatan masih agak canggung pada keluarga kandungnya itu.
"Kalian bisa datang kapanpun ke rumah kami untuk bertemu dengan Kaivan,"ucap Alva ikut menimpali.
"Baiklah, sepertinya kalian kompak sekali, mama bisa apa? Mama akan beristirahat di sini untuk malam ini. Tapi besok jangan cegah mama lagi untuk bertemu dengan cucu mama,"ujar Ghina yang akhirnya menurut dan hal itu membuat semua orang di ruangan itu bernafas lega.
"Pa, ma, ini sudah malam, apa tidak apa-apa jika kami pulang dan tidak menjaga mama di sini?"ucap Alva.
"Ah iya, Tidak apa-apa. Kalian pulanglah! Biar papa saja yang menjaga mama disini,"ucap Mahendra tersenyum tipis.
"Kalau begitu kami pamit pulang, pa, ma," ucap Disha.
"Iya,.ma!"sahut Alva dan Disha bersamaan.
"Kak, aku pulang duluan,"ucap Disha pada Radeva.
"Iya, hati-hati! "ucap Radeva tersenyum manis, kemudian sepasang suami-isteri itu melangkah keluar
"Hey, adik ipar! Apa kamu tidak pamit pada kakak ipar mu ini?"goda Radeva pada Alva, namun pria itu sama sekali tidak meresponnya dan Radeva pun hanya tersenyum sambil menggeleng,- ngelengkan kepalanya melihat tingkah Alva itu.
"Ada apa dengan Alva? Kenapa dia terlihat sewot sama kamu, Dev?"tanya Ghina.
"Tadi, saat aku mengetahui bahwa Disha adalah Shahira, sangking senangnya aku menciumi Disha. Dan tepat saat itu Alva datang dan melihat nya. Jadi dia marah dan memberikan salam perkenalan berupa tiga bogem mentah padaku,"ujar Radeva kemudian terkekeh.
"Jadi dia salah paham atau cemburu pada mu?"tanya Mahendra.
"Dua-duanya, pa. Ternyata selain cemburuan dia itu juga sangat posesif. Dia bahkan nampak tidak rela aku menyentuh adikku sendiri,"sahut Radeva masih dengan senyum diwajahnya.
"Itu berarti Alva sangat mencintai adikmu,"sahut Ghina.
"Papa tidak menyangka, keinginan mama untuk berbesan dengan Ratih ternyata bisa terkabul walaupun tanpa campur tangan kita,"ujar Mahendra.
"Papa benar. Mama juga tidak menyangka nya. Pantas Kaivan cepat akrab dengan kita, ternyata ada ikatan darah diantara kita,"sahut Ghina.
__ADS_1
"Aku juga tidak menyangka, ma. Teryata aku sudah memiliki keponakan yang sangat tampan, walaupun adik ipar ku over cemburuan dan over posesif,"timpal Radeva.
"Setiap orang memang memiliki kekurangan dan kelebihan, Dev,"sahut Ghina.
"Mama benar. Untung saja kita mengetahui tentang kebenaran ini sekarang. Kalau tidak, aku pasti sudah memisahkan Alva dan Disha,"ujar Radeva.
"Kenapa?"tanya Mahendra penasaran, begitu pula dengan Ratih.
"Menurut informasi yang aku dapatkan, Alva pernah menduakan Disha. Alva menikah dengan Disha tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Lalu Alva menikah lagi dengan Anjani tanpa diketahui Disha karena paksaan dari orang tuanya. Papa dari Anjani memiliki saham terbesar di Bramantyo Group,"
"Alva menyembunyikan kebenaran bahwa Disha adalah istri pertama dan istri sah nya. Namun akhirnya Alva menceraikan Anjani setelah Kaivan lahir hingga membuat Tuan Adiguna, papa dari Anjani menarik seluruh sahamnya dari Bramantyo Group,"
"Namun nyatanya Alva telah menyiapkan segalanya, setelah Adiguna menarik seluruh sahamnya, Alva memasukkan saham yang lebih besar dari saham Adiguna atas nama Disha,"
"Mengapa Alva melakukan itu semua?" tanya Mahendra.
"Yang aku tahu karena Alva takut Bramantyo akan memisahkan dia dengan Disha yang notabene dari keluarga menengah ke bawah. Karena itu Alva menyembunyikan pernikahan nya dengan Disha dan pada waktu yang tepat mengakui pernikahannya dengan Disha setelah memberikan seluruh aset yang dia miliki pada Disha," jelas Radeva.
'Menurut mama, semua itu Alva lakukan karena sangat mencintai Disha. Walaupun pasti menyakitkan bagi Disha karena Alva tidak mengakuinya didepan umum jika Disha istrinya,"sahut Ghina.
"Alva memberikan seluruh aset yang dia miliki pada Disha, berarti Alva benar- benar mencintai Disha. Tidak semua suami berani menyerahkan seluruh aset yang dimilikinya untuk istrinya. Bayangkan saja jika Disha menceraikan Alva, semua harta Alva sudah menjadi milik Disha,"timpal Mahendra.
"Iya, papa benar. Papa saja sampai sekarang tidak memberi mama aset apapun selain uang dan kartu kredit,"cetus Ghina.
"Berarti papa tidak terlalu mencintai mama, dong!"celetuk Radeva kemudian tertawa.
"Plak"
"Sembarangan kalau ngomong! Papa sangat mencintai mamamu, papa tidak memberikan aset pada mama mu karena papa takut mamamu pergi meninggalkan papa karena merasa tidak memerlukan papa lagi,"ucap Mahendra memukul lengan Radeva.
"Berarti papa tidak yakin jika mama benar- benar mencintai papa. Tidak seperti Alva," cetus Radeva.
"Ish..anak ini! Papa sangat mencintai mamamu, karena itu papa takut kehilangan mamamu. Lagian, cara seseorang mencintai dan menunjukkan cintanya itu berbeda- beda.Begitu pula dengan Alva dan papa," ucap Mahendra.
"Iya juga, ya pa,"sahut Radeva.
"Sebaiknya mama segera istirahat, biar besok kita bisa bertemu dengan cucu kita,"ucap Mahendra mengakhiri pembicaraan itu.
"Papa benar, ma. Biar besok mama sudah fit,"timpal Radeva.
"Tapi bagaimana dengan lukamu itu, Dev?" tanya Ghina.
"Aku akan meminta petugas medis untuk mengobati lukaku ini, ma. Mama tidak usah khawatir,"sahut Radeva.
To be continued
__ADS_1