Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
187. Musibah Atau Berkah


__ADS_3

Gadis itu akhirnya menelpon polisi dan tidak berapa lama, polisi pun datang menangkap dua pria yang diringkus oleh Radeva.


"Silahkan ikut kami ke kantor polisi untuk membuat laporan!"ucap seorang polisi kepada Radeva.


"Baik, Pak!"jawab Radeva kemudian menoleh ke arah gadis yang sudah ditolongnya itu.


"Kamu gadis yang menabrak ku di mall tadi siang, kan?"tanya Radeva setelah mengamati gadis yang ditolongnya itu


"Iya,"sahut gadis itu menundukkan kepalanya seraya menutup beberapa bagian tubuhnya yang terlihat karena bajunya sobek oleh ketiga pemuda tadi.


Radeva menghela nafas panjang, tidak punya pakaian untuk menutupi tubuh gadis itu. Namun tidak pantas rasanya membiarkan seorang gadis dengan pakaian yang sobek di sana-sini. Akhirnya Radeva memutuskan untuk melepaskan kemeja yang dipakainya hingga sekarang Radeva hanya memakai singlet yang nampak pas melekat pada tubuhnya yang nampak proposional itu.


"Pakai ini, agar tubuh mu tidak dilihat pria hidung belang,"ucap Radeva seraya menempelkan kemejanya pada pundak gadis itu.


Gadis itu nampak terhenyak saat Radeva menempelkan kemeja dan di pundaknya seakan mematung saat melihat Radeva yang ada di depannya dengan hanya menggunakan singlet membuat mata gadis itu enggan untuk berkedip.


"๐™”๐™– ๐™๐™ช๐™๐™–๐™ฃ.! ๐™Ž๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™ช๐™ ๐™ˆ๐™–๐™๐™– ๐˜ฝ๐™š๐™จ๐™–๐™ง ๐™€๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ช ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ฉ๐™š๐™ก๐™–๐™ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™˜๐™ž๐™ฅ๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ช๐™จ๐™ž๐™– ๐™จ๐™š๐™จ๐™š๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™ง๐™ฃ๐™– ๐™ž๐™ฃ๐™ž, ๐™ฌ๐™–๐™Ÿ๐™–๐™ ๐™ฉ๐™–๐™ข๐™ฅ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™–๐™ฃ...๐™ฎ๐™– ๐™–๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™ช๐™ฃ๐™ฃ.. ๐™ฉ๐™ช๐™—๐™ช๐™๐™ฃ๐™ฎ๐™–...๐™–๐™–๐™–..... ๐™—๐™ค๐™ก๐™š๐™ ๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™–๐™  ๐™จ๐™ž๐™˜๐™, ๐™ฃ๐™ž๐™˜๐™ ๐™˜๐™ค๐™ฌ๐™ค๐™  ๐™–๐™ ๐™ช ๐™—๐™–๐™ฌ๐™– ๐™ฅ๐™ช๐™ก๐™–๐™ฃ๐™œ?!"batin gadis itu saat melihat keindahan yang terpampang nyata di hadapannya.


"Hei, pakailah!"ucap Radeva seraya menggoyangkan bahu gadis itu, membuat sang gadis tersadar dari lamunannya.


"Ah.. Iya,"sahut gadis itu segera memakai kemeja yang diberikan oleh Radeva.


"Ayo, masuklah! Kita akan ke kantor polisi untuk membuat laporan,"ajak Radeva seraya membukakan pintu mobil bagian penumpang di sebelah kursi kemudi.


"Ah, iya,"sahut gadis itu langsung masuk ke dalam mobil Radeva, sesekali mencuri pandang pada pria yang sudah menolongnya itu.


"Siapa nama mu?"tanya Radeva setelah melajukan mobilnya.


"Icha,"sahut Icha seraya melirik sekilas ke arah Radeva,"Ka.. kalau boleh tahu, siapa nama Tuan?" tanya Icha memberanikan diri.


"Aku Radeva,"sahut Radeva melirik Icha sekilas seraya tersenyum tipis.


"Terimakasih karena anda sudah mau menolong saya,"ucap Icha tulus.


"Sebenarnya, kenapa kamu bisa sampai jadi korban pelecehan?"tanya Radeva kembali melirik Icha sekilas.


"Saya rasa, dia dendam pada saya,"sahut Icha.

__ADS_1


"Dia? Kamu mengenal salah satu diantara mereka? Dan kenapa dia dendam padamu?"tanya Radeva penasaran.


"Orang yang melarikan diri tadi, adalah mantan pacar saya, yang saya putuskan sekitar sebulan yang lalu,"jawab Icha jujur.


"Kenapa kamu memutuskan dia, dan kenapa dia sampai dendam padamu?"tanya Radeva penasaran.


"Waktu itu dia ingin mencium saya, tapi saya tidak mau.Karena dia memaksa, maka saya menampar dan menendang... menendang itunya,"jawab Icha langsung menunduk membuat Radeva mengulum senyum.


"Kenapa tidak mau di cium? Bukankah sudah biasa jika orang yang berpacaran berciuman?"tanya Radeva melirik ke arah Icha sekilas kemudian kembali fokus pada jalan.


"Itu tergantung dari pribadi masing- masing, Tuan. Tapi saya tidak berpacaran dengan gaya yang seperti itu. Pacaran itu kan agar dua orang beda jenis bisa saling mengenal, bukan ajang untuk mencoba, apalagi mempraktekkan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan halal,"


"Ya walaupun ada pula atau mungkin banyak yang menjadikan pacaran sebagai cara untuk โ€œmengikatโ€ pasangan sebelum menikah. Tapi menurut saya, berpacaran dengan melakukan kontak fisik layaknya pasangan suami-istri itu tidak sehat,"ujar Icha panjang lebar.


"Aku salut dengan pemikiran mu. Dan aku sangat menghargainya. Apa rumahmu di dekat tempat tadi?"tanya Radeva kemudian.


"Tidak, Tuan. Saya tadi keluar untuk membeli sesuatu di warung yang tidak jauh dari rumah. Tapi tiba-tiba mantan saya muncul, membekap dan membawa saya bersama kedua orang temannya yang sudah ada di dalam mobil. Mereka membawa saya ke sebuah gudang tua yang dekat dengan jalan tempat Tuan bertemu dengan saya tadi.Mereka... mereka.. ingin melecehkan saya,"ujar Icha dengan air mata yang hampir menetes.


"Untung saya bisa melarikan diri dan Tuan mau menolong saya,"sahut Icha dengan air mata yang sudah menetes. Mengingat bagaimana dia harus melindungi dirinya sendiri dari tiga orang pria yang ingin melecehkan dirinya. Entah bagaimana nasibnya jika sampai dia kehilangan kesucian yang selama ini di jaganya. Radeva pun mengulurkan tisu pada Icha.


Setelah tiba di kantor polisi, Radeva langsung membuat laporan. Icha pun menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya. Dan juga hubungannya dengan pelaku utama yang sayangnya tadi berhasil melarikan diri. Setelah selesai membuat laporan, mereka pun keluar dari kantor polisi. Radeva berhenti di di dekat pintu dan merogoh handphonenya dari dalam saku celananya karena ada panggilan masuk. Sedangkan Icha melangkah keluar dengan hati gusar.


"Akkh.!"pekik Icha yang tiba-tiba terjatuh, karena lantai yang dipijaknya teryata licin. Icha terjatuh dilantai dengan posisi terlentang dengan kepala yang membentur lantai.


"Hei, hati-hati!"ucap Radeva langsung mengakhiri panggilan teleponnya dan menghampiri Icha,"Kamu tidak apa-apa?"tanya Radeva membantu Icha untuk bangun.


"๐™Š๐™ ๐™ฎ๐™– ๐™–๐™ข๐™ฅ๐™ก๐™ค๐™ฅ๐™ฅ.. ๐™—๐™ž๐™จ๐™– ๐™œ๐™š๐™œ๐™–๐™ง ๐™ค๐™ฉ๐™–๐™  ๐™–๐™ ๐™ช. ๐™„๐™ฃ๐™ž ๐™ฃ๐™–๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™จ๐™–๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™จ๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™ช๐™ ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™–๐™จ๐™– ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™–๐™ก๐™ช๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™–๐™™๐™– ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ ๐™ž๐™ง๐™–,"batin Icha yang pantat dan kepalanya mendarat dengan sempurna di lantai.


"Kenapa bisa terjatuh?"tanya Radeva yang sekarang sedang berjongkok memegangi Icha.


"Lantainya basah,"sahut Icha jujur dan Radeva pun melihat memang ada lantai yang basah.


"Kamu tidak memakai alas kaki?"tanya Radeva yang baru menyadari jika gadis itu tidak memakai alas kaki.


"Saya tadinya memakai sendal jepit, tapi karena saya pakai berlari untuk menyelamatkan diri, sendal saya putus," jawab Icha jujur.


"Ya, sudah, ayo bangun!"ucap Radeva membantu Icha berdiri.

__ADS_1


"Awhh..!"pekik Icha hampir terjatuh lagi jika saja Radeva tidak langsung meraih tubuhnya.


"Saya tidak bisa berdiri, Tuan. Kaki saya sakit sekali,"ucap Icha yang nampak meringis dan hampir menangis, menahan rasa sakit di pergelangan kakinya.


"Kamu tidak bisa berjalan?"tanya Radeva menatap Icha yang tubuhnya masih dipeganginya.


"Rasanya kaki saya terkilir, Tuan,"sahut Icha menahan nyeri di pergelangan kakinya.


"Ini sudah sangat malam, dan kaki kamu juga terkilir. Saya antar kamu pulang, ya?!"tawar Radeva.


"Terimakasih, Tuan,"sahut Icha merasa lega karena Radeva mau mengantarkan nya pulang.


Karena sebelah kaki Icha terkilir, akhirnya Radeva menggendong tubuh Icha ala bridal style.


"๐™”๐™– ๐™๐™ช๐™๐™–๐™ฃ...๐™–๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ฉ๐™–๐™๐™ช ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™จ ๐™จ๐™š๐™™๐™ž๐™ ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ช ๐™—๐™–๐™๐™–๐™œ๐™ž๐™–.๐™†๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™ข๐™ช๐™จ๐™ž๐™—๐™–๐™ ๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™–๐™ ๐™ช ๐™—๐™ž๐™จ๐™– ๐™—๐™š๐™ง๐™ฉ๐™š๐™ข๐™ช ๐™ฅ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™š๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™–๐™ข๐™ฅ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™š๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ฉ๐™ž ๐™ฉ๐™ช๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™™๐™š๐™ซ๐™– ๐™ž๐™ฃ๐™ž. ๐™…๐™ž๐™ ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ ๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž๐™ก๐™š๐™˜๐™š๐™๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™ ๐™ช ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™—๐™š๐™ง๐™ฉ๐™š๐™ข๐™ช ๐™™๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž๐™–. ๐˜ฟ๐™–๐™ฃ ๐™Ÿ๐™ž๐™ ๐™– ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ฅ๐™š๐™ก๐™š๐™จ๐™š๐™ฉ ๐™ฉ๐™–๐™™๐™ž, ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™™๐™ค๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™ง๐™ž๐™– ๐™ฉ๐™–๐™ข๐™ฅ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ข๐™ฅ๐™š๐™จ๐™ค๐™ฃ๐™– ๐™—๐™š๐™ง๐™ฉ๐™ช๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฉ๐™ก๐™š๐™ฉ๐™ž๐™จ ๐™จ๐™š๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ฉ๐™ž ๐™™๐™ž๐™– ๐™ž๐™ฃ๐™ž. ๐™ˆ๐™–๐™ฃ๐™– ๐™๐™–๐™ง๐™ช๐™ข ๐™ก๐™–๐™œ๐™ž,"


"๐™”๐™– ๐™–๐™ข๐™ฅ๐™ช๐™ช๐™ฃ๐™ฃ... ๐™ข๐™ž๐™ข๐™ฅ๐™ž ๐™–๐™ฅ๐™– ๐™จ๐™ž๐™˜๐™ ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ ๐™š๐™ข๐™–๐™ง๐™ž๐™ฃ ๐™ข๐™–๐™ก๐™–๐™ข? ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ฉ๐™–๐™๐™ช ๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™—๐™š๐™ง๐™ ๐™–๐™ ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ช ๐™ข๐™ช๐™จ๐™ž๐™—๐™–๐™? ๐˜ผ๐™ฉ๐™–๐™ช๐™ ๐™–๐™ ๐™ข๐™ช๐™จ๐™ž๐™—๐™–๐™ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™ฌ๐™– ๐™—๐™š๐™ง๐™ ๐™–๐™, ๐™ฎ๐™–?"batin Icha yang sesekali mencuri pandang menatap wajah Radeva.


Radeva mendudukkan Icha di kursi penumpang di sebelah kursi kemudi dan tak lama kemudian Radeva sudah duduk di belakang kemudi.


"Em.. boleh saya minta nomor telepon, Tuan?"tanya Icha memberanikan diri.


"Untuk apa?"tanya Radeva.


"Saya nanti ingin mengembalikan kemeja Tuan,"sahut Icha.


"Tidak perlu kamu kembalikan. Simpan saja sebagai kenang-kenangan. Tapi jika tidak mau menyimpannya, kamu boleh membuangnya,"sahut Radeva tersenyum tipis.


"Mana mungkin saya membuangnya. Terimakasih banyak karena anda sudah mau menolong saya,"ucap Icha tulus.


"Tadi kamu sudah berterimakasih, jadi tidak perlu berterimakasih lagi,"sahut Radeva tersenyum tipis kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Icha dengan Icha sebagai penunjuk jalan nya.


...๐ŸŒŸ"Percayalah, dibalik semua ujian yang diberikan-Nya, pasti ada keberkahan dan kebahagiaan yang akan menanti kita,...


...jika kita selalu sabar dan ikhlas menjalaninya."๐ŸŒŸ...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2