
"Tapi, ma...."
"Tidak ada tapi tapian. Ayo cepat ke ruang makan. Anjani dan papamu sudah menunggu di sana,"kata Ratih lalu berjalan ke ruang makan diikuti oleh Alva.
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga,"ucap Anjani saat Alva masuk ke ruang makan tersebut dan langsung bergelayut manja di lengan Alva, namun langsung dilepaskan oleh Alva.
Akhirnya Bramantyo, Alva, Ratih dan Anjani pun menikmati makan malam mereka. Selesai makan mereka berbincang di ruang keluarga. Alva memilih duduk di sebelah mamanya yang duduk di sebelah papanya, sedangkan Anjani terpaksa duduk di sofa singel.
"Bagaimana perusahaan kita Al? Papa dengar banyak kemajuan ya?"tanya Bramantyo.
"Kita banyak memenangkan tender dan juga mendapat kerjasama baru dari beberapa perusahaan,"jawab Alva.
"Ternyata sekretaris barumu itu cerdas ya Al. Kamu, asisten mu dan sekretaris mu menjadi tim yang handal sekali. Aku perhatikan kalian saling mengisi dan saling melengkapi,"ucap Bramantyo.
"Sekretaris Alva yang mana pa?"tanya Anjani menyelidik.
"Itu, yang memakai kacamata besar dan gigi kawat itu. Masa kamu tidak tahu? Kamu kan sudah beberapa kali ke kantor Alva,"ujar Bramantyo.
"Oh.. yang bajunya modis tapi mukanya katrok itu?"tanya Anjani mencibir Disha, membuat Alva merasa tidak senang.
"Eh.. walaupun penampilannya katrok begitu, dia itu sudah laku loh, sudah mempunyai suami ,"sahut Ratih.
"Mama tahu dari mana?"tanya. Bramantyo.
"Mama nanya sama dia. Lagian sebenarnya dia itu cantik loh, cuma ketutup kacamata yang tebal dan besar, dan juga kawat gigi saja. Rumah tangganya juga harmonis," ucap Ratih.
Dalam hati Alva merasa senang karena mamanya memuji Disha dan juga rumah tangganya.
"Belum tentu lah ma, rumah tangganya harmonis. Mama kan cuma tahu dari kata dia,"kilah Anjani yang merasa iri Ratih memuji keharmonisan rumah tangga perempuan yang menurutnya jelek itu.
"Dia tidak berkata bahwa rumah tangganya harmonis, tapi tanpa ditanya pun semua orang bisa tahu,"ujar Ratih.
__ADS_1
"Kenapa mama bisa menilainya seperti itu?"tanya Bramantyo penasaran, sedangan Alva mulai meminum tehnya.
"Karena banyak kiss mark di lehernya bahkan tumpang tindih, berarti setiap hari dia berhubungan suami-istri dengan suaminya,"ucap Ratih seketika membuat Alva terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan minumnya Al, kayak kamu saja yang dibicarakan,"ucap Ratih lagi membuat Alva kembali terbatuk-batuk karena salivanya sendiri.
"𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐜𝐞𝐧𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐣𝐚, 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐛𝐚𝐤 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫,"batin Alva memperhatikan mamanya yang sedang mengelus-elus punggungnya.
"Sudah, ayo kita istirahat dulu,"ajak Bramantyo.
"Iya, pa. Al, pokoknya mulai malam ini kamu harus menginap di rumah ini, dan mama tidak mau dibantah,"ucap Ratih sebelum Alva bersuara.
Alva hanya menghela nafas berat, menatap kedua orang tuanya pergi ke kamar mereka. Anjani pun langsung mendekati Alva. Menyadari Anjani akan mendekatinya, Alva pun langsung bangkit dari duduknya bermaksud meninggalkan ruangan itu.
"Al, kamu mau kemana?"tanya Anjani mengejar Alva yang berjalan cepat dengan langkah panjangnya.
Alva tidak menghiraukan Anjani, berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya dan langsung mengunci pintunya.
"Al, buka pintunya.!! Al..!!"seru Anjani sambil beberapa kali mencoba membuka pintu itu.
"Non Anjani kenapa?"tanya seorang Art yang melihat Anjani berdiri di depan pintu ruangan kerja Alva, menyadarkan Anjani dari lamunannya.
"Tidak, tidak apa-apa,"sahut Anjani kemudian meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Alva yang berada di dalam ruang kerja merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di dalam ruangan itu. Alva berusaha menghubungi istrinya melalui panggilan vidio.
Disha yang melihat ada panggilan video dari Alva pun mengernyitkan keningnya.
"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐢 𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮𝐢 𝐯𝐢𝐝𝐞𝐨 𝐜𝐚𝐥𝐥?"batin Disha yang sedang berbaring di atas ranjang.
"Halo, ada apa?"tanya Disha mengangkat panggilan itu, menatap wajah tampan suaminya yang nampak sedang berbaring di atas sofa tanpa mengenakan baju atasan. Terlihatlah tubuh berotot dengan dada yang bidang begitu menggoda kaum hawa termasuk Disha.
__ADS_1
"𝐎𝐡 𝐲𝐚 𝐚𝐦𝐩𝐥𝐨𝐩...!! 𝐀𝐩𝐚 𝐦𝐚𝐤𝐬𝐮𝐝 𝐝𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮𝐢 𝐩𝐚𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥𝐚𝐧 𝐯𝐢𝐝𝐞𝐨 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐤𝐚𝐢 𝐛𝐚𝐣𝐮 𝐚𝐭𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐢𝐭𝐮?𝐀𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐤𝐮? 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤....𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐭𝐮,"batin Disha berusaha menguasai dirinya agar tidak tergoda untuk melihat tubuh Alva yang sangat menggoda untuk disentuh itu.
"Aku kangen sama kamu sayang,"sahut Alva dengan wajah memelas.
"Gombal..!!"sahut Disha berusaha memasang wajah datar, melihat wajah suaminya yang memelas dengan tubuh bagian atas yang terekspos sempurna dan mendengar kata-kata manis suaminya itu.
"Beneran sayang, aku susah tidur jika tidak memeluk kamu,"ucap Alva yang memang benar adanya.
"Kamu disitu kan juga punya istri yang bisa kamu peluk,"ketus Disha yang merasa kesal jika mengingat Alva yang berada satu atap dengan istri keduanya.
"Kamu mau dan rela aku memeluk dan tidur dengan wanita lain selain kamu?"tanya Alva merasa tidak senang dengan kata-kata Disha.
Alva tambah merasa bahwa Disha sama sekali tidak menyukainya apalagi mencintainya karena Disha malah menyuruh dirinya untuk memeluk wanita lain selain Disha. Ditambah jika Alva mengingat Disha sengaja mengkonsumsi obat pencegah kehamilan yang berarti tidak ingin memiliki keturunan darinya.
"𝐀𝐝𝐮𝐡... 𝐦𝐮𝐥𝐮𝐭𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐜𝐡? 𝐁𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮? 𝐒𝐞𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐝𝐢 𝐜𝐡𝐚𝐫𝐠𝐞𝐫. 𝐎𝐡 𝐲𝐚 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧𝐤𝐮...𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐫𝐞𝐥𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐢𝐦𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐢𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐧𝐭𝐮𝐡 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐥𝐚𝐢𝐧?!"batin Disha.
"Aku tutup telponnya. Jangan tidur terlalu malam. Aku mencintaimu,"ucap Alva tanpa menunggu jawaban dari Disha.
"Sakit sekali rasanya mencintai tapi tidak dicintai. Benar adanya kata-kata yang menyatakan bahwa mencintai orang yang tidak mencintaimu itu adalah seni menyakiti diri sendiri tingkat tinggi. Namun aku sudah benar-benar mencintai Disha,"
"Hanya dia yang bisa membuat jantung ku berdetak lebih cepat saat dekat dengannya. Hanya dia yang bisa menarik hatiku, membuat aku merasa tenang, nyaman dan bahagia saat memeluknya,"
"Egois kah aku bila aku tidak mau melepaskannya walaupun aku tahu dia tidak mencintaiku?"gumam Alva.
Sedangkan Disha yang berada di dalam kamarnya tiba-tiba meneteskan air matanya.
"Maafkan aku Al, aku tidak bisa mengatakan aku mencintaimu walaupun aku ingin sekali mengatakannya. Aku takut mencintai mu terlalu dalam karena aku takut akan sangat terluka jika suatu saat nanti kamu meninggalkan aku,"
"Kasta kita begitu jauh berbeda dan juga tidak direstui oleh orang tuamu. Aku tidak yakin kebersamaan kita akan berjalan lama. Karena itulah aku tidak berani mengandung benih cintamu. Aku tidak ingin kehadiran anak diantara kita akan semakin membuatku sulit untuk melupakan mu,"gumam Disha sambil terisak.
...🌟"Cinta sejati tidak harus memiliki itu memang benar, tapi kenyataannya menyakitkan."🌟...
__ADS_1
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued