Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
211. Di Keroyok


__ADS_3

"Tyo, kenalkan, ini kakakku Nalendra dan itu istrinya, Neda,"ucap Mahendra. Bramantyo pun langsung menyalami Nalendra namun saat akan beralih untuk menjabat tangan Neda, Bramantyo nampak terkejut saat melihat Neda, begitu pula dengan Neda yang tadinya belum melihat Bramantyo karena sedang membalas chat dari temannya. Namun Bramantyo langsung menyembunyikan keterkejutannya itu dan bersikap biasa.


"Bramantyo ini, adalah sahabat lamaku, sekaligus besan ku, ayah dari Alva ,"ujar Mahendra, sedangkan Neda nampak memperhatikan Alva. Bramantyo sendiri nampak tidak tertarik sama sekali untuk menatap Neda.


"Pa, mana Kaivan?"tanya Ratih yang menghampiri Bramantyo.


"Dia tadi sudah gelisah ma, sepertinya mau tidur, jadi papa berikan pada Disha," sahut Bramantyo, sedangkan Neda nampak memperhatikan Ratih dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"𝙅𝙖𝙙𝙞 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙩𝙪? 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖𝙠𝙪? 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙞𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩, 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙪𝙢𝙪𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙞𝙩𝙖𝙧 𝟯𝟬 𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣𝙖𝙣, 𝙨𝙚𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤 𝙙𝙪𝙡𝙪. 𝘼𝙩𝙖𝙪𝙠𝙖𝙝 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙩𝙪? 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙪𝙡𝙪. 𝘿𝙞𝙖 𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙠𝙪,"batin Neda berasumsi.


"Oh ya, kak. Ini adalah Ratih, istri Bramantyo. Rat, kenalkan, itu adalah kakak ipar ku, Nalendra dan istrinya Neda,"ucap Ghina memperkenalkan mereka. Ratih pun menjabat tangan keduanya.


"Aku seperti mengenalmu,"ucap Nalendra menatap Ratih dan nampak mengingat- ingat siapa Ratih,"Ach.. sekarang aku ingat, kamu adalah istri Hendri, kan? Aku dengar, suami dan anakmu meninggal saat terjadi kecelakaan 30 tahun yang lalu,"ucap Nalendra yang dulu memang mengenal Ratih dan Hendri ( almarhum suami pertama Ratih).


"Iya, almarhum Hendri adalah suami pertama ku. Hendri dan anak kami yang berusia 5 tahun meninggal dalam kecelakaan itu,"sahut Ratih yang seketika merasa sedih saat mengingat kejadian itu.


"Paman, bibi, apa kabar?"tanya Trisha dengan wajah ceria, tiba-tiba muncul bersama dengan Hery di belakangnya.


"Baik,"sahut Nalendra singkat, sedangkan Trisha langsung mencium pipi kiri dan kanan Neda. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar dan berpenampilan anggun.


"Dia siapa?"tanya Nalendra menunjuk pada Hery.


"Dia adalah suami Trisha,"sahut Mahendra dan Hery pun langsung menyalami Nalendra dan Neda.


"Kamu sudah menikah, Tris? Kok nggak ngasih kabar?"tanya Neda.


"Hanya pernikahan sederhana, Tan. Papa dan mama tidak mau mengadakan resepsi pernikahan kami,"sahut Trisha memasang wajah memelas, membuat Mahendra dan Ghina membuang napas kasar bersamaan.

__ADS_1


"Apa mau dirayakan bareng pernikahan Radeva?"tanya Neda.


"Ah..benar apa yang dikatakan oleh Tante, ma. Sebaiknya, resepsi pernikahan ku diadakan nanti, bareng sama resepsi pernikahan kak Radeva,"ucap Trisha nampak antusias.


"Kamu menikah sudah lama, kenapa mesti harus diadakan resepsi nanti bareng resepsi pernikahan Radeva,"ucap Mahendra malas.


"Ya kenapa dulu papa dan mama tidak mau mengadakan resepsi pernikahan ku? Bahkan kalian tidak memberikan paket bulan madu untuk ku,"sahut Trisha pura-pura merajuk.


"Kalian kan menikah buru-buru karena takut hamil duluan. Jadi, kenapa mama dan papa harus repot-repot menggelar resepsi pernikahan kamu,"sahut Ghina.


"Lagipula, Shahira yang putri kandung mama dan papa saja tidak pernah meminta apapun. Padahal selama 26 tahun kami tidak pernah memberikan apapun padanya. Tapi kamu yang hanya anak angkat malah berani meminta warisan dari kedua orang tua angkat mu, memalukan!"sahut Radeva yang tiba-tiba muncul bersama Icha.


"Apa kalian yakin, jika Disha itu adalah putri kalian? Bisa saja dia hanya mengaku-ngaku sebagai putri kalian karena kalian kaya raya,"celetuk Trisha yang merasa tidak terima dan semakin membenci Disha, saat mengetahui bahwa Disha adalah putri kandung dari kedua orang tua angkatnya, wanita yang dibencinya karena tidak bisa merebut Alva dari Disha.


"Apa kamu pikir aku tidak bisa mencukupi kebutuhan istri ku, hingga dia harus mengaku-ngaku sebagai putri orang agar bisa mendapatkan uang? Sebelum istri ku bertemu dengan kedua orang tua kandung nya, istri ku tidak pernah kekurangan apapun. Jadi, buat apa dia mengaku-ngaku sebagai putri orang lain? Ketenaran? Bahkan istri ku tidak mau identitasnya disebar luaskan ke media. Dia bukan wanita yang gila hormat dan ketenaran, dia juga bukan wanita yang gila harta seperti mu. Dia selalu menerima apapun yang aku berikan tanpa meminta apapun dari ku," ujar Alva panjang lebar, menahan emosi menatap tajam pada Trisha. Alva sangat tidak suka jika ada orang yang berbicara buruk tentang istrinya.


"Kenapa kalian mengeroyok aku? Apa karena aku tidak punya keluarga selain kalian, maka kalian berhak berlaku sewenang-wenang padaku? sergah Trisha.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙏𝙧𝙞𝙨𝙝𝙖? 𝙋𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙙𝙪𝙡𝙪, 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙏𝙧𝙞𝙨𝙝𝙖. 𝘼𝙥𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙎𝙝𝙖𝙝𝙞𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪? 𝘿𝙖𝙣 𝘼𝙡𝙫𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙖 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖𝙠𝙪? 𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙪𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘽𝙧𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙮𝙤," gumam Neda dalam hati.


"Sudah! Cukup?"bentak Mahendra.


"Em..Rat, sebaiknya kalian menginap di sini saja, ya? Biar ramai,"ucap Ghina mencoba mencairkan suasana yang terasa menjadi panas.


"Tentu saja aku mau. Kita menginap di sini saja ya, pa?"tanya Ratih menatap Bramantyo penuh harap.


"Terserah mama saja,"sahut Bramantyo tersenyum lembut pada Ratih.Interaksi keduanya pun tidak lepas dari tatapan Neda yang nampak tidak suka.

__ADS_1


"Ini sudah larut malam, para tamu pun sudah pada pulang semua. Kalau begitu, aku akan mengantarkan Icha pulang," sahut Radeva.


"Kamu benar, Dev. Sebaiknya kamu antar kan calon istri mu pulang," sahut Ghina, kemudian Icha pun berpamitan pada semua orang setelah itu Radeva pun mengantarkan Icha pulang.


"Aku boleh menginap di sini, kan?"tanya Trisha, menatap Mahendra dan Ghina bergantian.


"Silahkan saja, masih banyak kamar tamu yang kosong,"sahut Mahendra datar.


"Ya sudah, kalian istirahat saja dulu," ucap Ghina.


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, setelah pelayan menunjukkan kamar mereka.


"Sekarang, apa lagi yang bisa kamu sombong kan? Orang tua angkat mu bahkan tidak lagi menyukaimu,"cibir Hery saat mereka sudah masuk ke kamar mereka.


"Apa kamu tidak berkaca? Bukankah kamu sendiri juga tidak punya apa-apa?" balas Trisha.


'Setidaknya aku adalah keponakan Darmawan, kami masih memiliki hubungan darah. Sedangkan kamu... kamu hanya seorang anak angkat. Jika saja aku tidak malas mendengar ocehan Darmawan, sudah aku cerai kan kamu,"tukas Hery menatap remeh pada Trisha.


"Lalu, apa kamu pikir aku menyukai mu? Kamu itu tidak ada harganya di mataku! Dasar pria tidak berguna!"umpat Trisha.


"Akkhh.!!"pekik Trisha saat tiba-tiba Hery mendorongnya dengan keras hingga Trisha jatuh terlentang di ranjang yang ada di belakangnya.


Hery langsung naik ke atas ranjang dan mencengkram kedua pipi Trisha dengan jari telunjuk dan jari jempolnya,"Apa kamu pikir, aku menyukaimu? Kamu itu hanya sebatas wanita penghangat ranjang ku! Tidak berarti apa-apa bagiku, selain untuk memuaskan kebutuhan biologis ku,"ucap Hery kemudian melepaskan cengkeraman di pipi Trisha dan berlalu ke kamar mandi.


"Argh.!! Hery sialan?!"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2