
Bramantyo, Ratih dan Radeva nampak sudah duduk di kursi meja makan. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Alva pun terlihat menuruni anak tangga.
"Tuan Muda, anda sudah di tunggu di meja makan,"ucap seorang Art yang menghampiri Alva.
Alva nampak mengernyitkan keningnya saat mendengar dirinya di tunggu di meja makan, karena saat ini sudah pukul 10 lewat 20 menit, namun dia mengangguk pada Art itu lalu berjalan menuju ruangan makan.
"Al.!"pekik Ratih saat melihat Alva memasuki ruangan makan. Ratih langsung menghambur memeluk Alva.
"Akhirnya kamu pulang dengan selamat, Al,"ucap Ratih masih memeluk tubuh Alva dan dibalas pelukan hangat dari Alva.
Setelah beberapa saat, Alva merenggangkan pelukan Ratih kemudian memegang kedua bahu Ratih. Alva menunduk dan menatap wajah wanita yang sudah membesarkan nya itu.
"Mama menangis?"tanya Alva seraya mengusap air mata Ratih dengan kedua ibu jarinya.
"Kepala mu? Kepalamu terluka?"tanya Ratih memegang kepala putranya yang nampak di balut perban, tanpa menjawab pertanyaan dari Alva.
"Ach.. hanya luka sedikit, ma,"sahut Alva memegang perban yang menempel di dahi sebelah kirinya.
"Sudah, nanti saja ngobrolnya. Ayo kita makan dulu!"sela Bramantyo yang sedari tadi diam, duduk di kursi meja makan bersama Radeva. Hati Bramantyo benar-benar lega melihat putra semata wayangnya baik-baik saja.
Akhirnya mereka pun makan bersama- sama. Setelah selesai makan, Bramantyo mengajak mereka untuk duduk di sofa yang berada di ruang keluarga dan memulai obrolan.
"Jadi, bagaimana kamu bisa selamat dari kecelakaan pesawat itu, Al?"tanya Bramantyo memulai pembicaraan.
"Kecelakaan pesawat? Kecelakaan pesawat apa maksud papa?"tanya Alva nampak terlihat bingung, tanpa menjawab pertanyaan Bramantyo.
Bramantyo, Ratih dan Radeva nampak saling menatap dan merasa bingung dengan pertanyaan Alva.
"Kecelakaan pesawat yang kamu tumpangi,"sahut Radeva.
"Tapi, pesawat yang aku tumpangi tidak mengalami kecelakaan, kak,"sahut Alva menatap Radeva yang agak terkejut saat Alva memanggil nya 'kak'.
"Kamu naik pesawat pukul berapa dari negara xx?"tanya Radeva.
"Pukul 11 malam,"sahut Alva.
"Shitt!! Kenapa kamu tidak mengabari kami jika kamu memundurkan jadwal penerbangan mu kesini? Apa kamu tahu? Kami pikir kamu naik pesawat yang take off pukul lima sore yang semalam meledak di atas laut xxx. Kami mencari mu semalam dan pukul 10 tadi baru pulang karena menyangka kamu naik pesawat itu dan ikut menjadi korban kecelakaan pesawat tersebut. Tapi nyatanya kamu disini, tidur dengan nyenyak dengan adikku,"ujar Radeva yang terlihat kesal.
"Maaf, aku tidak tahu jika pesawat itu mengalami kecelakaan dan kalian dari malam sampai pagi mencari ku,"ucap Alva seraya menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu tidak mengabari kami, dan kenapa handphone mu tidak aktif?"tanya Bramantyo yang juga merasa kesal dengan sikap Alva yang membuat mereka semua panik mencari nya dari kemarin, namun juga merasa lega karena ternyata putra semata wayangnya itu baik-baik saja.
"Aku sebenarnya memang akan naik pesawat itu. Pukul 4 lewat 15 menit aku sudah berangkat dari hotel, namun saat berada di tengah perjalanan tiba-tiba handphone ku berdering......"
"Halo, Kris!"sapa Alva dalam sambungan telepon.
"Rendra, kamu sekarang ada di mana?"tanya Kristian terdengar panik.
"Aku sedang dalam perjalanan ke bandara, ada apa?"tanya Alva.
"Kamu harus berhati-hati. Dita berencana melenyapkan mu. Dia akan menabrak mobilmu dengan sebuah truk, itu yang aku dengar tadi,"ucap Kristian.
"Thanks, aku akan berhati-hati,"ucap Alva menutup sambungan telepon.
"Pak, awas! Truk itu akan menabrak kita!" pekik Alva setelah menutup sambungan telepon, saat dari tikungan didepan mereka ada truk yang tiba-tiba tancap gas dengan kecepatan tinggi mengarah pada mobil mereka.
"Cepat keluar dari mobil, Tuan!" pekik supir itu setelah membanting stir. Tanpa berpikir panjang Alva dan supir itu melompat dari dalam mobil.
"Brakk...brakk...barkk... bomm"
Mobil yang ditumpangi Alva ditabrak oleh truk itu lalu jatuh ke jurang dan tak lama kemudian meledak di dasar jurang. Alva dan supir taksi itu masih bisa bertahan di pinggir jurang. Sedangkan Truk yang menabrak mobil Alva langsung tancap gas meninggalkan lokasi itu.
"Karena itulah, kami tidak bisa mencari bantuan. Hingga pukul sepuluh malam kami baru bisa pergi dari tempat itu. Aku segera ke bandara dan ternyata ada penerbangan pukul sebelas malam ke negara ini. Aku pun pulang dengan penerbangan malam dan sampai dirumah pada dini hari,"jelas Alva panjang lebar.
"Aku tidak tahu harus berterimakasih atau marah pada perempuan yang bernama Dita itu. Karena dia telah berusaha melenyapkan mu tapi tanpa sengaja malah membuat mu tidak jadi menaiki pesawat yang kemarin malam meledak dan jatuh ke laut,"ucap Radeva menghela nafas panjang.
"Dita? Siapa dia? Kenapa dia ingin melenyapkan kamu, Al?"tanya Ratih penasaran.
"Dia teman sekolah ku yang dulu dipaksa papa untuk pergi dari kota ini. Kami bertemu beberapa waktu yang lalu karena dia ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan kita, tapi dia malah menggoda ku dan membuat Disha marah padaku,"sahut Alva membuang nafas kasar mengingat Disha menghukumnya gara-gara ulah Dita.
"Perempuan yang bertemu kita di restoran itu? Yang hampir menampar adikku?" tanya Radeva memicingkan matanya.
"Iya, dia lah orang nya,"jawab Alva.
"Lalu kenapa dia ingin melenyapkan mu? Apakah dulu dia teman spesial mu?"tanya Radeva menyelidik.
"Kami teman biasa, walaupun aku akui dia memang berusaha mendekati ku," sahut Alva.
"Karena itulah papa menjauhkan kamu darinya,"sahut Bramantyo.
__ADS_1
"Lalu apa motif perempuan itu, hingga dia berniat melenyapkan kamu, Al?"tanya Ratih.
"Aku juga tidak tahu, ma. Aku tidak merasa pernah menyakiti nya. Apa mungkin dia dendam karena diusir papa dari kota ini,"sahut Alva menatap Bramantyo.
"Papa memang mengusirnya dari kota ini, tapi papa memberikan uang yang cukup bagi mereka untuk membuka usaha baru yang lebih baik di kota lain,"sahut Bramantyo.
"Lalu kenapa dia dendam padamu?"tanya Radeva seraya mengernyitkan keningnya.
"Aku benar-benar tidak tahu. Aku akan menyuruh Ferdi untuk menyelidikinya," sahut Alva.
"Papa akan menyuruh Vicky untuk membantu Ferdi menyelidiki perempuan itu,"timpal Bramantyo.
"Lalu bagaimana dengan kecelakaan yang terjadi padamu di negara xx yang di skenario oleh perempuan itu? Apa kamu tidak ingin mengusutnya?"tanya Radeva.
"Aku tadi sudah menghubungi temanku yang bernama Kristian untuk menyelidiki tentang kecelakaan yang menimpaku kemarin. Aku yakin dia bisa aku andalkan,"ucap Alva nampak yakin.
"Bukankah kakak tadi bilang kalian belum istirahat dari semalam?"tanya Alva menatap wajah Radeva dan Bramantyo bergantian. Nampak guratan kelelahan di wajah keduanya dengan mata menghitam seperti panda. Radeva memicingkan matanya karena sudah dua kali ini Alva memanggil nya dengan sebutan kakak.
"Iya. Sebaiknya papa dan Radeva istirahat."timpal Ratih.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang, Om, Tante,"sahut Radeva seraya meraih kunci mobilnya.
"Eh, mau kemana? Kamu tidak tidur semalaman. Tidak baik jika mengendarai mobil,"cegah Bramantyo.
"Om kamu benar Dev. Sebaiknya kamu istirahat di sini saja,"sahut Ratih.
"Papa dan mama benar. Sebaiknya kakak istirahat di sini saja,"timpal Alva.
"Nah, kalau memanggil ku seperti itu kan terdengar manis. Kirain dari tadi aku salah dengar, saat mendengar mu memanggil ku kakak,"cibir Radeva.
"CK, serba salah banget punya kakak ipar seperti mu. Padahal aku baru mau berterimakasih karena kamu telah mengkhawatirkan aku dan mau bersusah payah mencari ku,"decak Alva yang kembali ketus pada Radeva.
Sebenarnya Alva merasa terenyuh mengetahui kakak iparnya itu sangat mengkhawatirkan keselamatan nya. Karena itu Alva berusaha bersikap lebih baik pada Radeva. Tapi kakak iparnya itu sepertinya suka sekali menggoda dirinya.
"Itu karena adikku sangat mencintai mu. Jika saja adikku tidak mencintai mu, sudah aku copot gelar mu sebagai adik ipar ku sejak lama,"balas Radeva dengan kalimat andalan nya.
"Sudah..! Sudah..! Kalian ini seperti Tom and Jerry saja, tidak pernah akur,"tukas Ratih melerai perdebatan dua pria itu, sedangkan Bramantyo hanya geleng- geleng kepala dan menghela nafas panjang melihat perdebatan adik ipar dan kakak ipar itu.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
To be continued