
"To the point saja, apa jika saya melamar kamu, kamu akan menerima lamaran saya?"tanya Riky.
"Hah.?!!"spontan Yessie mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk menjadi menatap Riky.
"Di terima tidak?"tanya Riky lagi dengan wajah serius.
"A...apa mak... maksud bapak?"tanya Yessie tergagap kembali menundukkan wajahnya tidak berani menatap Riky yang menatapnya.
"Saya suka sama kamu, tapi saya tidak mau pacaran. Usia saya sudah tidak muda lagi, bukan ABG lagi. Saya ingin mencari istri, bukan pacar. Karena itu saya ingin melamar kamu. Jika kamu setuju untuk menerima saya, maka saya akan ke rumah mu untuk melamar kamu,"jelas Riky.
𝐘𝐚 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧𝐧𝐧.....𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢 𝐚𝐩𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦? 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐮𝐣𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐤 𝐑𝐢𝐤𝐲 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤𝐬𝐢𝐫 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐚𝐤𝐮,"batin Yessie yang shock, bahagia sekaligus tidak percaya mendengar kata-kata Riky.
"Bagaimana?"tanya Riky lagi karena Yessie masih betah diam dan menunduk.
Bibir Yessie terasa kelu, tidak bisa bicara sepatah katapun. Tubuh Yessie terasa kaku, tangannya tremor dan berkeringat dingin.Sama sekali tidak menyangka jika dia akan dilamar Riky, padahal mereka tidak pernah dekat sebelumnya.
"𝐀𝐜𝐡.. 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐚𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐥𝐚𝐦𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐤𝐮. 𝐁𝐚𝐢𝐤𝐥𝐚𝐡... 𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐚𝐲𝐚𝐤𝐮? 𝐒𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐢, 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤, 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐣𝐨𝐦𝐛𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐭𝐢 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐦𝐚𝐭𝐢,"batin Riky kemudian menghela nafas panjang.
"Baiklah, mungkin apa yang saya katakan ini terlalu mendadak. Atau mungkin saya bukan laki-laki tipe idaman kamu. Jika kamu tidak mau menerima lamaran saya tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan,"
"Anggap saja saya tidak pernah mengatakan apapun pada kamu. Saya akan mencari gadis lain yang mau menerima lamaran saya dan menerima saya apa adanya. Kamu boleh pergi!"ucap Riky pasrah tertunduk lesu.
"Degh"
𝐏𝐚𝐤 𝐑𝐢𝐤𝐲 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐥𝐚𝐦𝐚𝐫𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚? 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤..𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐣𝐚𝐝𝐢! 𝐥𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐞𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐤𝐮. 𝐀𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐬𝐮𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐩𝐚𝐜𝐚𝐫𝐚𝐧. 𝐃𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤𝐬𝐢𝐫, 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐨𝐥𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐥𝐚𝐦𝐚𝐫𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚,"batin Yessie.
"Sa..saya mau!"ucap Yessie gagap dan agak pelan karena lidahnya yang terasa kelu, susah payah mengucapkan kata-kata karena rasa gugup yang mendera.
Degh"
Seketika Riky mengangkat wajahnya dan kembali menatap Yessie yang masih menunduk.
"Apa katamu?"tanya Riky untuk meyakinkan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Sa..saya menerima lamaran bapak!" jawab Yessie dengan cepat dan suara lebih keras dari sebelumnya, semakin dalam menundukkan wajahnya karena malu.
"Kamu menerima lamaran saya?"tanya Riky dengan wajah berbinar-binar.
"I..iya," jawab Yessie mengangguk kecil, masih gugup dan menundukkan kepala tidak berani menatap wajah apalagi mata Riky.
__ADS_1
"Terimakasih. Saya akan datang ke rumah mu untuk melamar kamu. Kita akan pacaran setelah menikah saja. Dan satu lagi, kamu jangan katakan kepada siapapun tentang pembicaraan kita di ruangan ini! Walaupun itu pada Nyonya Disha sekalipun. Tapi kamu harus memberitahu orang tua mu bahwa saya akan melamar kamu,"ucap Riky.
"La.. lalu saya bilang apa jika ditanya sama teman satu divisi saya kenapa bapak memanggil saya ke ruangan bapak?"tanya Yessie masih menundukkan kepalanya.
"Katakan ada sedikit kesalahan dalam pekerjaan kamu tapi sudah selesai kamu perbaiki di sini,"ucap Riky.
"Baik, Pak,"ucap Yessie.
"Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan kamu,"ucap Riky.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi," ucap Yessie.
"Silahkan!"sahut Riky.
"Akhirnya..lamaran ku diterima juga. Sekarang aku tinggal menghubungi ibu dan ayah untuk menyiapkan semua keperluan lamaran untuk nanti malam. Tuan muda, saya akan menagih janji Tuan,"gumam Riky setelah Yessie keluar dari ruangannya.
Sedangkan Yessie keluar dari ruangan Riky dengan perasaan yang tidak dapat diungkapkan. Shock, senang, dan rasanya masih tidak percaya dengan yang terjadi barusan. Tangannya sampai berkeringat dingin karenanya.
Yessie berjalan dengan langkah ringan kembali ke ruangannya. Senyum yang berusaha di sembunyikan namun nampak jelas kebahagiaan di wajah dan matanya.
"Yes, gimana? Kenapa kamu di panggil ke ruangan Pak Riky? Apa kamu melakukan kesalahan?"tanya Icha saat Yessie baru saja menapakkan kakinya di divisi keuangan.
"Iya, ada sedikit kesalahan. Tapi tadi sudah aku perbaiki di ruangan Pak Riky,"
dusta Yessie sesuai permintaan Riky.
"Syukurlah. Aku sudah merasa lega sekarang. Ya sudah, kembalilah ke meja kerjamu!"titah Icha.
"Iya,"sahut Yessie kemudian kembali ke meja kerjanya dan mengerjakan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda dengan hati yang berbunga-bunga.
Malam harinya.
"Sayang, Trisha tadi datang ke kantor lagi. Bahkan dia maksa ikut aku dan Riky makan siang sama klien,"adu Alva sambil memeluk Disha dari samping, meletakkan dagunya di pundak Disha, sedangkan Kaivan masih menyusu dalam dekapan Disha.
Karena melihat Kaivan sedang asyik mengenyot bulatan kenyal favoritnya, Alva jadi susah payah menelan salivanya.
"Pasti kamu senang ditemani gadis muda dan cantik,"sindir Disha.
"Aku hanya bahagia bila bersamamu, sayang,"sahut Alva," Oh ya, dia mengundang kita ke acara ulang tahunnya, di resort milik kita,"sambung Alva.
__ADS_1
"Yang di undang kan kamu , bukan aku,"sahut Disha ketus.
"Dia ingin aku mengajak keluarga dan temanku supaya pesta ulang tahunnya ramai, sayang. Dan aku tidak akan datang jika kamu tidak ikut,"sahut Alva.
"Tok..Tok..Tok.."suara ketukan pintu menghentikan percakapan suami istri itu. Alva pun membuka pintu dan mendapati Bik Inah di depan pintu.
"Tuan, ada Tuan Riky di bawah,"ucap Bik Inah sebelum Alva bertanya.
"Iya Bik, makasih. Saya akan segera turun,"ucap Alva.
"Baik, Tuan,"sahut Bik Inah kemudian meninggalkan tempat itu.
"Sayang, aku menemui Riky dulu, ya?!" pamit Alva.
"Iya,"sahut Disha dan Alva pun segera ke ruang tamu.
"Ada apa, Rik? Kok kamu rapi banget, mau kemana?"tanya Alva ketika sudah berada di ruang tamu, melihat Riky yang berpakaian rapi.
"Tuan, Tuan dan Nyonya harus ikut saya sekarang. Saya punya kejutan besar buat Tuan,"sahut Riky menanggapi pertanyaan Alva.
"Kejutan? Kejutan apa?"tanya Alva yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong itu.
"Jika saya katakan, namanya bukan kejutan, Tuan. Sudah, cepat! Tuan dan Nyonya harus segera bersiap-siap. Jika kemalaman, kejutannya bisa batal Tuan. Sebelum pukul delapan malam kita harus sudah sampai di tempat kejutan,"ujar Riky mendorong tubuh Alva agar segera bersiap-siap seraya melirik jam di dinding.
"Kejutan apa sich? Aku jadi sangat penasaran!"ujar Alva.
"Mangkanya Tuan cepat-cepat bersiap -siap, pakai baju yang bagus, jangan bikin malu saya,"ujar Riky dan karena penasaran akhirnya Alva pun bergegas kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Sayang, minta tolong Bik Inah untuk menjaga Kaivan. Kita harus segera pergi," ucap Alva seraya membuka lemari, memilih baju untuk dirinya dan juga untuk Disha.
"Pergi? Pergi kemana, sayang?"tanya Disha bingung masih memangku Kaivan yang sudah selesai menyusu.
"Riky mengatakan akan memberi kejutan untuk kita, dan kejutannya tidak akan jadi jika lebih dari jam delapan,"jelas Alva.
"Kejutan apa sich? Aneh sekali!"gumam Disha.
...🌟"Tidak semua orang bisa bersikap romantis, dan tidak semua orang bisa mengungkapkan cinta lewat kata-kata. Tapi yang penting adalah bagaimana caranya memperlakukan orang yang dicintainya."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued