
"Jadi kakak adalah tersangka utama yang bikin Icha patah hati?!"tuduh Disha.
Radeva tersentak mendengar tuduhan dari adiknya itu,"Hah.. maksudnya?" tanya Radeva tidak mengerti.
"Icha itu patah hati gara-gara orang yang udah nolongin dia dan dia taksir itu manggil seseorang di telepon dengan panggilan 'sayang'.Kakak pernah nggak, didepan Icha teleponan sama aku, terus kakak manggil aku dengan panggilan 'sayang',"tanya Disha menatap lekat wajah kakaknya.
"Oh..itu. Waktu itu kamu menelpon kakak dan memberi tahu kalau Alva mengalami kecelakaan. Kakak, sebenarnya mau mampir ke rumah dia, tapi nggak jadi karena kakak khawatir sama kamu,"sahut Radeva nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Wah..kakak memang parah! Nggak peka sama cewek!"celetuk Disha seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Jadi serius, dia suka sama kakak?"tanya Radeva antusias.
"Serius, dia bilang kalau dia sudah jatuh cinta sama orang yang udah nolongin dia dua kali. Pertama saat dia diculik oleh mantan pacar nya dan cowok itu hampir nabrak dia tapi tuch cowok jadi nolongin dia. Kedua saat malam-malam ban motornya bocor di jalan yang sepi dan diganggu dua preman,"ujar Disha panjang lebar.
"Berarti bener dong, dia suka sama kakak,"sahut Radeva dengan senyum yang mengembang.
"Cie..cie.. yang lagi jatuh cinta,"ledek Disha,"Btw, kakak beneran suka sama Icha?"tanya Disha menyelidik.
"Gimana ya?"ucap Radeva nyengir kembali menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal,"Kakak tuch sebenernya deg degan kalau ketemu dia, cuma kakak sok-sokan cool aja,"
Melihat tingkah kakaknya dan mendengar pengakuannya membuat Disha tergelak. Menurut Disha saat ini kakaknya begitu lucu, seperti ABG yang lagi jatuh cinta.
"Ishh...kok malah ngetawain kakak, sich!"protes Radeva.
"Habisnya kakak lucu banget, sich! Udah macam ABG lagi jatuh cinta,"sahut Disha seraya menahan tawanya, namun sesaat kemudian memasang ekspresi yang terlihat serius, menatap Radeva,"Btw, kakak harus gercep, aku dengar gara-gara Icha nangis karena patah hati sama kakak, orang tua Icha berniat menjodohkan Icha dengan pria pilihan orang tua Icha,"
"What? Kamu serius, sayang? Nggak lagi bercanda, kan?"tanya Radeva nampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Disha barusan.
"Serius kak, sejuta rius dech! Kakak harus bener-bener gercep kalau tidak ingin incaran kakak di ambil orang," sahut Disha dengan wajah yang benar-benar serius.
"Oke, kali ini kakak tidak mau didahului oleh orang lain lagi. Tapi kamu jangan bilang sama Icha kalau kita adalah adik kakak, ya?! Kakak pengen buat kejutan untuk Icha,"ucap Radeva menampilkan senyuman misterius.
"Apa rencana kakak?"tanya Disha menyelidik.
"Nanti kakak kasih tahu jika rencana kakak sudah separuh jalan,"
__ADS_1
"Ishh..kakak nggak seru,ach!"ucap Disha sambil bersungut-sungut.
"Jangan marah, sayang! Nanti pasti kakak beritahu, tapi tidak sekarang.Jika sudah positif 100 % akan berhasil, nanti kakak beri tahu, kalau gagal kakak nggak malu,"ucap Radeva seraya merangkul pundak Disha.
"Issh.. Lepaskan!"bentak Alva yang tiba-tiba muncul dan melepaskan rangkulan Radeva dengan paksa.
"Issh.. dasar posesif!"celetuk Radeva menatap sinis kepada Alva.
"Harus posesif kalau punya kakak ipar macam situ! Dasar perjaka tua! Jangan coba-coba jadi brother kompleks, ya! Aku tidak akan membiarkan istriku di dekati siapapun, termasuk kamu!" ancam Alva dengan tatapan tajam kepada Radeva.
"Heh! Kamu pikir aku sudah tidak waras apa?! Aku tidak akan menyukai adikku sendiri. Aku memang mencintai Rara, tapi aku mencintainya sebagaimana seorang kakak mencintai adiknya. Bukan seorang kakak yang mencintai adiknya karena memandang adiknya sebagai seorang wanita. Amit-amit, aku masih waras dan nggak bakal mencintai adikku sendiri," sahut Radeva ngegas.
"Sudah.! Sudah! Kalian ini nggak bisa akur apa? Tiap ketemu, ada aja yang diributkan,"tukas Disha menengahi.
"Tidak!"sahut keduanya bersamaan dan kompak saling memalingkan wajah mereka, tidak mau menatap satu sama yang lain.
"Haish.. kalian ini selalu saja seperti ini. Kak, aku tinggal dulu, ya? Jangan lupa kabari aku jika sudah yakin mau berhasil,"ucap Disha sambil merangkul pinggang Alva dan membawanya pergi dari tempat itu agar kedua pria itu tidak berdebat lagi.
"Oke, sayang!"sahut Radeva seraya merekatkan ujung jari telunjuknya dan ujung jari jempolnya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Disha dengan senyuman genit membuat Alva membelalakkan matanya dan Radeva malah tertawa terbahak-bahak.
"Kau! Berani sekali...."geram Alva ingin berbalik menghampiri Radeva, tapi ditahan oleh Disha.
"Habisnya, kakakmu itu genit sekali. Kalau bukan kakak kandung mu, sudah aku hajar dia,"gerutu Alva namun menurut saat dibawa Disha pergi dari tempat itu.
"Ish..kau ini,"ucap Disha terus menarik Alva menjauh dari Radeva.
"Rencana apa yang kalian bahas tadi?"tanya Alva pada Disha yang masih merangkul pinggang nya.
"Rencana kakak buat nyari jodoh,"sahut Disha.
"Iya tuch, cepat carikan jodoh! Biar nggak nempel terus sama kamu,"cetus Alva masih terlihat kesal.
"Huff kau ini!"ucap Disha membuang napas kasar.
"Sayang, Kaivan sudah tidur. Nampak nya dia sangat lelah tadi,"ucap Ghina saat melihat Disha.
__ADS_1
"Oh..tumben sekali, ma. Biasanya Kaivan nyusu dulu baru bisa tidur,"sahut Disha yang memang biasanya menyusui Kaivan sebelum tidur.
"Tadi sudah mama kasih ASI yang ada di freezer,"sahut Ghina.
"Ohh.. pantesan sudah tidur,"sahut Disha.
"Ya udah, istirahat sana! Kami mau pulang, mama pulang, Al,"ucap Ghina kemudian mencium pipi Disha kiri dan kanan.
"Iya, ma,"sahut Alva.
"Sayang, Kaivan sudah tidur. Bukit kembar kamu pasti sakit kan kalau ASI-nya nggak dikeluarkan,"ucap Alva menatap dua bukit kembar favoritnya.
"Terus?"tanya Disha seraya memicingkan matanya, nampak curiga pada Alva.
Alva menundukkan kepalanya kemudian berbisik di telinga Disha,"Biar aku saja yang nyedot, biar nggak sakit,"ucap Alva kemudian menatap wajah Disha dan menaik turunkan sebelah alisnya dengan senyum penuh arti.
"Issh.. mesum!"ucap Disha pelan sambil memukul lengan Alva, namun Alva malah terkekeh dan degan sekali sentakan langsung menggendong Disha.
'Al.!!"pekik Disha yang terkejut dengan aksi Alva itu, langsung mengalungkan tangannya di leher Alva,"Malu, Al! Banyak orang yang melihat,"bisik Disha di telinga Alva.
"Kenapa harus malu? Udah halal ini," sahut Alva cuek terus melangkah menuju kamarnya dengan menggendong Disha ala bridal style.
Radeva yang melihat kelakuan adik iparnya itupun hanya bisa geleng- gelengkan kepala.
"Pengen ya, seperti mereka? Mangkanya cepetan cari pasangan! Udah punya calon belum?"tanya Mahendra yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Radeva dan membuat Radeva terkejut.
"Ish..papa bikin kaget aja. Aku sekarang memang belum punya pasangan, pa. Tapi akan aku usahakan pas kita mengumumkan Disha sebagai Shahira nanti, aku akan sekalian menggelar acara pertunangan ku,"ucap Radeva nampak terlihat begitu yakin.
"Serius?"tanya Mahendra antusias.
"Serius,"sahut Radeva meyakinkan.
"Kalau begitu, papa tunggu kabar baiknya,"ucap Mahendra dengan senyum lebar sambil menepuk pundak Radeva.
"Siap-siap saja untuk melamar gadis pilihan ku nanti, pa,"
__ADS_1
"Kapan pun kamu ingin melamar gadis pilihan mu, papa siap,"sahut Mahendra penuh keyakinan.
To be continued