
"Dev, Al, Dis, makan malam sudah siap. Ayo kita makan bersama!"ajak Ratih yang tiba-tiba muncul di ruangan itu tanpa ke tiganya sadari.
"Iya, Tan,"sahut Radeva tersenyum tipis. Akhirnya ketiga orang itu pun mengikuti Ratih keruang makan dengan Kaivan dalam gendongan Radeva.
Setelah tiba di ruang makan, Kaivan pun segera di ambil alih oleh Bik Inah. Kedua keluarga itu pun makan dengan tenang sampai selesai. Selesai makan, Disha memilih masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Kaivan yang nampak sudah mengantuk.Dan tak lama kemudian Disha pun ikut bergabung di ruangan keluarga.
Tyo, setelah kami selesai memindahkan perusahaan induk kami ke sini dan Radeva sudah menemukan rumah yang cocok untuk kami tinggali, kami berencana untuk mengumumkan Disha sebagai putri kami di media cetak dan elektronik. Bagaimana menurut mu, Tyo?" tanya Mahendra.
"Menurut ku itu rencana yang bagus. Aku setuju,"sahut Bramantyo.
"Pa, kenapa harus diumumkan ke publik segala? Itu tidak perlu, pa,"sahut Disha yang memang tidak suka jika menjadi terkenal karena diumumkan sebagai putri seorang pengusaha yang mempunyai beberapa perusahaan di luar negeri yang perusahaan induk nya akan dipindahkan ke negara ini.
"Tapi papa ingin orang-orang mengetahui bahwa kamu adalah putri papa, sayang," ucap Mahendra.
"Boleh aku berpendapat, pa?"tanya Alva sopan.
"Silahkan, Al! Semua orang yang ada disini boleh memberikan pendapat dan masukan. Karena kita sekarang sudah menjadi satu keluarga,"ujar Mahendra.
"Terimakasih, pa. Menurut ku, bagaimana jika di umumkan pada saat papa dan mama mengadakan pesta kecil di rumah baru papa dan mama nanti saja. Cukup mengundang relasi bisnis saja, tidak perlu mengundang pers. Jika publik tahu Disha adalah putri papa, Disha pasti merasa tidak nyaman karena dimana pun dia berada akan dikenali banyak orang," ucap Alva mengemukakan pendapatnya karena tahu bagaimana istrinya.
Dan benar saja, Disha nampak tersenyum mendengar pendapat suaminya itu," Aku setuju dengan pendapat suamiku,"ucap Disha seraya memeluk lengan suaminya dengan manja.
"Nampaknya Alva memang yang paling mengerti dengan keinginan Disha,"sahut Ghina yang melihat Alva cepat tanggap dengan keinginan Disha, membuat Ghina ikut merasa bahagia, sedangkan Alva hanya tersenyum tipis menanggapi pujian mama mertuanya itu.
"Bagaimana dengan nama Disha, pa?"tanya Radeva.
"Nama Disha masih ada di dalam kartu keluarga kita. Namun jika Disha sudah nyaman dengan nama yang diberikan oleh orang tua angkat nya , papa tidak keberatan. Walaupun papa dan mama berharap Disha memperbaharui identitas nya sebagai putri mama dan papa,"jawab Mahendra menatap sekilas pada Disha.
"Menurut ku, memang akan lebih baik jika Disha memperbaharui identitas nya. Namun seperti pendapatku tadi, tidak perlu mempublikasikannya. Kekayaan yang dimiliki Disha saat ini sudah lumayan banyak, jika publik tahu Disha putri papa, publik pasti berpikir Disha adalah wanita yang kaya raya. Dan menurut ku, itu tidak baik untuk keselamatan Disha,"ujar Alva.
"Bilang saja kamu takut dapat banyak saingan,"celetuk Radeva seraya tersenyum yang langsung mendapat pelototan dari Alva,"Aku cuma bercanda adik ipar,"ucap Radeva jujur.
"Yang dikatakan Alva benar, pa. Papa tahu kan, semakin kita kaya akan semakin sulit membedakan mana orang yang tulus pada kita. Dan ada kemungkinan besar nyawa kita jadi incaran orang-orang tertentu yang ingin mencari keuntungan, pribadi,"sambung Radeva yang nampak mendukung pendapat Alva.
"Bagaimana menurut mu, sayang?"tanya Mahendra pada Disha.
"Aku setuju dengan suami ku dan juga kakak. Papa boleh mengganti identitas ku, tapi cukup keluarga dan rekan bisnis saja yang tahu, aku tidak ingin hal ini di publikasikan,"sahut Disha.
__ADS_1
"Baiklah jika seperti itu. Kita akan memperbaharui kartu keluarga kita dengan memasukkan kamu ke kartu keluarga yang baru dengan nama aslimu. Namun jika dalam keseharian kamu tetap memakai nama mu yang sekarang, papa tidak masalah. Yang penting adalah identitas aslimu akan papa pulihkan. Bagaimana, apa kamu setuju?"tanya Mahendra pada Disha.
"Iya, pa,"sahut Disha seraya tersenyum.
"Kalau begitu kakak akan kembali memanggil mu dengan nama kesayangan kakak untuk mu,"ucap Radeva tersenyum senang.
"Memangnya apa panggilan kesayangan kakak untuk ku?"tanya Disha pada Radeva.
"Rara, singkatan dari Shahira adik dari Radeva. Ra depan adalah nama kakak dan Ra kedua adalah nama belakang kamu,"sahut Radeva dengan senyum lebar.
"CK..Lebay!"cibir Alva.
"Sirik!"balas Radeva membuat mereka yang ada di ruangan itu geleng-geleng kepala karena kedua saudara ipar itu selalu saja berdebat.
***
Di rumah Riky dan Yessie.
Sore tadi, Yessie pulang sendirian tanpa Riky. Selama seminggu honeymoon kemarin, berasa seperti liburan bagi sepasang pengantin baru itu. Pasalnya tidak ada kegiatan ranjang layaknya pasangan pengantin baru yang sedang honeymoon dikarenakan Yessie kedatangan tamu bulanannya.
Yessie menyiapkan makan malam untuknya dan Riky. Menjelang jam tujuh malam setelah Yessie selesai menyiapkan makan malam, Riky baru pulang.
"Kak, aku siapkan air hangat untuk kakak mandi, ya? Setelah kakak mandi, kita makan malam bersama,"ujar Yessie seraya mengambil alih tas kerja Riky yang berisi berkas dan laptopnya.
'Terimakasih,"ucap Riky tersenyum tipis dengan wajah yang nampak lelah.
Yessie langsung meletakkan tas Riky di ruangan kerjanya kemudian menyiapkan air untuk Riky mandi. Saat Riky mandi, Yessie pun menyiapkan pakaian ganti untuk Riky kemudian menunggu Riky di meja makan.
Riky keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar dan langsung menuju meja makan, karena cacing-cacing di dalam perutnya memang sudah demonstrasi dari tadi.
"Ini enak. Kamu masak sendiri?"tanya Riky setelah selesai menyantap makan malamnya dengan lahap.
"Iya, kak,"sahut Yessie tersenyum senang karena suaminya nampak lahap memakan masakannya, bahkan memuji masakan yang dibuatnya.
"Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor. Bisa minta tolong buatkan kopi untuk ku?"tanya Riky.
"Tentu saja,"sahut Yessie dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Gulanya satu sendok saja, ya! Kalau lebih dari satu sendok nanti kemanisan, soalnya yang membuat nya sudah manis," ucap Riky tersenyum sambil menoel dagu Yessie kemudian berlalu begitu saja membuat pipi Yessie memerah karena digombali suaminya sendiri.
Setelah Riky meninggalkan meja makan menuju ruang kerjanya, Yessie membereskan meja makan dan mencuci alat makan mereka tadi, setelah itu Yessie membuat kopi dan mengantarnya ke ruang kerja Riky.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"sahut Riky dari dalam. Yessie masuk ke dalam ruang kerja Riky sambil membawa kopi pesanan Riky.
"Ini kopinya, kak,"ucap Yessie seraya meletakkan kopi yang dibawanya diatas meja kerja Riky.
"Terimakasih! Kamu istirahat saja lebih dulu. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan ku,"ucap Riky yang jemarinya nampak lihai mengetik di atas keyboard laptopnya, menatap Yessie sekilas.
"Iya, kak,"sahut Yessie kemudian keluar dari ruangan itu.
Yessie menunggu Riky menyelesaikan pekerjaannya, bersandar di headboard ranjang seraya memainkan handphonenya, membuka media sosial miliknya. Namun karena menunggu Riky terlalu lama, tanpa sadar Yessie ketiduran dengan handphone masih menyala.
"Ceklek"Riky membuka pintu kamarnya dan mendapati istrinya sudah terlelap. Perlahan meraih handphone Yessie menggulir sebentar medsos milik Yessie yang hanya berisi beberapa buah foto Yessie, kemudian meletakkan handphone itu di atas nakas.
"Cantik,"ucap Riky menatap wajah Yessie yang sedang terlelap, menatap bibir Yessie yang membuatnya ingin mencium bibir itu lagi.
Perlahan Riky mendekatkan bibirnya ke bibir Yessie, namun saat mengingat dia mencium Yessie yang sedang tidur lalu dihadiahi tendangan maut oleh Yessie, Riky pun mengurungkan niatnya untuk mencium Yessie.
Dengan sengaja Riky mengusap pipi dan bibir Yessie agar Yessie terbangun. Dan benar saja, Yessie terbangun karena ulah Riky itu.
"Em.. maaf! Aku ketiduran, kak,"ucap Yessie yang nampak serba salah karena ketika terbangun, wajah Riky begitu dekat dengan wajahnya.
Perlahan Riky semakin mendekat kemudian melum mat bibir Yessie dan tangannya pun mulai bergerilya, membuat tubuh Yessie meremang. Satu demi satu, helai demi helai kain yang melekat di tubuh mereka pun terlepas dan berceceran di lantai.
Dalam kamar itu pun mulai terdengar desa Han dan lenguhan bahkan jeritan kesakitan Yessie, lalu kembali terdengar desa Han yang bersahutan dan berakhir dengan lenguhan panjang saat sepasang pengantin baru itu mendapatkan puncak kenikmatan mereka bersamaan.
"Terimakasih!"ucap Riky mengecup kening Yessie, kemudian merebahkan tubuhnya di samping Yessie, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos kemudian mendekap Yessie dalam pelukannya.
"Aku nggak nyangka kalau rasanya enak banget. Sebentar lagi boleh minta lagi kan?"tanya Riky menatap wajah Yessie.
"Hah?!"
To be continued
__ADS_1