Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
39. Waktu Yang Salah


__ADS_3

Disha nampak menggeliat dalam dekapan Alva menggosok-gosokkan hidungnya di dada bidang suaminya itu kemudian kembali bergerak mencari posisi yang nyaman dalam dekapan Alva.


"Sayang, jangan banyak bergerak,"ucap Alva dengan suara parau khas bangun tidurnya.


"Al.."panggil Disha masih dalam dekapan Alva.


"Hemm.."sahut Alva.


"Aku nanti janjian nonton sama temen-temen ku, boleh ya aku pulangnya sore?"tanya Disha.


Alva membuka matanya dan merenggangkan pelukannya, kemudian menatap wajah Disha lekat.


"Sayang, setiap hari libur hampir seharian kamu selalu pergi dengan teman-teman mu, terus kapan hari libur bersama ku?"ucap Alva sambil mengusap bibir Disha dengan ibu jarinya.


"Al, tiap hari kita kan selalu bersama?"ujar Disha menatap wajah Alva.


"Ya beda sayang, aku pengen kita pergi ke villa yang dipuncak pas hari libur,"ucap Alva.


"Kepuncak? Tempatnya pasti dingin ya?"tanya Disha.


"Ya pasti lah sayang, tapi kan enak kalau ke sana nya berdua sama kamu, nggak mungkin bakal kedinginan,"ucap Alva sambil mengulum senyum.


"Dasar messum.!!"umpat Disha.


"Kenapa malah mengatai aku messum sich, sayang?"tanya Alva.


"Karena aku tahu, kamu pasti nanti modus buat meluk-meluk aku karena alasan kedinginan, terus ujung ujungnya kamu minta jatah buat ngilangin dingin kan?"tuduh Disha.


"Enggak kok sayang.... sumpah... nggak salah lagi,"ucap Alva kemudian tertawa.


"Dasar alien.!!"pekik Disha langsung menggelitik Alva karena kalau dicubit pun percuma karena tubuh Alva berotot tak berlemak.


"Ampun sayang, geli,"ucap Alva terus tertawa karena kegelian namun akhirnya bisa menangkap tangan Disha agar tidak bisa menggelitik nya lagi.


Mata sepasang suami-isteri itu beradu dengan wajah yang masih sama-sama belum pudar dari tawa tadi.


"𝐎𝐡 𝐲𝐚 𝐚𝐦𝐩𝐥𝐨𝐩.. 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐚𝐰𝐚 𝐥𝐞𝐩𝐚𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐭𝐚𝐝𝐢. 𝐀𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐧𝐭𝐮𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐚𝐰𝐚,"


𝐃𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐣𝐮𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐰𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐤𝐚𝐩 𝐝𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐛𝐢𝐥𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧. 𝐎𝐡 𝐦𝐚𝐧𝐢𝐬 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐞𝐭 𝐬𝐢𝐜𝐡, 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢, 𝐛𝐢𝐤𝐢𝐧 𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐝𝐞𝐜𝐡!"batin Disha terpana melihat wajah tampan suaminya.


Alva yang melihat istrinya tersepona..eh terpesona pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencium bibir Disha, menggigit kecil bibir Disha hingga Disha membuka mulutnya dengan tangan yang sudah mulai aktif hingga...


Dertt...derrt...dertt.... suara handphone Disha bergetar diatas nakas membuat Disha melepaskan ciuman Alva.


"Sayang...."ucap Alva dengan mata sayu pertanda bahwa dia menginginkan Disha.

__ADS_1


"Bentar Al,"sahut Disha sambil meraih handphonenya kemudian segera menerima panggilan telepon dari Icha.


Sedangkan Alva kembali beraksi, bergerilya ditubuh Disha.


"Ha..halo, Cha?!"sahut Disha sambil memejamkan mata merasakan tubuhnya yang dibuai oleh Alva.


"Jadi nggak nanti? Kamu sudah izin kan sama suamimu?"tanya Icha.


"Su..suda...ach!!"ucap Disha yang tanpa sengaja menjawab pertanyaan Icha sambil mende sah karena perbuatan Alva.


"Eh.. buset dah..!! Jangan bilang Lo lagi main sama suami Lo?"pekik Icha.


"Na..nanti aku telpon lagi,"ucap Disha cepat langsung mengakhiri sambungan telepon.


"Buset dah si Disha..!! Kenapa sich setiap kali nelpon Disha selalu membuat aku yang belum married ini traveling ? Ampun dah..!! Aku selalu saja menelpon di waktu yang salah. Aku tambah penasaran, seperti apa sich, penampakan suami Disha,"gerutu Icha yang merasa menelpon di waktu yang salah.


Sedangkan orang yang di gerutui..."A...Al..ach..."ucap Disha membuat Alva semakin agresif hingga pagi itu pun mereka mengulangi pergulatan panas mereka dan berakhir dengan keringat yang membanjiri tubuh setelah mendapatkan pelepasan yang sempurna secara bersamaan.


"Makasih sayang, aku mencintaimu,"ucap Alva mengecupi seluruh wajah Disha yang nampak kelelahan akibat perbuatannya.


***


Di ruangan Alva.


"Tuan, anda sudah ditunggu di ruangan meeting. Semua orang sudah berkumpul di sana,"ucap Riky memberitahu.


Beberapa saat kemudian , Disha sudah kembali dari toilet dan mereka bertiga pun, langsung pergi ke ruang meeting.


Satu jam kemudian mereka sudah menyelesaikan meeting dan sudah memilih beberapa perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan Alva untuk membangun resort.


"Oh ya, Rik. Pemilik HD Group , tadi mengatakan kalau besok yang bertanggung jawab atas kontrak kerjasama ini adalah putranya ya?"tanya Alva.


"Iya Tuan. Besok putranya akan kesini. Saya dengar putranya itu akan menggantikan Tuan Darmawan jika sudah menikah nanti,"jawab Riky.


"Oh masih singgel,"ucap Alva.


"Iya Tuan. Putra Tuan Darmawan itu tampan dan banyak digilai wanita tapi saya dengar sampai sekarang dia belum memiliki kekasih Tuan,"jelas Riky.


"Kamu pernah bertemu dengan putra Tuan Darmawan?"tanya Alva.


"Pernah Tuan,"jawab Riky.


"Setampan apa anak Tuan Darmawan sehingga digilai banyak wanita? Kira-kira tampan mana sama saya?"tanya Alva.


"Tuan bertanya menurut saya apa menurut kata orang?"tanya Riky.

__ADS_1


"Dua duanya,"sahut Alva.


"Menurut orang, putra Tuan Darmawan itu tampan, menurut saya juga. Tapi kalau saya ditanya tampan mana putra Tuan Darmawan dengan anda, tentu saja Tuan yang paling tampan, karena Tuan yang menggaji saya,"ucap Riky enteng.


"Jadi kalau saya bukan orang yang menggaji kamu berarti putra Tuan Darmawan lebih tampan dari saya? Begitu kah maksudmu?"tanya Alva nampak tidak suka.


"Em..putra Tuan Darmawan itu orangnya ramah dan murah senyum dan tidak sombong. Kalau Tuan kan dingin, sebelas dua belas sama es balok. Kalau saya jadi cewek saya akan memilih putra Tuan Darmawan"ucap Riky yang membuat Alva menatap tajam pada Riky.


"Entah apa yang membuat Tuan disukai banyak wanita kecuali Disha yang nampak biasa saja sama Tuan. Jaga Disha baik-baik Tuan, jangan sampai nanti Disha kepencut sama putra Tuan Darmawan,"lanjut Riky .


" Kamu pikir Disha ku sama seperti wanita diluar sana? Dan aku juga tidak akan membiarkan siapapun merebut Disha dari ku,"ucap Alva.


"Iya..iya Tuan posesif yang tidak bisa mengakui istri sendiri di depan umum,"ucap Riky mencibir.


"Riky..!!!"pekik Alva.


"Ampun Tuan..!!!"ucap Riky sambil berdiri ngibrit keluar dari ruangan Alva kemudian seperti biasanya berdiri didepan pintu yang sudah tertutup itu untuk mengatur nafasnya.


"Dis, kok kamu betah sich, bersama Tuan?"tanya Riky sambil mengatur nafas memandang Disha. Sedangkan Disha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Riky, Disha sudah biasa dengan kelakuan asisten dan atasan itu.


***


Keesokan harinya di perusahaan Bramantyo Group.


Seorang pria tampan yang terlihat ramah dan murah senyum terlihat menghampiri meja resepsionis diikuti seorang perempuan cantik dibelakangnya.


"Permisi Mbak, saya ingin bertemu dengan Tuan Rendra,"ucap pria tampan itu dengan senyum ramah membuat sang resepsionis itu untuk sesaat tesepona..eh terpesona maksudnya.


"Mbak?!"panggil pria itu pada sang resepsionis.


"Ach iya, apa sudah ada janji, Tuan?"tanya resepsionis itu tergagap.


"Iya. Saya dari HD Group,"sahut pria tampan itu.


"Oh, mari saya antar,"ucap resepsionis itu.


Sesampainya di depan ruangan Alva, resepsionis itu langsung mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk,"ucap Alva.


"Ceklek,"pintu itu pun terbuka.


"Kamu..?!!"


...🌟"Cinta itu bukan cuma harus dinyatakan, tapi juga harus dibuktikan."🌟...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2