
"Jadi, kita akan melenyapkan Tuan Alva?"
"Iya, aku ingin melenyapkan nya. Aku sudah beberapa kali mencoba mendekatinya, tapi dia selalu menghindar. Bahkan kita juga sudah mengirimkan beberapa orang perempuan untuk menggodanya, selama kita di sini.Tapi hasilnya nihil. Dia membangun benteng yang tinggi untuk menjaga dirinya dan menutup diri dari perempuan lain. Dia sepertinya sangat mencintai wanita itu. Aku tidak mau keberadaan kita di sini beberapa hari ini menjadi sia-sia,"ujar Dita seraya memutar-mutar kursinya.
"Dari informasi yang saya dapatkan, Tuan Alva memang sangat mencintai istrinya. Dia bahkan memberikan seluruh aset pribadinya pada istrinya agar Tuan Bramantyo menerima istrinya sebagai menantu keluarga Bramantyo. Hal itu karena Tuan Bramantyo tidak menyukai wanita yang berasal dari kalangan menengah ke bawah seperti yang anda katakan dulu,"
"Tuan Alva menjadikan istrinya pemegang saham terbesar di Bramantyo Group, hingga Tuan Bramantyo tidak berkutik untuk menyingkirkan wanita itu dari Tuan Alva. Tuan Alva bahkan menyembunyikan istrinya selama hampir dua tahun dan baru mengakui wanita itu didepan umum setelah wanita itu melahirkan putra pertamanya,"jelas sang sekretaris.
"Wow....sebegitu besarnya dia mencintai wanita itu? Seharusnya kemarin aku menghancurkan wanita itu saja. Jika wanita itu hancur, Alva pasti akan sangat menderita. Ach.!! Sudahlah! Sekarang aku tidak mau ambil pusing lagi soal itu, kita susun saja rencana untuk melenyapkan Alva sekarang. Aku sudah tidak sabar mendengar berita kematian nya dan melihat Bramantyo yang sombong itu merasakan bagaimana pedihnya luka karena kehilangan orang yang dia sayangi,"ujar Dita dengan seringai jahat.
"Saya mendapatkan info, Tuan Alva sore ini akan pulang,"ujar sekretaris itu.
"Ini kesempatan yang bagus untuk kita. Kita harus melenyapkannya sore ini juga,"
"Apa rencana anda?"tanya sang sekretaris.
Dita pun mengatakan pada sekretarisnya tentang rencana apa yang disusunnya untuk melenyapkan Alva.
"Laksanakan dengan cepat, waktu kita tidak banyak lagi,"ucap Dita dengan tatapan serius pada sekretarisnya.
"Oke, saya akan mempersiapkan segalanya, dan melaksanakan nya pada waktu yang tepat,"ucap sang sekretaris tersenyum smirk setelah mendengar rencana yang telah di susun oleh Dita.
***
__ADS_1
Sudah seminggu Alva pergi ke luar negeri, dan selama itu pula Disha dan Alva sama sekali tidak berkomunikasi. Semenjak Alva tidur di ruang kerjanya, bahkan berangkat tanpa mau mendekati dirinya, Disha jadi merasa ragu dan canggung untuk menghubungi Alva lebih dulu. Demikian pula dengan Alva. Alva juga merasa ragu dan canggung untuk menghubungi Disha lebih dulu, karena waktu dirinya berpamitan, Disha bahkan tidak menoleh kepadanya.
Disha nampak bahagia setelah tadi mendengar bahwa suaminya akan pulang malam ini.Sudah sepuluh hari Disha tidur tanpa pelukan hangat dari suaminya, membuat Disha sering terbangun di tengah malam. Biasanya Disha akan terlelap sampai pagi jika tidur dalam dekapan Alva, namun sepuluh hari ini, Disha tidur tanpa merasakan hangatnya pelukan dari Alva.
Saat Bramantyo dan Kaivan berenang, Disha bergegas pergi ke spa untuk memanjakan dirinya. Disha ingin tubuhnya wangi dan fresh saat suaminya pulang nanti. Tidak dapat di pungkiri, Disha sangat merindukan suaminya itu. Saat Alva pulang nanti, Disha bermaksud untuk mengakhiri hukuman untuk suaminya itu.
Nyatanya Disha juga merasa tersiksa dengan hukuman yang dia berikan pada suaminya. Selain itu, Disha juga memikirkan apa yang dikatakan oleh Bik Inah. Disha takut Alva mencari kepuasan di luar sana untuk memenuhi kebutuhan biologisnya karena dirinya yang tidak mau disentuh sama sekali oleh Alva. Disha baru menyadari, hukuman yang dia berikan pada suaminya itu secara tidak langsung telah membuka celah bagi orang ketiga untuk masuk dalam rumah tangga mereka.Karena itu, setelah Alva pulang nanti, Disha ingin memperbaiki hubungan mereka.
Disha rindu dimanjakan dan bermanja- manja pada suaminya. Nyatanya hal-hal kecil yang dilakukan oleh Alva padanya itu sangat dirindukannya. Alva selalu membuatkannya susu, membantu mengeringkan rambutnya, mengelus kepalanya saat akan tidur, merapikan anak rambutnya, memeluk dan menciumnya sekilas di bibir atau di pipinya. Perhatian-perhatian dan sentuhan-sentuhan kecil itu nyatanya membuat Disha merindukan Alva.
Saat Disha belum pulang dari spa, Bramantyo dan Ratih tampak duduk santai di ruangan keluarga, bermain bersama dengan Kaivan. Bik Inah pun ada di sana seraya menonton televisi yang ada di ruangan keluarga itu. Namun tiba-tiba Bramantyo, Ratih dan Bik Inah menjadi tegang saat mendengar berita di televisi itu.
"Breaking news. Telah terjadi sebuah musibah kecelakaan pesawat udara yang terbang dari bandara xx dengan tujuan negara xxx. Pesawat Sukha Air yang mengangkut penumpang itu take off dari bandara xx pukul 5 sore. Pesawat Sukha Air meledak dan jatuh di laut xxx pukul 7 malam. Sampai saat ini belum diketahui pasti apa penyebab meledak dan jatuhnya pesawat Sukha Air. Sampai berita ini diturunkan, tim SAR pun telah dikerahkan ke lokasi jatuhnya pesawat untuk mencari korban dari kecelakaan pesawat udara tersebut," itulah berita yang membuat ketiga orang itu shock.
"Pa, Alva... Alva naik pesawat itu, pa!"ucap Ratih terbata-bata langsung berderai air mata, menangis histeris,"Pa, tidak terjadi apa-apa kan pada anak kita? Dia baik-baik saja kan, pa?!Telepon Alva, pa! Telepon Alva!"pekik Ratih semakin histeris.
Sebenarnya perasaan Bramantyo pun tak jauh berbeda dengan Ratih, namun Bramantyo berusaha tegar untuk menguatkan Ratih, agar bisa menjadi tempat untuk bersandar bagi Ratih.
Dengan dada yang terasa sesak, Bik Inah memangku Kaivan. Bik Inah saat ini juga sedang menangis, merasa sedih karena selama bekerja dengan Alva, majikannya itu begitu baik kepadanya. Sedangkan Kaivan nampak kebingungan dan akhirnya ikut menangis saat melihat semua orang menangis
"Pa, ma, Bik Inah, ada apa ini? Kenapa kalian semua menangis?"tanya Disha yang baru masuk ke dalam ruangan keluarga, berjalan menghampiri ke empat orang yang sedang menangis itu. Disha yang baru pulang dari spa merasa terkejut saat mendengar putranya, kedua mertuanya dan juga Bik Inah menangis semua, apalagi mama mertuanya yang nampak histeris.
Namun tidak seorang pun dari mereka menjawab pertanyaan dari Disha. Disha pun segera mengambil Kaivan dari pangkuan Bik Inah dan berusaha menenangkan putranya itu.
__ADS_1
"Ma.! Ma.! Sadar, ma!"seru Bramantyo ketika tiba-tiba Ratih pingsan dalam pelukan nya. Bramantyo pun bergegas membawa Ratih ke dalam kamar mereka, membuat Disha semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan Kaivan masih menangis dalam gendongan nya.
"Bik, katakan ada apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa kalian semua menangis?"tanya Disha seraya menggoyangkan lengan Bik Inah.
"Itu Nyonya...."ucap Bik Inah sesenggukan hingga susah untuk berkata-kata.
"Itu apa, Bik?"tanya Disha semakin penasaran.
"Pesawat.... pesawat yang ditumpangi... yang ditumpangi oleh Tuan Muda... Pesawat nya meledak dan jatuh ke laut, Nyonya,"ucap Bik Inah terbata-bata dengan air mata berlinang kembali menangis.
"Degh"seolah jantung Disha berhenti berdetak mendengar apa yang di katakan oleh Bik Inah.
"A...apa kata bibi? Pesawat.. pesawat yang ditumpangi oleh Alva me...meledak? Tidak...itu tidak mungkin! Bibi pasti bohong kan? Itu tidak benar kan?"tanya Disha yang sekarang sedang memangku Kaivan dan memeluk Kaivan dengan tangan kirinya. Disha menggoyang goyangkan bahu Bik Inah dengan tangan kanannya, berharap apa yang baru saja dikatakan Bik Inah itu tidak benar.
Disha berjalan cepat menuju kamarnya dengan menggendong Kaivan yang masih menangis. Dengan air mata yang berlinang, Disha menyusui Kaivan untuk menenangkan bayi itu.
...π"Jika ada masalah, segeralah selesaikan....
...Jangan sampai orang yang kamu sayangi pergi untuk selamanya saat masih ada kesalah pahaman di antara kalian....
...Karena tidak akan ada kesempatan kedua untuk menjelaskannya."π...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
...πΈππΈ...
To be continued