
Alva nampak berjalan bersama Riky ke sebuah kafe tempat mereka janjian dengan seorang klien baru.
"Dengan Tuan Radeva?"tanya Alva pada seorang pria tampan yang sedang duduk seraya memainkan handphonenya.
" Iya, anda Tuan Alvarendra?"tanya Radeva balik.
"Iya, dan ini asisten saya Riky,"sahut Alva memperkenalkan Riky. Kemudian mereka pun berjabat tangan.
"Silahkan duduk!"ucap Radeva.
"Ini proposal kami. Anda bisa membacanya lebih dulu dan bisa bertanya pada kami jika mungkin anda ingin ada beberapa perubahan dalam proposal ini, kita bisa membicarakannya," jelas Alva.
"Baiklah, saya akan membacanya lebih dulu,"ucap Radeva sedang Alva dan Riky langsung memesan minuman.
Setelah beberapa saat membaca proposal yang diberikan Alva, akhirnya Radeva menutup proposal itu.
"Bagaimana apa anda ingin ada perubahan dalam proposal kami?"tanya Alva seraya memegang minuman yang sudah diantarkan pelayan.
"Saya merasa sudah puas dengan proposal ini. Saya pikir tidak ada yang perlu dirubah. Saya menyukainya,"ucap Radeva tersenyum ramah.
"Terimakasih, kalau begitu kita akan bahas kerjasamanya,"ucap Alva.
Saat Radeva menunduk ingin meraih gelas minuman nya, tanpa sengaja Radeva melihat cincin kawin yang melingkar di jari manis Alva.
"Anda sudah menikah ?"entah mengapa pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Radeva.
"Iya,"sahut Alva singkat.
"Ah.. maaf, tidak seharusnya saya bertanya soal pribadi. Saya tidak sengaja melihat cincin kawin yang melingkar di jari manis anda dan tanpa sengaja bertanya,"ucap Radeva tak enak hati.
"Tidak apa-apa. Saya memang sudah menikah bahkan sudah dikaruniai seorang putra,"ucap Alva nampak tidak tersinggung dengan pertanyaan Radeva.
"Oh.. beruntung sekali anda. Padahal menurut saya usia anda masih dibawah saya,"ucap Radeva.
"Usia saya sudah 30 tahun. Dan saya memang merasa sangat beruntung bisa mempersunting istri saya dan dikaruniai seorang putra yang sekarang ini sedang aktif bergerak karena sudah bisa merangkak dan berdiri dengan cara berpegangan,"ujar Alva dengan raut wajah yang nampak bahagia.
"Saya sudah berumur 31 tahun tapi belum juga mendapatkan jodoh,"ucap Radeva tertawa, menertawakan dirinya sendiri.
"Nanti kalau sudah waktunya juga ketemu,"ucap Alva.
"Iya, anda benar,"ucapan Radeva kemudian meneguk minumannya dan mengingat pertemuannya dengan Disha yang membuatnya tersenyum tipis.
Akhirnya mereka pun membahas kerjasama yang akan mereka jalin. Setelah satu jam mereka berdiskusi dan mengobrol, akhirnya mereka menyudahi pembicaraan mereka.
"Terimakasih atas waktunya, ternyata anda orang yang menyenangkan. Jika saja anda masih singgel, saya pasti akan menjodohkan anda dengan adik saya,"ucap Radeva seraya tersenyum.
__ADS_1
"Kami juga senang bertemu dengan, anda. Anda juga orang yang menyenangkan,"balas Alva.
Akhirnya mereka pun keluar dari kafe itu. Alva dan Riky pun langsung melaju kembali ke Bramantyo Group.
Di Bramantyo Group.
Alva melihat ke arah meja kerja Disha yang nampak kosong hingga membuat Alva bertanya-tanya di mana istrinya berada.Disha yang sedang berada di pantry dihampiri teman kerjanya.
"Dis, PakSu kamu udah balik tuch! "ucap seorang karyawan yang baru masuk pantry.
"Benarkah?"tanya Disha serius.
"Iya benar, jika tidak percaya lihat aja sendiri,"ucap karyawan itu serius.
Disha pun keluar dari pantry dan berjalan menuju ruangan Alva. Disha mengetuk pintu kemudian masuk ke ruangan suaminya.
Di meja resepsionis Bramantyo Group.
"Saya ingin bertemu dengan kak Alva,"ucap seorang gadis cantik yang tidak lain adalah Trisha.
"Apa anda sudah membuat janji?"tanya sang resepsionis sopan.
"Emm...katakan saja saya Trisha, anak teman Nyonya Ratih,"ucap Trisha.
"Sebentar saya tanya dulu,"ucap resepsionis itu kemudian menghubungi Disha lewat panggilan interkom, tetapi tidak diangkat.
"Iya. Dan klien kita suka dengan proposal yang kalian buat,"ucap Alva.
"Syukurlah,"ucap Disha.
Pembicaraan Disha dan Alva terhenti saat terdengar panggilan interkom di meja Alva berbunyi.
"Halo!"sahut Alva.
"Maaf Pak, saya mengangkat panggilan di meja Bu Disha. Di bawah ada seorang gadis bernama Trisha yang katanya anak teman Nyonya Ratih. Dia ingin bertemu dengan anda,"ucap seorang karyawan yang mengangkat panggilan interkom di meja Disha karena terus berdering.
"Baiklah, suruh saja masuk!"ucap Alva kemudian menghela nafas kasar.
"Kenapa?"tanya Disha yang melihat Alva membuang nafas kasar.
"Gadis yang bersama mama kemarin ingin bertemu,"ucap Alva.
"Ohh..!"sahut Disha.
"Sayang, tolong pindahkan berkas-berkas ini ke lemari,"ucap Alva menunjukkan setumpuk berkas pada Disha.
__ADS_1
"Iya,"sahut Disha kemudian mulai menyusun berkas yang di maksud Alva, sedangkan Alva nampak mulai fokus dengan laptopnya.
"Tok.!! Tok.!! Tok.!!"
"Masuk!"sahut Alva.
"Selamat siang, kak!"ucap Trisha sepintas menatap Disha yang menghadap ke lemari, berdiri membelakangi pintu, menyusun kan berkas-berkas.
"𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮?"batin Trisha.
"Selamat siang. Silahkan duduk!"ucap Alva memberi isyarat dengan tangannya agar Trisha duduk di kursi di depan meja Alva," Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Alva setelah gadis itu duduk.
"Emm...begini kak, aku ingin menyewa resort kakak untuk mengadakan acara ulang tahun, apa bisa?"tanya Trisha dengan wajah ceria.
"Soal itu, kamu bisa menghubungi orang yang saya tugaskan untuk mengurus resort itu,"ucap Alva kemudian menulis nomor telepon di selembar kertas kecil.
"Ini nomer yang bisa kamu hubungi,"ucap Alva seraya menyodorkan kertas itu pada Trisha.
"Trisha pun menerima kertas itu dengan tersenyum manis.
"Tok.!! Tok.!! Tok.!!"pintu kembali di ketuk.
"Masuk!"ucap Alva dan Riky pun muncul dari balik pintu.
"Ada apa Rik?"tanya Alva menatap Riky.
"Ada yang ingin saya diskusikan dengan anda dan Nyonya Disha, Tuan,"ucap Riky yang membuat Disha yang sedari tadi menghadap lemari membalikkan badannya.
"𝐃𝐢𝐚 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐮 𝐝𝐢 𝐭𝐨𝐢𝐥𝐞𝐭 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐢𝐭𝐮,"batin Trisha setelah Disha membalikkan tubuhnya.
"Apa ada masalah?"tanya Alva.
"Tidak Tuan, tapi kalau bisa, hal ini kita bahas sekarang agar besok pagi kita tidak terburu-buru menyiapkannya dan lebih fokus pada pekerjaan kita besok"ucap Riky.
"Maaf, apa kamu masih ada keperluan lain?"tanya Alva menatap ke arah Trisha.
"Oh, tidak. Kalau begitu aku pamit, kak! Terimakasih!"ucap Trisha yang merasa tidak enak karena Alva nampak sibuk.
"Sama-sama,"ucap Alva sambil mengangguk kecil.
Trisha pun keluar dari ruangan itu dengan wajah kecewa karena tidak bisa mengobrol dengan Alva. Sedangkan Alva, Disha dan Riky pun sudah mulai fokus dengan rencana yang sudah mulai mereka bahas.
"𝐇𝐮𝐟𝐟..𝐝𝐢𝐚 𝐬𝐢𝐛𝐮𝐤 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢.𝐁𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐜𝐚𝐫𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐝𝐞𝐤𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚?"batin Trisha sambil berjalan menuju lift.
𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙡𝙞𝙠𝙚, 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣,𝙜𝙞𝙛𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙫𝙤𝙩𝙚 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙧𝙚𝙖𝙙𝙚𝙧𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣. 𝘿𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙡𝙞𝙨.🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
To be continued