Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
169. Salam Perkenalan


__ADS_3

Disha merenggangkan pelukannya pada Alva kemudian menoleh pada Radeva yang sedang menatap mereka berdua. "Kakak tidak apa-apa?"tanya Disha ingin beranjak menghampiri Radeva, namun Alva menahannya dengan memegang lengan Disha.


"Iya. Aku baik-baik saja,"sahut Radeva tersenyum lembut kepada adiknya.


"Dari mana kamu tahu jika dia kakakmu?" tanya Alva yang tidak mudah percaya begitu saja.


"Dia tahu jika aku memiliki tanda lahir yang berwarna merah berbentuk bulat di paha kananku,"sahut Disha seraya menatap Alva. Alva sedikit terkejut mendengar jawaban Disha itu.


"Apa dia mengatakan dimana tepatnya letak tanda lahir itu?"tanya Alva yang di jawab dengan gelengan kepala oleh Disha.


"Tanda lahir itu ada di pangkal pahanya," sahut Radeva yang membuat Alva terdiam.


Disha melepaskan pegangan tangan Alva kemudian menghampiri Radeva,"Bibir kakak pecah,"ujar Disha yang melihat sudut bibir Radeva kemudian mengusap darah yang keluar dari luka itu. Ada juga memar pada pipi dan pelipis Radeva karena pukulan Alva saat Radeva belum siap tadi.


Radeva hanya terkena tiga pukulan yang Radeva akui memang sangat keras. Selanjutnya tidak ada pukulan Alva yang bisa menyentuh tubuh Radeva. Radeva selalu bisa berkelit dari serangan Alva namun berusaha untuk tidak membalas serangan dari Alva karena Radeva tahu, Disha pasti akan sedih jika melihat suaminya terluka.


"Kakak akui, ilmu beladiri suamimu memang lumayan, kakak percaya dia bisa menjagamu dengan baik,"ucap Radeva menatap Alva dengan senyum tipis di bibirnya.


"CK..akui saja jika ilmu beladiri ku memang bagus.Jika Disha tidak mencegahku, pasti kamu akan babak belur aku hajar,"ketus Alva.


"Al..!"seru Disha menatap Alva dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Nanti jika ada waktu luang kita bertanding untuk melihat ilmu beladiri siapa yang lebih unggul,"sahut Radeva dengan senyum tipis, tetap tenang menghadapi adik iparnya itu.


Radeva memang lumayan kewalahan menghadapi serangan- serangan dari Alva.Padahal baru sebentar mereka berkelahi, tapi Alva sudah membuat Radeva kalang kabut. Jika saja tadi Alva tidak mendengarkan Disha, sudah dapat dipastikan Radeva akan menerima bogeman mentah yang ke empat dari Alva.


"Oke, siapa takut,"ketus Alva yang sebenarnya merasa sangat marah saat melihat Radeva menciumi seluruh wajah istrinya. Walaupun sekarang dia tahu jika Radeva adalah kakak kandung dari Disha, namun rasanya Alva tidak rela Disha di sentuh oleh Radeva.


"Apa kamu mau menemui mama di rumah sakit? Mama pasti akan sangat bahagia jika mengetahui putrinya yang sudah lama menghilang akhirnya ketemu,"


"Kamu tahu? Mama sangat menyukai Kaivan, jadi mama akan semakin bahagia jika mengetahui bahwa putrinya adalah kamu yang berarti Kaivan adalah cucu mama,"ujar Radeva seraya memegang kedua bahu Disha. Disha menoleh pada Alva dengan tatapan yang bisa dimengerti oleh Alva, walaupun Disha tidak mengatakan nya.


"Ayo, kita akan ke sana bersama-sama," ucap Alva yang mengerti arti tatapan istrinya itu, kemudian menghampiri Disha dan menepis tangan Radeva dari bahu istrinya, merangkul pinggang Disha dan sekilas menatap tajam pada Radeva.


"Dasar posesif!"gumam Radeva dengan senyum di bibirnya kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


Akhirnya ketiga orang itu pun meninggalkan hotel tempat Riky mengadakan resepsi pernikahan dan pergi ke rumah sakit tempat Ghina dirawat.

__ADS_1


Alva yang satu mobil dengan Disha mengikuti mobil yang dikendarai oleh Radeva,"Apa kamu nervous karena akan bertemu dengan kedua orang tua kandung mu?"tanya Alva seraya menggenggam tangan Disha dengan menggunakan tangan kirinya yang tidak memegang kemudi.


"Ya, walaupun aku sudah beberapa kali bertemu dengan mereka, tapi rasanya berbeda saat aku mengetahui jika mereka adalah orang tua kandung ku,"jawab Disha jujur.


"Itu karena kamu belum terbiasa saja," sahut Alva.


"Dertt.. dertt...dertt...." Radeva yang mengendarai mobil sendirian mengambil handphone nya dari dasbor mobil kemudian menerima panggilan suara dari papanya.


"Ya, pa,"sahut Radeva.


"Bagaimana? Apa kamu sudah menemui Disha?"tanya Mahendra melalui sambungan telepon.


"Aku sudah menemui nya. Sekarang aku sedang menuju ke rumah sakit. Nanti aku akan menceritakan semuanya pada papa. Papa tunggu saja di situ. Bagaimana keadaan mama ,pa?"tanya Radeva sambil fokus dengan jalan di depan nya.


"Sudah lebih baik, hanya saja darahnya rendah. Beberapa hari ini, semenjak bertemu dengan Anah, mamamu agak sulit tidur. Mungkin sebentar lagi juga sadar,"jelas Mahendra.


"Sebentar lagi aku sampai di sana, pa," ujar Radeva.


"Oke, papa tunggu,"sahut Mahendra kemudian panggilan pun diakhiri.


Radeva segera bergegas menuju ruang rawat Ghina. Namun tidak dengan Alva dan Disha, karena merasa haus, Alva dan Disha berhenti untuk membeli minuman di area rumah sakit itu.


***


"Ma.!"panggil Mahendra saat melihat tangan istrinya mulai bergerak dan perlahan matanya pun terbuka.


"Pa..."ucap Ghina mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelum dirinya pingsan.


"Apa yang mama rasakan? Apa ada yang sakit?"tanya Mahendra penuh perhatian.


"Pa, kalung itu..."


"Sudah, mama tidak perlu khawatir. Radeva sudah papa suruh untuk mencari tahu. Mama jangan terlalu banyak berpikir! Lihat, keadaan mama jadi begini karena beberapa hari ini kurang istirahat," ucap Mahendra mencoba untuk menenangkan Ghina.


"Mama ingin duduk, pa,"ucap Ghina nampak beranjak untuk bangun dan Mahendra pun segera membantu Ghina untuk duduk.


"Ceklek"pintu ruangan itu terbuka dan nampak Radeva muncul dari balik pintu. "Ma, apa mama sudah baikan?"tanya Radeva yang nampak khawatir bergegas menghampiri Ghina.

__ADS_1


Mahendra dan Ghina nampak mengernyitkan kening mereka saat melihat Radeva masuk dengan pakaian yang tidak rapi dan juga luka dibibir, pipi dan pelipis Radeva yang nampak memar.


"Dev, kenapa kamu bisa luka seperti itu?" tanya Ghina dengan wajah khawatir bersamaan dengan suara pintu yang diketuk.


"Masuk!"seru Mahendra.


"Kalian? Kemari lah!"titah Mahendra nampak senang saat melihat Alva dan Disha berada di ambang pintu . "Terimakasih telah menjenguk istri saya," ucap Mahendra yang hanya di respon dengan anggukan dan senyuman oleh sepasang suami istri itu. Sedangkan Ghina menatap lekat kalung yang dikenakan oleh Disha membuat Disha menjadi sedikit canggung.


"Jadi, apa yang terjadi padamu, Dev? Siapa yang bisa membuat mu terluka seperti itu?" tanya Mahendra kembali menatap wajah putranya itu penasaran, karena tadi Radeva belum menjawab pertanyaan dari Ghina.


"Iya sayang, siapa yang memukul mu?' timpal Ghina.


"Tidak terjadi apa-apa ma, pa. Hanya saja , aku tadi mendapat salam perkenalan yang sangat mengejutkan dari adik ipar ku," sahut Radeva seraya melirik Alva yang berdiri disebelah nya, tapi Alva nampak cuek dengan wajah datar nya.


"Adik ipar? Hery yang yang melakukan ini padamu?"tanya Mahendra dengan wajah geram.


"Bukan, pa,"tukas Radeva.


"Bukan Hery? Lalu siapa yang memukul mu seperti itu?"tanya Mahendra penasaran.


"Tanya kan saja pada adik ipar ku yang posesif dan cemburuan ini, pa!"sahut Radeva dengan menunjukkan dagunya pada Alva yang membuat Mahendra dan Ghina mengernyitkan kening mereka, sedangkan Alva masih setia memasang wajah datarnya.


"Maksud mu?"tanya Mahendra semakin penasaran menatap wajah Radeva yang terlihat menghela nafas kemudian menatap wajah Alva yang terlihat datar.


"Aku sudah menanyakan pada Disha tentang kalung yang dipakainya itu. Bahkan aku juga sudah menanyakan tentang tanda lahir yang dimiliki oleh Shahira sewaktu masih bayi dulu,"


"Dan kenyataan Disha adalah Shahira yang selama ini kita cari, putri mama dan papa yang hilang 26 tahun yang lalu"


...🌟"Jangan sampai emosi yang hanya sesaat membuat kita melakukan sesuatu yang dapat mempermalukan diri kita sendiri....


...Dan jangan sampai emosi yang hanya sesaat mendatangkan penyesalan di belakang hari."🌟...


...🌺🌸🌺🌸🌺...


Dukung author lewat like, coment, hadiah dan vote, ya! Terimakasih untuk semua reader yang mau membaca dan mendukung karya author yang amatiran ini.πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


To be continued

__ADS_1


__ADS_2