
"Trisha!!"suara bentakan itu membuat Trisha terperanjat. Suara yang sangat dikenalnya.
Trisha langsung membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya Trisha saat mendapati Mahendra dan Ghina ada di ruangan itu.
"Papa, mama! Kalian ada di sini?"tanya Trisha yang masih nampak terkejut.
Mahendra berjalan menuju sofa dan duduk di diikuti Ghina. Matanya menatap Trisha tajam membuat Trisha salah tingkah.
"Papa tidak menyangka kamu bisa mengatakan itu. Apa kamu tahu ? Menggugurkan kandungan itu sama seperti membunuh. Apa kamu ingin menjadi pembunuh?"sergah Mahendra nampak gurat kekecewaan di wajahnya. Sedangkan Trisha menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Mahendra.
"Bukankah sudah sering kami katakan padamu, tidak semua yang kita inginkan di dunia ini terwujud. Kamu boleh berusaha mewujudkan keinginan mu jika keinginan itu benar, mulia, dan tidak membuat mu menyakiti orang lain,"
"Tapi apa ini? Kamu berkeinginan memiliki seorang pria yang sudah beristri dengan menghalalkan segala cara. Kamu ingin merusak hubungan suci sepasang suami istri? Apa diluar sana tidak ada lagi pria yang masih lajang sehingga kamu harus mengejar-ngejar pria yang sudah beristri?" sergah Mahendra.
"Tapi pa, kak Alva itu memang seharusnya menikah dengan ku! Bukankah dulu mama dan Tante Ratih sudah berjanji bahwa mereka akan menjodohkan anak-anak mereka? Jadi seharusnya kak Alva itu menikah dengan ku, bukan dengan perempuan itu!"protes Trisha.
"𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙩𝙞𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙖𝙣𝙟𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠-𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙠𝙖𝙢𝙞, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙢𝙞. 𝙎𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙠𝙪, 𝙙𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙖𝙣 𝙥𝙪𝙡𝙖 𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜 𝙍𝙖𝙩𝙞𝙝,"batin Ghina sambil memijit pelipisnya.
"Tapi cinta itu tidak bisa dipaksa, Trisha! Kamu tidak akan bahagia walaupun kamu bisa menikah dengan Alva. Karena Alva hanya mencintai Disha,"cetus Radeva.
"Cinta itu datang karena terbiasa kak, jadi jika kami sudah menikah nanti, kak Alva pasti akan mencintai aku!"sergah Trisha.
"Jadi kamu ingin Alva menceraikan Disha? Begitu?"tanya Radeva sedangkan Mahendra dan Ghina membuang nafas kasar mendengar semua kata-kata Trisha.
"Iya. Jika kak Alva menceraikan perempuan itu dan menikah dengan ku, maka kakak bisa menikah dengan perempuan itu.Kita akan sama-sama bahagia. Kakak mencintai perempuan itu kan?!"ujar Trisha yang bahkan tidak sudi menyebutkan nama Disha.
"Kamu sudah gila Trisha! Walaupun kakak pernah menyukai Disha, tapi kakak tidak akan menjadi perusak rumah tangga orang,"sergah Radeva.
"Kakak jangan munafik! Selama ini kakak tidak pernah tertarik pada perempuan manapun, dan perempuan itulah satu-satunya perempuan yang membuat kakak tertarik,"cetus Trisha.
"Sudah kakak bilang, kakak tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang lain. Lagipula Alva tidak akan pernah mau mencarikan Disha. Alva sangat mencintai Disha.Kamu tahu? Bahkan Alva rela memberikan seluruh harta yang dimilikinya untuk membuktikan pada Disha jika Alva mencintai Disha. Karena apa? Karena Alva tidak ingin kehilangan Disha,"ujar Radeva.
__ADS_1
"Aku tidak perduli! Pokoknya kak Alva harus menceraikan perempuan itu dan menikah dengan ku?'cetus Trisha.
"Kenapa kamu ini keras kepala sekali sich, Trisha. Alva itu sudah menikah dan sangat mencintai istrinya. Bahkan mereka sudah memiliki seorang putra. Apa kamu tega memisahkan seorang anak yang tidak berdosa dengan salah satu orang tuanya hanya karena keegoisan mu itu?!" serah Mahendra.
"Ma, mama harus menagih janji Tante Ratih untuk menikahkan kak Alva dengan ku, ma!"pinta Trisha tanpa menghiraukan kata-kata Mahendra.
"Mama dan Tante Ratih sudah lama membatalkan janji itu, Trisha. Karena itu kami tidak menikahkan Alva dengan mu," terang Ghina.
"Mana bisa kalian membatalkan janji kalian begitu saja, ma?"protes Trisha.
"Sudahlah Trisha! Mama tidak akan pernah meminta Ratih agar Alva menceraikan istrinya. Mama tidak mau merusak kebahagiaan orang lain,"ucap Ghina kesal.
"Mama jangan memikirkan kebahagiaan orang lain! Pikirkan saja kebahagiaan ku , ma!"tukas Trisha.
"Sudah cukup Trisha! Kamu ini benar-benar keras kepala! Apa kamu merasa pantas bersanding dengan Alva hingga kamu ngotot ingin menikah dengan Alva?"ujar Mahendra.
"Tentu saja aku pantas bersanding dengan kak Alva, pa. Aku masih muda, cantik, dan dari keluarga kaya, sudah tentu bibit bebet nya. Tidak seperti perempuan itu yang hanya orang miskin,"ucap Trisha percaya diri.
"Tidak! Itu tidak benar! Aku lebih muda dan lebih cantik, dan aku juga akan lebih cerdas dari perempuan jika aku melanjutkan kuliah ku, dan semakin lama aku juga akan bertambah cantik tidak seperti perempuan itu yang sudah tua?"keukeh Trisha percaya diri.
Radeva memijit batang hidungnya mendengar kata-kata Trisha itu. Radeva sungguh tidak mengerti bagaimana cara berpikir Trisha.
"Cukup Trisha!! Papa tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mu! Papa sudah memutuskan bahwa kamu akan menikah dengan Hery!"sergah Mahendra.
"Aku tidak mau!"pekik Trisha.
"Mau tidak mau , kamu harus menikah dengan pria itu. Papa tidak memberikan pilihan padamu. Ini semua juga karena kelakuan kamu sendiri, jadi kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat,"ketus Mahendra.
"Tapi aku tidak mencintai pria brengseek itu, pa!"kilah Trisha.
"Jadi kamu tidak mau menikah dengan dia karena kamu tidak mencintai pria itu, hah?"tanya Mahendra.
__ADS_1
"Iya. Aku hanya akan menikah dengan kak Alva, karena aku hanya mencintai kak Alva,"sahut Trisha.
"Jika kamu saja tidak mau menikah dengan Hery karena kamu tidak mencintainya, lalu bagaimana dengan Alva? Dia juga tidak akan mau menikah dengan mu, karena dia hanya mencintai Disha,"ucap Mahendra.
"Kalau nanti kak Alva menikah dengan ku, lama-lama nanti dia juga akan mencintaiku, pa!"keukeh Trisha.
"Lalu kenapa kamu tidak mencobanya dengan Hery saja? Jika kamu sudah menikah dengan nya, lama-lama kamu juga akan mencintainya,"ucap Radeva membalikkan kata-kata Trisha.
"Ya itu beda lah kak! Aku tidak cocok dengan pria brengseek macam dia!" sergah Trisha.
"Apa kamu sudah merasa jadi orang yang baik? Apa kamu pikir orang yang ingin merebut suami orang itu orang yang baik? Apa kamu pikir orang yang ingin memisahkan sepasang suami-isteri yang saling mencintai itu orang baik?"
"Apa kamu pikir Alva akan meninggalkan wanita yang sangat sempurna demi kamu yang banyak kekurangan ini?Apa kamu pikir Alva akan menceraikan Disha yang sangat dia cintai untuk gadis yang sudah tidak suci lagi seperti mu?"tanya Ghina yang sejak tadi hanya diam. Kata-katanya begitu tajam menohok hingga Trisha tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sekarang kamu papa beri pilihan. Kamu menurut pada kami untuk menikah dengan Hery atau kamu tetap menolak keputusan papa ini. Namun ada satu hal yang perlu kamu ingat! Jika kamu tidak mau menuruti kata-kata kami, namamu akan papa hapus dari kartu keluarga kami,"
"Sebegitu kamu memutuskan menolak menikah dengan Hery, berarti kamu bukan keluarga kami lagi. Karena kami tidak mau nama kami tercoreng karena mempunyai anak yang hamil di luar nikah,"ujar Mahendra.
"Tapi aku belum tentu hamil, pa!"ucap Trisha masih keukeh dengan pendiriannya.
"Papa tidak perduli! Jika kamu masih ingin menjadi bagian dari keluarga kami, kamu harus menikah dengan Hery. Jika kamu tidak mau menikah dengan Hery maka detik ini pula kamu bukan lagi putri kami, bukan bagian dari keluarga kami lagi!"sergah Mahendra.
...🌟Ada saatnya kita harus keras, ada saatnya pula kita harus lembut....
...Ada waktu dimana kita harus egois untuk kebahagiaan diri kita sendiri....
...Namun ada waktunya pula kita harus berkorban untuk kebahagiaan orang yang kita cintai.🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued
__ADS_1