Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
166. Pesta Pernikahan


__ADS_3

Akhirnya hari itu datang juga, hari dimana Riky dan Yessie mengikat janji suci dalam ikatan pernikahan. Sepasang pengantin itu memancarkan aura kebahagiaan yang begitu jelas terlihat oleh seluruh tamu undangan dan juga keluarga yang hadir saat keduanya bersanding di pelaminan.


Para tamu undangan nampak menikmati pesta meriah yang diadakan di ballroom sebuah hotel yang terbaik di kota itu. Para tamu datang silih berganti untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


"Selamat menempuh hidup baru, Pak!"ucap Icha mengulurkan tangannya pada Riky.


"Terimakasih!"sahut Riky menjabat tangan Icha, kemudian Icha beralih pada Yessie.


"Selamat menempuh hidup baru ya, Yes! Moga langgeng!"ucap Icha kemudian memeluk Yessie.


"Makasih, Cha!"ucap Yessie tersenyum bahagia.


"Kapan nyusul?"tanya Yessie menggoda.


"Ntar, aku cari dulu di sini. Sepertinya disini rata-rata pada punya pribadi dech!" jawab Icha sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh tamu yang hadir yang kebanyakan dari kalangan pebisnis.


"Dasar!"gumam Yessie tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya itu.


"Eh, btw dimana Disha, ya? Kok aku nggak ngeliat dia,"ujar Icha masih mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi belum menemukan Disha.


"Disha belum datang. Kalau Disha sudah datang, jangan kan para perempuan yang ada di ruangan ini, aku yang jadi pengantin aja nggak bakal dilirik orang," sahut Yessie kemudian terkekeh.


"Iya..ya. Kamu benar, Yes. Kalau dia sudah datang, semua perhatian akan tertuju kepadanya,"ucap Icha membetulkan,"Ya udah, aku mau cari mangsa dulu, siapa tahu dapat cogan yang punya pribadi luar biasa,"ujar Icha kemudian membaur dengan tamu undangan yang lain, sedangkan Yessie hanya geleng-geleng kepala mendengar apa yang dikatakan oleh sahabat nya itu.


"Kalau kamu capek bilang, ya? Soalnya acara ini nanti bakalan lama,"bisik Riky di telinga Yessie, membuat bulu kuduk Yessie berdiri. Sebelumnya, selain ayahnya, belum ada pria yang berinteraksi sedekat ini dengan nya.


Riky yang tidak mendapat jawaban dari Yessie pun menatap wajah istrinya yang baru beberapa jam dia nikahnya itu.


"Yes!"panggil Riky seraya memegangi tangan Yessie untuk pertama kalinya.


"A..iya, kak?!"sahut Yessie yang terkejut.


"Kamu melamun?"tanya Riky menyelidik.


"Ti.. tidak, kak,"sahut Yessie gugup karena Riky begitu dekat dengan nya.


"Kalau ada apa-apa atau merasa tidak nyaman katakan saja padaku, oke?!"


"Hemm,"sahut Yessie mengangguk.Entah kenapa lidah nya menjadi Kelu jika berbicara dengan Riky.


Satu persatu tamu undangan pun bergiliran mengucapkan selamat pada Riky dan Yessie hingga tibalah giliran Bramantyo dan Ratih.


"Selamat ya, Rik!"ucap Bramantyo seraya menepuk pundak Riky.


"Terimakasih, Tuan besar,"ucap Riky tersenyum.


"Selamat ya, Yes. Semoga cepat dikaruniai momongan!,"ucap Ratih pada Yessie.

__ADS_1


Terimakasih, Nyonya,"sahut Yessie.


"Tuan, kenapa Tuan Muda belum datang?" Riky memberanikan diri untuk bertanya pada Bramantyo.


"Tadi Kaivan agak rewel, badannya panas karena mau tumbuh gigi. Tapi kamu jangan khawatir, mereka pasti akan datang,"sahut Bramantyo.


"Oh, pantesan,'sahut Riky.


Tidak lama kemudian, orang yang dibicarakan pun datang. Semua mata pun tertuju pada sepasang suami-isteri itu. Alva dengan posesif merangkul pinggang ramping Disha. Seperti biasa, Alva selalu memilihkan gaun yang tertutup untuk istrinya. Gaun tertutup yang dipakai Disha begitu cantik saat melekat di tubuh Disha.


Wajah Disha yang cantik alami semakin bersinar saat mendapatkan sentuhan makeup. Makeup tipis yang terkesan natural namun membuat Disha terlihat semakin cantik dan mempesona dengan paduan gaun pilihan Alva dan kalung berliontin berlian berbentuk bunga teratai yang melingkar di leher jenjangnya.


Alva dan Disha menyalami semua orang yang menyapa mereka, kemudian sepasang suami istri itu menghampiri raja dan ratu sehari malam itu.


Selamat ya, Rik, Yes!"ucap Disha.


"Terimakasih, Nyonya!"ucap Riky.


"Terimakasih, Dis,"sahut Yessie.


"Selamat ya, Rik!"ucap Alva,"Aku rasa kamu bakal gagal belah duren malam ini,"bisik Alva ditelinga Riky sedangkan Disha asyik mengobrol dengan Yessie.


"Mana mungkin?! Itu tidak akan terjadi. Kami menikah atas dasar suka sama suka, bukan karena digerebek warga,"balas Riky.


"Ish..aku sumpahi malam pertamamu gagal karena suka meledekku. Biar kamu tahu gimana rasanya sudah on fire tapi nggak bisa perang,"gerutu Alva yang masih bisa di dengar Riky


Setelah sedikit mengobrol dengan kedua pengantin, Alva dan Disha pun berbaur dengan tamu undangan yang lan, Anjani dan Sandy pun menghampiri kedua nya.


"Apa kabar Tuan Alva, Nyonya?"sapa Sandy dengan Anjani yang bergelayut di lengan Sandy.


"Ach, baik Tuan Sandy. Saya senang sekali karena sekarang anda yang menjadi pemimpin HD Group,"ucap Alva jujur.


"Bilang saja kamu tidak suka bertemu mantan pacar Disha,"ucap Anjani kemudian terkekeh.


"Sayang..!! Jangan bicara seperti itu!"ucap Sandy memperingati tapi dengan nada suara yang lembut.


"Tidak apa-apa, Tuan. Yang dikatakan Anjani itu benar, saya memang malas bertemu dengan nya,"sahut Alva yang masih setia melingkarkan tangannya di pinggang Disha.


"Ngomong-ngomong kalian ini seumuran, kenapa harus formal sekali seperti ini sich, kak?! Apa tidak sebaiknya kita bicara tanpa embel-embel Tuan dan Nyonya," cetus Anjani.


"Aku rasa yang dikatakan Anjani itu benar. Biar kita bisa lebih akrab,"timpal Disha.


"Sepertinya ide yang bagus,"sahut Alva.


"Sepertinya memang lebih baik begitu," timpal Sandy tersenyum.


"Oh ya, Dis. Aku minta maaf jika aku dulu telah banyak menyakiti hati mu. Sekarang aku mengerti, kita tidak akan bahagia jika memaksakan cinta,"ucap Anjani.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan kamu, kok. Sekarang kita buka lembaran baru.Kita bisa berteman,kan?"tanya Disha.


"Tentu saja. Aku senang sekali jika kita bisa berteman,"jawab Anjani nampak antusias.


"San, gimana jika kita bergabung dengan mereka,"ucap Alva menunjuk ke arah beberapa pebisnis yang sedang mengobrol.


"Oke,"sahut Sandy.


"Sayang, apa kamu tidak apa-apa jika aku tinggal dengan Anjani? Aku dan Sandy ingin berbincang dengan beberapa rekan bisnis kami,"ucap Alva.


"Tidak apa-apa, sayang,"sahut Disha kemudian Alva mengecupi bibir Disha sekilas dan meninggalkan Disha.


"Aku tinggal dulu, ya?!"pamit Sandy pada Anjani.


"Iya, kak,"sahut Anjani tersenyum manis pada Sandy. Sandy tersenyum mengelus kepala Anjani kemudian mengikuti Alva.


"Dari pancaran wajah mu, aku melihat kamu sekarang sangat bahagia,"cetus Disha setelah Alva dan Sandy pergi.


"Ah iya. Aku sangat bahagia bisa hidup bersama kak Sandy. Dia sangat perhatian dan selalu bersikap lembut padaku,"ujar Anjani dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya saat membicarakan Sandy.


"Aku senang mendengarnya,"ucap Disha yang melihat pancaran kebahagiaan di wajah Anjani. Menurut Disha, Anjani yang sekarang sangat berbeda dengan Anjani yang dulu. Tidak ada lagi keangkuhan di wajahnya, berganti dengan aura lembut yang penuh kebahagiaan.


"Bagaimana kabar putramu?"tanya Disha.


"Kemarin dia sempat sakit, tapi sekarang sudah sehat,"jawab Anjani kemudian keduanya pun mengobrol tentang putra mereka dan seputar cara mengasuh bayi.


'Brugh"


"Auh.!"terdengar seseorang mengaduh di belakang Disha membuat Disha dan Anjani menoleh ke arah sumber suara.


"Mama tidak apa-apa?"ucap seorang pria paruh baya membantu istrinya bangun.


"Maaf Nyonya, saya tidak sengaja. Maafkan saya Nyonya,"ucap seorang pelayan nampak ketakutan ikut membantu wanita yang tidak sengaja ditabrak nya.


"Tidak apa-apa. Kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu,"ucap wanita paruh baya itu.


"Terimakasih, Nyonya!"ucap pelayanan itu merasa lega.


"Tante apa kabar?"tanya Disha pada wanita paruh baya itu.


"Disha?! Kabar Tante baik. Kamu makin cantik saja,"ucap wanita paruh baya itu menatap wajah Disha.


"Ah, biasa saja Tante,"sahut Disha.


Tatapan wanita itu kemudian tertuju pada kalung yang dikenakan oleh Disha.


"Pa..kalung itu..."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2