
Di apartemen Alva dan Disha.
"Kaivan sayangnya nenek!"seru Ratih saat baru saja masuk ke apartemen Alva dan Disha diikuti Bramantyo di belakangnya.
"Akhhg...ma..ma...berrm..."celoteh Kaivan yang sedang digendong oleh Bik Inah. Kaivan nampak senang melihat kedatangan Ratih dan langsung mengulurkan tangannya pada sang nenek.
"Kangen ya, sama nenek?!"ucap Ratih langsung mengambil alih Kaivan dari gendongan Bik Inah kemudian menciumi bayi yang terlihat sehat dan montok itu. Sedangkan Bramantyo langsung mengulurkan sebuah kantong plastik yang berisi buah-buahan kepada Bik Inah.
"Sini sama kakek,"ucap Bramantyo seraya mengulurkan tangannya pada Kaivan.
"Ma..ma...ma.."celoteh Kaivan mengeratkan pelukannya pada Ratih, menyembunyikan wajahnya di dada sang nenek tidak mau digendong oleh Bramantyo.
"Pa, ma, ayo duduk dulu! Akan aku buatkan minuman dulu,"ucap Disha tersenyum senang melihat kedatangan kedua mertuanya itu.
"Sayang, mama pengen dibuatkan Suteja, biar badan mama anget,"pinta Ratih.
"Iya, ma,"sahut Disha sembari tersenyum.
"Pa, ma, kalian baru datang?"tanya Alva yang baru masuk ke ruangan tamu itu.
"Iya, papa kangen sama Kaivan. Tapi Kaivan malah nggak mau papa gendong,"keluh Bramantyo.
"Itu karena papa sudah agak lama tidak bertemu dengan Kaivan,"sahut Alva.
"Iya, papa akhir-akhir ini agak sibuk semenjak hotel kita yang baru sudah mulai beroperasi,"ucap Bramantyo.
"Ma, pa, ini minumannya,"ucap Disha meletakkan kopi di meja di depan Bramantyo dan Alva lalu secangkir Suteja di depan Ratih serta sepiring kue.
"Sini, Kaivan sama mama! Biar nenek minum dulu,"ucap Disha mengambil alih Kaivan dari Ratih kemudian duduk disamping suaminya.
"Dis, papa kemari ingin meminta maaf atas sikap papa yang tidak menerima mu sebagai menantu. Sekarang papa baru menyadari bahwa hampir semua orang kepercayaan kita berasal dari kalangan menengah ke bawah, tapi mereka semua setia pada kita,"
"Sebenarnya papa trauma pada Beni mantan supir papa dulu. Dia papa tolong, papa angkat dari jalanan saat dia sudah tidak punya siapa-siapa dan apa-apa lagi. Tapi dia malah merampok papa dan membakar kedua orang tua papa,"
"Sedangkan ibu kandung Alva, dia meninggalkan papa saat tahu perusahaan papa hampir bangkrut,"ujar Bramantyo sesekali menarik nafas berat.
"Tidak apa-apa, pa. Kita hanya manusia biasa yang tidak sempurna yang kadang berbuat salah dan dosa. Tapi yang penting adalah, kita mau memperbaiki kesalahan kita,"ucap Disha.
__ADS_1
"Terimakasih, Dis. Dan papa harap, kalian mau tinggal bersama kami. Papa ingin bermain dengan cucu papa untuk menghilangkan penat. Rumah pasti akan ramai jika kalian bertiga pulang ke rumah,"ucap Bramantyo penuh harap.
"Aku sich, tidak masalah. Mau tinggal dimana pun asal ada anak dan suamiku, pasti aku mau,"ucap Disha yang berarti menyerahkan keputusan pada Alva.
"Bagaimana, Al? Kalian pulang ke rumah,ya?!'pinta Bramantyo.
"Baiklah, kami akan pulang ke rumah secepatnya,"ucap Alva membuat Ratih dan Bramantyo langsung mengembangkan senyum dibibir mereka.
Setelah makan malam bersama, akhirnya Ratih dan Bramantyo pun berpamitan pulang. Disha menemani Kaivan yang merangkak kesana-kemari dan kadang berdiri sambil berpegangan pada tembok, meja atau pun kursi. Sedangkan Alva berada di ruang kerjanya.
"Kaivan sayang, bobok yuk! Udah malam sayang',"ucap Disha kemudian menggendong Kaivan yang tidak berhenti berceloteh dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti oleh Disha.
Disha melepaskan baju Kaivan kemudian mencuci tangan dan kaki Kaivan. Setelah selesai, Disha pun segera memakaikan baju yang masih bersih pada Kaivan dan segera menyusui Kaivan agar bayi montok itu segera tidur.
"Sayang, minum susunya!"perintah Alva yang masuk ke dalam kamar, menyodorkan segelas susu untuk Disha dan segera diminum oleh Disha.
"Kaivan sudah tidur, sayang,"bisik Alva yang melihat putranya sudah memejamkan mata.
"Iya, tapi Kaivan masih menyusu, sayang. Jika aku lepaskan sekarang, dia pasti bangun lagi. Biarkan dia melepaskannya sendiri,"ucap Disha pelan agar Kaivan yang masih menyusu tidak terbangun.
Alva masuk kekamar mandi dan beberapa menit kemudian keluar. Alva membaringkan tubuhnya seraya mengecek email yang masuk. Disha membaringkan Kaivan yang sudah terlelap di dalam box bayinya. Setelah itu, Disha pun naik ke atas ranjang dan segera berbaring dengan menjadi lengan suaminya sebagai bantal.
"Sayang, tadi aku bertemu dengan Anjani dan Hery,"ucap Disha sambil mengelus dada bidang Alva yang bertelanjang dada.
"Apa mantanmu itu berbuat ulah lagi?"tanya Alva.
"Iya, dia bertengkar dengan Anjani di depan umum bahkan menarik Anjani yang sedang hamil besar itu dengan kasar. Tangan Anjani sampai membiru karena ulah Hery,"jelas Disha.
"Tega sekali dia,"sahut Alva.
"Untung saja aku tidak berjodoh dengan dia,"ucap Disha.
"Iya, dan kamu beruntung berjodoh dengan suamimu ini. Sudah gagah, jago beladiri, tampan, mapan dan penyayang lagi,"ujar Alva membanggakan diri sendiri.
"Ihh.. narsis!!"cibir Disha sambil mencubit pinggang Alva.
"Auwh.. sakit sayang!! Ini namanya KDRT," ucap Alva bercanda.
__ADS_1
"Habisnya narsis banget sich!"sahut Disha.
"Aku nggak narsis sayang, itu kan kenyataan,"ucap Alva kemudian mengecup puncak kepala istrinya beberapa kali.
"Aku kasihan dengan Anjani sayang, dua kali menikah tapi menikah dengan orang yang tidak mencintainya,"ucap Disha seraya menghela nafas panjang.
"Iya, dan dua orang pria yang dia nikahi itu dua duanya mencintai kamu,"ucap Alva sambil membelai rambut Disha.
"Itu kan bukan mau ku, sayang! Aku tidak memaksa orang untuk mencintai ku. Aku juga tidak menggoda pria agar menyukaiku,"ujar Disha.
"Iya, kamu tidak menggoda ku bahkan menolak untuk menikah dengan ku. Tapi karena itu aku nekat menikahi kamu. Karena banyak wanita yang ingin menjadi istri ku, pacar ku bahkan sekedar menjadi teman di atas ranjang ku, tapi kamu malah menolakku,"ujar Alva.
"Ya gimana nggak aku tolak?! Aku saja nggak kenal sama sekali sama kamu, masa tiba-tiba langsung dinikahkan,"kilah Disha.
"Tapi jujur sayang, jantung ku berdetak kencang saat aku pertama kali melihat mu keluar dari kamar mandi, apa lagi saat melihat body mu yang bak gitar Spanyol. Ditambah pas handuk kamu melorot. Uhh...keris pusaka ku langsung berdiri tegak,"
"Alien mesuum..!!!"pekik Disha kemudian menggelitik Alva.
"Ampun, sayang..!! Ha .ha..ha..!! Geli sayang!!"ucap Alva seraya tertawa karena kegelian.
***
Di kediaman Adiguna.
"Anjani.!! Buka pintunya! Anjani.!!"teriak Hery sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Anjani karena saat mau masuk, pintunya teryata dikunci dari dalam.
"Kenapa kamu mengetuk-ngetuk pintu kamar Anjani seperti itu?"tanya Adiguna yang tiba-tiba muncul.
"Ah..itu pa, Anjani lagi ngambek. Maklum bumil memang sensitif,"sahut Hery beralasan.
"Saya ingin bicara sama kamu! Saya tunggu di ruang kerja saya,"ucap Adiguna dengan wajah datar, langsung berjalan menuju ruang kerjanya.
"Jangan-jangan Anjani sudah mengadu pada papa,"gumam Hery yang jadi khawatir saat melihat ekspresi wajah Adiguna.
...🌟"Tidak selamanya orang tua itu selalu benar, dan seorang anak akan lebih menghargai dan menghormati orang tuanya saat mereka melakukan kesalahan tapi tanpa ragu dan gengsi mau meminta maaf pada anaknya."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued