Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
165. Tahan Dulu!


__ADS_3

"Sayang, ini berkas yang kamu minta," ucap Disha seraya meletakkan berkas yang di bawanya di atas meja Alva.


"Hem,"sahut Alva kemudian meraih berkas itu.


"Sayang, undangan siapa itu?"tanya Disha mendekati Alva dan berdiri di samping Alva. Disha kemudian mengambil undangan yang tergeletak di atas meja Alva.


"Undangan milik Riky, sayang!"ucap Alva seraya membaca berkas yang dibawa Disha.


"Undangan pernikahan nya bagus. Sudah mulai disebar, ya?"tanya Disha kemudian meletakkan kembali undangan itu di atas meja Alva setelah melihatnya dan membacanya.


"Iya, sayang! Tinggal beberapa hari lagi Riky akan menikah. Nanti akan banyak tamu undangan yang akan hadir di pesta pernikahan itu. Aku sudah memesan gaun yang paling indah, khusus untuk belahan jiwaku yang secantik bidadari ini,"ucap Alva memeluk pinggang Disha yang masih berdiri di sampingnya.


"Gombal!!'ketus Disha tapi bibirnya mengulum senyum.


"Tapi suka kan, digombali suamimu yang tampan ini?!"goda Alva tiba-tiba menarik pinggang Disha yang sedang berada di sampingnya hingga Disha terduduk di pangkuan nya.


"Ih.. narsis!!"cibir Disha.


"Kenyataan, sayang!"ucap Alva menatap wajah istrinya dengan senyuman yang manis.


"Aku harap dalam pesta pernikahan Riky nanti, ada salah satu orang yang mengenali kalung kamu, sayang. Aku sudah menyuruh Ferdi menyelidiki kalung itu ke pengerajin batu permata di beberapa negara, tapi Ferdi belum mengetahui siapa yang membuat liontin kalung mu itu, sayang,"


"Mungkin karena kalung itu sudah sangat lama, jadi mungkin saja orang yang membuatnya sudah meninggal. Karena tidak sembarangan orang bisa mengerjakan pesanan batu permata seperti itu, apalagi berlian milikmu itu sangat langka,"ujar Alva.


"Iya, semoga saja para pebisnis yang hadir dalam pesta pernikahan Riky ada yang mengenali kalung ku,"sahut Disha.


"Suatu saat kita pasti akan menemukan siapa orang tua kandung mu, sayang!"ucap Alva kemudian mengecup bibir Disha sekilas.


"Walaupun akhirnya tidak ketemu pun aku sudah ikhlas, sayang. Aku sudah cukup bahagia memilikimu dan juga Kaivan. Mama sangat menyayangi aku, dan papa juga sudah menerima ku. Itu semua sudah cukup membuat ku bahagia,"ujar Disha.


"Maaf karena dulu aku tidak memberikan pernikahan yang layak untuk mu,"ucap Alva memegang pipi Disha dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih setia memeluk pinggang Disha yang ramping.


"Sayang, sudah lah! Aku tidak ingin mengungkit soal itu. Aku juga nggak apa-apa, kok. Lagian pernikahan kita itu unik, loh!"ucap Disha yang malah tertawa.


"Ish .kamu ini! Kamu tahu?! Waktu itu dadaku rasanya mau berhenti berdetak melihat mu yang keluar dari kamar mandi dengan wajah mu yang tanpa makeup, tapi begitu cantik dimata ku. Banyak wanita yang mendekati ku, tapi tidak satu pun dari mereka bisa membuat hatiku gelisah selain kamu,"

__ADS_1


"Bahkan aku bisa mengatakan jika banyak wanita yang mendekati aku terlihat berpakaian tapi seperti telan jang. Anehnya tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuat keris pusaka ku berdiri.Namun entah mengapa hanya dengan mu keris ku ini selalu berdiri. Dia akan tetap berdiri jika belum masuk sarungnya,"unar Alva seraya menaik turunkan sebelah alisnya.


"Ish..apaan sich? Suka banget dech, membahas yang begituan,"tukas Disha memukul dada suaminya pelan.


"Ish..kamu ini,"ucap Alva seraya mencubit pipi Disha.


"Sayang, sekali kali makanan siang lah bersama ku,"ucap Alva mengalihkan pembicaraan.


"Sayang, aku sarapan dan makan malam selalu bersama mu. 24 jam selalu ada di sekitar mu, berikan aku waktu untuk bersama teman-teman ku,"ujar Disha melingkarkan tangan kanannya di leher Alva sedangkan tangan kirinya mengelus rahang kokoh suaminya.


"Kamu hanya mencari alasan untuk memakan makanan tidak sehat di kantin perusahaan, kan!"ucap Alva memegang tangan Disha yang sedang.mengelus rahangnya kemudian mengecup telapak tangan Disha lembut.


"Issh.. tidak setiap aku makan di kantin aku memesan makanan yang tidak sehat menurut mu itu,"ucap Disha mencebik.


"Kamu tidak bisa membohongi suamimu ini. Kamu baru'saja makan bakso pedas kesukaan mu itu, kan?!"cetus Alva yang mengetahuinya dari aroma bakso yang menempelkan di pakaian Disha.


"Oh, ayolah, sayang! Biarkan aku mengkonsumsi apapun yang aku suka asal aku tetap bisa menjaga kesehatan ku,"pinta Disha,"Atau kamu merasa aku sudah tidak seseksi dulu lagi, dan kamu jadi tidak tertarik lagi melihat tubuhku ini?"tuduh Disha.


"Mana mungkin seperti itu, sayang! Setelah melahirkan, tubuh mu semakin montok dan seksi, kok!"ucap Alva mengulum senyum.


"Jika aku mempermasalahkan bentuk tubuh mu, aku tidak akan meminta hak ku setiap malam padamu. Bagiku kamu itu wanita yang paling sempurna,"ucap Alva mengelus pipi Disha kemudian mengusap bibir istrinya itu dengan ibu jarinya.


"Sudah, ach! Aku mau bekerja,"ucap Disha seraya menepis tangan Alva dan kembali ingin turun dari pangkuan Alva.


"Sebentar lagi, sayang!"ucap Alva yang semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Disha kemudian mencium leher Disha.


"Sudah, lepaskan aku!"ucap Disha berusaha melepaskan diri dari pelukan Alva.


"Sayang..!!"ucap Alva dengan suara agak parau saat merasakan sesuatu dibawah sana mulai menggeliat dan mengeras karena Disha yang terus bergerak di atas pangkuan nya.


"Lepas, aku ingin kembali ke meja kerja ku,"ucap Disha yang semakin gelisah dalam pangkuan Alva karena suaminya itu mencium dan menjilati lehernya bahkan meremas pelan salah satu bukit kembarnya hingga tanpa sadar Disha mende sahh.


"Ahh...Al, hentikan!"ucap Disha menahan hasraatnya yang naik karena ulah Alva.


"Kamu sudah selesai haid kan? Seharusnya hari ini kamu sudah bersih,"ucap Alva meraba bagian inti dari tubuh istrinya yang berusaha di tepis Disha. Seketika senyumnya mengembang saat mengetahui Disha sudah tidak memakai pembalut lagi.

__ADS_1


"Al.!! Turunkan aku!!"pekik Disha saat tiba-tiba Alva mengangkat tubuh Disha dan membawanya masuk ke dalam ruangan pribadinya yang tersembunyi.


"Aku sudah menahannya selama seminggu sayang, aku sudah tidak tahan lagi,"ucap Alva merebahkan tubuh Disha ke atas ranjang dan segera menindihnya.


Alba langsung menyerang Disha dengan ciuman panas. Tangan Alva pun mulai bergerilya menjelajahi bukit kembar milik istrinya hingga membuat Disha melenguh. Hasraat Alva yang sudah seminggu ini dia tahan pun tidak bisa dibendung lagi sampai-sampai membuat Disha kewalahan hingga.....


Tok..tok..tok...


"Al..!! Al..!!"terdengar suara Bramantyo dari luar ruangan pribadi Alva, namun Alva enggan untuk menghentikan aktivitasnya.


"Al, ada papa,"ucap Disha mencoba menghentikan kegiatan Alva yang membuat tubuhnya menggelinjang.


"Al, ada yang ingin papa bicarakan,"ucap Bramantyo.


"Al..ahh...."Disha mengeluarkan suara yang membuat Alva semakin aktif menyesap dan meremas dua buah bukit kembar milik istrinya.


"Al..!! Cepat keluar! Papa tahu kamu ada di dalam!"seru Bramantyo.


"Shiitt!!"umpat Alva yang nampak tidak rela bangkit dari tubuh Disha. Alfa mengusap wajahnya dengan kasar. Dengan perasaan kesal Alva keluar dari ruangan pribadi nya itu.


"Ada apa, pa?"tanya Alva dengan wajah kusut, setelah keluar dari ruangan pribadinya.


Bramantyo melihat wajah kusut putranya dan juga pakaian putranya yang nampak berantakan, kemudian menghela nafas panjang,"Ada kenalan papa yang ingin bertemu dengan mu dan ingin bekerja sama dengan perusahaan kita yang ada di luar negeri,"ucap Bramantyo.


"Apa harus sekarang, pa? Tidak bisakah diundur satu jam lagi?"tanya Alva masih dengan wajah kusutnya.


"Kamu ini, 24 jam bersama istri mu setiap hari, apa tidak bisa melakukan nya di rumah saja.Tahan dulu!"ketus Bramantyo yang bisa menebak apa yang sedang dilakukan putra nya didalam ruangan pribadi nya itu, setelah melihat wajah dan penampilan putranya yang berantakan dan juga mengingat kata karyawan diluar ruangan Alva yang mengatakan Disha juga ada di dalam ruangan Alva.


"Ish..papa ini menganggu saja!"ketus Alva.


...🌟"Definisi bahagia bagi setiap orang itu berbeda.Tidak selamanya yang sempurna itu membuat bahagia, terkadang hal yang sederhana lah yang bisa membuat bahagia." 🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2