Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
141. Pernikahan Anjani dan Sandy


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah.


"Ma, apa mama yakin mau ikut papa kembali ke negara itu?"tanya seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah Mahendra.


Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dihadapan Mahendra itu tersenyum sendu,"Iya, pa. Walaupun kenyataannya di negara itu kita pernah mengalami kejadian yang amat pahit, tapi entah mengapa, kali ini mama ingin pulang ke negara itu,"ujar wanita paruh baya yang terlihat masih cantik bernama Ghina.


"Baiklah, jika itu keinginan mama,"ucap pria paruh baya itu mengelus rambut istri nya kemudian mengecup kening istrinya lembut.


"Mama tidak tahu apalagi yang dilakukan oleh anak itu hingga Radeva meminta kita untuk menyusul mereka,"ujar Ghina.


"Kamu tahu kan, Radeva tidak akan melibatkan kita jika dia bisa mengatasi masalah yang ditimbulkan Trisha?"ucap Mahendra.


"Anak itu selalu melakukan segala hal untuk mendapatkan keinginannya. Mama sudah sering menasehati nya bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa kita miliki. Namun dia selalu memperjuangkan apa yang dia inginkan dengan segala macam cara,"keluh Ghina.


"Iya, ma. Papa merasa selama ini kita sudah mendidik nya sebaik dan semampu kita, namun sifat keras kepalanya itu benar-benar tidak berubah,"timpal Mahendra.


"Apa kita terlalu keras dalam mendidik nya, pa?"tanya Ghina.


"Papa rasa tidak. Karena jika terlalu lembut padanya, dia akan semakin tidak akan terkontrol. Kita hanya menamakan sifat disiplin dan bertanggung jawab padanya. Namun kita juga tetap memberikan kasih sayang yang penuh kepadanya,"ucap Mahendra.


"Ya sudah, mama siapkan dulu barang- barang yang akan kita bawa,"ujar Ghina.


***


Di kediaman Bramantyo.


"Kaivan sayang, nenek pulang,"ucap Ratih membuat bayi yang sedang bermain di atas karpet yang lembut itu langsung menoleh dan dengan cepat merangkak menghampiri sang nenek. Ratih pun langsung menggendong dan menciumi bayi montok itu.


"Cucu kakek ganteng, kakek juga rindu loh sama Kaivan,"ucap Bramantyo ikut menciumi Kaivan.


"Papa dan mama pulang lebih cepat?" tanya Disha muncul dari dapur.


"Iya sayang, mama sudah kangen sekali pada Kaivan,"ucap Ratih.


"Sebaiknya papa dan mama membersihkan diri terlebih dahulu biar segar dan nanti bisa bermain sepuasnya dengan Kaivan,"ujar Disha.


"Papa dulu ma, yang mandi,"ucap Bramantyo langsung bergegas ke kamarnya.


"Iya,"sahut Ratih tanpa mengalihkan tatapannya pada cucunya.


"Gimana ma, perjalanan nya?"tanya Disha menyusul Ratih duduk di sofa.


"Menyenangkan, tapi mama rindu sekali dengan kalian, terutama cucu mama yang montok ini,"ucap Ratih kembali mencium cucunya dan nampak sangat bahagia memeluk cucunya itu.

__ADS_1


"Ma, aku dengar Anjani mau menikah lagi, ma,"ucap Disha.


"Oh ya? Dengan siapa sayang'?"tanya Ratih seraya mengelus kepala cucunya.


"Aku dengar dengan orang kepercayaan Tuan Adiguna, ma,"sahut Disha.


"Semoga pernikahan nya yang ketiga ini bisa membuat nya bahagia. Sebenarnya mama kasihan dengan anak itu. Dia itu sebenarnya baik, cuma manja dan kurang bisa membawa diri saja,"ujar Ratih.


"Ma, kapan mama pulang?"tanya Alva yang tiba-tiba muncul kemudian menghampiri Ratih. Alva mencium pipi wanita yang sudah merawat dan membesarkan nya itu lalu memaksakan diri duduk diantara Ratih dan Disha.


"Sayang, jangan menyela duduk di tengah dong!"protes Disha.


"Aku pengennya duduk diantara wanita yang aku cintai ucap Alva tersenyum tipis kemudian mencium bibir Disha sekilas.


"Sayang!"ucap Disha seraya mendorong dada suaminya pelan agar menjauh darinya.Tapi Alva malah tersenyum genit seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Ish..genit!"celetuk Disha.


Merekapun mengobrol santai sampai Bramantyo menghampiri mereka dengan wajah yang nampak lebih segar.


"Sini, Kaivan sama kakek!"ajak Bramantyo mengambil alih Kaivan dari pangkuan Ratih dan bayi montok itu pun segera mengulurkan tangannya pada Bramantyo hingga membuat mata Bramantyo berbinar karena cucunya seolah juga merindukan nya.


"Jagoan kakek! Tambah besar dan tambah ganteng aja,"ucap Bramantyo lalu menciumi cucu pertamanya itu.


"Sandy asistennya Adiguna?"tanya Bramantyo.


"Iya. Kita akan datang,"sahut Bramantyo lalu kembali bermain bersama Kaivan, sedangkan Ratih beranjak untuk membersihkan diri.


***


Darmawan nampak bergegas menuju rumah sakit. Sudah 24 jam setelah dirinya dan juga Sandy melakukan tes DNA dan sore ini Darmawan akan mengetahui hasilnya.


Setelah berbicara dengan dengan temannya yang bekerja di rumah sakit itu melalui sambungan telepon, Darmawan pun segera menuju ruangan temannya itu. Dan di sinilah sekarang Darmawan berada. Darmawan sekarang duduk di depan temannya yang berprofesi sebagai seorang dokter.


"Ini hasil tes DNA nya , Wan,"ucap dokter itu menyulurkan sebuah amplop kepada Darmawan.


Dengan jantung yang berdetak kencang, Darmawan menerima amplop itu. Melihat wajah Sandy yang mirip dengan almarhum istrinya, Darmawan yakin jika Sandy adalah putranya. Namun untuk memperjelas semuanya, maka Darmawan pun harus melihat hasil tes DNA itu.


Darmawan membaca hasil tes DNA itu, dan seketika air matanya mengalir begitu saja setelah membaca hasil tes DNA itu.


"Bagaimana?Apa anak itu benar-benar putramu?"tanya dokter yang merupakan teman lama Darmawan.


***

__ADS_1


Di rumah Adiguna.


Nampak rumah itu sudah dihias dengan meriah. Adiguna tidak mengundang banyak orang dalam acara pernikahan putrinya itu. Namun tetap saja rumah itu nampak ramai.


"Apa kabar, Di? Sudah lama kita tidak bertemu,"sapa Bramantyo pada Adiguna sambil menggendong Kaivan.


"Baik. Eh .ini cucu mu? Tampan sekali,"puji Adiguna.


"Tentu saja tampan. Kakek nya juga tampan,"ujar Bramantyo percaya diri.


"Cih, sudah tua masih narsis,"cibir Adiguna yang malah membuat Bramantyo tergeletak.


Setelah perceraian Alva dan Anjani hubungan mereka berangsur membaik karena sudah sama-sama sadar bahwa putra putri mereka tidak merasa bahagia dengan pernikahan yang dipaksakan.


"Maaf, jika dulu putraku pernah menyakiti putrimu,"ucap Bramantyo sambil menggendong Kaivan yang nampak anteng dalam gendongan kakeknya seraya memakan biskuit bayi.


"Itu sudah berlalu Tyo. Dan itu sebenarnya juga kesalahan ku yang memaksa putramu untuk menikahi putri ku,"ujar Adiguna.


"Aku doakan semoga di pernikahan nya kali ini putrimu bahagia,"ucap Bramantyo tulus.


"Terimakasih, Tyo. Aku yakin kali ini putriku akan bahagia, karena kali ini dia akan menikah dengan pria yang mencintai nya dan aku sangat mengenal kepribadian calon suami putriku ini,"ujar Adiguna.


"Ya, aku lihat anak itu pembawaannya sangat tenang,"timpal Bramantyo.


"Iya, kamu benar. Ah..kapan cucuku sebesar cucumu ini? Cucumu nampak lucu sekali,"ucap Adiguna seraya mengelus kepala Kaivan


Tak lama kemudian acara pernikahan itu pun dimulai.Saat Sandy akan mengucapkan janji suci, Darmawan dengan nafas tersengal- sengal masuk ke rumah Adiguna. Karena banyaknya mobil di pekarangan Adiguna, Darmawan harus memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Adiguna, sedangkan rumah Adiguna agak jauh dari pintu gerbangnya. Karena itu Darmawan berlari ke rumah itu agar bisa menyaksikan pernikahan Sandy dan Anjani.


Darmawan langsung mencari tempat duduk yang agak dekat dengan tempat Sandy akan mengucapkan janji suci pernikahan. Dan akhirnya acara pernikahan itu pun berjalan dengan lancar. Ibu Sandy nampak menangis karena terharu dan Sandy pun memeluk wanita tua itu.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Darmawan berjalan mendekati Sandy yang sedang menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir.


"Sandy anakku!"ucap Darmawan langsung memeluk Sandy dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung nya lagi.


"Maafkan papa karena baru tahu jika kamu adalah putra papa,"ucap Darmawan yang membuat semua orang yang mendengar nya terkejut.


𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙖𝙙𝙚𝙧𝙨 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖! ,🙏🙏🙏🙏🙏


𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙖𝙙𝙚𝙧𝙨 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙪𝙥𝙙𝙖𝙩𝙚. 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖! 🙏🙏🙏🙏🙏


𝙇𝙤𝙫𝙚 𝙮𝙤𝙪 𝙖𝙡𝙡! 💖💖💖💖💖


To be continued

__ADS_1


__ADS_2