Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
251. Bukan Orang Penting


__ADS_3

Brakk"Radeva menggebrak meja hingga semua orang di meja makan itu tersentak karena kaget.


"Cukup, Trisha! Aku sudah sangat bersabar padamu. Urusi saja urusanmu sendiri, tidak usah mengurusi keluarga kami. Kamu disini hanya menumpang pada kami. Jika kamu tidak suka dengan penghuni rumah ini, sebaiknya kamu segera angkat kaki dari rumah kami ini,"sergah Radeva menahan emosinya.


"Kak,"panggil Icha memegang lengan Radeva, agar Radeva tidak terlalu emosi.


"Aku hanya mengatakan kebenaran," sambar Trisha tanpa dosa.


"Kebenaran yang mana maksud kamu" tanya Mahendra memicingkan mata.


"Kebenaran bahwa tidak baik seorang wanita tidur dengan seorang pria yang belum menjadi suaminya,"ucap Trisha seraya melirik sinis kepada Icha, tapi yang dilirik malah terlihat tersenyum mengejek, membuat Trisha semakin benci pada Icha.


"Mereka adalah suami istri, wajar jika mereka tidur bersama. Dimana letak kesalahan mereka? Kenapa kamu mempermasalahkan nya? Tidak usah mencari keributan! Di sini, kamu hanya menumpang. Benar kata Kakak, urusi saja urusan kamu sendiri, jangan mengurusi urusan kami!" sambar Disha yang jengah dengan Trisha yang selalu memotong kata-kata orang lain.


"Apa? Suami istri? Kapan mereka menikah? Kamu jangan mengada-ada," ucap Trisha tersenyum meremehkan, menatap Disha tidak percaya.


"Siapa yang mengada-ada, mereka memang sudah menikah,"ujar Disha dengan wajah serius.


Raut wajah Trisha langsung berubah melihat keseriusan di wajah Disha,"Pa, ma, apa itu benar? Jika benar, kenapa kalian tidak memberi tahu aku?"tanya Trisha nampak kecewa.


"Kamu bukan orang penting dan juga bukan keluarga kami, untuk apa kami repot-repot memberi tahu mu,"ucap Disha dengan senyum sinis.


"Aku adalah anak angkat papa dan mama,"sergah Trisha tidak terima.


"Jadi anak angkat saja bangga,,"cibir Alva yang dari tadi diam, membuat Trisa terdiam dengan wajah geram,"Ayo, sayang, kita berangkat! Telingaku gatal mendengar kata-kata dari perempuan tidak berakhlak itu,"ajak Alva pada Disha sedangkan Trisha mengepalkan tangannya menahan amarahnya mendengar kata-kata Alva itu,"Pa, ma, kami berangkat,"pamit Alva.


"Kami juga akan berangkat, ma ,pa,"timpal Radeva tanpa memperdulikan Trisha.

__ADS_1


"Ya, berangkat lah. Sudah siang,"sahut Mahendra seraya membuang napas kasar melirik Trisha yang membuat sarapan pagi mereka tidak enak.


"Hati-hati di jalan!"pesan Ghina.


"Iya, ma,"sahut dua pasang suami istri itu bersamaan.


"Papa, mama!"panggil Kaivan berlari menghampiri kedua orang tuanya membuat Alva, Disha, Radeva dan Icha menghentikan langkahnya.


Alva langsung berjongkok merentangkan kedua tangannya dan langsung menggendong putra pertamanya itu,"Papa dan mama kerja dulu, ya? Nanti sore, kita berenang,"ucap Alva kemudian mencium kening dan kedua pipi Kaivan.


"Benarkah? Papa janji?"tanya Kaivan dengan gaya bicaranya yang lucu, nampak tersenyum cerah.


"Tentu saja. Apa papa pernah berbohong pada Kaivan?"tanya Alva seraya mengelus kepala Kaivan.


"Tidak, papa tidak pernah bohong pada, Kai,"sahut Kaivan menggelengkan kepalanya,"Kai akan tunggu papa nanti sore,"ucap Kaivan tersenyum cerah.


"Paman rindu sekali padamu, nanti sore paman akan ikut berenang dengan kalian,"ucap Radeva ikut mencium Kaivan.


"Hore! Paman juga ikut renang,"sahut Kaivan nampak senang.


"Ishh..bikin gemas aja,"ucap Icha mencubit pipi Kaivan gemas.


"Apa kalian nggak jadi berangkat?'"tanya Ghina membuat mereka tersadar jika harus berangkat ke kantor.


Disha melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya,"Sayang, kita benar-benar terlambat. Kita harus segera ke perusahaan. Satu jam lagi akan ada meeting,"ucap Disha mengingatkan.


"Sini, jagoan kakek! Biarkan mereka berangkat bekerja!"ucap Mahendra seraya mengambil Kaivan dari gendongan Alva. Akhirnya keempat orang itu pun berangkat bekerja.

__ADS_1


Sedangkan Trisha yang ditinggalkan di ruangan makan terlihat sangat kesal. Tanpa terasa air putih yang ada di dalam gelasnya sudah kosong.


"Hei, tuangkan air kedalam gelas ku!"perintah Trisha pada seorang Art dengan angkuh.


"Tidak usah diambilkan! Biarkan saja dia mengambil sendiri,"ujar wanita paruh baya yang tidak lain adalah Bik Anah, pada seorang Art yang usianya lebih muda dari Bik Anah.


"Hei.. berani sekali kamu mencegah dia melayani aku!"sergah Trisha.


"Kenapa aku tidak berani padamu? Kamu bukan majikan ku, kamu bukan siapa-siapa di rumah ini. Kamu cuma anak pungut yang tidak tahu diri, tidak tahu di untung. Sudah bagus keluarga ini mau merawat dan membesarkan kamu, malah ngelunjak minta warisan. Lagak mu sudah seperti orang yang punya rumah saja. Majikan kami saja tidak pernah bersikap kasar pada kami, kamu yang cuma numpang hidup di sini, berani-beraninya memerintahkan kami dan bersikap kasar pada kami,"ucap Bik Anah sinis.


"Kau.. berani sekali..."geram Trisa, tapi Bik Anah tidak takut sam sekali.


"Apa? Kamu pikir aku takut padamu? Dasar anak pembunuh! Benar kata pepatah, buah jatuh tidak akan jauh dari batang nya.Seperti kamu, anak orang jahat, jadi kamu juga sama jahatnya dengan orang tua mu,"ucap Bik Anah seraya menatap tajam pada Trisha.


Bik Anah sangat tidak suka sifat Trisha yang sombong dan sok berkuasa di rumah itu. Padahal Trisha hanyalah anak pungut. Belum lagi jika mengingat dirinya yang hampir saja mati karena ulah kedua orang tua Trisha yang membakar villa majikannya.


"Pembantu sialan!"geram Trisha sembari melayangkan tangannya ingin menampar Bik Anah.Namun Bik Anah langsung menangkap tangan Trisha dan menghempaskan nya.


"Jangan pikir kamu bisa menindas orang lain sesuka hati mu. Karena tidak semua orang bisa kamu tindas,"ucap Bik Anah tanpa rasa takut sama sekali.


"Kau.! Akan aku adukan kamu pada sama mama dan papa,"ancam Trisha menahan amarah dan rasa kesalnya.


"Adukan saja! Kamu pikir aku takut?"tantang Bik Anah.


"Kau!"geram Trisha.Dengan perasaan yang sangat kesal, Trisha pun meninggalkan kan kediaman Mahendra, mengendarai mobilnya ke arah butiknya.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2