Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
224. Hanya Satu Bulan


__ADS_3

"Apa kamu dan Ruzian baik-baik saja, sayang?"tanya Sandy seraya meneliti tubuh Anjani dan Ruzian.


"Iya kak. Kami baik-baik saja,"jawab Anjani masih agak shock dan menatap sungai tempat Hery dan mobilnya tenggelam.


"Kita pulang dulu, ya? Aku sudah menyuruh orang untuk mengambil mobil Hery. Kamu tenangkan Ruzian,"ucap Sandy seraya mengelus kepala Ruzian yang masih menangis.


Sandy membawa keduanya ke mobilnya, dan Anjani pun mencoba menenangkan Ruzian. Setelah sampai di rumah, Sandy menyuruh Anjani untuk beristirahat, kemudian Sandy pun menghubungi papanya.


"Halo, pa!"ucap Sandy setelah Darmawan mengangkat teleponnya.


"Ada apa, San?"tanya Darmawan.


"Pa, Hery jatuh ke sungai,"ucap Sandy.


"Jatuh ke sungai? Sungai mana? Dan kenapa bisa jatuh ke sungai?"tanya Darmawan terdengar khawatir. Biar bagaimanapun kelakuan Hery, pria itu tetaplah keponakan yang telah Darmawan rawat dan besarkan dari kecil..


Sandy akhirnya menceritakan pada Darmawan apa yang terjadi. Dari saat Hery yang bertanya siapa yang memakai mobil Sandy, ekspresi terkejut Hery saat mengetahui Anjani dan Ruzian yang memakai mobil Sandy, Hery yang bergegas pergi menyusul Anjani hingga akhirnya jatuh ke dalam sungai bersama mobil Sandy yang dipakai oleh Anjani, setelah berhasil menyelamatkan Anjani dan Ruzian.


"Apa kamu sudah menghubungi Tim SAR ?"tanya Darmawan.


"Sudah, pa,"sahut Sandy.


Setelah selesai menelpon papanya, Sandy pun menemui Anjani, sedangkan Ruzian sudah diambil oleh pengasuhnya.


"Sayang!"ucap Sandy seraya mengelus punggung Anjani.yang duduk termenung di pinggir ranjang


"Kak!"ucap Anjani menatap Sandy dengan tatapan sendu.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mobil yang kamu kendarai bisa menggantung di jembatan?"tanya Sandy lembut.


"Awalnya, semua baik-baik saja, kak. Semua normal, hingga aku mendahului sebuah truk dan tiba-tiba saja, rem mobil menjadi blong. Aku berusaha mengemudi dengan baik, namun saat tiba di jembatan, tiba-tiba mobil di depan ku langsung putar balik hingga aku reflek membanting kemudi ke samping dan akhirnya separuh badan mobilku sudah tidak lagi berada di jembatan. Hery tiba-tiba datang dan menolong kami. Tapi sebelum dia sempat keluar dari mobil, mobil itu sudah jatuh ke sungai,"jelas Anjani nampak masih belum tenang karena kejadian yang menimpanya tadi dan juga karena melihat Hery yang menolongnya malah jatuh ke sungai.

__ADS_1


"Tenang lah! Semuanya akan baik-baik saja,"ucap Sandy seraya merengkuh Anjani ke dalam pelukannya.


"Apa Hery akan baik-baik saja, Kak?" tanya Anjani dalam pelukan Sandy.


"Aku tidak tahu. Tim SAR masih berusaha melakukan pencarian,"ujar Sandy seraya mengelus punggung Anjani agar istrinya itu bisa tenang.


***


Sungai tempat Hery jatuh itu termasuk lebar, dalam dan mempunyai aliran yang sangat deras, ditambah lagi airnya yang meluap karena hujan yang mengguyur kota itu semalaman. Tim SAR pun kesulitan untuk mencari Hery. Tiga hari kemudian, air sungai itu lumayan surut, dan akhirnya Tim SAR pun menemukan mobil Sandy dan juga Hery yang sudah tidak bernyawa lagi.


Sandy pun melakukan penyelidikan terhadap mobilnya yang mengalami rem blong. Dan hasilnya, polisi mengatakan bahwa mobil itu sengaja di rusak seseorang hingga akhirnya mengalami rem blong. Sandy teringat dengan cctv yang dipasang nya secara sembunyi- sembunyi di beberapa sudut di rumah Darmawan, kemudian memeriksa cctv itu. Sandy menemukan rekaman dimana Hery yang sedang mengotak-atik mobilnya pada malam sebelum terjadi kecelakaan.


Namun apa gunanya semua bukti itu? Pada akhirnya Hery mati karena menyelamatkan anaknya dan juga ibu dari anaknya yang hampir saja celaka karena ulahnya sendiri. Penebusan dosa? Anggap saja begitu.


Keluarga Mahendra ikut mengantarkan Hery ke peristirahatan nya yang terakhir. Tidak ada satu orang pun yang menangis saat mengantarkan kepergian Hery. Hanya wajah-wajah yang merasa prihatin dengan apa yang dilakukan oleh Hery selama ini. Bahkan Trisha sebagai istrinya saja nampak biasa saja, sama sekali tidak ada kesedihan di wajahnya, malah terlihat dia menyembunyikan raut bahagianya karena meninggalnya Hery.


"𝘼𝙠𝙝𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙙𝙞𝙖. 𝘿𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙠𝙚 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙈𝙖𝙝𝙚𝙣𝙙𝙧𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖,"batin Trisha menipiskan bibirnya. Akhirnya keinginannya untuk kembali ke rumah Mahendra pun akan terwujud.


***


"Aku senang sekali, si Hery brengseek itu akhirnya mampus juga. Aku akan kembali tinggal dengan keluarga Mahendra,"gumamnya dengan raut wajah bahagia.


Tak berapa lama, Trisha pun tiba di kediaman Mahendra. Menyuruh beberapa Art untuk membawa kopernya masuk, berlagak seperti tuan rumah.


"Hai...pa, ma!" sapa Trisha menghampiri Mahendra dan Ghina yang berada di ruang keluarga bersama Radeva, Alva, Disha dan Kaivan.


"Kamu?"ucap Mahendra.


"Nyonya, koper nona Trisha harus saya bawa kemana?"tanya seorang Art.


"Koper?"tanya Ghina menatap tiga buah koper besar yang dibawa dua orang Art.

__ADS_1


"Apa maksud kamu membawa koper sebanyak itu ke rumah ini?"tanya Radeva seraya memicingkan matanya.


"Tentu saja aku akan kembali tinggal bersama kalian. Aku sekarang kan sudah tidak punya suami lagi. Nggak mungkin kan, aku tinggal di rumah Darmawan lagi?"tanya Trisha dengan wajah cerah.


"Kami tidak bisa lagi menampung mu di rumah kami,"sahut Mahendra dengan wajah datar.


"Apa maksud papa? Paman sekeluarga saja bisa tinggal disini, kenapa aku yang anak kalian tidak bisa tinggal di sini bersama kalian?"tanya Trisha.


"Besok pagi, mereka akan pindah dari sini, karena mereka sudah menemukan rumah untuk tempat tinggal mereka," sahut Radeva.


"Ya tapi, mereka kan sebuah keluarga, sedangkan aku sekarang tidak punya siapa-siapa selain kalian. Aku adalah anak kalian, di dalam kartu keluarga aku juga putri kalian, jadi wajar kan, jika aku tinggal bersama kalian lagi setelah suamiku meninggal?"ucap Trisha percaya diri.


Ghina menghela napas panjang mendengar kata-kata Trisha itu, sedangkan Alva dan Disha memilih diam, tidak mau ikut campur dalam urusan Trisha.


"Kamu bukan lagi putri kami, kamu telah kami keluarkan dari kartu keluarga kami,"ucap Mahendra tegas.


"Apa? Papa mengeluarkan aku dari kartu keluarga? Mana bisa begitu? Papa berbuat sewenang-wenang kepadaku," protes Trisha.


"Kenapa tidak bisa? Kamu hanyalah anak angkat kami. Bahkan setelah kamu keluar dari rumah kami, kami telah berikan uang dan juga sebuah butik untuk usaha. Kamu sudah dewasa, jadi kami tidak punya kewajiban lagi untuk mengurus kamu,"ucap Mahendra tegas.


"Tapi, pa, rumah ini sangat besar, kamarnya pun banyak, masa papa tidak mengijinkan aku tinggal di sini?"ucap Trish masih keukeh ingin tinggal di rumah Mahendra.


"Papa izinkan kamu tinggal di sini selama satu bulan untuk mencari tempat tinggal baru. Setelah satu bulan, kamu harus keluar dari rumah ini. Dan papa tidak akan mendengarkan alasan apapun lagi. Ingat! Setelah satu bulan kamu harus keluar dari rumah ini!"ucap Mahendra kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Bik, tolong bawa koper Trisha ke kamar tamu!"pinta Ghina.


"Baik, Nyonya,"sahut para Art yang membawanya koper Trisha.


Dengan wajah kesal, Trisha pun mengikuti para Art yang membawa kopernya ke kamar tamu.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2