Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
26. Menghindar


__ADS_3

Disha POV


Aku merasa senang karena Alva mengizinkan aku pergi bersama teman-teman ku. Setelah tiba di mall xx aku sudah ditunggu kedua temanku.


Mereka sibuk membicarakan tentang aku dan suamiku, tapi tidak terlalu aku respon. Saat ini perutku sudah keroncongan, dangdutan, cacing-cacing ini udah pada demonstrasi guys...


Tak lama kemudian kami sudah duduk menyantap makanan kami. Aku melihat Ferdi tak jauh dari tempat ku makan. Ya, Ferdi... orang suruhan alien.


Sejak aku tiba di kota ini orang itu selalu mengawasi dan mengikuti kemanapun aku pergi. Semula aku takut jika orang itu akan berbuat jahat padaku hingga suatu hari dia mendatangi ku dan menyerahkan sebuah amplop yang berisi black card didalamnya. Dia mengatakan jika itu dari si alien, dan sejak itulah aku tahu jika Ferdi adalah orang suruhan si alien.


Selesai makan Icha mengajak kami kesebuah butik. Kami memilih beberapa pakaian, tapi Icha dan Yessie nampak hanya mengambil satu, karena menyesuaikan dengan dompet mereka.


Aku melihat mereka nampak kebingungan memilih pakaian yang mana yang paling mereka sukai. Setelah menentukan pilihan, kami berjalan menuju kasir. Saat Yessie dan Icha berbicara harus irit belanja selama satu bulan ke depan gara-gara membeli baju di butik ini, tiba-tiba ada suara seorang pria dibelakang kami.


"Aku akan membayar baju yang kalian bertiga beli. Bahkan kalian juga boleh memilih beberapa lagi. Aku traktir kalian,"ucap seorang pria yang berdiri di belakang ku, Icha dan Yessie, membuat kami spontan menoleh ke belakang.


"Ka...kamu?!"ucap ku karena terkejut dan juga ketakutan.


Hery...ya pria di belakang kami adalah Hery. Mantan pacar......eh, dibilang mantan pacar tapi kami belum ada kata putus....jadi aku harus menyebutnya apa bestie??


Masa bodoh lah ...aku bingung soal itu, tapi yang pasti aku sudah melihat Ferdi mendekat kearah ku. Mampui aku.!!! Eh... maksud ku mampus aku.!!! Antek-antek alien ini pasti sudah laporan sama bos nya...si alien itu.


Sudah bisa di pastikan, si alien bakalan kebakaran jenggot jika tau aku ketemu Hery.Jadi aku harus jaga jarak agar si alien tidak cemburu buta.


"Maaf, anda siapa,ya?"tanya Yessie.


"Ayu tahu siapa aku,"ucap Hery tersenyum manis.


"Kamu kenal pria ini Dis?"tanya Icha menyelidik.


"Tentu saja dia kenal dengan saya. Kenal baik bahkan. Iya kan Ayu?"ucap Hery percaya diri.


Aku melirik Ferdi yang tangannya sudah mengepal pertanda dia sedang menahan amarahnya. Haduhh... antek-anteknya saja sudah marah, gimana dengan bosnya?! Alamat bakalan terjadi perang dunia ketiga ini.


"Ah .dia teman SMP ku dulu. Ya sudah, ayo kita bayar bajunya,"ucap ku agar tidak berlama-lama dengan Hery.

__ADS_1


"Eh..tapi katanya dia mau traktir kita loh Dis,"ucap Yessie.


Hadehh...ini anak nggak tahu kalau aku sampai ditraktir sama Hery, aku bakal diterkam macan pas pulang nanti.


"Aku yang traktir kalian,"ucap ku cari aman.


"Biar aku saja yang traktir kalian Yu,"ucap Hery.


"Iya Dis, malah katanya kita boleh memilih beberapa lagi. Iya kan Tuan?!"sahut Icha.


"Mbak tolong bawa semua baju yang sudah di pilih Nyonya saya dan teman-temannya tadi,"ucap Ferdi tiba-tiba.


Semua mata menatap pada Ferdi, pria bertubuh atletis dan tampan, walaupun tidak setampan alien ku, tapi menurut ku Ferdi termasuk tampan guys. Beberapa pelayanan datang membawa baju yang sudah kami pilih, tapi tidak jadi kami beli tadi.


"Dis, apa dia suamimu?"tanya Icha sambil berbisik.


"Bukan,"jawab ku singkat.


"Nyonya, silahkan di bayar dengan kartu yang sudah Tuan berikan,"ucap Ferdi menatap ku sekilas kemudian menunduk.


"Orang yang ditugaskan menjagaku,"jawab ku pelan.


"What?! Dia bodyguard mu?!tanya Yessie dengan suara keras membuat semua mata menatapnya, hingga Yessie menjadi salah tingkah.


"Biar saya saja yang membayar semuanya,"ucap Hery kekeh.


"Maaf Tuan, tapi Tuan saya mampu membayar barang belanjaan Nyonya saya dan juga teman-temannya,"ucap Ferdi dengan mata yang berkilat tidak suka pada Hery.


"Mbak tolong di hitung berapa total semuanya ya?!"ucap ku pada si kasir agar masalah ini tidak berlarut-larut.


"Mbak pakai ini saja bayarnya,"ucap Hery mengeluarkan kartu kredit Visa Infinite yang membuat ku jadi jengkel.


𝘒𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘬𝘳𝘦𝘥𝘪𝘵 𝘝𝘪𝘴𝘢 𝘐𝘯𝘧𝘪𝘯𝘪𝘵𝘦 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘶𝘮𝘶𝘮. 𝘒𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘦𝘬𝘴𝘬𝘭𝘶𝘴𝘪𝘧 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘢𝘴𝘦𝘵 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘜𝘚$100 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘤𝘢𝘴𝘩. 𝘉𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘮𝘪𝘵 𝘬𝘳𝘦𝘥𝘪𝘵 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘙𝘱50 𝘫𝘶𝘵𝘢 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘶𝘯𝘭𝘪𝘮𝘪𝘵𝘦𝘥. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘶𝘮𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘙𝘱250 𝘫𝘶𝘵𝘢, 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘳𝘦𝘥𝘪𝘵.


"Jangan Mbak, pakai ini saja,"ucapku sambil menyodorkan black card yang sudah lama aku simpan.

__ADS_1


"Dis, kamu punya black card?!"tanya Icha dan Yessie bersamaan dengan tatapan mata yang sulit diartikan.


"Baik Mbak,"ucap kasir tersebut menerima kartu ku.


"Ayu, kita bisa ngobrol -ngobrol sebentar kan? Sudah lama kita tidak bertemu,"ucap Hery tersenyum manis.


"Nyonya..."ucap Ferdi seolah memberi peringatan agar aku tidak menerima ajakan Hery.


"Maaf, aku sudah ada janji dengan seseorang,"ucap ku.


Aku nggak mau cari gara-gara bestie...jika aku menerima tawaran Hery, itu sama saja aku memancing kemarahan si alien. Dan aku tidak mau itu terjadi. Sekarang saja pasti dia sudah marah.


"Mari kita pulang Nyonya. Biar saya yang bawa barang belanjaannya,"ucap Ferdi membawa semua barang belanjaan kami.


"Ah.. iya. Her, kami duluan," ucapku langsung menarik kedua temanku keluar dari butik itu tanpa menunggu jawaban dari Hery.


"Ayu, tunggu.!! Aku minta nomor telepon kamu,"teriak Hery sambil mengejar ku.


"Maaf,"ucap ku melihat ke arahnya sebentar yang nampak dihadang dua orang pria yang ku kenali adalah anak buah Ferdi, kemudian aku melanjutkan langkahku.


Sampai di depan mall sudah ada mobil hitam yang berhenti di depanku dan Ferdi langsung membuka pintu mobil itu untukku.


"Nyonya, kita akan mengantar kedua teman anda, atau saya akan memesan taksi untuk mereka?"tanya Ferdi masih memegangi pintu.


"Kita antar saja Fer. Sekalian memisahkan mana baju Icha dan mana baju Yessie. Soalnya ini masih campur jadi satu,"ucap ku.


"Baik Nyonya,"sahut Ferdi.


Akhirnya kami naik di mobil itu sambil memisahkan baju -baju kami tanpa banyak bicara.


Saat sudah sampai di apartemen, aku melihat Alva nampak sibuk dengan laptopnya, mengacuhkan kedatangan ku. Biasanya dia selalu memeluk dan menyapa ku jika melihat ku. Tapi saat ini wajahnya terlihat datar. Mampui aku.!! Eh.. Mampus aku.!!!


...🌟"Menjaga kepercayaan itu sulit, tapi menjaga hati lebih sulit."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2