
Saat akan memasuki mall, ternyata Yessie yang diajak Icha dan Disha ke mall pun sudah sampai duluan.
"Dis, Cha!"panggil Yessie, menggandeng Riky menghampiri kedua sahabatnya.
"Kalian sudah lama menunggu kami?"tanya Disha saat Yessie sudah berada di depan mereka.
"Baru, kok. Iya kan, kak?"tanya Yessie pada Riky.
"Iya. Kami juga baru sampai Nyonya,"sahut Riky.
"Ya udah, yuk, jalan! ucap Disha.
Akhirnya rombongan Disha pun mulai berbelanja. Sejenak, Icha dan Disha nampak melupakan tentang apa yang mereka lihat di kafe tadi. Yessie yang nampak antusias dalam belanja, sedangkan Riky bertugas menjadi penilai setiap ke tiga wanita itu mencoba pakaian. Para wanita itu terus saja berjalan kemanapun yang mereka suka, dan mencoba apapun yang mereka inginkan.
"Aku mau ke toilet dulu,"ucap Disha.
"Aku ikut!" sahut Yessie lalu menatap Icha, begitupun Disha yang ikut menatap Icha..
Mengerti arti tatapan mata Yessie dan Disha, Icha pun berkata,"Aku nggak ikut. Aku di nunggu di sini aja,"ucap Icha, dan kedua sahabatnya pun berlalu meninggalkannya.
Radeva dan Jessi tiba di mall itu, mencari hadiah yang cocok untuk kakak Jessi. Mereka nampak memasuki sebuah butik dan memilih kemeja, dasi dan jas untuk kakak Jessi. Setiap kali memilih kemeja jas dan dasi, Jessi selalu menempelkan ke tubuh Radeva untuk melihat cocok atau tidaknya. Hingga Jessi menemukan kemeja , dasi dan jas yang menurutnya sesuai untuk kakaknya. Lalu keduanya berjalan menuju toko arloji.
Kedua orang itu tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang menatap mereka dari tadi. Icha duduk di kursi tunggu melihat Radeva dan Jessi yang sedang memilih kemeja , jas dan dasi. Icha berusaha menahan diri untuk tidak menangis, kendati hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Di rumah tadi , Radeva nampak mengacuhkan dirinya, sibuk dengan handphonenya. Bahkan saat Icha bertanya baik-baik, apa dirinya punya salah pada Radeva, Radeva malah memilih pergi dengan alasan sudah ada janji dengan seseorang. Di kafe tadi Icha melihat Radeva nampak berbincang akrab dan tertawa bersama seorang wanita. Dan sekarang, Radeva menemani wanita itu berbelanja. Wanita yang bersama Radeva bahkan melingkarkan arloji pilihannya di tangan Radeva. Ternyata Radeva janjian dengan wanita itu dan mengabaikan dirinya.
Yessie dan Disha nampak berjalan mendekati Icha yang saat ini sedang berdiri menatap Radeva dan Jessi yang sedang asyik memilih arloji. Yessie dan Disha mengurangkan niat mereka untuk memanggil Icha, saat mereka melihat mata Icha yang berkaca-kaca menatap ke suatu arah. Karena merasa penasaran dengan apa yang dilihat oleh Icha, Disha dan Yessie pun menatap ke arah yang ditatap oleh Icha. Seketika mata Yessie dan Disha membulat saat melihat Radeva bersama seorang wanita sedang asyik memilih arloji.
__ADS_1
"Apa yang terjadi di sini?"tanya Ferdi pada anak buahnya yang bertugas menjaga Icha.
"Nyonya Icha dari tadi melihat Tuan Dev memilih kemeja, jas dan dasi bersama wanita itu. Dan sekarang Nyonya Icha sedang melihat Tuan Dev sedang memilih arloji dengan wanita itu lagi,"jelas anak buah Ferdi agak pelan.
"πππ‘π ππ£π, ππ£ππ πππ£ππ§-πππ£ππ§ πππ‘ππ’ π’ππ¨ππ‘ππ, ππͺππ£, πΏππ«,"gumam Ferdi dalam hati, menghela napas dan menggelengkan kepalanya pelan. Begitupun Riky yang ada di sebelah Ferdi, dia pun menghela napas dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kakak!"teriak Disha dengan tangan mengepal dan wajah yang nampak menggelap, menatap Radeva dengan penuh amarah.
Radeva yang sangat mengenal suara orang yang berteriak itupun langsung menoleh dan matanya langsung membulat melihat Disha dan Icha yang berada tidak jauh darinya. Sedangkan Icha yang hatinya sedang kacau balau pun tersentak mendengar teriakkan Disha yang berada di sampingnya. Melihat Radeva yang sedang menatapnya, Icha pun langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan cepat, pergi meninggalkan tempat itu.
Radeva langsung beranjak dari tempatnya, bermaksud mengejar Icha,"Sayang! Tunggu!"panggil Radeva pada Icha, tapi Disha langsung menghujani Radeva dengan pukulan di dadanya."Dasar brengseek! Berani-beraninya kakak berbuat seperti ini di belakang kami!"
"Sayang, ini tidak seperti yang kalian pikirkan!"jelas Radeva, tapi tidak dihiraukan oleh Disha.
Setelah beberapa kali memukuli kakaknya, Disha pun pergi meninggalkan kakaknya dan berlari menyusul Icha.
Ferdi membuang napas kasar lalu mendekati Radeva,"Sebaiknya anda mengejar Nyonya,"ucap Ferdi kemudian bergegas menyusul majikannya.
"Shitt!"umpat Radeva segera berlari menyusul istrinya.
"Kak Dev!"panggil Jessi, namun tidak dihiraukan oleh Radeva,"Siapa kedua perempuan itu? Mereka berdua nampak marah saat melihat kak Dev bersamaku. Dan kak Dev memanggilnya mereka berdua dengan panggilan 'sayang. Jangan bilang kalau kedua wanita itu adalah istri kak Dev,"gumam Jessi yang penasaran.
Jessi tidak mengetahui jika Radeva sudah menikah, karena tidak ada pemberitaan di media. Walaupun orang tuanya mendapatkan undangan dari Radeva saat resepsi pernikahan Radeva, Jessi tidak mengetahuinya, karena sebelum undangan itu datang, dia sudah berada di negeri ginseng untuk melakukan operasi plastik dan baru pulang tiga hari yang lalu. Setelah pulang pun dia langsung pergi ke negara ini untuk bertemu Radeva.
Radeva terus mengejar Icha, namun sebelum Radeva berhasil mengejarnya, Icha langsung masuk ke sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya. Radeva berlari ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Radeva berusaha mengejar taksi yang ditumpangi oleh Icha, namun kehilangan jejak. Akhirnya Radeva memutuskan untuk pulang dan berharap istrinya sudah ada di rumah saat dia tiba di rumah nanti..
Setelah menempuh perjalanan dengan perasaan gusar, Radeva akhirnya tiba di rumahnya. Radeva langsung keluar dari mobilnya yang diparkir sembarangan, dan berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
"Sayang! Sayang! Kamu dimana? Sayang!"panggil Radeva setelah masuk ke dalam kamar, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kemudian berlari menuju kamar mandi. Namun tidak ada siapapun di dalam kamar mandi, bahkan lantainya pun terlihat kering. Radeva menghubungi Icha berkali-kali, tapi handphone Icha malah tidak aktif.
"Arrghh! Sial! Sial!"pekik Radeva mengacak-acak rambutnya dan menendang- nendang udara,"Kenapa aku bisa lupa kalau mereka juga pergi ke mall itu. Arrghh!"pekik Radeva lagi.
Sedangkan Icha, wanita itu turun di sebuah terminal bus, kemudian langsung masuk ke salah satu bus yang sudah hampir berangkat. Ramainya orang di terminal, belum lagi harus mencari tempat untuk memarkirkan mobil, membuat bodyguard yang ditugaskan untuk mengawasi Icha pun kehilangan jejak Icha. Pria itu berkeliling di terminal itu, keluar masuk bus untuk mencari Icha, tapi tidak membuahkan hasil. Pria itu pun langsung menghubungi Alva untuk melapor dan Alva pun menyuruh Ferdi untuk melacak keberadaan Icha.
Radeva keluar dari kamarnya dengan wajah kusut, bermaksud mencari Icha di rumah kedua orang tuanya,"Kakak mau kemana?"tanya Alva membuat Radeva menghentikan langkahnya.
"Ke rumah orang tua Icha,"sahut Radeva tidak bersemangat.
"Kakak ke sana untuk mencari kakak ipar atau untuk menanyakan kemana kira-kira kakak ipar pergi?"tanya Alva seraya membuang napas kasar.
"Maksudmu?"tanya Radeva nampak bingung dengan pertanyaan adik ipar nya itu, apalagi saat melihat ekspresi kesal di wajah Alva
"Anak buah ku mengikutinya, dan kehilangan jejak saat kakak ipar masuk ke terminal. Buat apa dia ke terminal jika ingin pulang ke rumah orang tuanya? Jadi aku merasa, kakak ipar saat ini pasti tidak ada di rumah orang tuanya. Bukankah sebelum Kakak pergi tadi aku sudah memperingatkan kakak? Jangan sampai kakak membuat rekam jejak yang buruk. Sangat susah untuk membujuk mereka, jika hati mereka sudah sangat terluka. Dan kali ini kakak benar-benar melukainya,"
"Sebelum kakak pergi, kakak mengacuhkannya, setelah itu dia melihat kakak di sebuah kafe bersama seorang wanita, berbicara akrab dan tertawa bersama wanita itu. Parahnya kakak mengacuhkan istri kakak dan malah menemani wanita lain berbelanja di tempat yang sama pula dengan tempat istri kakak berbelanja,"ujar Alva masih dengan wajah dan tatapan kesal pada Radeva.
"Di..dia melihat ku di kafe?"tanya Radeva nampak terkejut.
"Iya, bahkan dia melihat kakak sejak kakak masuk ke dalam butik dengan wanita yang sama. Apa kakak lupa kalau kakak sekarang adalah pria yang sudah beristri? Kenapa malah mementingkan menemani wanita lain dari pada menemani istri kakak sendiri?Apa kakak berniat berselingkuh?"ketus Alva.
"Mana mungkin aku seperti itu! Wanita itu hanya temanku, rekan bisnis ku, sekaligus orang yang pernah aku tolong. Aku tidak ada hubungan apapun dengan nya selain itu,"bantah Radeva," Arrghh! Sial! Sial! Sial!"pekik Radeva menjambak rambutnya menendang-nendang udara.
"Sebaiknya kakak tanyakan pada mertua kakak, kemana kira-kira kakak ipar pergi. Jelaskan apa yang terjadi! Akui kesalahan kakak! Jika kakak tidak mau mengakui kesalahan kakak, akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari mertua kakak, apalagi dari istri kakak,"ujar Alva lalu pergi meninggalkan Radeva. Namun baru lima langkah Alva berjalan, pria itu membalikkan tubuhnya. "Kabari aku jika kakak mendapatkan informasi dari mertua kakak, karena saat ini, anak buah ku sedang mencari keberadaan kakak ipar,"ucap Alva kemudian kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Radeva..
Radeva membuang napas kasar, merasa kesal dengan dirinya sendiri yang begitu bodohnya menemani wanita lain berbelanja dan mengacuhkan istrinya. Dan parahnya, istrinya melihat semua kelakuannya itu.
__ADS_1
...πΈβ€οΈπΈ...
To be continued