
"Tubuh Alva?"gumam Anjani.
"Iya, tubuh mantan suami mu itu,"tegas Hery.
"Aku sudah bilang, dia tidak pernah menyentuh ku. Dia tidak pernah memperlihatkan tubuhnya padaku. Bahkan bertelanjang dada di depan ku saja tidak pernah dia lakukan. Lalu bagaimana aku bisa membandingkan tubuh Alva dan tubuh mu?!"
"Alva terlalu mencintai dan terlalu setia pada Disha hingga dia tidak mau menyentuh wanita lain selain Disha. Tidak seperti mu, yang mengatakan mencintai Disha tapi tidur dengan banyak wanita,"cibir Anjani yang membuat Hery tidak bisa berkata-kata.
***
Di apartemen Disha dan Alva.
"Sayang, kamu sedang masak apa?"tanya Alva yang menghampiri Disha di dapur kemudian memeluk Disha dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Disha.
"Opor ayam,"ucap Disha menengok ke arah Alva kemudian mengecup bibir Alva sekilas yang dibalas Alva dengan kecupan bertubi-tubi di leher Disha.
"Sayang, aku sedang memasak,"ucap Disha sambil menggerak-gerakkan pundaknya agar Alva berhenti menciumi lehernya.
"Kalian sedang memasak apa sedang bermesraan di dapur?"tanya Ratih yang masuk ke dapur sambil menggendong Kaivan kemudian duduk di kursi meja makan.
"Dua-duanya, ma,"sahut Alva sambil tersenyum kemudian mencium pipi Disha, melepaskan pelukannya kemudian ikut duduk di samping Ratih sedangkan Disha hanya mengulum senyum.
"Sehabis makan malam, mama akan pulang,"ucap Ratih membuat Disha menatap Ratih sebentar kemudian melanjutkan aktivitas memasaknya.
"Mama tidak menginap di sini?"tanya Alva yang sedang memegang jari mungil Kaivan yang berada di pangkuan Ratih.
"Malam ini papamu akan pulang, jadi mama harus pulang. Mama nggak mau nanti pas papa kamu pulang mama tidak ada di rumah,"sahut Ratih.
"Ya sudah, biar nanti Alva yang antar mama,"sahut Alva.
"Iya,"sahut Ratih.
"Tapi ma, aku harap apa yang aku ceritakan kepada mama tentang kejadian saat umur ku 12 tahun itu tidak mama tanyakan pada papa. Semua sudah menjadi masa lalu, bahkan papa sendiri tidak pernah mau bercerita kepada mama. Aku tidak mau cerita masa lalu itu mempengaruhi hubungan mama dan papa,"mohon Alva.
"Iya, mama mengerti. Biarlah semua itu tetap menjadi rahasia papamu. Semua itu sudah terjadi dan tidak mungkin bisa diperbaiki lagi,"ucap Ratih menghela nafas berat.
__ADS_1
"Tapi jujur, aku masih penasaran kenapa ibu kandung ku meninggalkan aku yang baru dilahirkan. Tapi bukan berarti aku tidak suka mama menjadi ibuku. Aku justru kecewa saat mengetahui bahwa mama bukan ibu kandung ku,"ucap Alva mencurahkan isi hatinya pada wanita yang telah menyusui dan membesarkannya dengan tulus dan penuh kasih sayang itu.
"Mama mengerti perasaan mu. Mama juga tidak tahu apa alasan ibu kandung mu meninggalkan kamu dan papamu. Papa mu tidak pernah mau menceritakan hal itu pada mama walaupun sudah sering kali mama menanyakannya. Tapi yang pasti, saat mama bertemu dengan kalian, papamu sedang mengalami krisis keuangan,"
"Saat itu perusahaan papamu hampir bangkrut dan rumahnya juga habis terbakar. Mama yang meminjami papamu uang untuk menstabilkan perusahaannya. Walaupun awalnya papa kamu menolak, tapi akhirnya papa mu akhirnya menerima bantuan dari mama,"
"Lalu mama memutuskan untuk menikah dengan papa mu karena mama sudah terlanjur jatuh cinta padamu. Kehadiran kamu benar-benar menghibur hati mama. Mama melupakan segalanya saat mama bersamamu. Karena itu mama tidak mau lagi berpisah dengan mu,"
"Karena kamu tidak bisa hidup tanpa mama dan tidak mungkin mama tinggal seatap dengan papamu tanpa ikatan, akhirnya papamu menerima mama sebagai istrinya,"ujar Ratih panjang lebar.
"Apa ibu kandung ku meninggalkan papa dan aku karena papa hampir bangkrut ma?"tanya Alva berasumsi.
"Mama juga berpikiran seperti itu. Tapi terlepas apapun alasannya ibu kandung mu meninggalkan kamu, mama harus berterimakasih kepadanya. Karena jika dia tidak meninggalkan kalian, mama tidak akan menjadi bagian dari kalian. Mungkin mama akan bunuh diri karena putus asa,"ucap Ratih seraya mengelus tangan putranya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih memeluk Kaivan yang berada dalam pangkuannya.
"Aku sayang sama mama,"ucap Alva, meraih tangan Ratih kemudian mencium tangan wanita yang telah merawat dan membesarkannya dengan tulus dan penuh kasih sayang itu.
"Apakah kamu akan tetap menyayangi mama, jika suatu saat nanti kamu sudah menemukan ibu kandung mu?" tanya Ratih tampak khawatir.
"Mama akan tetap menjadi mamaku dan rasa cinta serta kasih sayang ku terhadap mama tidak akan pernah berubah. Mama bisa memegang janji ku ini. Mama tahu kan, aku bukan orang yang suka ingkar janji?!"ucap Alva meyakinkan Ratih.
***
Lima bulan kemudian.
Disha terbangun karena Kaivan menangis, sedangkan Alva masih terlelap dengan tangan yang memeluk Disha. Perlahan Disha melepaskan pelukan Alva, turun dari ranjang kemudian menghampiri Kaivan yang ada dalam box bayinya.
"Cup, sayang. Kaivan haus ya?!'tanya Disha pada putranya yang belum bisa berbicara.
Disha kemudian menyusui Kaivan dan Kaivan pun diam. Kaivan menyusu sambil menggerakkan-gerakkan jari mungilnya di dada sang mama dan sesekali menarik rambut Disha atau pun meraba wajah Disha.
Setelah Kaivan kenyang, Disha sengaja membaringkan Kaivan di samping Alva. Melihat Alva yang masih tidur, bayi yang sudah bisa duduk dan merangkak itupun mulai usil. Kaivan menepuk-nepuk pipi Alva bahkan mencium Alva dengan air liur nya yang membasahi wajah Alva, berceloteh tidak jelas.
"Pa..pa..pa..emberm.."celoteh Kaivan sesekali membuat air liur nya muncrat.
Disha menahan tawa melihat hal itu, sedangkan Alva nampak mulai terganggu tidurnya karena ulah Kaivan yang tangannya terus saja usil di wajah Alva.
__ADS_1
"Emm... jagoan papa sudah bangun,"ucap Alva memegang tangan Kaivan yang usil dan perlahan membuka matanya.
"Sayang, aku mandi dulu ya? Tolong jaga Kaivan!"ucap Disha mengecup pipi Alva dan Kaivan bergantian kemudian bergegas ke kamar mandi setelah mendengar jawaban dari Alva yang hanya berdehem.
"Auwh..!! Sayang, kenapa hidung papa digigit?!"protes Alva sambil memegang hidungnya yang memerah karena digigit Kaivan, dan penuh dengan air liur Kaivan.
"Akhh.. emberm... emberm.."celoteh Kaivan sambil menepuk-nepuk tangan Alva yang sedang memegang hidungnya.
"Berani menggigit papa, ya?!"ucap Alva kemudian langsung membaringkan Kaivan yang sedang duduk kemudian menggosok-gosokkan hidungnya di perut Kaivan hingga Kaivan merasa kegelian dan tertawa terbahak-bahak.
Beberapa menit kemudian Disha keluar dari kamar mandi dan melihat dua pria yang dicintainya masih asyik bermain.
"Sayang, cepat mandi sana! Nanti kesiangan jika bermain dengan Kaivan terus,"ujar Disha mengingatkan Alva.
"Iya, sayang,"sahut Alva kemudian menggendong Kaivan ke kamar mandi.
Alva sudah biasa mandi bersama dengan Kaivan. Dan aktivitas mandi bersama putranya itu sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Alva.
Kaivan yang belum bisa berjalan itu sudah bisa berdiri dengan berpegangan pada pinggiran bathtub dan Alva pun segera menggosok tubuh Kaivan kemudian menggosok tubuhnya sendiri.
Setelah itu Alva membawa Kaivan ke bawah kucuran air shower untuk membilas tubuh mereka.
Kaivan nampak sudah terbiasa mandi sambil berenang di dalam bathtub bahkan Kaivan juga nampak sudah biasa berada di bawah kucuran air shower bersama Alva. Bahkan ayah dan anak itu selalu berisik jika sudah mandi berdua.
Setelah selesai mandi Alva melilitkan handuk di pinggangnya dan membungkus tubuh Kaivan dengan handuk. Alva membaringkan Kaivan di ranjang, memberi minyak telon di tubuh Kaivan, memberi pelembab rambut di rambut Kaivan, tak lupa memberi parfum serta bedak bayi pada Kaivan kemudian memakaikan baju yang sudah disiapkan oleh Disha.
"Anak mama sudah wangi dan ganteng,"ucap Disha yang baru masuk ke dalam kamar itu, kemudian mencium Kaivan yang berdiri dengan berpegangan pada pinggiran box bayinya sambil berceloteh. Disha kemudian menghampiri Alva dan membantu pria itu mengancingkan kemejanya.
"Sayang, hidung mu di gigit Kaivan?"tanya Disha saat melihat hidung Alva yang ada bekas dua gigi kelinci milik Kaivan.
"Iya, dan nanti malam aku yang akan menggigit mu,"ucap Alva kemudian tersenyum genit dan mengedipkan sebelah matanya kepada Disha.
...🌟"Sejauh apapun kita melangkah, kita tidak akan pernah bisa meninggalkan masa lalu, karena masa lalu akan tetap bersama kita walaupun kita tidak menginginkannya."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued